11.5 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 86

Perlukah Kita Membela Tuhan? — Catatan untuk Orang Beragama

0

Seorang teman pernah mengajukan pertanyaan begini kepada saya, katanya: “Bro, apa perlu Tuhan itu kita bela? Segitu lemahkah Tuhan itu sehingga kita harus pasang badan untuk membela Dia?”

Mendengar pertanyaan ‘nakal’ yang diajukan oleh teman saya itu, reaksi saya cukup datar. Saya hanya tersenyum. Saya menduga bahwa teman saya itu sedang iseng dengan saya.

Ternyata, dugaan saya salah. Teman saya itu makin serius mengajukan pertanyaannya. Bahkan ia sampai rela mengulangi pertanyaan yang sama berkali-kali. Itu tandanya bahwa pertanyaannya itu tidak main-main.

Rupa-rupanya munculnya pertanyaan ‘menggelitik’ dari teman saya tersebut bukanlah tanpa alasan. Ia mengajukan pertanyaan seperti itu karena dirinya cukup terganggu dengan adanya berbagai sentilan kecil soal agama yang belakangan ini menyeruak ke permukaan.

Memang, jika kita perhatikan baik-baik apa yang terjadi akhir-akhir ini, semakin banyak orang yang menyebut diri sebagai orang ‘beragama’ menampilkan diri bak pahlawan agama, atau tepatnya polisi agama. Agama harus dibentengilah, Tuhan wajib dibelalah. Bla … bla … bla … Ya, begitulah yang terjadi. Seolah Tuhan tidak Mahakuasa sehingga harus disokong dengan kekuatan manusia.

Parahnya lagi, orang-orang ‘beragama’ itu mencoba ‘mengintip’ ajaran agama tetangga. Hasil intip-mengintip itu membuat sebagian dari mereka merasa bahwa mereka sudah melihat seluruh isi ajaran agama tetangga. Padahal, semua orang tahu bahwa apa yang mereka lihat dari hasil intip-mengintip itu hanyalah sebagian kecil dari seluruh isi ajaran agama tetangga.

Sekiranya sudah saatnya kita harus mengakui bahwa semua agama, tanpa terkecuali, menyimpan sejuta misteri tentang Tuhan. Itulah ‘ruang gelap’ yang belum pernah dimasuki oleh manusia entah dari agama manapun. Makanya, orang-orang beragama dari abad ke abad tanpa henti berusaha menyingkap realitas di balik ‘ruang gelap’ itu.

Usaha untuk menyingkap misteri tentang Tuhan telah dilalui lewat berbagai jalan. Hanya saja, sayangnya, masing-masing agama mengklaim jalan yang dipilih sebagai jalan yang paling benar menuju penyingkapan misteri itu. Klaim seperti itu wajar saja sebab hanya jalan itulah yang kita ketahui dan kita lewati. Menjadi tidak wajar ketika klaim kebenaran itu lantas dipakai untuk menghina dan mengejek jalan kebenaran yang dilalui oleh agama lain.

Jangan lupa bahwa ‘ruang gelap’ itu tetap tak tersentuh oleh pemikiran manusia sampai kapanpun. Ya, dalam setiap agama akan selalu ada ‘ruang gelap’ yang luput dari penjelasan logis-ilmiah. Sejauh ‘ruang gelap’ itu belum tersingkap, manusia tidak akan pernah berhenti mencari tahu. Misteri tetaplah misteri. Justru agama mampu bertahan selama berabad-abad karena ada misteri tentang Tuhan yang tidak pernah terkuak.

Sebaiknya jangan pernah berharap bahwa manusia beragama akan mengerti seluruhnya misteri tentang Tuhan – sebab ketika Tuhan bisa  dikaji seluruhnya dan dijelaskan semuanya oleh pemikiran manusia, maka itu namanya ilmu pengetahuan, bukan agama.

Patut dicatat juga bahwa keberadaan misteri dalam agama hanya bisa dipahami oleh penganut agama yang bersangkutan. Kita yang hanya mengintipnya dari luar, jelas tidak mampu menangkap seluruh pesan di balik tirai ‘ruang gelap’ itu. Misteri hanya bisa diterima pakai hati, sementara orang yang mengandalkan kemampuan mengintip seringkali mencoba menerimanya menggunakan pisau akal budi. Jelaslah bahwa akal budi tidak mampu menjelaskan realita di balik misteri itu.

