9.3 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 21

Dalam Tuhan Ada Penghiburan dan Pengharapan — Renungan Harian

0
Paulus berkata: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1Kor 13:13). Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com.

Dalam Tuhan Ada Penghiburan dan Pengharapan: Renungan Harian, 06 Desember 2021 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 35:1-10; Injil: Luk. 5:17-26

Ada pepatah yang mengatakan realita tak semanis ekspektasi. Kita mendambakan kehidupan yang indah, namun kenyataan hidup kadang tidaklah seperti yang diangan-angankan. Mengapa? Karena kita hidup di dunia nyata, bukan di dunia khayalan. Dalam dunia yang nyata seperti ini, kita hidup dalam perjuangan, dengan sejuta suka dan dukanya.

Itulah hidup. Makanya orang-orang bisanya berpesan: ‘bermimpilah dalam hidup, dan jangan hidup dalam mimpi’. Dalam hidup ini, kita mengenal yang namanya perputaran roda kehidupan. Kadang di atas, dan kadang di bawah. Ketika di atas, kita senang; tapi ketika berada di bawah, apakah kita sanggup menerimanya?

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dalam hidup ini, ada saja situasi di mana kita mengalami berbagai problem kehidupan seperti percintaan, karir, keluarga, maupun finansial. Orang yang berada dalam situasi sulit seperti ini biasanya kehilangan motivasi hidup, merasa gagal, kehilangan percaya diri dan makna hidup, dan sebaginya. Terkadang menerima kenyataan memang hal yang pahit.

Nah, dalam situasi kehidupan yang serba sulit seperti itu, apa yang kita butuhkan? Saya kira kita butuh dua hal ini: yakni penghiburan dan pengharapan. Dan, persis itulah yang menjadi pesan utama dari bacaan pertama hari ini. Pesannya adalah penghiburan dan pengharapan.

Isi bacaan pertama hari ini dimaksudkan untuk memberi penghiburan dan semangat kepada mereka yang memerlukan pembebasan. Secara khusus di sini disebutkan satu contoh kasus, yakni pembebasan dalam bentuk terbukanya mata orang buta dan telinga orang tuli. “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka” (Yes. 35:5).

Tapi, di mana kita bisa dapatkan penghiburan dan pengharapan itu? Jawabannya: dalam Tuhan. “Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” (Yes.35:4). Karena itu, biarpun hidup kita saat ini barangkali tak semanis ekspektasi, ‘jangan takut, kuatkanlah hatimu’ (lih. Yes. 35:4). Inilah kata-kata penghiburan yang mengandung pengharapan yang diberikan oleh Tuhan untuk kita yang sedang berjuang menghadapi realita hidup.

Tapi perlu diingat bahwa pengharapan harus disertai dengan iman. Sebab, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1).

Selain iman dan harap, kita juga harus mempunyai sesuatu yang lain lagi, yaitu kasih. Iman tanpa kasih kepada Tuhan akan berakhir dengan iman yang mati (1 Kor 13:3). Juga, harapan tanpa kasih kepada Tuhan adalah sia-sia (1 Kor 13:3). Mengapa? Sebab, kasihlah yang menyebabkan seseorang dengan penuh sukacita mau belajar tentang Tuhan. Kasih juga yang membuat kita dengan penuh kesediaan dan sukacita melayani sesama kita.

Iman, harap, dan kasih itu sangat nyata terlihat dari tindakan orang-orang yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Dari tindakan mereka tampak jelas begitu kuatnya perhatian mereka terhadap teman mereka yang lumpuh. Mereka datang dari jauh. Mereka dengan berani menaiki atap, sambil membawa teman mereka di atas sebuah usungan.

Melalui tindakan yang sama, mereka juga menunjukkan iman yang sangat kuat akan Yesus. Penginjil Markus maupun Lukas bahkan menyebutkan bahwa justru iman dari teman-teman orang inilah yang mendorong Yesus mengucapkan sabda pengampunan. Di sini, satu-satunya dalam Injil, seorang dewasa disembuhkan berkat iman dari orang lain.

Apa yang terjadi sesudahnya? Yesus datang dengan suatu tawaran keselamatan menyeluruh, yang tidak hanya berhenti pada lahiriah. Ia melakukan penyembuhan rohani, dan sesudahnya menyembuhkan kelumpuhan orang itu. Ini jelas di luar ekspektasi orang-orang yang datang itu, sehingga Injil hari ini diakhiri dengan kalimat:

“Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan”” (Luk. 5:26).

Apa yang dapat kita petik dari bacaan-bacaan hari ini? Tentunya, pertama, kita diingatkan bahwa realita memang tak semanis ekspektasi. Dalam hidup pasti ada suka dan dukanya. Dan, kedua, kita juga diingatkan bahwa sebesar apapun masalah yang kita hadapi, jangan pernah putus asa. Yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Sebaliknya, ‘berharaplah kepada TUHAN sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan’ (lih. Mzm. 130:7). Tuhan akan menolong hamba-hamba yang dekat dengan-Nya. Lebih lagi, ketiga, kita disadarkan bahwa Tuhan selalu memberi lebih dari yang kita minta; sebab Ia memberi menurut kebutuhan-kebutuhan kita. Dan, Ia lebih tahu dari kita mengenai apa yang kita butuhkan

Mewartakan Injil adalah Tugas dan Keharusan, Kata Siapa?

0
Gambar Ilustrasi Diambil dari Pixabay.com

Mewartakan Injil adalah Tugas dan Keharusan, Kata Siapa?: Renungan Harian, 03 Desember 2021 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Kor. 9:16-19, 22-23; Injil: Mrk. 16:15-20

Menurut Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ini adalah Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi. Semasa hidupnya, beliau mengabdikan sebagian besar dari masa hidupnya bagi karya misi di negeri-negeri terpencil. Apa yang mendasari pengabdiannya itu? Tentu tidak lain adalah amanat agung dari Tuhan Yesus sendiri.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Dalam amanat agung-Nya, sebagaimana yang kita baca dan dengar hari ini, Tuhan Yesus berpesan: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15). Dengan pesan ini menjadi jelas bahwa Injil harus diwartakan. Siapa saja yang harus mewartakan Injil? Seseorang? Sebagian orang? Atau sekelompok orang? Jawabannya: semua orang yang dibaptis. Jadi, pesan penting ini ditujukan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus, mulai dari zaman para rasul sampai zaman kita saat ini.

