12.1 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 36

Kata Maria: Segala Keturunan Akan Menyebut Aku Berbahagia

0

Dalam berbagai diskusi dengan kelompok yang salah kaprah terhadap iman Katolik seringkali melemparkan argumen-argumen yang kurang tepat. Mereka mengira bahwa orang Katolik ‘menyembah’ atau mengistimewakan Bunda Maria melebihi Yesus. Karena kesalahpahaman itu, maka mereka kadang-kadang mengutip ayat-ayat, yang menurut mereka, Yesus menolak Bunda Maria.  Berikut adalah sebagian ayat yang dikutip itu:

Pertama, “Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau. Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Lukas 11:27-28)

Kedua, maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, IBU-MU dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau. Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibuku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu katanya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat. 12:46-50).

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Kedua ayat di atas tentu saja tidak salah. Namun, yang sering salah adalah penafsiran, terlebih penafsiran yang memandang ayat-ayat itu sebagai bukti penolakan Yesus akan ibu-Nya, Bunda Maria. Jika kita melihat secara menyeluruh, maka perkataan Yesus bukanlah penolakan terhadap ibu-Nya melainkan peneguhan akan teladan dan perbuatan Bunda Maria. Mengutip ayat Lukas 11:27-28, …yang berbahagia ialah mereka yang melakukan firman Allah dan yang memeliharanya…atau ayat  Mat. 12:46-50,…sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku,,,.

Ternyata Bunda Maria pernah mengatakan bahwa ‘segala keturunan akan menyebut aku berbahagia…(Luk. 1:48). Mengapa Bunda Maria berbahagia? Karena Bunda Maria melakukan kehendak Allah (bdk. Luk. 1:28, 41-45). Ucapan Yesus yang mengatakan… ‘yang berbahagia ialah mereka yang melakukan firman Allah dan yang memeliharanya’ sesungguhnya merujuk kepada ibu-Nya Bunda Maria yang secara total telah melakukan kehendak Allah. Totalitas Bunda Maria dalam melakukan kehendak Allah dapat dilihat dari ucapannya, ‘Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu (bdk. Luk. 1:38).

Jika kita memberikan jawaban di atas maka mereka akan mengutip ayat Kejadian 30:13 Berkatalah Lea: “Aku ini berbahagia! Tentulah perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia.” Maka ia menamai anak itu Asyer. Tentu ayat ini tidak ada yang salah, namun berbeda dengan ucapan yang diucapkan oleh Bunda Maria “…segala keturunan akan menyebut aku berbahagia… (Luk. 1:48). Bahkan terlihat secara jelas jika dibandingkan Luk 1:42-44, lalu (Elisabeth) berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.

Bunda Maria dihormati dan diistimewakan dalam Gereja Katolik, bukan karena kesucian Bunda Maria melebihi Yesus. Bunda Maria manusia biasa yang dipilih dan dinubuatkan oleh Allah dalam Alkitab (bdk. Yes. 7:14). Dan Bunda Maria suci bukan dari dirinya sendiri. Ia suci karena Allah menyucikan dia untuk melahirkan Yesus. Karena tidak mungkin Tuhan yang maha suci diam dalam diri perempuan sembarangan. Perlu diingat kembali bahwa Bunda Maria berkata “…segala keturunan akan menyebut aku berbahagia…”(Luk. 1:48). Tentu tindakan yang dapat kita lakukan untuk menyebut Bunda Maria berbahagia adalah dengan tindakan menghormati melalui berbagai praktek-praktek devosi (penghormatan).*

Tuhan Tak Pernah Tidur, Mata-Nya Tertuju kepada Orang Benar

0

Setiap hari, Tuhan memberikan kita dua puluh empat jam yang belum dijalani. Semuanya baru. Tak ada yang sama. Belum pernah ada seperti itu sebelumnya.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Ratapan 3:22-23).

Tiap hari adalah penting untuk dijelajahi, kita harus hidup di dalamnya. Hari kemarin sudah berlalu. Kita belum memiliki hari esok. Kita sedang menghadapi hari ini.

Tiap hari ada saja hal baru yang kita hadapi: yang menggembirakan juga yang menyebalkan; yang baik juga yang buruk; yang manis juga yang pahit. Semuanya bercampur menjadi pengalaman hidup kita.

[postingan number=3 tag= ‘covid19’]

Tiap hari adalah hari baik. Tak ada namanya ‘hari sial’. Yang terpenting kita bersedia untuk memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Apa itu? Yaitu ‘harus menjaga lidah kita terhadap yang jahat dan bibir kita terhadap ucapan-ucapan yang menipu’ (bdk. 1 Ptr. 3:10).

Ketidakmampuan kita dalam ‘menjaga lidah dan bibir’ (misalnya berkata kasar, memfitnah, menipu, mengucapkan ujaran kebencian) hanya akan membuat hidup kita berada dalam kesusahan. Dan, perlu diingat bahwa ‘hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta’ (Ams. 15:15).

Tiap hari adalah hari baik. Tapi, tak jarang, kita menyabotase hari kita dengan permasalahan hari sebelumnya, dan menimbunnya dengan berbagai pergumulan hari berikutnya. Kita menyesali masa lalu, dan mencemaskan masa depan. Padahal, kita sendiri pernah bilang bahwa yang lalu biarlah berlalu. Apalagi, Tuhan Yesus juga sudah mewanti-wanti:

“Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34).

Alangkah baiknya jika kita tidak membawa persoalan hari kemarin ke hari ini, dan persoalan hari ini ke hari berikutnya. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Penyesalan dan kekuatiran hanya akan membuat energi kita terkuras. Tidak heran kalau kita merasa sangat lelah. Tekanan darah naik, jantung berdetak kencang, susah tidur.

Apabila ada persoalan, jangan disimpan berlarut-larut. Ya “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef. 4:26). Mengapa? Karena hal seperti itu hanya akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Memang, kata orang, ‘hidup itu berat’. Dan, itu benar. Tidak ada orang yang bisa menghindarinya. Itulah salib yang harus kita pikul setiap hari. Yesus berkata:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

Beratnya hidup akan dialami oleh siapa saja setiap hari. Tak ada orang yang bisa begitu saja lari darinya. Namun, kita juga tidak bisa memikulnya sendiri. Kita tidak kuat. Maka dari itu, kita butuh Dia untuk membantu kita. Ya, kita butuh pertolongan dari Tuhan.

Sebagaimana beban hidup datang setiap hari, demikianlah kita membutuhkan pertolongan Tuhan setiap hari, setiap jam, setiap detik. Bukan hanya sesekali. Kita butuh bantuan dari Tuhan terus-menerus, tak terputus.

Pertolongan dari Tuhan itu ibarat makanan, kita butuh setiap hari. Maka, kita berkata: “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk. 11:3). Kita meminta Tuhan memberikan pertolongan yang kita perlukan setiap hari.

Kapanpun kita menghadapi pergumulan, berkonsultasilah dengan Tuhan. Ia siap mendengarkan keluhan kita setiap hari, setiap jam, setiap detik. Ia tak pernah tidur. Untuk hal ini, Daud-lah saksinya.

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (Mzm. 18:7).

Kapan pun kita membutuhkan pertolongan-Nya, Ia selalu ada untuk kita. “Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau” (Mzm. 139:8).

Yakinlah, kapan pun kita memintanya, Ia pasti menolong kita; sebab ‘Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong’ (Mzm. 34:16).

—JK-IND—

Membangun Harapan di tengah Pandemi, Menunggu sampai Waktu Tuhan Tiba

0

Hingga saat ini, pandemi Covid-19 tak kunjung mereda. Entah sampai kapan kita akan berada dalam situasi serba sulit seperti ini, tak ada satu pun orang yang tahu pasti. Yang ada hanyalah berupa prediksi yang menyebutkan bahwa sekitar bulan Juni atau Juli mendatang, situasi mungkin akan membaik.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Namun, jika kita ikuti betul pemberitaan demi pemberitaan beberapa hari belakangan ini, kita akan menangkap kesan bahwa rasa-rasanya virus mematikan ini tidak akan hilang dalam waktu dekat; sebab dari hari ke hari, jumlah pasien terkonfirmasi positif, ODP, dan PDP cenderung meningkat.

Menurut WHO, yang pernyataannya saya kutip dari running text di salah satu stasiun TV swasta, wabah ini baru benar-benar akan punah kira-kira lima tahun yang akan datang. Pernyataan ini memang bukan segala-galanya, namun pastilah didasarkan pada hasil analisa yang mendalam.

Apa yang diutarakan oleh WHO ini tentu sulit diterima; sebab kita tidak sabar menunggu sampai lima tahun untuk bisa keluar dari keadaan seperti ini.

Beragam cara pun terus dilakukan, baik untuk menghindari penularan, maupun untuk mengatasi dampaknya. Begitu pula upaya untuk menemukan vaksinnya terus dikembangkan, meski belum membuahkan hasil yang signifikan.

Maka, untuk sementara waktu, tinggal di rumah saja adalah pilihan yang terbaik. Meski banyak juga orang sudah bosan tinggal di rumah saja. Mereka ingin sekali beraktivitas seperti dulu. Tapi sayang, keinginan itu harus ditahan terlebih dahulu.

Kita berharap agar Tuhan memulihkan keadaan kita dengan segera. Itu harapan kita, tapi belum tentu seperti itu rencana Tuhan; sebab “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana” (Ams. 19:21).

Kita hanya bisa berharap, tapi Tuhanlah yang memutuskan. Maka, dalam situasi serba sulit seperti sekarang ini, kita hanya bisa berpasrah pada keputusan Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan tak mungkin membiarkan kita menderita berlarut-larut.

Tuhan pasti akan memulihkan keadaan kita, tapi mungkin saja saat-Nya belum tiba: “Saat-Ku belum tiba” (Yoh. 2:4). Ketika waktu-Nya tiba, pastilah “Ia menjadikan segala-galanya baik” (Mrk. 7:37). Itu keyakinan kita; dan keyakinan seperti ini tak boleh pudar.

Kita tahu bahwa waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Meski sejujurnya, kita ingin sekali mendengarkan Tuhan berkata: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu” (Yoh. 7:6). Inilah harapan kita; dan harapan seperti ini tak boleh sirna.