Usaha penyingkapan misteri itu baru berhenti ketika semua yang dicari sudah terjawab. Kapan semuanya akan terjawab? Ketika kita sudah bersatu kembali dengan Dia dan menatap wajah-Nya. Ya, sebab tujuan dari semua umat beragama sebetulnya adalah bersatu kembali dengan Dia. Hal itu sepenuhnya terjadi ketika kita beralih dari dunia ini (saat kita mati).

Usaha untuk memasuki misteri tentang Tuhan itu ibarat mendaki gunung. Tujuan kita sebenarnya sama, yaitu mencapai puncak gunung yang satu dan sama. Kita berusaha berjalan mendaki dari satu sisi, sementara orang lain mendaki dari sisi yang berbeda. Kita mengira bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang paling benar menuju puncak. Kita lupa bahwa di sisi yang lain dari gunung itu masih ada jalan lain yang sama bagusnya dengan jalan yang kita tempuh. Kalau demikian, perlukah kita membela Tuhan? Jawabannya: jelas tidak. Tuhan tidak perlu dibela sebab Tuhan bisa membela diri-Nya sendiri.

Oleh karena itu, saudara-saudaraku, selamat mendaki dan mencari gunung Tuhan! Jangan lupa bahwa ada pendaki lain yang sedang mendaki bersama Anda di sisi yang lain dari gunung itu. Selamat sampai tujuan!

Pemimpin yang Melayani — Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Pemimpin yang Melayani: Renungan Harian Katolik, Minggu 23 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Mrk. 9:30-37

Setiap kali kita buka facebook, semua orang membuat status dan postingan yang isinya tentang politik. Setiap kali kita menyalakan TV, hampir semua siaran TV mengangkat topik tentang politik. Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, kita terbawa suasana. Kita juga bicara politik.

Berbicara soal politik, berarti juga berbicara soal kedudukan dan kekuasaan. Berbicara soal politik, berarti juga berbicara soal siapa yang akan berkuasa dan siapa yang akan menduduki posisi strategis di pemerintahan. Maka, supaya tujuan itu tercapai, orang berlomba-lomba untuk menjadi populer. Begitulah politik. Pertanyaan orang Politik adalah: “Kapan saya bisa berkuasa? Dan bagaimana saya bisa berkuasa?”

Entah apa yang terjadi, para murid Yesus melontarkan satu pertanyaan yang mengejutkan. Mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Jawaban yang diberikan oleh Yesus tidak kurang mengejutkan. Tak disangka, Yesus berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan bagi semuanya” (Mrk. 9:35).

Yesus membalikkan logika berpikir para murid. Mereka berpikir bahwa yang terbesar mestinya yang paling kuat pengaruhnya, yang paling dominan, dan yang paling berkuasa. Rupanya tidak demikian bagi Yesus. Yesus justru mau supaya mereka menjadi pelayan bagi satu sama lain.

Apa yang dikatakan oleh Yesus ini benar-benar di luar dugaan dan berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh para murid. Dia meminta para murid-Nya supaya menjadi seperti anak kecil. Jadi, maksud Yesus di sini sangat jelas. Para murid dan tentu saja kita juga harus memupuk kerendahan hati seperti anak kecil. Tidak boleh ada persaingan atau keangkuhan.

Orang-orang Katolik sejati berupaya melayani, bukan menguasai. Melayani dengan rendah hati mendatangkan banyak berkat. “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 18:4).

Dengan kata lain, jika kita mau menjadi yang terbesar, kita harus menjadi orang yang rendah hati, bukan orang yang tinggi hati; “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

4 Cara untuk Mencintai Ekaristi yang Wajib Anda Ketahui

0

Sebagai orang Katolik, kita sadar dan tahu bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup kita. Karenanya, kita selalu didorong supaya mencintai Ekaristi; sebab dalam Ekaristi, Yesus secara nyata hadir dan menyapa kita.

Pertanyaannya adalah: bagaimana caranya supaya kita mencintai Ekaristi? Berikut ini adalah empat dari sepuluh cara yang ditawarkan oleh Pastor  Ed Broom, OMV yang saya ambil secara acak dan saya terjemahkan secara bebas.

1). Baca dan Pelajarilah Injil Yohanes Bab Enam  

Dalam bab enam Injil Yohanes, kita akan melihat bagaimana Yesus berusaha menjelaskan diri-Nya sebagai Sabda yang menjadi Daging (Inkarnasi). Di sini juga ditegaskan bahwa tujuan Yesus datang ke dunia bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang bersifat sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal.