Paulus menanggapi amanat agung dari Yesus itu dengan sangat luar biasa. Dalam suratnya kepada umat di Korintus (lih. 1 Kor. 9:16), ia berkata “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Mengapa Paulus berani berkata demikian? Dalam surat yang sama ia memberi jawaban, katanya: “Sebab itu adalah keharusan bagiku. Pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.” Jadi, bagi Paulus, dan diharapkan juga bagi kita, mewartakan Injil bukan lagi pilihan tetapi merupakan suatu tugas dan keharusan.

Luar biasa. Tapi, apakah itu mudah? Jawabannya: tentu saja tidak. Ingat, tidak semua pesan baik bisa diterima dengan baik dan dengan mudah. Injil yang adalah ‘Kabar Baik’ seringkali berhadapan dengan penolakan. Saya kira Paulus menyadari itu. Fransiskus Xaverius pun mengalami itu. Dan, para misionaris dari waktu ke waktu juga merasakan begitu.

Apakah penolakan dan keadaan yang sulit dapat menjadi alasan bagi kita untuk tidak mewartakan Injil? Saya kira tidak. Sebab, penolakan dan keadaan yang sulit sudah ada dari dulu, tapi toh karya pewartaan tidak pernah berhenti. Jika para misionaris dahulu bisa tetap mewartakan Injil meski berhadapan dengan keadaan sulit dan berbagai penolakan, mengapa sekarang tidak?

Ingat, tugas mewartakan Injil adalah suatu tugas yang mulia. Sebab, tugas ini diberikan oleh Tuhan Yesus sendiri. Karenanya, setiap orang tidak hanya dipanggil untuk percaya Yesus tetapi juga untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, kepada segala makhluk. Tidak pilih-pilih tempat dan tidak pilih-pilih orang. Yang terpenting kita sadar dan tahu bahwa Injil tidak hanya diwartakan, tapi juga harus dihidupi. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak hanya sekedar menjadi pewarta Injil namun juga harus memperlihatkan hidup yang dipenuhi Injil Kristus.

Maka, sekalipun mewartakan Injil itu sulit, jangan kasih kendor.  Sebab, Tuhan Yesus tidak hanya memberi perintah supaya mewartakan Injil, tapi Ia juga memberi jaminan kepada mereka yang percaya dan yang mewartakan Injil. Ia berkata:

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk. 16:17-20).

Percaya Tuhan atau Roboh karena Ujian — Renungan Harian

0
Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com

Percaya Tuhan atau Roboh karena Ujian: Renungan Harian, 02 Desember 2021 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 26:1-6; Injil: Mat. 7:21,24-27

Orang bilang, ‘dunia adalah tempatnya ujian dan cobaan’. Atau dalam ungkapan lain, ‘panggung ujian’. Itu betul. Ujian dan cobaan itu dapat berupa penyakit, kematian, kemiskinan, kelaparan, dan sebagainya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Tiap-tiap orang, entah dia beriman atau tidak, pasti akan dan pernah menghadapi ujian dan cobaan dalam hidupnya. Bedanya hanya pada cara melihatnya. Orang yang tidak beriman akan melihat ujian dan cobaan sebagai malapetaka, sedangkan orang beriman akan melihatnya sebagai kesempatan untuk tetap berpegang teguh pada Tuhan.

Injil hari ini mengibaratkan ujian dan cobaan dalam hidup itu seperti hujan, banjir, dan badai; sedangkan orang beriman digambarkan seperti orang yang mendirikan rumah di atas batu; dan orang tidak beriman seperti orang yang mendirikan rumah di atas pasir.

Rumah yang dibangun di atas dasar batu, ketika dihantam oleh hujan, banjir, dan badai, maka rumah itu akan tetap berdiri tegak. Tetapi, rumah yang berdiri di atas pasir, ketika hujan, banjir, dan badai itu menghantamnya, maka hancurlah rumah itu.

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Mat. 7:24-27).

Apa maksud dari perkataan ini? Maksudnya adalah bahwa orang yang hidupnya tidak dibangun di atas dasar iman yang kuat, ketika ujian dan cobaan datang menimpanya, maka hancurlah dia. Sebaliknya, jika orang imannya kokoh, sekalipun ia ditimpa ujian dan cobaan, ia tetap berdiri tegak.

Tapi, yang namanya iman yang kuat itu yang bagaimana? Iman yang kuat itu adalah iman yang sungguh-sungguh, bukan yang setengah-setengah. Kitab Yesaya memberi pesan yang luar biasa kepada kita hari ini, katanya: “Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal” (Yes. 26:4).

Kita diajak oleh Nabi Yesaya supaya beriman kepada Tuhan secara sungguh-sungguh. Dan Matius, dalam Injil yang ditulisnya, memberi catatan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan ibarat mendirikan rumah di atas batu. Kokoh. Kuat. Hujan, banjir, dan badai, tak akan dapat menghancurkannya. Cukup banyak contoh orang yang berhasil lolos dari badai kehidupan berkat imannya yang kuat terhadap Tuhan.

Tapi kan, iman itu urusan hati; dan yang bisa melihat hati seseorang hanya Tuhan. Bagaimana kita dapat tahu apakah seseorang itu sungguh-sungguh beriman atau tidak? Memang, iman itu urusan hati tapi tidak melulu urusan hati. Injil hari ini memberi keterangan bahwa yang namanya beriman itu tidak saja tersembunyi di dalam hati tapi juga harus ditunjukkan melalui tindakan nyata (dalam bahasa Kitab Suci: “mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya). Karena itu, kita sebenarnya bisa mengukur kadar keimanan seseorang dari tindakan-tindakannya; sebab apa yang dilakukannya keluar dari hati.

Kita mungkin merasa bahwa dengan kemampuan sendiri kita dapat melewati berbagai cobaan dan ujian dalam hidup. Kawan, kemampuan kita itu tidak seberapa. Ada banyak cobaan dan ujian dalam hidup ini yang tidak bisa kita selesaikan dengan kemampuan sendiri. Untuk bagian itu, hanya Tuhan yang bisa melakukannya. Itulah sebabnya kita harus percaya kepada-Nya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak percaya Tuhan. Justru sebaliknya, ada banyak sekali alasan mengapa kita harus percaya kepada Tuhan. Karena itu, percayalah, jangan sampai tidak percaya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal. Betapa tidak bersyukurnya kita jikalau kita tidak beriman kepada Tuhan.

Paus Fransiskus: “Waspada dan Berdoa”

0
Vatican News

Ini renungan Paus Fransiskus sebelum Angelus di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Pertama Adven, 28 November 2021.

***

Saudara/i, selamat pagi!