Boleh jadi, suatu saat wabah ini bisa dikendalikan, namun hidup kita mungkin tak akan pernah sama lagi. Kata pemerintah, kita akan memasuki ‘hidup normal’ yang baru. Artinya, jika dulunya kita bisa dekat secara fisik satu terhadap yang lain: bersalaman, berpelukan, hingga cipika-cipiki, ke depannya barangkali tak bisa seperti itu lagi. Ada jarak yang harus kita jaga, ada protokol kesehatan yang harus kita patuhi.

Menghadapi situasi seperti ini, kita harus banyak belajar dari Ayub. Ayub tahu bahwa hidup itu berat. Ia mengakuinya. Namun, pada akhirnya iman dan kesehatan Ayub menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia berkata: “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” (Ayb. 7:1).

Sama seperti Ayub, kita bergumul dengan banyak persoalan. Belajar darinya, kita harus tetap mengakui kekuasaan dan hikmat Tuhan, dengan berkata: “Pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan” (Ayb. 12:13,16).

Tugas kita sekarang ini adalah meyakinkan saudara-saudari di luar sana bahwa ‘Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya’ (1 Kor. 10:13).

Cobaan yang kita terima tidak akan melampaui kemampuan kita. Ketika kita dicobai, Tuhan akan memberikan solusi, sehingga kita dapat menanggungnya. Kapan solusi itu akan diberikan? Kita tunggu sampai waktu Tuhan tiba. Yang terpenting tetap sabar, percaya, dan tidak berhenti berharap.

Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-54

0

Hari ini, 24 Mei 2020, Gereja Katolik merayakan Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-54. Perayaan ini menjadi kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk menyadari dirinya sebagai makhluk yang berkomunikasi, baik dengan Tuhan (doa) maupun dengan sesama, bahkan dengan alam ciptaan lainnya. Komunikasi ini perlu terus dibangun secara positif agar mendatangkan kegembiraan dan membangun persekutuan (communio). Komunikasi  memang harus berisi hal-hal positif dalam rangka membangun peradaban kasih di dunia ini.

Hari Komunikasi Sosial ini juga menjadi kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk mensyukuri aneka alat (media) komunikasi sosial baik yang sederhana maupun yang canggih yang bisa didapatkan dengan mudah saat ini. Ini anugerah yang pantas disyukuri. Penciptaan media komunikasi sosial ini pada dasarnya bertujuan memudahkan manusia dalam membangun komunikasi positif.. Sebab dengan media komunikasi canggih, jarak fisik bukan lagi penghalang untuk membangun relasi-komunikasi. Banyak hal yang bisa diselesaikan dengan mudah berkat kemajuan media komunikasi.

Barangkali salah satu contoh yang aktual adalah pemanfaatan media sosial untuk perayaan ekaristi dan aneka doa lainnya (livestreaming) selama masa Covid-19. Umat bisa mengikuti misa atau doa bersama melalui media komunikasi. Di sini terbentuk komunikasi, bahkan terbentuk komunitas virtual. Ada persekutuan kasih di sini, walau tak bisa menggantikan persekutuan kasih yang terbangun melalui perjumpaan pribadi (face to face).

Akan tetapi, kita tak boleh menutup mata bahwa media komunikasi ini bisa disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Oknum-oknum ini memanfaatkan media komunikasi untuk tujuan tertentu yang menguntungkan dirinya, tetapi merugikan orang lain, bahkan membahayakan peradaban kasih. Badai berita bohong (hoax), aneka penipuan dan ujaran kebencian yang tersebar luas di media sosial adalah sebagian contoh penyalahgunaan media komunikasi. Hal-hal ini tentu tak diinginkan, sebab menghancurkan persekutuan atau menciptakan perpecahan dan kekacauan di tengah dunia.

Hari komunikasi sosial ini bertujuan menyadarkan umat beriman agar membagun komunikasi positif dan memanfaatkan media komunikasi sosial secara positif serta menghindari penyalahgunaannya. Hal ini bisa menjadi kenyataan kalau ada kesadaran pribadi dan kontrol yang positif dari sesama atau pihak terkait (keluarga, lembaga pendidikan, agama, pemerintah, dll).

Hidup menjadi Cerita

Pada  hari komunikasi sosial seduia ke-54 tahun ini, paus Fransiskus memfokuskan pesannya pada cerita. Cerita adalah bagian penting dari komunikasi. Cerita juga menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Sebab pada dasarnya, manusia adalah makhluk pencerita. Ia suka bercerita; ia juga suka mendengarkan cerita. Ada banyak juga hal positif yang bisa dipelajari melalui cerita. Cerita yang dimaksudkan di sini adalah cerita positif; cerita yang membangun persekutuan; merekatkan persaudaraan; menumbuhkan peradaban kasih.

Yang diharapkan adalah kita menjadi pencerita yang baik; yang hanya menceritakan hal-hal positif demi membangun persekutuan. Tentu kita juga berharap agar kita membaca atau mendengarkan cerita positif, cerita yang membangun peradaban kasih. Ini penting sekali karena pada saat ini, dunia sedang dikacaukan oleh aneka cerita negatif (hoax, ujaran kebencian, penipuan, dll). Badai cerita negatif ini menghancurkan dunia; menyebabkan perpecahan dan permusuhan dan merenggangkan ikatan persekutuan-persaudaraan. Kenyataan ini sangat menyediahkan dan perlu dipulihkan oleh semua pihak yang berkehendak baik; semua pihak yang mau menyelamatkan peradaban kasih.

Untuk menangkal badai cerita negatif ini, umat beriman perlu kembali kepada Kitab Suci. Bagi Paus Fransiskus, Kitab Suci adalah “cerita dari segala cerita.” Kitab Suci adalah induk segala cerita. Tentu cerita positif. Kitab Suci adalah kitab tentang Allah yang bercerita tentang diri-Nya dan juga cerita tentang manusia yang merefleksikan kasih Allah. Kitab Suci adalah cerita positif tentang Allah yang mengasihi manusia dan tentang manusia yang jatuh-bangun menanggapi kasih Allah.

Puncak dari cerita itu adalah Yesus sendiri. Ia datang ke dunia untuk menceritakan kemuliaan dan kasih Allah. Melalui Yesus, cerita tentang Allah yang penuh kasih itu menjadi hidup dan dirasakan secara langsung. Ia tak hanya pencerita ulung tentang kasih Allah, tetapi juga ia sendiri adalah isi cerita itu. Ia adalah cerita Allah yang hidup dan menghidupkan. Kita percaya pada cerita itu; hidup dari cerita itu dan mewartakan cerita itu kepada sesama.

Karena itu, pesannya jelas: di tengah badai cerita negatif yang sedang mengancam perabadan kasih, umat beriman perlu kembali kepada Kitab Suci, “cerita dari segala cerita itu” atau induk dari segala cerita positif.  Umat beriman perlu membaca, merenungkan dan menghayati “cerita dari segala cerita” itu; juga membagikannya kepada sesama atau anak-cucu. Harapannya,  berkat kedekatan dengan Kitab Suci, umat beriman semakin menjadi pencerita yang positif (tidak ikut menjadi penyebar hoax, fitnah, ujaran kebencian, penipuan, dll). Ia juga perlu selektif membaca dan mendengarkan cerita yang berkembang. Setiap berita yang dibaca atau didengar, perlu diuji (verifikasi) kebenarannya. Ia hanya perlu mendengarkan dan membaca cerita positif. Ini bentuk sumbangan umat beriman dalam membangun peradaban kasih atau merajut persekutuan-persaudaraan. Dengan sendirinya, ia turut membendung laju badai cerita negatif di zaman ini.

Selamat Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-54. Selamat menenun cerita positif dan menjadi pencerita serta pendengar positif. Selamat membaca dan merenungkan (kembali) Kitab Suci, “cerita dari segala cerita” positif.***

Tuhan Yesus memberkati!

 

Labuan Bajo, 24 Mei 2020

 

***

 

Saya melampirkan pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54. Pesan ini saya ambil  dari http:/www.mirificanews.net, website milik KWI.

 

HIDUP MENJADI CERITA

“Supaya Engkau dapat Menceritakan kepada Anak Cucumu (Kel 10:2)”

Saya ingin mengkhususkan pesan tahun ini pada tema “Cerita”, karena saya yakin, supaya tidak tersesat, kita perlu menghirup kebenaran dari cerita-cerita yang baik: cerita yang membangun, bukan yang menghancurkan; cerita yang membantu untuk menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama. Di tengah-tengah hiruk-pikuk suara dan pesan membingungkan yang mengelilingi kita, kita membutuhkan cerita manusiawi, yang berbicara tentang diri kita sendiri dan segala keindahan di sekitar kita. Sebuah cerita yang mampu memandang dunia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan penuh kelembutan, dan yang bisa menceritakan bahwa kita adalah bagian dari sebuah permadani yang hidup dan saling terhubung. Sebuah cerita yang dapat mengungkapkan jalinan benang yang menghubungkan kita satu sama lain.

  1. Menenun Cerita                                                                                    Manusia adalah makhluk pencerita. Sejak kecil kita mempunyai “rasa lapar” akan cerita sebagaimana kita lapar akan makanan. Entah cerita berbentuk dongeng, novel, film, lagu, maupun berita; cerita yang mempengaruhi kehidupan kita, bahkan tanpa kita sadari. Kita sering memutuskan apa yang benar atau apa yang salah berdasarkan karakter/tokoh-tokoh dan cerita cerita yang terekam dalam diri kita. Cerita-cerita tersebut membekas dan mempengaruhi keyakinan dan perilaku kita. Cerita-cerita itu dapat pula membantu kita memahami dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.