Dengan mentransformasikan diri-Nya menjadi Roti Hidup, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pusat dan Pemilik kehidupan kita; sebab siapa pun yang memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya, pasti mendapatkan hidup yang kekal, bahkan dibangkitkan pada akhir zaman (Yoh. 6:54).

Maka dari itu, supaya semakin mencintai Ekaristi, baca, berdoalah, dan meditasikan isi dari bab enam ini.

2). Tingkatkan Kerinduan untuk Menerima Komuni Kudus

Poin ini sangat dianjurkan oleh Santo Alphonsus Liguori dan beberapa santo dan santa yang lain. Komuni Spiritual, atau disebut juga Komuni Batin, adalah adanya keinginan mendalam (fundamental desire) kita untuk bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi Kudus. Dalam Kamus Teologi dikatakan bahwa Komuni Spiritual merupakan praktik menerima komuni dalam batin atau secara rohani jika penerimaan Hosti Kudus secara jasmani tidak memungkinkan. Jadi, di dalam lubuk hati kita harus selalu ada kerinduan untuk menerima dan bersatu dengan Yesus, Sang Roti Kehidupan.

3). Kunjungilah Sakramen Mahakudus secara Rutin

Kita pasti senang mengunjugi teman sesering mungkin. Nah, bayangkanlah jika Yesus adalah teman terbaik kita, maka sudah seharusnyalah kita mengunjungi-Nya secara rutin. Ingat, dalam Gereja kita ada ungkapan berkaitan dengan kunjungan kepada Sakramen Mahakudus ini. Bunyinya begini: “Kapanpun saya melihat Gereja, saya harus berhenti dan mengunjunginya; supaya ketika saya mati nanti, Tuhan tidak bilang “Siapa ini?”

Maka dari itu, jika saat ini Anda terlalu sibuk, berhentilah sejenak. Masuklah ke dalam Gereja dan sapalah Tuhan di sana. Ucapkan terima kasih kepada Yesus dan katakan kepada-Nya betapa besar cintamu kepada-Nya.

4). Bertekuk Lututlah setiap Kali Lewat di Hadapan Sakramen Mahakudus

Kapanpun kita lewat di depan Sakramen Mahakudus, kita harus berlutut. Gerakan semacam ini mungkin terasa sepele, tetapi mempunyai makna yang mendalam. Tata cara seperti ini biasa dilakukan pada masa Abad Pertengan untuk menghormati raja atau ratu. Nah, Yesus adalah Raja di atas segala raja, bukankah Ia jauh lebih pantas untuk mendapatkan penghormatan kita? Karena itu, hormatilah Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus dengan cara berlutut setiap kali lewat di depannya. Semakin kita menghormati Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, semakin kita mencintai Ekaristi.

Itulah empat cara yang bisa kita bangun untuk mencintai Ekaristi. Semoga dengan menjalankan keempat cara ini, kita sungguh-sungguh mencintai Yesus yang hadir secara nyata dalam Ekaristi.

Sumber: Catholicexchange.com

Nasihat Paulus dan Panggilan Matius — Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Nasihat Paulus dan Panggilan Matius: Renungan Harian Katolik, Jumat 21 September 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Ef. 4:1-7, 11-13, Injil: Mat. 9:9-13

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Paulus menasihati orang-orang di Efesus supaya selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Nasihat ini juga berlaku untuk kita.

Lawan kata dari kata ‘rendah hati’ adalah ‘sombong’. Paulus meminta orang di Efesus dan kita juga supaya jangan sombong. Kita tidak boleh sombong. Bagaimana tandanya seseorang itu dikatakan sombong? Ciri orang sombong adalah: suka pamer kelebihannya sendiri dan menyepelekan kemampuan orang lain.

Ingat, orang sombong dibenci Tuhan (bdk. 1 Sam. 2:3), dan tentu saja dibenci juga oleh sesamanya. Siapa yang mau bergaul dengan orang sombong? Tidak ada. Orang sombong pasti akan dihindari oleh orang-orang sekitarnya. Maka, kalau mau dapat banyak teman, jangan sombong.

Poin kedua dari nasihat Paulus adalah soal sikap lemah lembut. Lawan kata dari kata ‘lemah lembut’ adalah ‘kasar’. Ciri orang kasar adalah: selalu menyalahkan orang lain, suka marah tanpa sebab, orang lain harus menuruti segala permintaannya, sering berkata kotor, suka berbohong, suka menyakiti orang lain, dan sebagainya.