Injil liturgi hari ini, Minggu Pertama Adven, berbicara kepada kita tentang kedatangan Tuhan di akhir zaman. Yesus mengungkapkan tentang peristiwa yang suram dan menyedihkan, tetapi justru pada titik ini Dia mengundang kita untuk tidak takut. Mengapa? Karena semuanya akan baik-baik saja? Tidak, tetapi karena Dia akan datang. Yesus akan kembali seperti yang Dia janjikan. Inilah yang dikatakannya: “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Senang mendengar Firman yang membesarkan hati ini: berdiri tegak dan angkat kepala kita karena tepat pada saat-saat ketika segala sesuatu tampaknya akan segera berakhir, Tuhan datang untuk menyelamatkan kita. Kita menantikan Dia dengan sukacita, bahkan di tengah kesengsaraan, selama krisis kehidupan dan peristiwa-peristiwa dramatis dalam sejarah. Kita menunggu Dia.

Tetapi bagaimana kita mengangkat kepala kita dan tidak tenggelam dalam kesulitan, penderitaan dan kekalahan? Yesus menunjukkan jalan dengan peringatan yang kuat: “Waspadalah, jangan sampai hatimu mengantuk… Waspadalah setiap saat dan berdoalah” ( Bdk. Luk 21:34, 36).

“Waspada”: Kewaspadaan

Mari kita fokus pada aspek penting dari kehidupan Kristen ini. Dari kata-kata Kristus, kita melihat bahwa kewaspadaan terkait dengan kesiap-siagaan: waspadalah, jangan bimbang, tetaplah terjaga! Kewaspadaan berarti ini: tidak membiarkan hati kita menjadi malas atau kehidupan rohani kita melunak menjadi biasa-biasa saja. Berhati-hatilah karena kita bisa menjadi “orang Kristen yang mengantuk” – dan kita tahu ada banyak orang Kristen yang tertidur, yang terbius oleh keduniawian rohani – orang Kristen tanpa semangat rohani, tanpa intensitas dalam doa, tanpa semangat misi, tanpa semangat Injil; Orang Kristen yang selalu melihat ke dalam, tidak mampu melihat ke cakrawala. Dan ini mengarah pada “tidur”: untuk menggerakkan segala sesuatunya dengan kelemahan, jatuh ke dalam sikap apatis, acuh tak acuh terhadap segala sesuatu kecuali apa yang nyaman bagi kita. Ini adalah kehidupan yang menyedihkan ke depan karena tidak ada kebahagiaan.

Kita perlu waspada agar kehidupan kita sehari-hari tidak menjadi rutinitas, dan, seperti yang Yesus katakan, agar kita tidak terbebani oleh kecemasan hidup (lih. ay 34). Jadi hari ini adalah saat yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang membebani hati saya? Apa yang membebani semangat saya? Apa yang membuat saya pergi untuk duduk di kursi malas? Sungguh menyedihkan melihat orang-orang Kristen “di kursi berlengan”! Apa yang biasa-biasa saja yang melumpuhkan saya, sifat buruk yang menghancurkan saya ke tanah dan mencegah saya mengangkat kepala? Dan mengenai beban yang membebani pundak saudara-saudara kita, apakah saya menyadarinya atau acuh tak acuh terhadapnya? Ini adalah pertanyaan yang bagus untuk ditanyakan kepada diri kita sendiri, karena pertanyaan tersebut membantu menjaga hati kita dari sikap apatis. Lalu apa itu apatis? Itu adalah musuh besar kehidupan rohani dan juga kehidupan Kristen. Apatis adalah jenis kemalasan yang membuat kita terjerumus ke dalam kesedihan, menghilangkan semangat hidup dan keinginan untuk melakukan sesuatu. Ini adalah roh negatif yang menjebak jiwa dalam sikap apatis, merampas kegembiraannya. Dimulai dengan kesedihan meluncur ke bawah sehingga tidak ada kegembiraan. Kitab Amsal mengatakan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena di situlah terpancar kehidupan” (Ams 4:23). Jaga hatimu: itu artinya waspada! Tetap terjaga dan jaga hatimu.

Berdoa

Dan mari kita tambahkan hal penting: rahasia untuk waspada adalah doa. Bahkan, Yesus berkata: “Berjaga-jagalah setiap saat dan berdoalah” (Luk 21:36). Doa membuat pelita hati tetap menyala. Ini terutama benar ketika kita merasa bahwa antusiasme kita telah mereda. Doa menyalakannya kembali, karena itu membawa kita kembali kepada Tuhan, ke pusat segala sesuatu. Doa membangunkan kembali jiwa dari tidur dan memfokuskannya pada apa yang penting, pada tujuan keberadaan. Bahkan selama hari-hari tersibuk kita, kita tidak boleh mengabaikan doa. Doa hati dapat membantu kita, sering mengulang-ulang doa singkat. Misalnya, selama masa adven, kita bisa membiasakan diri untuk berkata, “Datanglah, Tuhan Yesus.” Hanya kata-kata ini, tetapi mengulanginya: “Datanglah, Tuhan Yesus”. Masa persiapan menuju Natal ini indah: kita memikirkan adegan kelahiran dan Natal, jadi marilah kita berkata dari hati: “Datanglah, Tuhan Yesus”. Mari kita ulangi doa ini sepanjang hari: jiwa akan tetap waspada! “Mari, Tuhan Yesus”, adalah doa yang bisa kita semua panjatkan bersama sebanyak tiga kali. “Datanglah, Tuhan Yesus”, “Datanglah, Tuhan Yesus”, “Datanglah, Tuhan Yesus”.

Dan sekarang kita berdoa kepada Bunda Maria: semoga dia yang menunggu Tuhan dengan hati yang waspada menemani kita selama perjalanan adven ini.***

***

Renungan ini diterjemahkan dari https://www.vatican.va/content/francesco/en/angelus/2021/documents/papa-francesco_angelus_20211128.html

“Tidak Ada Kekudusan Tanpa Sukacita” (Renungan Paus Fransiskus pada Hari Raya Semua Orang Kudus, 01 November 2021)

0
Vaticannews.va

Renungan ini disampaikan Paus Fransiskus di lapangan Santo Petrus sebelum mendaraskan Doa Angelus.

***

Hari ini kita merayakan Semua Orang Kudus, dan dalam Liturgi pesan “terprogram” Yesus bergema: yaitu Sabda Bahagia (lih. Mat 5:1-12a). Mereka menunjukkan kepada kita jalan yang mengarah pada Kerajaan Allah dan kebahagiaan: jalan kerendahan hati, kasih sayang, kelembutan, keadilan dan kedamaian. Menjadi orang kudus berarti berjalan di jalan ini. Sekarang mari kita fokus pada dua aspek dari cara hidup ini. Dua aspek yang sesuai dengan cara hidup kudus ini: sukacita dan nubuat.