Manusia bukan hanya satu-satunya makhluk hidup yang membutuhkan pakaian untuk menutupi kerapuhannya (bdk. Kej 3:21). Ia juga merupakan satu-satunya makhluk yang perlu mengisahkan dirinya, “mengenakan” cerita-cerita untuk menjaga hidupnya. Kita tidak hanya menenun pakaian, tetapi juga menenun cerita: sesungguhnya, kemampuan manusiawi untuk “menenun” (Latin: texere) tidak hanya mengacu pada kata “tekstil”, tetapi juga “teks”. Berbagai cerita dari setiap masa memiliki sebuah “mesin tenun”umum: struktur yang meliputi sosok “para pahlawan”, bahkan pahlawan dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam mewujudkan mimpinya menghadapi situasi-situasi yang sulit, melawan kejahatan yang didorong oleh sebuah kekuatan yang membuat mereka berani, yaitu kekuatan cinta kasih. Dengan membenamkan diri kita dalam cerita-cerita tersebut, kita dapat menemukan kembali motivasi-motivasi heroik untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Manusia adalah makhluk pencerita karena ia adalah makhluk yang berkembang, yang menemukan siapa dirinya dan diperkaya oleh berbagai jalan cerita dalam hari-hari hidupnya. Akan tetapi, sejak awal mula, cerita kita telah mendapatkan ancaman: si jahat yang meliuk-liuk sepanjang sejarah.

  1. Tidak semua cerita adalah baik

“Jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah“ (bdk. Kej 3:4). Godaan ular ini menyisipkan sebuah simpul yang sulit dilepaskan dalam alur sejarah. “Jika kamu memiliki, kamu akan menjadi, kamu akan mendapatkan…”. Inilah pesan yang terus dibisikkan sampai hari ini oleh orang-orang yang menggunakan storytelling untuk tujuan pemanfaatan (Eksploitasi-red) Ada begitu banyak cerita yang membius dan meyakinkan kita bahwa untuk berbahagia kita harus terus menerus mendapatkan, memiliki dan mengonsumsi. Bahkan kita mungkin tidak menyadari betapa kita kerap menjadi rakus dalam membicarakan hal buruk dan bergosip atau berapa banyak kekerasan dan dusta yang kita konsumsi. Sering kali berbagai platform komunikasi, justru memproduksi cerita-cerita destruktif dan provokatif yang mengikis dan menghancurkan benang-benang yang rapuh dalam kehidupan bersama, dari pada mengisahkan cerita-cerita konstruktif yang berperan sebagai perekat ikatan sosial dan tatanan budaya. Mengumpulkan aneka informasi yang tidak terverifikasi, mengulang-ulang obrolan sepele dan persuasif yang palsu, menyerang dengan ujaran kebencian, sungguh tidak menenun sejarah manusia melainkan menelanjangi martabatnya.

Namun, sementara cerita-cerita yang digunakan untuk tujuan-tujuan instrumental/pemanfaatan dan kekuasaan berumur pendek, sebuah cerita yang baik mampu melampaui batas-batas ruang dan waktu. Cerita-cerita itu tetap aktual berabad-abad lamanya karena memberikan asupan dalam kehidupan.

Pada era di mana pemalsuan menjadi semakin canggih, bahkan mencapai tingkat eksponensial (seperti rekayasa materi digital), kita membutuhkan kebijaksanaan untuk menerima dan menciptakan cerita-cerita yang indah, benar dan baik. Kita membutuhkan keberanian untuk menolak cerita yang palsu dan jahat. Kita membutuhkan kesabaran dan penegasan rohani untuk menemukan kembali cerita-cerita yang membantu kita untuk tidak kehilangan benang di antara banyaknya permasalahan sekarang ini; cerita yang mengungkapkan kebenaran tentang siapa diri kita sesungguhnya, juga dalam kepahlawanan yang diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Cerita dari segala cerita

Kitab Suci adalah cerita dari segala cerita. Betapa banyaknya peristiwa, bangsa dan pribadi yang dikisahkan kepada kita! Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa sejak awal, Allah adalah sang pencipta dan sekaligus narator. Sungguh, Ia mengucapkan Sabda-Nya dan segala sesuatu ada (bdk. Kej 1). Melalui narasi-Nya, Allah memanggil segala sesuatu kepada hidup, dan pada puncaknya Ia menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai rekan dialog-Nya yang bebas, yang membuat sejarah bersama-Nya. Dalam sebuah Mazmur, seorang makhluk berkata kepada Sang Pencipta: “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, […]. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah” (139:13-15). Kita tidak terlahir secara lengkap, tetapi kita harus “ditenun” dan “disulam” secara terus menerus. Kita telah diberikan kehidupan sebagai sebuah undangan untuk terus menenun “keajaiban yang luar biasa” kita.

Dalam pengertian ini, Kitab Suci adalah kisah cinta yang luar biasa antara Allah dan umat manusia. Di tengahnya adalah Yesus: kisah-Nya membawa penggenapan Kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang sama juga merupakan kisah cinta umat manusia kepada Allah. Dengan demikian manusia akan dipanggil, dari generasi ke generasi, untuk menceritakan dan menyimpan dalam memori berbagai episode yang paling signifikan dari Cerita dari segala cerita ini, yang mampu untuk mengomunikasikan makna dari apa yang terjadi.

Judul dari Pesan tahun ini diambil dari Kitab Keluaran, sebuah kisah mendasar alkitabiah yang melihat Allah campur tangan dalam cerita umat-Nya. Ketika anak-anak Israel yang diperbudak berseru kepada-Nya, Allah mendengar dan mengingat: “Allah mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka” (Kel 2: 24-25). Ingatan Allah membawa pembebasan dari penindasan, yang datang melalui berbagai tanda dan keajaiban. Dan pada titik inilah Tuhan memberikan kepada Musa makna dari semua tanda-tanda itu: “Dan supaya engkau dapat menceriterakan kepada anak cucumu tanda-tanda mukjizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan!” (Kel 10:2). Pengalaman Keluaran mengajarkan kepada kita bahwa pengetahuan tentang Allah diteruskan dari generasi ke generasi dengan menceritakan kisah bagaimana Ia terus membuat diri-Nya hadir. Allah kehidupan dikomunikasikan dengan menceritakan kehidupan.

Yesus sendiri berbicara mengenai Allah bukan dengan pidato-pidato abstrak, namun dengan perumpamaan-perumpaan, narasi-narasi singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Di sini hidup menjadi cerita, dan kemudian bagi pendengar, cerita itu menjadi kehidupan: narasi tersebut memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkannya dan mengubahnya.

Tidak mengherankan bahwa Injil-injil juga merupakan cerita. Sementara Injil-injil menyampaikan informasi tentang Yesus, sekaligus “menunjukkan” kita kepada Yesus, membuat kita sesuai pada-Nya. Injil meminta pembacanya untuk mengambil bagian dalam iman yang sama untuk berbagi kehidupan yang sama. Injil Yohanes mengatakan kepada kita bahwa Narator yang sesungguhnya– Sang Sabda,– itu sendiri menjadi cerita: “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menceritakan-Nya” (Yoh 1:18). Saya menggunakan istilah “menceritakan” karena kata dasar exeghésato dapat diterjemahkan sebagai “mewahyukan” atau menceritakan”. Allah secara pribadi telah membuat diri-Nya terajut ke dalam kemanusiaan kita, yang memberikan kita cara baru untuk merajut cerita-cerita kita.

  1. Sebuah cerita yang diperbarui

Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu; melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Cerita ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah memberi perhatian mendalam kepada manusia, kedagingan kita, dan sejarah kita, sampai Ia sendiri menjadi manusia, menjadi daging dan menjadi sejarah. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak signifikan atau tidak bernilai. Sesudah Allah menjadi Cerita, dalam arti tertentu, setiap cerita manusia adalah cerita ilahi. Dalam cerita setiap orang, Bapa melihat kembali cerita tentang Putera-Nya yang turun ke bumi. Setiap cerita manusia memiliki martabat yang luar biasa. Karena itu, kemanusiaan layak mendapatkan cerita-cerita luhur, yang keluhuruannya sungguh mempesona seperti yang telah diangkat oleh Yesus.

“Kalian – sebagaimana ditulis oleh Santo Paulus – adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam di hati manusia” (2 Kor 3:3). Roh Kudus, cinta kasih Allah, menulis dalam diri kita. Dan selama Ia menulis di dalam kita, Ia menaruh hal-hal baik di dalam kita dan terus menerus mengingatkan kita akan hal itu. Sesungguhnya, mengingat (re-cordare) berarti membawa hati (Lat. cor), “menulis” di hati. Berkat karya Roh Kudus, setiap cerita, bahkan cerita yang paling terlupakan, juga cerita yang tampaknya ditulis pada garis yang paling bengkok sekalipun, dapat menjadi inspirasi dan dapat dilahirkan kembali seperti sebuah karya agung; menjadi pelengkap Injil. Cerita yang dimaksud seperti Pengakuan-pengakuan Agustinus. Seperti Kisah Sang Peziarah oleh Ignasius. Seperti Cerita Sebuah Jiwa dari Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Seperti Pertunangan, seperti Saudara-saudara Karamazov. Seperti cerita-cerita lain yang tak terhitung jumlahnya, yang dengan sangat mengagumkan telah menggambarkan pertemuan antara kebebasan Allah dan kebebasan manusia. Tiap-tiap kita mengenal berbagai cerita Injil yang harum, yang telah memberikan kesaksian tentang Cinta yang mengubah hidup. Cerita-cerita ini berseru-seru untuk dibagikan, diceritakan, dihidupi di setiap waktu, dalam setiap bahasa dan dengan segala cara.

  1. Sebuah cerita yang memperbaharui kita

Cerita kita sendiri menjadi bagian dari setiap cerita agung. Ketika kita membaca Kitab Suci, kisah-kisah orang-orang kudus, dan juga narasi-narasi yang telah mampu membaca jiwa manusia dan mengungkapkan keindahannya, Roh Kudus memiliki kebebasan untuk menulis di dalam hati kita, memperbaharui dalam diri kita ingatan tentang siapa diri kita di mata Allah. Ketika kita mengingat cinta yang telah menciptakan dan menyelamatkan kita, ketika kita menaruh cinta ke dalam cerita-cerita kita setiap hari, ketika kita menenun jalan cerita sehari-hari kita dengan belas kasihan, maka kita akan berpindah ke halaman berikutnya.