Aspek pertama, sukacita. Yesus memulai dengan kata “Berbahagialah” (Mat 5:3). Ini adalah proklamasi utama, bahwa kebahagiaan belum pernah terjadi sebelumnya. Kebahagiaan, kekudusan, bukanlah rencana hidup yang hanya terdiri dari usaha dan penyerahan, tetapi di atas segalanya adalah penemuan yang menggembirakan untuk menjadi putra dan putri terkasih Allah. Dan ini memenuhi Anda dengan sukacita. Itu bukan pencapaian manusia, itu adalah hadiah yang kita terima: kita kudus karena Tuhan, Yang Kudus, datang untuk tinggal dalam hidup kita. Dialah yang memberikan kekudusan kepada kita. Untuk ini kita diberkati!

Dengan demikian, sukacita orang Kristen bukanlah emosi sesaat atau optimisme manusia yang sederhana, tetapi kepastian mampu menghadapi setiap situasi di bawah tatapan kasih Tuhan, dengan keberanian dan kekuatan yang datang dari-Nya. Orang-orang kudus, bahkan di tengah banyak kesengsaraan, telah mengalami sukacita ini dan menjadi saksinya. Tanpa sukacita, iman menjadi latihan yang keras dan menindas, dan berisiko sakit dengan kesedihan. Mari kita perhatikan kata ini: sakit dengan kesedihan. Seorang pertapa padang gurun berkata bahwa kesedihan adalah “cacing yang menggali ke dalam hati”, yang merusak kehidupan (lih. EVAGRIUS PONTICUS, Delapan Roh Jahat, XI).

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita orang Kristen yang bersukacita? Apakah saya seorang Kristen yang bersukacita atau tidak? Apakah kita menyebarkan sukacita atau kita orang yang membosankan, sedih, dengan wajah duka? Ingatlah bahwa tidak ada kekudusan tanpa sukacita!

Aspek kedua: nubuat. Ucapan Bahagia ditujukan kepada orang miskin, orang yang menderita, mereka yang haus akan keadilan. Ini adalah pesan yang bertentangan dengan arus dunia. Memang, dunia mengatakan bahwa untuk memiliki kebahagiaan Anda harus kaya, kuat, selalu muda dan kuat, dan menikmati ketenaran dan kesuksesan. Yesus membalikkan kriteria ini dan membuat proklamasi kenabian – dan ini adalah dimensi kenabian kekudusan – kepenuhan hidup yang sejati dicapai dengan mengikuti Yesus, dengan mempraktikkan Sabda-Nya. Dan ini berarti kemiskinan lain, yaitu miskin di dalam, menenggelamkan diri untuk memberi ruang bagi Tuhan. Mereka yang percaya diri mereka kaya, sukses dan aman mendasarkan segalanya pada diri mereka sendiri dan menutup diri dari Tuhan dan saudara-saudari mereka, sementara mereka yang tahu bahwa mereka miskin dan tidak mandiri tetap terbuka kepada Tuhan dan sesama mereka. Dan mereka menemukan kebahagiaan.

Sabda Bahagia adalah nubuat tentang kemanusiaan baru, tentang cara hidup baru: menjadikan diri sendiri kecil dan mempercayakan diri kepada Tuhan, alih-alih menang atas orang lain; menjadi lemah lembut, bukannya berusaha memaksakan diri; mempraktikkan belas kasih, daripada hanya memikirkan diri sendiri; berkomitmen pada keadilan dan perdamaian, alih-alih mempromosikan ketidakadilan dan ketidaksetaraan, bahkan dengan konspirasi. Kekudusan menerima dan mempraktikkan, dengan pertolongan Tuhan, nubuat yang merevolusi dunia ini.

Jadi, kita bisa bertanya pada diri sendiri: apakah saya bersaksi tentang nubuat Yesus? Apakah saya mengungkapkan roh kenabian yang saya terima dalam Pembaptisan? Atau apakah saya menyesuaikan diri dengan kenyamanan hidup dan kemalasan saya sendiri, dengan asumsi bahwa semuanya baik-baik saja jika saya baik-baik saja? Apakah saya membawa ke dunia kebaruan yang menggembirakan dari nubuat Yesus atau keluhan biasa tentang apa yang salah? Pertanyaan yang baik untuk kita tanyakan pada diri kita sendiri.

Semoga Perawan Suci memberi kita sesuatu dari jiwanya, jiwa terberkati yang dengan sukacita memuliakan Tuhan, yang “telah menurunkan yang berkuasa dari takhta mereka, dan meninggikan mereka yang rendah” (bdk. Luk 1:52).

***

Renungan ini diterjemahkan dari https://www.vatican.va/content/francesco/en/angelus/2021/documents/papa-francesco_angelus_20211101.html

 

Cara Berdoa Rosario dalam Terang Spiritualitas Santo Montfort (Peristiwa-Peristiwa Sedih)

0
Santo Montfort berlutut di depan Patung Maria Ratu Segala Hati

Tanda Salib

Doa Pembuka

Kami menggabungkan diri dengan semua orang kudus di surga,
dengan semua orang saleh di dunia, dan dengan seluruh umat beriman yang hadir di sini.
Kami menggabungkan diri dengan Dikau, ya Yesus, untuk memuliakan BundaMu
yang suci sepantasnya dan untuk memuliakan Dikau di dalam dia dan melalui dia.
Kami menjauhkan diri dari segala-galanya yang dapat melanturkan pikiran kami
selama sembahyang rosario ini.
Kami ingin berdoa dengan rendah hati, penuh perhatian dan khidmat,
Seolah-olah ini sembahyang terakhir pada waktu hidup kami.
Kami persembahkan kepadaMu, ya Tuhan Yesus, syahadat para rasul ini
untuk memuliakan semua misteri iman kami;
doa Bapa kami dan tiga kali Salam Maria untuk memuliakan keesaan Allah Tritunggal.
Kami mohon kepadaMu iman yang hidup, pengharapan yang teguh, dan cinta kasih
yang berkobar kobar. Amin.

Aku percaya akan Allah….

Bapa kami….

Salam Putri Allah Bapa,                     Salam Maria….
Salam Bunda Allah Putra,                  Salam Maria….
Salam Mempelai Allah Roh Kudus,    Salam Maria.…

Kemuliaan.…

Peristiwa-Peristiwa Sedih (Didoakan Hari Selasa dan Jumat)

1. Kami persembahkan rangkaian yang pertama ini kepadaMu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Engkau dalam sakrat maut di Kebun Zaitun. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan BundaMu yang suci: (pilih salah satu!)
 Penyesalan atas dosa-dosa kami.
 Kekuatan dan ketekunan dalam segala pencobaan.
 Rasa duka atas segala dosa dan agar para pendosa bertobat
dan para suci bertekun.

Bapa kami…..
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan….

P. Semoga rahmat peristiwa sakrat maut Yesus meresap di dalam hati kita.
U. Amin.

2. Kami persembahkan rangkaian kedua ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus
untuk menghormati penderaan-Mu yang berdarah. Kami mohon melalui
renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Pengekangan hawa nafsu kami.
 Daya tahan dalam segala pertentangan.
 Kesucian jiwa dan raga, dan pembebasan bagi arwah-arwah di
api penyucian.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan….

P. Semoga rahmat peristiwa penderaan Yesus meresap dalam hati kita.
U. Amin.

3. Kami persembahkan rangkaian yang ketiga ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati permahkotaan-Mu dengan duri. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Penyangkalan kepentingan duniawi.
 Supaya mencari kebahagiaan hidup tidak dalam kedudukan dan kekuasaan,
melainkan dalam pelayanan kepada sesama.
 Kesabaran dalam menghadapi penghinaan, dan supaya para penguasa bertobat.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan….

P. Semoga rahmat peristiwa permahkotaan Yesus dengan duri meresap dalam hati kita.
U. Amin.

4. Kami persembahkan rangkaian yang keempat ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus
untuk menghormati Engkau yang memanggul salib-Mu ke Gunung Kalvari. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan BundaMu yang suci: (pilih salah satu!)
 Kesabaran dalam memikul salib salib kami.
 Supaya dapat menyingkirkan dari muka bumi segala penderitaan yang tidak perlu dan  supaya dapat memberi arti positif kepada penderitaan yang tidak dapat dihindarkan.
 Kesabaran dalam memanggul salib salib kecil kami masing masing dan kekuatan bagi semua orang yang menderita.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan.…

P. Semoga rahmat peristiwa jalan salib Yesus meresap dalam hati kita.
U. Amin.

5. Kami persembahkan rangkaian yang kelima ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati penyaliban dan wafat-Mu yang hina di Gunung Kalvari. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Pertobatan orang orang berdosa, ketekunan orang orang saleh dan keringanan bagi arwah-arwah di api penyucian.
 Agar kami penuh syukur dapat memandang Engkau yang dengan Wafat-Mu di salib membuka bagi kami jalan kepada Bapa.
 Cinta akan misa kudus yang menghadirkan kurban Kalvari.

Bapa kami…..
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan.…

P. Semoga rahmat peristiwa penyaliban Yesus meresap dalam hati kita.
U. Amin.

Doa Penutup

Salam Maria Puteri tercinta Bapa yang kekal,
Salam Bunda yang dikagumi Allah Putra,
Salam Mempelai setia Allah Roh Kudus.
Salam Bait megah bagi Allah Tritunggal.
Salam Ratu perkasa. Segalanya di surga dan di bumi harus tunduk kepadamu.
Salam Pengungsian yang aman bagi orang berdosa,
Bunda yang rahim yang belum pernah menolak siapa pun.
Aku sungguh pendosa bersembah sujud di hadapanmu.
Aku mohon kepadamu agar dari Yesus Putramu tercinta dan yang baik hati,
kau peroleh bagiku penyesalan dan pengampunan atas segala dosaku,
yang disertai dengan kebijaksanaan ilahi.
Aku membaktikan diriku seluruhnya kepadamu dengan segala milikku.
Kini aku memilih engkau sebagai Bundaku dan Pemimpinku.
Maka perlakukanlah aku sebagai yang paling akhir di antara anak-anakmu
dan sebagai yang paling patuh di antara hamba hambamu.
Dengarkanlah aku, ya Ratuku.
Dengarkanlah keluh kesah seorang yang ingin mencintai dan mengabdimu dengan setia.
Janganlah pernah dapat dikatakan, bahwa dari semua yang pernah berlindung kepadamu,
akulah yang pertama yang ditinggalkan.
Hai Harapanku, hai Hidupku, hai Perawan Maria yang setia dan tak bernoda,
kabulkanlah doaku, belalah aku, peliharalah aku, ajarlah aku dan selamatkanlah aku. Amin.

Tanda Salib

Sumber: Buku “Bunda Maria” yang diterbitkan oleh Pusat Spiritualitas Serikat Maria Montfortan (PSMM).

Cara Berdoa Rosario dalam Terang Spiritualitas Santo Montfort (Peristiwa-Peristiwa Mulia)

0
Santo Montfort berlutut di depan Patung Maria Ratu Segala Hati

Tanda Salib

Doa Pembuka

Kami menggabungkan diri dengan semua orang kudus di surga,
dengan semua orang saleh di dunia, dan dengan seluruh umat beriman yang hadir di sini.
Kami menggabungkan diri dengan Dikau, ya Yesus, untuk memuliakan BundaMu
yang suci sepantasnya dan untuk memuliakan Dikau di dalam dia dan melalui dia.
Kami menjauhkan diri dari segala-galanya yang dapat melanturkan pikiran kami
selama sembahyang rosario ini.
Kami ingin berdoa dengan rendah hati, penuh perhatian dan khidmat,
Seolah-olah ini sembahyang terakhir pada waktu hidup kami.
Kami persembahkan kepadaMu, ya Tuhan Yesus, syahadat para rasul ini
untuk memuliakan semua misteri iman kami;
doa Bapa kami dan tiga kali Salam Maria untuk memuliakan keesaan Allah Tritunggal.
Kami mohon kepadaMu iman yang hidup, pengharapan yang teguh, dan cinta kasih
yang berkobar kobar. Amin.

Aku percaya akan Allah….

Bapa kami….

Salam Putri Allah Bapa,                    Salam Maria….
Salam Bunda Allah Putra,                 Salam Maria….
Salam Mempelai Allah Roh Kudus,   Salam Maria.…

Kemuliaan.…

Peristiwa-Peristiwa Mulia (Didoakan hari Minggu dan Rabu)

1. Kami persembahkan rangkaian yang pertama ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati kebangkitan-Mu yang mulia. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Cinta kasih kepada Allah dan semangat pelayanan.
 Supaya selama hidup ini selalu boleh berharap akan pemenuhannya kelak.
 Semangat damai dan sukacita, serta berkat atas Gereja dan tanah air.