Hendaklah kita tidak berhenti dengan penyesalan dan kesedihan, terikat pada sebuah kenangan menyakitkan, yang memenjarakan hati, tetapi hendaklah kita membuka hati kepada yang lain, kita membuka diri terhadap visi yang sama dengan sang Narator. Menceritakan kisah kita kepada Allah tidak pernah sia-sia: meskipun riwayat peristiwa-peristiwa tidak berubah, tetapi makna dan perspektifnya akan berubah. Bercerita kepada Tuhan berarti masuk ke dalam tatapan cinta-Nya yang berbelas-kasih kepada kita dan orang lain. Kita bisa menceritakan kepada-Nya kisah-kisah yang kita jalani, membawa orang-orang dan mempercayakan berbagai situasi dalam kehidupan kita. Bersama-Nya kita dapat menyimpul kembali jalinan kehidupan, menjahit kembali yang putus dan terbelah. Betapa kita membutuhkannya, semuanya!

Dengan cara pandang Narator – satu-satunya yang memiliki cara pandang akhir – kita mendekatkan diri kepada para pemeran utama, kepada saudara dan saudari kita, para aktor yang berada bersama kita di dalam cerita kita hari ini. Ya, karena tidak ada seorang pun yang menjadi tambahan di panggung dunia dan cerita setiap orang terbuka pada perubahan yang mungkin terjadi. Bahkan ketika kita menceritakan keburukan, kita dapat belajar untuk memberikan ruang untuk penebusan. Di tengah-tengah keburukan, kita juga dapat mengenali kembali dinamisme kebaikan dan memberikannya ruang.

Oleh karena itu, hal ini bukan berarti hanya sekedar mengikuti logika-logika dari penceritaan (storytelling), atau mengiklankan diri, tetapi untuk mengingat siapa diri kita di hadapan Allah, untuk memberi kesaksian akan apa yang ditulis oleh Roh Kudus dalam hati kita, untuk mengungkapkan kepada setiap orang bahwa cerita dirinya mengandung keajaiban yang luar biasa. Untuk dapat melakukan ini, marilah kita mempercayakan diri kepada seorang wanita yang telah merajut kemanusiaan Allah di dalam rahimnya, dan sebagaimana disampaikan dalam Injil, telah merajut segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Santa Perawan Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (bdk. Luk 2:19). Marilah kita meminta bantuan kepada Sang Bunda, yang telah mengetahui cara melepaskan ikatan simpul-simpul kehidupan dengan kekuatan cinta yang lembut:

O Maria, perempuan dan Bunda, engkau telah menenun Sabda ilahi di dalam rahim-Mu, engkau telah menceritakan karya Allah yang luar biasa di sepanjang hidupmu. Dengarkanlah cerita-cerita kami, simpanlah dalam hatimu dan jadikanlah milikmu sendiri, juga cerita-cerita yang tidak seorang pun mau mendengarkannya. Ajarilah kami untuk mengenal kembali benang-benang baik yang memandu jalan cerita. Lihatlah kumpulan simpul-simpul kusut dalam hidup kami yang melumpuhkan ingatan kami. Dengan tanganmu yang halus, setiap benang kusut dapat dilepaskan. O Wanita yang penuh Roh, Ibu yang penuh kepercayaan, berikanlah juga kami inspirasi. Bantulah kami untuk membangun cerita-cerita perdamaian, cerita-cerita yang mengarah menuju masa depan. Dan tunjukkanlah kepada kami jalan untuk menghidupinya bersama.

Roma, di Basilika Santo Yohanes Lateran, 24 Januari 2020,
Peringatan Santo Fransiskus dari Sales

Fransiskus

 

[1] Bdk Paus Benediktus XVI, Ensiklik Spe Salvi, 2: “Kabar Kristiani bukanlah hanya “informatif” saja, melainkan juga “performatif”. Artinya, Injil bukan hanya pemberitahuan hal-hal yang dapat diketahui, melainkan pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan dan mengubah kehidupan

 

 

Leonardo DiCaprio dan Laudato Si’

0

Apa hubungan Leonardo DiCaprio dengan Laudato Si? Barangkali ini pertanyaan Anda ketika membaca judul tulisan ini. Tak apa. Itu pertanyaan yang baik. Kali ini saya memang mau menulis tentang ‘hubungan’  Leonardo DiCaprio dengan Laudato Si.

Bagi Anda penyuka film atau penyuka berita dunia hiburan, Leonardo DiCaprio pasti  bukan tokoh asing. Anda sering membaca atau menyaksikan kiprahnya.  Aktor terkenal Amerika Serikat berdarah Italia-Jerman, kelahiran Los Angeles, 11 November 1974 ini, masuk dalam jajaran aktor papan atas dunia. Ia terkenal tidak saja karena kepiawaiannya dalam dunia peran (film), tetapi juga karena wajahnya yang rupawan. Penampilannya memukau. Hampir semua orang yang menyaksikannya pasti terpikat-terpukau.

Salah satu penampilan Leonardo yang fenomenal adalah perannya dalam film Titanic, film terkenal itu. Dalam film itu, nama peran Leonardo adalah Jack Dawson. Lawan mainnya adalah Kate Winslet (nama peran: Rose DeWitt). Film bernuansa epik, roman dan bencana yang menimpa Amerika Serikat ini disutradarai oleh James Cameron. Film yang diproduksi  tahun 1997 di Amerika dan dirilis  5 Januari 1998 di Indonesia ini menjadi film terlaris sepanjang masa. Suksesnya film Titanic ini tak terlepas dari kepiawaian Leonardo DiCaprio dalam bermain peran.

Akan tetapi, saya tidak  hendak mengulas panjang lebar tentang film Titanic ini. Fokus saya adalah Leonardo DiCaprio. Lebih tepatnya, saya hendak melihat sekilas sisi lain dari Leonardo. Sisi lain yang saya ulas ini, bagiku, sangat menarik dan menyentuh hati. Apakah itu? Kepeduliannya akan lingkungan hidup. Perhatiannya yang serius akan keberlangsungan kehidupan di bumi ini tak diragukan lagi. Apa yang dilakukannya? Berikut ini akan saya ulas.

Rupanya aktor Holywood yang akrab disapa Leo ini sejak muda sudah peduli dengan masalah lingkungan hidup. Ia selalu merasa sedih ketika ada spesies yang punah akibat ulah manusia.  Ia juga gerah dengan aneka kerusakan lingkungan hidup dan pemanasan global yang terus dirasakan. Baginya, aneka hal tak diinginkan itu penyebabnya adalah keserakahan manusia.

Kepedulian Leo terhadap isu lingkungan diperkuat ketika ia bertemu Albert Arnold Gore Jr atau Al Gore,  Wakil Presiden ke-45 AS di masa  pemerintahan Bill Clinton. Rupanya Al Gore adalah tokoh penting yang terus menyerukan pentingnya pelestarian lingkungan  hidup. Leo berkisah tentang perjumpaannya dengan Al Gore.

“Waktu itu, usiaku 20-an tahun, saya bertemu dengannya (Al Gore) di Gedung Putih. Dia memintaku untuk duduk, lalu menggambar planet kita, bumi, beserta atmosfernya. Lalu dia berkata bahwa ini (pemanasan global) adalah krisis paling penting bagi kehidupan manusia. Sejak saat itu, saya tidak hanya terpesona dengan isu tersebut, tetapi benar-benar cemas mengapa kita sebagai masyarakat dunia tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengurangi pemanasan global” (Media Indonesia, 13/9/2016).

Perjumpaan ini menjadi langkah awal serius ziarah hidup aktor terkenal ini dalam perjuangan melestarikan lingkungan hidup. Untuk mengkristalkan perjuangannya ini, tahun 1998 ia mendirikan yayasan “Leonardo DiCaprio Foundation”,  yayasan yang aktif berkampanye tentang pelestarian lingkungan.  Melalui lembaga ini, Leonardo bersama timnya melakukan banyak hal untuk menyelamatkan bumi dan memulihkan lingkungan hidup yang telah rusak.

Ketika menerima Piala Oscar perdananya pada 29 Februari 2016 yang lalu karena perannya dalam film The Revenant, pidato kemenangannya adalah tentang lingkungan hidup. “The Revenant ialah hubungan seorang dengan alam. Perubahan iklim itu nyata. Itu terjadi pada saat ini, ancaman paling serius yang species kita hadapi. Kita perlu bersama-sama bekerja dan berhenti menunda-nunda. Mari jangan tidak peduli dengan planet kita.” Begitu bunyi pidatonya yang memukau dari panggung Piala Oscar dan didengarkan oleh banyak orang di seluruh dunia, sebagaimana dikutip oleh Media Indonesia (MI, 13/9/2016).

Pada tahun 2019, Leo juga meluncurkan organisasi peduli lingkungan bernama, Earth Alliance. Ia juga menyatukan “Leonardo DICaprio Foundation (1998)” dengan Earth Alliance.  Kali ini ia berkolaborasi dengan  milarder Laurene Powell Jobs dan Brian Sheth. Dengan demikian, komitmen Leo untuk menyelamatkan lingkungan hidup semakin didukung banyak orang.

Dalam perjuangannya, Leo tak hanya berkampanye tentang bagaimana menyelamatkan bumi, tapi juga aktif memberikan sumbangan dana untuk proyek-proyek konservasi alam dan pemanasan global.  Sebagai contoh, pada Agustus 2019,  saat terjadi kebakaran hutan Amazon, Leonardo menyumbangkan dana sekitar Rp 71 miliar untuk mengatasi kebakaran ini (Detik.com/27/8/2019). Yayasan ini juga rupanya menyumbangkan dana  tidak hanya untuk  pelestarian  lingkungan di wilayah Amerika, tetapi seluruh dunia yang sedang mengalami masalah lingkungan. Misalnya, pada Februari 2016, Leonardo melalui yayasannya menyumbangkan uang sekitar Rp 90 miliar untuk pelestarian hutan di Sumatera (Bangka.tribunnews.com/4/2/2016). Atau, melalui yayasan barunya yang didirikan tahun 2019, Earth Alliance,   Leonardo menyumbangkan dana sebesar Rp 41,2 Miliar untuk membantu pemadaman kebakaran hutan di Australia (Kompas.com/10/1/2020).