Bapa kami……
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan……

P. Semoga rahmat peristiwa kebangkitan Yesus meresap dalam hati kita.
U. Amin.

2. Kami persembahkan rangkaian yang kedua ini kepada-Mu, ya Tuhan
Yesus, untuk menghormati kenaikan-Mu yang gemilang ke surga. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Kerinduan yang berkobar-kobar akan surga, tanah air kami yang sejati.
 Agar boleh percaya bahwa Engkau yang bertahta di sisi kanan Allah Bapa,
pula melanjutkan hidup-Mu dalam hati kami.
 Supaya hati tidak terikat pada hal hal duniawi, dan rindu akan surga.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan….

P. Semoga rahmat peristiwa kenaikan Tuhan meresap dalam hati kita.
U. Amin.

3. Kami persembahkan rangkaian yang ketiga ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus,
untuk menghormati Roh Kudus yang turun atas para Rasul. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Kedatangan Roh Kudus dalam hati kami.
 Agar oleh kedatangan Roh Kudus dalam hidup kami, kami diberi semangat untuk  menjadi saksi-Mu.
 Keterbukaan hati terhadap bimbingan Roh Kudus dan keinsyafan akan kewajiban menyebarkan iman kristiani.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan….

P. Semoga rahmat peristiwa Pentekosta meresap dalam hati kita.
U. Amin.

4. Kami persembahkan rangkaian yang keempat ini kepadaMu, Ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Bunda-Mu Maria yang dengan gemilang diangkat ke surga. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini: (pilih salah satu!)
 Devosi yang mesra kepada Bunda ini yang begitu baik hati.
 Dan dengan perantaraannya, agar boleh percaya bahwa hidup
kami di dunia ini tak akan binasa.
 Devosi kepada bunda yang suci dan kemuliaan abadi bagi
jiwa jiwa orang beriman.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan.…

P. Semoga rahmat peristiwa Maria diangkat ke surga meresap dalam hati kita.
U. Amin.

5. Kami persembahkan rangkaian yang kelima ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Bunda-Mu Maria yang dimahkotai di surga. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Ketekunan dalam rahmat Allah dan mahkota kemuliaan abadi.
 Agar bertekun dalam kerinduan akan kebahagiaan yang sempurna bila diterima dalam cinta kasihMu.
 Rahmat tekun sampai mati dan tercapainya kesatuan semua orang Kristen.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan….

P. Semoga rahmat peristiwa Maria dimahkotai di surga meresap dalam hati kita.
U. Amin.

Doa Penutup

Salam Maria Puteri tercinta Bapa yang kekal,
Salam Bunda yang dikagumi Allah Putra,
Salam Mempelai setia Allah Roh Kudus.
Salam Bait megah bagi Allah Tritunggal.
Salam Ratu perkasa. Segalanya di surga dan di bumi harus tunduk kepadamu.
Salam Pengungsian yang aman bagi orang berdosa,
Bunda yang rahim yang belum pernah menolak siapa pun.
Aku sungguh pendosa bersembah sujud di hadapanmu.
Aku mohon kepadamu agar dari Yesus Putramu tercinta dan yang baik hati,
kau peroleh bagiku penyesalan dan pengampunan atas segala dosaku,
yang disertai dengan kebijaksanaan ilahi.
Aku membaktikan diriku seluruhnya kepadamu dengan segala milikku.
Kini aku memilih engkau sebagai Bundaku dan Pemimpinku.
Maka perlakukanlah aku sebagai yang paling akhir di antara anak-anakmu
dan sebagai yang paling patuh di antara hamba hambamu.
Dengarkanlah aku, ya Ratuku.
Dengarkanlah keluh kesah seorang yang ingin mencintai dan mengabdimu dengan setia.
Janganlah pernah dapat dikatakan, bahwa dari semua yang pernah berlindung kepadamu,
akulah yang pertama yang ditinggalkan.
Hai Harapanku, hai Hidupku, hai Perawan Maria yang setia dan tak bernoda,
kabulkanlah doaku, belalah aku, peliharalah aku, ajarlah aku dan selamatkanlah aku. Amin.

Tanda Salib

Sumber: Buku “Bunda Maria” yang diterbitkan oleh Pusat Spiritualitas Serikat Maria Montfortan (PSMM).

 

Cara Berdoa Rosario dalam Terang Spiritualitas Santo Montfort (Peristiwa-Peristiwa Gembira)

0
Santo Montfort berlutut di depan Patung Maria Ratu Segala Hati

Tanda Salib

Doa Pembuka

Kami menggabungkan diri dengan semua orang kudus di surga,
dengan semua orang saleh di dunia, dan dengan seluruh umat beriman yang hadir di sini.
Kami menggabungkan diri dengan Dikau, ya Yesus, untuk memuliakan BundaMu
yang suci sepantasnya dan untuk memuliakan Dikau di dalam dia dan melalui dia.
Kami menjauhkan diri dari segala-galanya yang dapat melanturkan pikiran kami
selama sembahyang rosario ini.
Kami ingin berdoa dengan rendah hati, penuh perhatian dan khidmat,
Seolah-olah ini sembahyang terakhir pada waktu hidup kami.
Kami persembahkan kepadaMu, ya Tuhan Yesus, syahadat para rasul ini
untuk memuliakan semua misteri iman kami;
doa Bapa kami dan tiga kali Salam Maria untuk memuliakan keesaan Allah Tritunggal.
Kami mohon kepadaMu iman yang hidup, pengharapan yang teguh, dan cinta kasih
yang berkobar kobar. Amin.

Aku percaya akan Allah….

Bapa kami….

Salam Putri Allah Bapa,                    Salam Maria….
Salam Bunda Allah Putra,                 Salam Maria….
Salam Mempelai Allah Roh Kudus,   Salam Maria.…

Kemuliaan.…

Peristiwa-Peristiwa Gembira (Didoakan hari Senin dan Sabtu)

1. Kami persembahkan rangkaian yang pertama ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk memuliakan penjelmaanMu dalam rahim Maria. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu)
 Kerendahan hati yang mendalam.
 Penghayatan martabat kami sebagai manusia yang diciptakan.
 Semangat iman seperti Bunda Maria dan berkat bagi para rasul.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan.…

P. Semoga rahmat misteri penjelmaan meresap di dalam hati kita.
U. Amin.

2. Kami persembahkan rangkaian yang kedua ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus,
untuk menghormati kunjungan Bunda-Mu kepada saudarinya Elisabet dan
pengudusan santo Yohanes Pembaptis. Kami mohon melalui renungan peristiwa
ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Cinta kasih terhadap sesama kami.
 Agar dalam pergaulan sehari hari kami mendekati sesama
dengan hormat dan kepercayaan.
 Semangat berkorban bagi sesama, dan berkat bagi orang tua,
sanak saudara dan handai taulan.