Masih banyak contoh lainnya tentang betapa pedulinya Leonardo DiCaprio dengan pelestarian lingkungan hidup. Tampak bahwa penghasilannya dari dunia peran (film, iklan, dll), digunakannya untuk misi penyelamatan bumi. Dengan demikian, ia telah bekerja untuk keselamatan semua makhluk hidup yang ada di bumi ini; tidak hanya berjuang untuk diri atau kelompoknya. Ini misi yang mulia.

Leonardo dan Laudato Si’

 Kepedulian Leonardo DiCaprio terhadap pelestarian  lingkungan hidup diperkuat oleh keberaniannya membangun dialog dengan pelbagai pihak (negara, agama, LSM, dll). Dialog itu tentu saja tentang bagaimana bersikap terhadap lingkungan, kebijakan apa yang harus segera dibuat dan langkah apa yang perlu untuk memulihkan kembali lingkungan yang rusak dan apa langkah antisipatif yang harus segera diambil saat ini. Dialog yang intensif ini menunjukkan keseriuan Leonardo pada isu pelestarian bumi-lingkungan hidup.

Saya secara khusus menyoroti perjumpaan (dialog) Leonardo dengan Paus Fransiskus yang berlangsung pada  28 Januari 2016, di Vatikan (Mirificanews/30/1/2016). Yang mereka dialogkan dalam perjumpaan itu adalah isu lingkungan hidup (pemanasan global, perubahan iklim, kebakaran hutan, dll). Itulah tema yang menjadi perhatian serius Leonardo sejak masa muda dan sampai saat ini telah terlibat aktif di dalamnya. Maksudnya, ia terlibat aktif melestarikan lingkungan hidup dan mengatasi pelbagai kerusakan yang terjadi di pelbagai belahan bumi.

Di pihak lain, Paus Fransiskus juga memiliki kepedulian yang sangat serius dengan pelestarian lingkungan hidup. Selain melalui seruan lisan dalam pelbagai kesempatan tentang pentingnya merawat bumi, Paus Fransiskus juga secara mendalam dan mengagumkan, menulis ensiklik terkenal tentang Lingkungan Hidup,  bernama Laudato Si’. Ensiklik ini diluncurkan pada 24 Mei 2015.

Melalui ensiklik Laudato Si’ (LS) ini, Paus Fransiskus secara panjang lebar berbicara tentang lingkungan hidup dari pelbagai aspek (Kitab Suci, Tradisi, ajaran Gereja, ilmu sosial, teknologi, dll). Ia secara khusus menyebut bumi sebagai “Rumah Kita Bersama.” Rumah ini pada awal diciptakan oleh Tuhan, baik-baik saja. Kini sudah rusak parah. Yang membuatnya rusak tak lain adalah manusia.  Karena itu, manusia harus bertanggung jawab memulihkannya.

Paus menyebutkan bahwa tindakan tak bertanggung jawab yang dilakukan manusia terhadap lingkungan adalah dosa. “Kejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap diri kita sendiri dan dosa terhadap Allah” (LS 8). Untuk itu, manusia perlu melakukan pertobatan ekologis. Pertobatan jenis ini diwujudkan tidak hanya memohon ampun dari Allah atau meminta maaf kepada alam, tetapi terutama adalah segera melakukan aneka tindakan konkret untuk memulihkan kerusakan alam dan mencegah pelbagai kerusakan berikutnya. Hal ini bisa dilakukan jika ada kerja sama yang baik dari semua pihak di bumi ini.

Ensiklik yang mengagumkan ini, rupanya semakin menyadarkan manusia saat ini tentang apa yang terjadi dengan bumi ini. Ensiklik ini menggerakkan hati banyak orang, tidak hanya orang Katolik, tetapi juga orang non Katolik, tentang perlunya mengambil langkah cepat dan tepat untuk memulihkan kembali bumi sebagai “Rumah Bersama” semua makhluk agar tetap layak huni dan mencegah kehancuran yang lebih besar di saat selanjutnya. Manusia saat ini harus berjuang merawat bumi agar mewariskan bumi yang baik; bumi yang layak huni dan ramah kepada generasi berikutnya.

Saya sesungguhnya mau menggarisbawahi bahwa Leonardo DiCaprio adalah salah seorang yang tersentuh hatinya oleh Ensiklik Laudato Si’. Barangkali aneka pemikiran Paus Fransiskus yang tertuang dalam ensiklik ini meneguhkan perjuangan Leonardo dalam merawat bumi selama belasan tahun dan juga mendorongnya untuk semakin bersemangat menyelamatkan bumi pada waktu selanjutnya. Mungkin juga Leonardo merasa bahwa ensiklik Laudato Si’ telah “mengesahkan” perjuangannya:   Memelihara dan merawat bumi adalah tindakan yang tepat. Ia merasa dihargai dan didukung untuk terus bermisi menyelamatkan bumi.

Setelah dialog penuh kasih, yang kira-kira berlangsung 15 menit ini, Paus Fransiskus dan Leonardo DiCaprio saling memberikan kenangan. Leonardo memberikan buku seni karya pelukis Hieronimus Bosch kepada Paus Fransiskus; sebaliknya Paus Fransisus memberikan sebuah jilid Ensiklik Laudato Si’ dan sebuah medali kepada Leonardo.  Tentu ini bentuk dukungan agar keduanya tetap tak gentar berjuang dan mempengaruhi dunia untuk menyelamatkan lingkungan hidup; memulihkan bumi sebagai “Rumah Bersama” semua makhluk.

Esok, 24 Mei 2020, Ensiklik Lingkungan Hidup, Laudato Si’  karya Paus Fransiskus berusia lima (5) tahun. Sudah lima tahun Paus Fransiskus melalui ensiklik ini menginspirasi dunia tentang pentingnya merawat bumi. Leonardo DiCaprio hanya salah satu contoh. Semoga semakin banyak manusia di bumi ini yang terinspirasi; terutama semakin banyak yang mencintai-merawat bumi: memulihkan yang rusak dan mencegah agar tak terjadi kehancuran besar di masa depan. Terima kasih Paus Fransiskus, Laudato Si’ dan Leonardo DiCaprio!***

 

Labuan Bajo, 23 Mei 2020

 

 

 

Solidaritas Berlandaskan Kasih

0

Yang namanya manusia, pasti pernah menderita. Ini tak dapat disangkal oleh siapapun.  Penderitaan itu bagian dari hidupnya. Yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain hanyalah jenis penderitaan, kapan penderitaan datang dan berakhir, berapa berat penderitaan, penyebab penderitaan dan sebagainya.

Penderitaan yang adalah bagian dari hidup manusia itu datang tanpa diundang. Yang diundang (dirindukan) itu hanya kegembiraan dalam segala hal. Tetapi berhubung penderitaan itu  bagian dari hidup manusia, jika ia datang, seharusnya tidak perlu dihindari. Tak perlu lari dari penderitaan. Sebagaimana manusia menerima kegembiraan, begitu pula  ia menerima penderitaan.  Toh ia bagian dari hidup manusia. Ia seharusnya menjadi sahabat manusia, walau bukan sahabat yang didambakan.

Menerima penderitaan itu artinya kalau ia datang, manusia perlu menghadapinya dengan tenang dan tanpa panik berlebihan, apalagi berusaha lari darinya. Kalau tidak tenang, mudah panik dan berusaha lari darinya, yang terjadi adalah penderitaan semakin hebat. Akibatnya, manusia kewalahan menghadapinya. Tapi kalau tetap tenang, tidak mudah panik, tidak melarikan diri, penderitaan pasti bisa diatasi. Ketenangan membuat manusia menerima penderitaan sebagai bagian dari hidup. Ketenangan juga membuat manusia bertahan dalam penderitaan sambil tetap mencari solusi terbaik dan bijak untuk mengatasi penderitaan. Solusi terbaik hanya ditemukan dalam ketenangan batin.

Penderitaan karena Corona

Saat ini, semua manusia di dunia sedang menghadapi penderitaan karena virus Corona. Sudah lebih dari seratus ribu manusia  meninggal dunia. Ratusan ribu lainnya terinfeksi dan sedang dalam perawatan. Yang lain lagi sudah sembuh.

Bila membandingkan jumlah yang terinfeksi dengan jumlah manusia di dunia secara keseluruhan, memang yang terinfeksi itu terbilang sedikit. Sebagian besar manusia belum terinfeksi virus ini. Tetapi karena manusia adalah makhluk sosial dan menjadi bagian dari persaudaraan global (saudara dalam kemanusiaan), maka semua manusia saat ini sedang menderita. Semua manusia  turut merasakan penderitaan. Ini penderitaan bersama umat manusia. Belum lagi penderitaan karena dampaknya yang sangat besar bagi dunia. Segala sendi kehidupan (ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan, dll) manusia terganggu. Ancaman kelaparan di depan mata, juga ancaman kekacauan ekonomi, sosial-politik-budaya.

Bagaimana dunia menghadapi penderitaan karena virus Corona? Sesungguhnya sudah banyak hal yang dilakukan untuk mengatasi penderitaan ini. Selain warga dunia  diminta agar tetap tenang dan tak panik, aneka kebijakan setiap negara, kebijakan dunia internasional (melalui PBB, misalnya) dan kebijakan lembaga agama dan lembaga kemanusiaan telah menunjukkan upaya serius menghadapi  Corona. Para ilmuwan juga telah dan  sedang berjuang keras meneliti virus ini agar bisa menemukan vaksin atau obat penangkalnya. Para pemeluk agama juga berdoa siang-malam memohon bantuan Yang Ilahi agar penderitaan ini bisa diatasi dengan baik.

Solidaritas Bertumbuh Subur

Salah satu hal mengagumkan di seluruh dunia pada saat penderitaan karena Corona ini adalah bertumbuh suburnya solidaritas global. Anak-anak manusia di setiap negara bahkan lintas negara saling mendukung satu sama lain melalui perbagai cara. Ada yang saling mendukung dengan memberikan peneguhan agar tetap tenang, tetap mengikuti petunjuk kesehatan, taat pada aturan pemerintah; ada juga gerakan doa bersama di seluruh dunia menurut agama dan aliran kepercayaan masing-masing, ada yang saling menyumbangkan kebutuhan pokok (makanan, minuman), juga obat-obatan dan APD (Alat Pelindung Diri). Masih banyak  bentuk solidaritas global lainnya. Belum lagi cerita heroik para pelayan kesehatan (dokter, perawat, petugas Rumah Sakit, dll) dan relawan/ti yang berkorban untuk sesamanya, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.

Pada titik ini, saya semakin mengamini bahwa penderitaan karena Corona ini memang tak dirindukan, tetapi di baliknya ada sejumlah nilai-nilai kehidupan bertumbuh subur. Virus Corona menghidupkan kembali aneka keutamaan, antara lain: solidaritas, belas kasihan, pengorbanan, keberanian dan kesetiaan, yang barangkali selama ini sudah mulai memudar karena kemajuan ilmu pengetahuan  dan tekhologi yang secara langsung atau tidak langsung menyingkirkan atau mengabaikan aneka keutamaan tersebut. Corona mendidik manusia tentang apa artinya peduli kepada sesama dan lingkungan, apa artinya pengorbanan, apa artinya belas kasihan. Corona menghardik manusia yang sering memikirkan hanya dirinya sendiri agar segera melihat sesama dan segera melakukan sesuatu yang positif.

Solidaritas Berlandaskan Kasih

Pada bagian akhir tulisan sederhana ini, saya ingin bercerita sekilas tentang penderitaan karena Corona di Labuan Bajo, tempat saya tinggal. Sampai saat ini, sudah 14 orang yang terinfeksi virus Corona (positif Corona) dan sedang dalam perawatan di Rumah Sakit Komodo. Puluhan atau lebih dari seratus orang lainnya sedang dalam pengawasan pihak kesehatan (status ODP, PDP).

Walaupun jumlah ini belum terbilang banyak, tetapi dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat di sini. Selain dampak psikis (tidak tenang karena takut tertular), banyak juga yang kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja lagi. Semua orang diminta tetap di rumah, jika tak ada keperluan penting dan mendesak di luar. Banyak pekerja hotel yang dirumahkan. Banyak juga para  pelaku dan pemandu wisata serta pelaku bisnis yang berdiam diri. Belum lagi para buruh pelabuhan, bandara dan tempat-tempat lainnya yang tidak bisa bekerja. Dan sebagainya.  Singkatnya, penderitaan karena Corona telah sungguh-sungguh dirasakan di sini.

Dalam situasi penderitaan ini, saya kagum dengan aneka bentuk solidaritas  yang bertumbuh subur di sini. Ada banyak pihak  (pemerintah, TNI-POLRI, swasta, LSM, relawan, agama, dll) yang telah dan sedang melakukan macam-macam hal agar penderitaan karena Corona ini bisa teratasi dengan baik. Ada yang berbagi APD (masker, cairan pembersih tangan, obat-obatan, dll); ada juga yang berbagi kebutuhan pokok (sembako). Ada juga yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk sekadar mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Dan sebagainya.

Saya secara istimewa tertarik menceritakan sekelompok anak muda, yang sejak terbentuk di Labuan Bajo tahun 2017 silam, beberapa kali  mereka melakukan aksi solidaritas kemanusiaan yang mengagumkan. Kelompok anak muda ini bernama Komunitas Sant’Egidio (KSE). Anggotanya adalah  muda-mudi yang sudah bekerja (pegawai, swasta) dan beberapa anak SMA.

Penderitaan karena Corona yang menimpa dunia, khususnya Labuan Bajo, turut menumbuhkan solidaritas dalam komunitas anak muda ini agar perlu melakukan sesuatu. Selain berdoa agar penderitaan ini bisa diatasi dengan baik, mereka melakukan aksi solidaritas yang nyata. Yang terbaru,  dalam kerja sama dengan beberapa donatur, mereka membagikan sejumlah masker kepada anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan  milik para bruder MOP (Missionaries of the Poor) dan panti lansia milik komunitas suster Kkottongnae, Labuan Bajo.

Selain itu, mereka juga memberikan bantuan berupa beras (8-10 kg) dan satu papan telur ayam kepada 30 keluarga yang tinggal di bukit Klumpang (di samping SMKN 1 atau di dekat rumah jabatan bupati dan wakil bupati Mabar). Mereka tinggal di rumah sederhana yang mereka bangun di atas tanah orang (seizin pemilik tanah). Jika nanti pemilik tanah akan membangun sesuatu, mereka harus pergi, entah ke mana.

Sebagian besar keluarga ini berasal dari Sumba. Ada juga beberapa keluarga yang berasal dari Manggarai. Mereka tidak mempunyai KTP Labuan Bajo; karena itu tidak (berhak) mendapatkan bantuan  dari pemerintah setempat. Pekerjaan mereka  sehari-hari adalah pemecah batu. Mereka juga turut merasakan dampak Corona (sedikit sekali orang yang mencari atau membeli batu). Kepada mereka inilah, anak muda KSE berbagi, walau tak seberapa.

Apa yang menjadi landasan solidaritas anak-anak muda KSE Labuan Bajo? Tak lain adalah kasih. Inilah inti ajaran Yesus yang mereka hayati. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39).

Allah adalah kasih. Ia menciptakan manusia karena kasih. Kasih-Nya itu gratis. Manusia hanya perlu menanggapi kasih-Nya dengan berjuang mengasihi-Nya secara tulus dan juga mengasihi sesama seperti diri sendiri. Mengasihi Allah tak terpisahkan dengan mengasihi sesama. Orang tidak bisa mengasihi Allah kalau ia tak mampu mengasihi sesamanya.

Hukum kasih ini juga diwartakan dengan sangat indah oleh Yohanes. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:7-8).

Inilah yang menggerakkan hati anak-anak muda KSE terus mengasihi dengan berbagi. Karena mereka berasal dari Allah, lahir dari Allah, mengenal dan mengimani Allah yang penuh kasih, maka mereka  berjuang mengasihi Tuhan (melalui Ekaristi, doa, baca Kitab Suci, dll) dan mengasihi sesama (mengunjungi lansia di komunitas suster Kkottongnae, satu kali seminggu bermain bersama anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan MOP, berbagi dengan sesama yang berkekusahan, dll.).

Karena landasannya adalah kasih, maka aksi solidaritas anak-anak muda ini jauh dari niat untuk mempromosikan diri sendiri, mencari pujian-sanjungan atau penghargaan tertentu dari pihak lain. Mereka tak pernah berniat mencari pujian dari siapapun. Bagi mereka, solidaritas ini, meski kecil, merupakan panggilan jiwa yang sedang dihayati dengan ketulusan. Ini juga cara mereka menghayati hukum kasih yang diajarkan Yesus.

Mereka juga yakin dan sadar bahwa bantuan ini, meski kecil, tapi sangat berguna (berarti) bagi yang sangat membutuhkannya. Kata-kata emas Santa Teresa dari Kalkuta  mengispirasi mereka, “Lakukanlah hal-hal kecil, tetapi dengan kasih yang besar.” Artinya, lakukan semuanya itu dengan ketulusan tanpa pamrih.

Anak-anak muda ini sedang berjuang memberi arti bagi hidup mereka yang fana dan sementara ini. Bagi mereka, menjadi berkat atau penyalur kebaikan Tuhan bagi sesama itu panggilan dasariah yang perlu dihidupi sepanjang ada di dunia ini. Bukankah hidup ini adalah kesempatan untuk menjadi berkat bagi sesama, bukan kutuk? Dan kesempatan untuk menjadi berkat itu tak datang dua kali, tak perlu juga tunggu esok. Sebab, bisa saja esok itu tak pernah datang.

Komunitas Sant’Egidio (KSE) adalah komunitas awam Katolik yang didirikan pada tahun 1968 oleh seorang anak muda Italia berusia 18 tahun bernama Andrea Ricardi. Tampak bahwa misi pembaruan yang dihembuskan Konsili Vatikan II (1962-1965) dipahami dengan sangat baik oleh Andrea. Pemahaman yang baik itu ditandai dengan keberaniannya membangun KSE. Komunitas ini memiliki beberapa pilar, antara lain Doa, Orang Miskin, Damai, Injil, Hidup Berkomunitas dan Dialog. Pilar-pilar ini tak terpisahkan satu sama lain. Saat ini, KSE sudah berkembang di 90 kurang lebih 90 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Di Labuan Bajo, KSE dibentuk pada 6 Mei 2017. Dengan demikian, saat ini KSE Labuan Bajo berusia 3 tahun dan beranggotakan puluhan anak muda (pegawai, swasta, beberapa anak SMA). Spirit Sant’Egidio!***

 

Labuan Bajo, 22 Mei 2020

 

 

 

Kenaikan Tuhan Yesus

0

Hari ini, 21 Mei 2020,  di tengah situasi Corona yang belum berujung, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kenaikan Yesus ke surga. Perayaan iman ini sejatinya dirayakan dengan meriah bersama umat beriman. Karena situasi belum aman, maka perayaan tetap dirayakan sendiri oleh para imam dan uskup bersama beberapa orang yang berada bersama mereka. Umat beriman yang lain hanya menyaksikannya lewat TV atau live streaming atau hanya membuat ibadat sendiri di rumah. Walau dirayakan dalam kesunyian, perayaan kenaikan Yesus ini tak berubah maknanya.

Peristiwa kenaikan Yesus ke surga ini digambarkan oleh penulis Kisah Para Rasul yang dibacakan pada bacaan 1 hari ini. Setelah bangkit dari alam maut, Yesus  dalam kurun waktu empat puluh hari, berulang kali menampakkan diri kepada para murid-Nya. Penampakan ini membuktikan kepada para murid bahwa Yesus hidup (Kis. 1:3). Dengan demikian, Ia meneguhkan para murid-Nya agar tetap kuat dan tak gentar menghadapi aneka kesulitan, terutama agar mereka tak takut menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi. Di bawah tuntunan Roh Kudus, para murid diutus ke seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Semua bangsa itu perlu mengenal ajaran Yesus melalui pewartaan para murid dan terutama karena sudah mengenal ajaran-Nya, mereka melaksanakannya dalam hidup (bdk. Mat. 28:19-20).

Dalam menjalankan perutusan itu, para murid juga tak perlu takut, sebab mereka akan disertai oleh Yesus hingga akhir zaman.  Mereka akan  menerima kuasa untuk menjadi saksi-Nya tidak hanya di Yerusalem, Yudea dan Samaria, tetapi juga sampai di ujung bumi (Kis. 1:8). Ini pesan sekaligus perintah agung Yesus sebelum meninggalkan para murid-Nya secara fisik dan naik ke surga.