Bapa kami….
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan.…

P. Semoga semangat peristiwa kunjungan Maria meresap dalam
hati kita.
U. Amin.

3. Kami persembahkan rangkaian yang ketiga ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati kelahiran-Mu dalam kandang di Betlehem, kami mohon melalui peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
 Penolakan kekayaan dan cinta terhadap kemiskinan.
 Supaya kami dengan hati-hati dan sambil membagi-bagi
memanfaatkan harta duniawi.
 Supaya jangan terikat pada kekayaan duniawi dan bagi kaum
muda supaya menerima panggilan Tuhan.

Bapa kami…….
Salam Maria….. ( 10 kali)
Kemuliaan…….

P. Semoga rahmat misteri Natal meresap dalam hati kita.
U. Amin.

4. Kami persembahkan rangkaian yang keempat ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Engkau yang dipersembahkan di Bait Allah. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu)
 Kemurnian badan dan jiwa.
 Supaya kami makin memahami siapakah kami ini dan untuk apa
kami hidup di dunia ini, sehingga kami makin terbuka bagi-Mu.
 Semangat berkorban dan berkat bagi para imam, biarawan dan biarawati.

Bapa kami……
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan……

P. Semoga rahmat peristiwa Yesus dipersembahkan meresap dalam hati kita.
U. Amin.

5. Kami persembahkan rangkaian yang kelima ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Engkau yang ditemukan kembali dalam Bait Allah. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu)
 Kebijaksanaan yang benar.
 Supaya mencapai sikap kedewasaan dalam memilih Engkau dan Kerajaan Allah.
 Keterbukaan bagi Sabda Allah dan supaya semua orang yang tersesat kembali ke rumah Bapa.

Bapa Kami……
Salam Maria…. ( 10 kali )
Kemuliaan.…

P. Semoga rahmat peristiwa Yesus ditemukan kembali meresap dalam hati kita.
U. Amin.

Doa Penutup

Salam Maria Puteri tercinta Bapa yang kekal,
Salam Bunda yang dikagumi Allah Putra,
Salam Mempelai setia Allah Roh Kudus.
Salam Bait megah bagi Allah Tritunggal.
Salam Ratu perkasa. Segalanya di surga dan di bumi harus tunduk kepadamu.
Salam Pengungsian yang aman bagi orang berdosa,
Bunda yang rahim yang belum pernah menolak siapa pun.
Aku sungguh pendosa bersembah sujud di hadapanmu.
Aku mohon kepadamu agar dari Yesus Putramu tercinta dan yang baik hati,
kau peroleh bagiku penyesalan dan pengampunan atas segala dosaku,
yang disertai dengan kebijaksanaan ilahi.
Aku membaktikan diriku seluruhnya kepadamu dengan segala milikku.
Kini aku memilih engkau sebagai Bundaku dan Pemimpinku.
Maka perlakukanlah aku sebagai yang paling akhir di antara anak-anakmu
dan sebagai yang paling patuh di antara hamba hambamu.
Dengarkanlah aku, ya Ratuku.
Dengarkanlah keluh kesah seorang yang ingin mencintai dan mengabdimu dengan setia.
Janganlah pernah dapat dikatakan, bahwa dari semua yang pernah berlindung kepadamu,
akulah yang pertama yang ditinggalkan.
Hai Harapanku, hai Hidupku, hai Perawan Maria yang setia dan tak bernoda,
kabulkanlah doaku, belalah aku, peliharalah aku, ajarlah aku dan selamatkanlah aku. Amin.

Tanda Salib

Sumber: Buku “Bunda Maria” yang diterbitkan oleh Pusat Spiritualitas Serikat Maria Montfortan (PSMM).

Cara Berdoa Rosario dalam Terang Spiritualitas Santo Montfort (Peristiwa-Peristiwa Cahaya)

0
Santo Montfort berlutut di depan Patung Maria Ratu Segala Hati

Tanda Salib

Doa Pembuka

Kami menggabungkan diri dengan semua orang kudus di surga,

dengan semua orang saleh di dunia, dan dengan seluruh umat beriman yang hadir di sini.

Kami menggabungkan diri dengan Dikau, ya Yesus, untuk memuliakan BundaMu

yang suci sepantasnya dan untuk memuliakan Dikau di dalam dia dan melalui dia.

Kami menjauhkan diri dari segala-galanya yang dapat melanturkan pikiran kami

selama sembahyang rosario ini.

Kami ingin berdoa dengan rendah hati, penuh perhatian dan khidmat,

Seolah-olah ini sembahyang terakhir pada waktu hidup kami.

Kami persembahkan kepadaMu, ya Tuhan Yesus, syahadat para rasul ini

untuk memuliakan semua misteri iman kami;

doa Bapa kami dan tiga kali Salam Maria untuk memuliakan keesaan Allah Tritunggal.

Kami mohon kepadaMu iman yang hidup, pengharapan yang teguh, dan cinta kasih

yang berkobar kobar. Amin.

 

Aku percaya akan Allah….

Bapa kami….

Salam Putri Allah Bapa,         Salam Maria….

Salam Bunda Allah Putra,        Salam Maria….

Salam Mempelai Allah Roh Kudus, Salam Maria.…

Kemuliaan….

 

Peristiwa-Peristiwa Cahaya (Didoakan hari Kamis)

 

  1. Kami persembahkan rangkaian yang pertama ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk  memuliakan pembaptisan-Mu di sungai Yordan. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
    • Kesetiaan kepada janji-janji baptis kami.
    • Penghayatan martabat kami sebagai anak Bapa yang terkasih.

Bapa Kami….

Salam Maria…. (10 kali)

Kemuliaan….

P: Semoga cahaya pembaptisan Yesus meresap ke dalam hati kita.

U: Amin

  1. Kami persembahkan rangkaian kedua ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati tanda-Mu yang pertama waktu perkawinan di Kana dan pernyataan diri-Mu sebagai Penyelamat. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan berkat jasa Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
    • Kepercayaan akan Dikau dan kerelaan untuk melakukan apa yang Engkau sabdakan.
    • Kesetiaan para suami-istri dan para imam serta biarawan-biarawati kepada komitmen mereka.

Bapa Kami….

Salam Maria…. (10 kali)

Kemuliaan….

P: Semoga cahaya peristiwa mukjizat di Kana meresap ke dalam hati kita.

U: Amin.