Bacaan Pertama hari ini juga memberitahukan kepada kita bahwa setelah menyampaikan aneka pesan agung itu, Yesus naik ke surga, “Terangkatlah Yesus disaksikan oleh murid-murid-Nya sampai awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis. 1:9).  Para murid yang menyaksikan kenaikan Yesus ini diteguhkan oleh kata-kata penegasan dua orang yang berpakaian putih (malaikat) yang berdiri di dekat mereka. “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis. 1:11). Kiranya kata-kata malaikat ini memberikan kekuatan sekaligus memperkuat iman para murid bahwa Yesus telah  sungguh-sungguh naik ke surga.

Ada beberapa hal yang bisa  saya garisbawahi tentang Perayaan Kenaikan Yesus ke surga.

Pertama, mengungkapkan iman Gereja akan Yesus Kristus yang dimuliakan. Peristiwa kenaikan berarti Yesus naik tahta dan duduk di sebelah kanan Bapa-Nya di surga. Kenaikan Yesus ke surga juga berarti kepada Yesus yang telah disalibkan dan kemudian bangkit dari alam maut, diserahkan segala kekuasaan di surga dan di bumi (Pareira, 2004: 152). Karena itu, merayakan kenaikan Yesus sesungguhnya berarti merayakan misteri Yesus menjadi Raja semesta alam. Kepada Yesus Raja semesta alam ini, kita mengarahkan pandangan dan kepada-Nya juga seluruh hidup kita tertuju. Dalam konteks ini, kita yang percaya kepada-Nya mendapat jaminan bahwa kita  juga akan mendapat kemuliaan bersama-Nya, karena Ia adalah kepala kita (kepala Gereja) sudah mendahului masuk surga.

Kedua, secara fisik Yesus tidak ada bersama para murid-Nya. Peristiwa kenaikan juga menegaskan hal penting bahwa  Yesus secara fisik tidak ada lagi bersama para murid-Nya. Ia tak hadir lagi secara fisik bersama mereka. Apakah itu berarti bahwa Yesus meninggalkan para murid sendirian? Sama sekali tidak. Dalam amanat agung perpisahan-Nya, ia telah menegaskan, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat. 28:20). Ia tetap hadir menyertai perutusan para murid-Nya walau tanpa kehadiran fisik. Roh Kuduslah (Roh yang berasal dari Bapa dan Putra) yang hadir dan menjiwai perutusan para murid.

Yesus juga hadir menyertai dan menyapa para murid-Nya melalui  perayaan liturgi, perayaan sakramental dan  perayaan devosional yang dirayakan dengan penuh iman oleh Gereja, oleh para murid-Nya. Dalam segalanya itu, perayaan Ekaristi yang adalah sumber dan puncak hidup umat beriman menjadi kesempatan paling istimewa untuk mengalami kehadiran Yesus atau mengalami perjumpaan dengan-Nya secara mendalam. Ekaristi membuat para murid Yesus tidak merasa kesepian atau merasa ditinggalkan oleh-Nya.

Melalui Ekaristi, Yesus hadir menyapa, menyertai dan memberkati para murid-Nya yang tiada lelah mencari dan mengasihi-Nya. Karena perjumpaan dengan Yesus melalui Ekaristi, para murid (Gereja) mendapatkan kedamaian batin dan kegembiraan dalam hidup serta kekuatan baru untuk semakin setia mengikuti Yesus dan menghayati ajaran-Nya dalam hidup, juga bersaksi tentang-Nya.

Ketiga, para murid harus mandiri. Peristiwa kenaikan Yesus juga mengharuskan para murid  berdikari (berdiri di atas kaki sendiri, mandiri) dan segera pergi menjadi saksi. Yesus memberikan banyak bekal kepada mereka. Kini saatnya mereka pergi bersaksi tentang apa yang mereka saksikan dan dengarkan tentang Yesus. Kepada mereka juga sudah diberikan perintah agung, pergilah ke seluruh dunia; jadikanlah semua bangsa murid-Ku (bdk. Mat. 28: 19-20). Mereka tak perlu takut, sebab walaupun secara fisik Yesus tak hadir, tapi melalui Roh Kudus, Ia  tetap hadir dan menyertai mereka hingga akhir zaman.

Jika sebelumnya mereka selalu bersama Yesus secara fisik, kini mereka berjuang sendiri, walau secara spiritual tetap ditemani oleh Sang Guru. Kalau sebelumnya mereka selalu berkumpul bersama, kini saatnya mereka terpencar untuk melanjutkan perutusan yang diterima dari Yesus. Persis inilah yang dilakukan oleh para murid setelah Yesus naik ke surga. Berkat Roh Kudus yang dicurahkan, mereka tak lagi takut pergi ke mana saja untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Mereka tak gentar bila menghadapi aneka kesulitan. Bahkan tak sedikit dari antara mereka yang rela mati, menumpahkan darah, mati sebagai martir demi imannya akan Kristus. Darah suci mereka ini menyuburkan Gereja sepanjang zaman.

Kini, perutusan para murid itu diteruskan oleh Gereja (persekutuan umat beriman).  Perintah agung Yesus itu, pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku (Mat. 28:19), adalah perintah agung untuk kita semua saat ini. Melalui pembaptisan dan aneka sakramen lainnya, kita diutus menjadi saksi-Nya. Tentu tidak harus menjadi imam, biarawan/ti atau misionaris yang diutus ke seluruh dunia. Kita menjadi saksi-Nya di jalan panggilan kita masing-masing. Kita bersaksi mulai di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, di tengah masyarakat dan di mana pun kita berada, melalui tutur kata dan perbuatan konkret yang selaras dengan ajaran dan teladan Yesus.

Perlu juga disadari bahwa kesaksian kita tentang Kristus tidak  hanya disempitkan pada, misalnya, sharing pengalaman iman kepada orang lain,  berkotbah di mimbar, memberikan pengajaran (katekese) kepada orang lain atau aktif dalam hidup menggereja atau peduli dengan orang-orang menderita.  Tentu ini sikap hidup dan karya-karya kebaikan yang bisa kita lakukan.

Bagi saya,  selain beberapa karya kebaikan yang disebutkan di atas, penting juga untuk disadari bahwa kesaksian kita  tentang Kristus itu menyangkut seluruh diri kita  dan berkaitan dengan cara hidup  kita setiap hari (kata, perbuatan). Kita ditantang menjadi Kristus yang lain (alter christi). Menjadi Kristus yang lain artinya kita menghayati secara sungguh-sungguh apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus. Karena menghayatinya dengan sungguh-sungguh, maka kalau orang melihat kita,  yang mereka lihat adalah Kristus. Buahnya adalah mereka tergerak atau terpanggil untuk mengenal Kristus secara lebih mendalam dan mengikuti-Nya serta menghayatinya dalam hidup. Ini panggilan sekaligus tantangan  dalam perutusan kita melanjutkan misi Kristus. Tapi, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat. 28:20). Peneguhan Yesus ini seharusnya  membuat kita tak takut dan  mudah menyerah dalam bersaksi tentang-Nya.***

Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus!

Tuhan Yesus memberkati kita!

Labuan Bajo, 21 Mei 2020

Tuhan adalah Sumber Pengharapan, dalam Dia Ada Damai Sejahtera

0
“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Dunia ini seperti panggung sandiwara yang mempertontonkan aneka pertunjukkan setiap saat. Isi cerita yang ditampilkan pun beragam: banyak di antaranya membuat jantung kita berdegup kencang, dada kita berdebar, dan perasaan kita berkecamuk.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Sekarang, dunia mempengaruhi pikiran dan perasaan kita lewat apa yang kita sebut ‘the power of social media.’ Beragam pemberitaan di dunia maya berhasil membuat hidup banyak orang tak aman dan tak nyaman; hati jadi tidak tenang, gelisah dan gentar.

Orang-orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan media sosial untuk menebarkan kabar bohong, ujaran kebencian, fitnah, dan sederetnya. Tampaknya, mereka tidak senang jika kita hidup tenang.  Apa yang mereka inginkan? Tak ada yang lain, kecuali perpecahan. Lantas, Apa yang diperoleh dari perpecahan? Tidak ada. Kalah jadi arang, menang pun jadi abu.

Kita bersyukur sebab Tuhan yang kita imani bukan Tuhan yang tega, melainkan Tuhan yang peduli. Ia tidak tega melihat kita hidup dengan kegelisahan dan kegentaran. Karenanya, Ia menitipkan kepada kita damai sejahtera, bukan perpecahan. Ia berkata:

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

Apa yang diberikan oleh Tuhan Yesus tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Damai yang diberikan oleh dunia acapkali didahului oleh perpecahan dan pertumpahan darah. Tidak demikian dengan damai yang diberikan oleh Tuhan Yesus.  Damai sejahtera yang sejati hanya ada pada Yesus. Karenanya, Ia mau agar kita semua beroleh damai sejahtera dalam Dia.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Betapa bahagianya jika kita bisa hidup dalam damai: tidak ada kekuatiran, kegelisahan, dan kegentaran. Sebaliknya, hidup kita jadi tenang, nyaman, dan aman.

Kitab Suci mendeskripsikan dengan sangat baik mengenai seperti apa situasi damai itu.

“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes. 11:6-9).

Ketika damai sejahtera ada di antara kita, bahkan musuh pun bisa menjadi sahabat, lawan jadi kawan. Tak ada lagi pertengkaran, tak ada lagi saling hujat. Segala kecenderungan untuk berbuat jahat jadi hilang.

Tuhan Yesus mewajibkan kita untuk menjadi agen pembawa damai itu. Ia mengutus kita untuk membawa damai sejahtera itu kepada orang lain. Ia berkata:

“Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21).

Perutusan ini tidak muluk-muluk. Yesus mengajarkan agar mulai dari hal yang paling sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Ia berkata:

“Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini” (Luk. 10:5).

Kiranya damai sejahtera dari Tuhan diterima oleh semua orang di berbagai tempat; supaya dunia ini dapat bersukacita. Biarlah damai dari Tuhan Yesus sendiri yang kita terima.