  1. Kami persembahkan rangkaian ketiga ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Engkau yang memaklumkan Kerajaan Allah dan memanggil orang untuk bertobat.Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dengan perantaraan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
    • Agar kami menjadi rasul Kerajaan-Mu yang tidak mengenal lelah.
    • Agar orang berdosa datang kepada-Mu dengan penuh kepercayaan dan mau menerima tanda dan sarana belas kasihan-Mu.

Bapa Kami….

Salam Maria…. (10 kali)

Kemuliaan….

P: Semoga cahaya pewartaan Kerajaan Allah dan seruan untuk bertobat meresap ke dalam hati kita.

U: Amin.

  1. Kami persembahkan rangkaian yang keempat ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Engkau yang menampakkan kemuliaan-Mu dan berubah rupa di gunung Tabor.Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dalam persatuan dengan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
    • Kerelaan untuk mendengarkan suara-Mu dan kemampuan untuk mengikuti Engkau lewat penderitaan menuju kegembiraan Paskah.
    • Supaya oleh naungan Roh Kudus kami semakin serupa dengan Engkau, Anak Allah yang terkasih.

Bapa Kami….

Salam Maria…. (10 kali)

Kemuliaan….

P: Semoga cahaya peristiwa kemuliaan Ilahi Kristus bersinar di dalam hati kita.

U: Amin.

  1. Kami persembahkan rangkaian yang kelima ini kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, untuk menghormati Engkau yang mengadakan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir. Kami mohon melalui renungan peristiwa ini dan dalam persatuan dengan Bunda-Mu yang suci: (pilih salah satu!)
    • Kerelaan untuk berbagi dan menyerahkan diri sebagai tanda dan sarana kasih-Mu bagi sesama.
    • Kerinduan akan kehadiran-Mu yang menyelamatkan dalam Ekaristi.

Bapa Kami….

Salam Maria…. (10 kali)

Kemuliaan….

P: Semoga cahaya Perjamuan Terakhir meresap ke dalam hati kita.

U: Amin.

 

Doa Penutup

Salam Maria Puteri tercinta Bapa yang kekal,

Salam Bunda yang dikagumi Allah Putra,

Salam Mempelai setia Allah Roh Kudus.

Salam Bait megah bagi Allah Tritunggal.

Salam Ratu perkasa. Segalanya di surga dan di bumi harus tunduk kepadamu.

Salam Pengungsian yang aman bagi orang berdosa,

Bunda yang rahim yang belum pernah menolak siapa pun.

Aku sungguh pendosa bersembah sujud di hadapanmu.

Aku mohon kepadamu agar dari Yesus Putramu tercinta dan yang baik hati,

kau peroleh bagiku penyesalan dan pengampunan atas segala dosaku,

yang disertai dengan kebijaksanaan ilahi.

Aku membaktikan diriku seluruhnya kepadamu dengan segala milikku.

Kini aku memilih engkau sebagai Bundaku dan Pemimpinku.

Maka perlakukanlah aku sebagai yang paling akhir di antara anak-anakmu

dan sebagai yang paling patuh di antara hamba hambamu.

Dengarkanlah aku, ya Ratuku.

Dengarkanlah keluh kesah seorang yang ingin mencintai dan mengabdimu dengan setia.

Janganlah pernah dapat dikatakan, bahwa dari semua yang pernah berlindung kepadamu,

akulah yang pertama yang ditinggalkan.

Hai Harapanku, hai Hidupku, hai Perawan Maria yang setia dan tak bernoda,

kabulkanlah doaku, belalah aku, peliharalah aku, ajarlah aku dan selamatkanlah aku. Amin.

 

Tanda Salib

 ***

Sumber: Buku “Bunda Maria” yang diterbitkan oleh Pusat Spiritualitas Serikat Maria Montfortan (PSMM).

Vicarius Filii Dei. Gelar Siapa?

0
https://www.hops.id/5-simbol-yang-kerap-dihubungkan-dengan-illuminati/

Dasar Ayat Para Penuduh (Terjemahan LAI)

Wahyu 13:18, Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam (666).

Dalam bahasa Inggris terjemahan The Gideons International

Bilangan seorang manusia disebut  the number of a man. Sementara yang selalu dipakai untuk menuduh adalah gelar. Dan dalam bahasa Inggris gelar disebut Title. Maka jika tuduhan mereka benar seharusnya ayat itu menyebut the title of a man.

Bantahan Sederhana

Wahyu 13:18 berbicara tentang Bilangan Seorang Manusia bukan bilangan Gelar seorang manusia. Karena selama ini kata VICARIUS FILII DEI itu gelar bukan bilangan/sebutan nama seorang manusia. Perikop 13:11-18 berbicara tentang penganiayaan jemaat yang dilakukan oleh Nero dan kaisar-kaisar lainnya yang terjddi pada masa Rasul Yohanes.

Baca Juga:

Gelar Paus Menurut Dokumen Tu es Petrus

His Holiness the Pope, Bishop of Rome, Vicar of Jesus Christ, Successor of St. Peter, Prince of the Apostles, Supreme Pontiff of the Universal Church, Patriarch of the West, Servant of the Servants of God, Primate of Italy, Archbishop and Metropolitan of the Roman Province dan Sovereign of Vatican City State.

Siapakah 666?

Pertama, Kaisar Nero. NRWN QSR. Nun=50, Resh =200, Waw =6, Qoph =100, Samech =60 sehingga berjumlah 666. Sehingga angka 666 lebih tepat mengacu kepada Kaisar Nero.

Kedua, Ellen Gould White, pendiri Seventh-Day Adventism. Ellen=100, Gould=555, White=11 sehinga jumlahnya 666. Secara logis inilah bilangan manusia (nama) yang tepat dengan Wahyu 13:18 dan bukan gelar manusia. Jika masih ngotot menuduh Paus. Maka Paus tidak bergelar Vicarius Filii Dei, tetapi Vicarius Christi yang jumlahnya hanya 214.

Kriteria Antikristus Menurut Kitab Suci

Pertama, mereka yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus. Kedua, menyangkal Bapa dan Anak dan menyangkal bahwa Yesus pernah datang sebagai manusia (bdk. 1 Yoh. 2:22-27). Terlebih perikop yang sama menyebut ada banyak antikristus bukan hanya satu. Jika dilihat dari ciri-ciri tersebut, maka Katolik tidak termasuk. Katolik mengimani Allah Tritunggal Maha Kudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dan mengakui bahwa Yesus datang sebagai manusia dan hari kelahirannya dirayakan setiap 25 Desember.

Referensi

  1. https://jalapress.com/benarkah-paus-anti-kristus/
  2. https://www.katolisitas.org/tentang-666/
  3. Silahkan ikuti channel pendiri katolisitas.org: https://www.youtube.com/c/katolisitastv/featured