Damai sejahtera itu selalu baik, maka pantas dimiliki oleh setiap orang. Cintailah kedamaian, jangan ada perpecahan. —JK-IND—

Cintailah Kesetiaan sebab Tuhan Dekat kepada Orang-orang yang Patah Hati

0

Banyak orang berkelakar bahwa patah hati timbul karena terlalu banyak ‘pakai hati’ dalam menghadapi segala sesuatunya; sehingga ketika yang dijumpai berbeda dari yang diharapkan, hati menjadi terluka. Tapi, konon katanya, masih mending pakai hati, sebab jika saja yang dipakai adalah jiwanya, yang ada bukan lagi sekedar patah hati melainkan sakit jiwa.

[postingan number=3 tag= ‘cinta-tuhan’]

Sepintas, itu hanya guyonan. Tapi, bisa jadi ada benarnya. Seseorang bisa patah hati karena terlampau jauh menggunakan hatinya; sehingga ketika cintanya kandas di tengah jalan, ketika realita yang diterima tak seindah ekspektasinya, ia merasa hatinya seperti sedang disayat-sayat.

Ketika seseorang sedang patah hati, hidupnya terasa hampa, kosong, dan tak berguna lagi; pandangan ke depan menjadi tak terlihat dengan jelas, kabur; tak ada lagi yang bisa diharapkan, putus harapan.

Padahal, tak mestinya demikian. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa ‘TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya’ (bdk. Mzm. 34:19).

Maka, jika saat ini kita sedang patah hati – karena alasan apa saja – jangan sampai hal itu membuat kita kehilangan harapan. Harapan masih ada, dan akan selalu ada untuk kita; asalkan kita percaya kepada-Nya.

Memang, kata orang-orang, seseorang yang pernah patah hati, biasanya trauma. Trauma untuk mencoba kembali hal yang lama; takut untuk memulai sesuatu yang baru; dan kuatir jangan sampai nanti patah hati lagi. Tapi, sekali lagi, hal seperti ini tak seharusnya terjadi ‘Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati’ (Ul. 31:8).

Jika kita sudah tahu bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai kita, buat apa patah hati berlarut-larut? Toh Tuhan sudah memberi jaminan kepada kita; dan Ia tak akan pernah melupakan-Nya. Justru sebaliknya, yakinlah, ‘Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka’ (Mzm. 147:3).

Dalam Injil kita punya contoh orang-orang yang sedang patah hati dan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan hati mereka yang terluka. Orang yang dimaksud adalah kedua murid yang pulang ke Emaus (lih. Luk. 24:13-35).

Dua murid yang pulang ke Emaus adalah contoh orang-orang yang tergolong dalam barisan kelompok patah hati. Mereka patah hati karena apa yang mereka hadapi berbeda jauh dari apa yang mereka harapkan.

Mereka tidak pernah menyangka bahwa Dia yang mereka ikuti selama ini, harus menanggung derita sampai wafat, bahkan hingga wafat di kayu Salib. “Padahal kami dulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (lih. Luk. 24:21).

Mereka sulit menerima kenyataan pahit itu. Harapan mereka pupus setelah kematian Yesus. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Juga, tak ada lagi alasan bagi mereka untuk bertahan di Yerusalem.

Mereka meninggalkan teman-teman lain yang sedang berkumpul dan memilih pulang ke Emaus. Yesus menjumpai mereka di tengah jalan tapi mereka tak mengenali-Nya; sebab kata Kitab Suci, ‘ada sesuatu yang menghalangi mata mereka’ (Luk. 24:16).

Yesus menyertai mereka dalam perjalanan, bahkan sampai masuk ke kampung yang mereka tuju (lih. Luk. 24:28). Ia membuka mata mereka dengan mengulangi lagi apa yang dilakukan-Nya pada malam perjamuan terakhir:

“Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka” (Luk. 24:30).

Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia. Lalu, bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem.

Dengan pulang ke Emaus, mereka nyaris tak setia lagi pada Yesus dan ajaran-Nya. Tapi, Tuhan dengan cara-Nya sendiri, menunjukkan kepada mereka bahwa Dia sendiri menyertai mereka. Dia sendiri berjalan bersama mereka dan tidak meninggalkan mereka.

Sama seperti mereka, kita pun kadang-kadang tergelincir dalam ketidaksetiaan. Padahal, tak banyak yang diminta dari kita: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu mungkin membuat kita patah hati, jangan pernah menjadi tidak setia, melainkan setialah senantiasa.

— JK-IND —

Hadapi Covid-19, Mari Bersimpuh di bawah Kaki Tuhan

0
Di tengah pandemi COVID-19 yang melanda berbagai belahan dunia, sejumlah negara berhasil bangkit dari keterpurukan dan mulai beraktivitas seperti semula.

Situasi di luar sana mungkin saja mencekam dan sulit, sebagai akibat dari mewabahnya Covid-19. Tapi, please, jangan sampai rasa syukur kita kepada Tuhan ikut sirna. Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas munculnya penyakit menular ini. Juga, tidak perlulah kita menyalahkan siapapun.

Justru sebaliknya, kita harus tetap dan senantiasa menunaikan rasa syukur kita kepada Tuhan; dan memang selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur kepada-Nya ‘Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela’ (lih. Mzm. 84:12).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Tidak ada orang sebaik Tuhan kita. Bukankah sebelum wabah ini melanda negeri kita, Ia sudah memberikan kasih dan kemuliaan kepada kita? Boleh jadi kita tidak menyadarinya karena kita terlampau bangga dengan hasil kerja kita; seolah semua yang kita peroleh selama ini merupakan hasil usaha kita semata, membuat kita lupa bahwa itu semua tak akan pernah ada jika Tuhan tidak menghendakinya.

Jika benar itu yang terjadi, maka anggaplah kemunculan wabah ini sebagai teguran dari Tuhan; yang memacu kita semua untuk tidak ragu lagi berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN” (bdk. Kej. 29:35). Jangan menunda-nunda lagi.

Memang, tak bisa dipungkiri lagi bahwa wabah ini ada di sekitar kita dan siap menulari kita setiap saat. Tentu saja tak ada yang bisa melihat pergerakannya, sebab ini virus, bukan tikus. Jika saja ia sebesar tikus, pastilah kita akan mudah menghindarinya.

Namun, jangan sampai kita menjadi takut tak karu-karuan. Rasa takut yang berlebihan hanya akan membuat energi kita terkuras habis; dan antibodi kita menurun, yang justru membuat kita dengan gampang terpapar virus.

Kita punya Tuhan, andalkan Dia. Kita harus pasrahkan semuanya pada Tuhan; sebab Ia sendiri bersabda:

Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu” (lih. Mzm. 91:5-7).

Barangkali selama ini kita sudah terlampau jauh menyimpang ke jalan lain. Karenanya, jadikanlah masa sulit ini sebagai kesempatan untuk berbalik lagi ke jalan-Nya. Maka dari itu, kepada-Nya kita harus berkata: “TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!” (Mzm. 41:5).

Saat ini hidup kita tidak seperti biasanya. Itu nyata terjadi. Ke mana-mana kita dihantui rasa was-was, cemas, dan takut. Di banyak tempat juga sudah diterapkan pembatasan ini dan itu. Ada yang namanya isolasi mandiri, karantina wilayah, hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Gara-gara Corona kita seperti terpenjara di rumah sendiri.

Tapi, jangan kuatir. Takutlah akan Tuhan dan tetaplah setia di jalan-Nya; sebab Ia sendiri memberi jaminan: “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang” (bdk. Mal. 4:2).

Yakinlah, pada saatnya nanti, wabah ini pasti mereda dan kita semua akan bebas beraktivitas seperti sediakala. Kita akan keluar rumah dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang. Tapi, tunggu dulu. Itu nanti. Sekarang, kita harus berdiam di rumah saja dulu.

Saat-saat seperti ini, berada di rumah saja adalah pilihan yang terbaik. Pemerintah pun sudah menghimbau: berdiam di rumah dan tetap tenang. Dan, supaya lengkap, perlu ditambahkan juga: berdiam di rumah, tetap tenang, bertobat, dan percaya.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (bdk. Yes. 30:15).

Seperti kita ketahui, penyakit ini belum ditemukan obatnya. Entah kapan ditemukannya, sampai sejauh ini tak ada yang tahu. Untuk itu, kita perlu menghindarinya supaya tidak terpapar. Berbagai saran pun diberikan: jaga jarak aman, cuci tangan pakai sabun, dan tetap berada di rumah aja. Yang tidak kalah pentingnya lagi, yaitu meningkatkan antibodi.

Antibodi akan meningkat jika kita memakan makanan yang sehat dan diimbangi dengan hati yang gembira. Ya, dari kesaksian banyak pasien positif Covid-19 yang berhasil sembuh, ada yang bilang bahwa mereka dapat sembuh  karena dalam menghadapi penyakit ini, mereka tetap tenang dan gembira.

Maka, benarlah kata penulis Amsal: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams. 17:22). Jangan pernah patah semangat. Teruslah berjuang dan berjuanglah terus.

Inilah saatnya kita bersimpuh di bawah kaki Tuhan. Kita berdoa kepada-Nya untuk meminta pertolongan dari-Nya; sembari kita membangun niat tobat dan memohon ampun kepada-Nya; sebab Ia sendiri berkata:

“Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka (2 Taw. 7:13-14).

Bagi yang sudah terlanjur terpapar, kita berdoa: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia” (bdk. Bil. 12:13). Mendoakan kesembuhan orang lain jauh lebih diperlukan daripada mengucilkan dan menolak mereka.

Teruslah menebarkan kebaikan dengan menyampaikan ‘Salam Sehat’ kepada siapapun juga; dan jika bisa tirulah perkataan rasul Yohanes di bawah ini:

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja” (lih. 3 Yoh. 1:2).

Dan, bagi diri sendiri, jangan lupa kita juga berdoa: “Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Engkau; tenangkanlah rohku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh!” (lih. Yes. 38:16).

Kiranya dengan doa dan tobat kita, Tuhan memulihkan negeri kita; dan Ia membuat kita sehat dan sembuh. Amin. —JK-IND—