Paulus meminta kita supaya jangan kasar terhadap orang lain. Kita tidak boleh berlaku kasar terhadap siapapun juga, misalnya teman, guru, dan orang tua. Sekarang, banyak anak murid mulai bertingkah kasar di depan guru dan orang tua. Jangan seperti itu ya. Berbicaralah dengan cara-cara yang sopan dan santun dengan mereka.

Poin ketiga dari nasehat Paulus adalah mengenai sikap sabar. Lawan kata dari kata ‘sabar’ adalah ‘marah, murka, naik darah, naik pitam’. Ciri orang tidak sabar adalah: mudah terpancing emosi, tidak suka dihentikan lampu merah, tidak suka mengantra, dan sebagainya.

Paulus meminta kita supaya selalu sabar. Jangan suka marah-marah. Jangan suka berantem. Dicolek sedikit, marah. Padahal, kita selalu bilang ‘orang sabar disayang Tuhan’. Kalau kita sabar, hati kita tenang, teman kita banyak, kita akan disukai oleh banyak orang. Tapi, kalau kita suka berantem dengan orang lain, hanya untuk melihat muka kita saja orang tidak mau. Lihat kita lewat, mereka akan bilang: “Aih, dia lagi”. Orang akan selalu berusaha menghindar dari kita. Jangan bangga kalau dibilang sebagai anak nakal. Kenakalan bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan.

Jika selama ini kita sudah melanggar tiga nasihat Paulus tadi, maka baiklah mulai hari ini kita membangun niat untuk berubah. Kita berubah dari sombong menjadi rendah hati, dari kasar menjadi lemah lembut, dan dari suka marah-marah menjadi sabar.

Tuhan memuji orang yang mau bertobat. Bukan hanya memuji, Ia juga bahkan mau menjadikan orang seperti itu sebagai murid-Nya. Siapa yang mau menjadi murid Yesus? Jika mau menjadi murid Yesus, maka, berubahlah ke arah yang lebih baik ke depannya.

Lihatlah pengalaman Matius. Ia dulunya adalah seorang pemungut cukai. Waktu itu, pekerjaan sebagai pemungut cukai disamakan dengan pendosa; sebab pemungut cukai suka merampas dan memeras orang lain. Pajak yang seharusnya hanya lima puluh ribu, misalnya, dia minta sampai seratus ribu, dan seterusnya.

Tapi Yesus mengetuk hati Matius. Yesus hanya berkata: “Ikutlah Aku,” Matius pun meninggalkan pekerjaan dan kebiasaan buruknya, lalu mengikuti Yesus. Ini contoh yang baik untuk kita tiru. Maka, jika kita ingin menjadi murid Yesus, tinggalkan kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan, dan ikutilah Yesus. Yesus mau supaya kita menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menjangkau orang-orang yang ingin dijumpai-Nya.

Tuhan bilang kepada kita semua, “Ikutlah Aku”, maka kita pun harus mengikuti Dia. Kita harus ikut segala contoh yang ditunjukkan oleh Yesus. Kita tahu bahwa Yesus mengasihi semua orang, tidak tebang pilih, maka kita pun juga harus demikian. Kita harus mengasihi semua orang. Tuhan bilang “Yang Kukehendaki ialah belaskasihan.” Jadi, jika kita sudah bisa mengasihi Tuhan dan sesama, maka pastilah segala sifat buruk yang selama ini kita miliki: sombong, kasar, dan tidak sabar itu, dengan sendirinya akan hilang.

Marilah kita mendengar nasihat Paulus, kita belajar dari Matius, dan terutama mengikuti teladan dari Yesus. Semoga dengan itu, kita boleh dan layak menjadi murid-murid Tuhan. Amin.

Yesus Mengampuni Wanita Pendosa — Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Yesus Mengampuni Wanita Pendosa: Renungan Harian Katolik, Kamis 20 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 7:36-50

Saudara-saudari yang terkasih, akhir-akhir ini banyak sekali orang bertingkah seperti ‘ahli surga’. Mereka dengan gampang mengatakan bahwa si A masuk surga dan si B masuk neraka. Cara berpikir sederhana seperti ini persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi.

Orang-orang Farisi secara mutlak berpegang teguh pada seluruh hukum dan peraturan agama Yahudi. Mereka mengikuti Taurat Musa serta adat istiadat nenek moyang [Mat. 15:2] dan selalu berusaha mengikuti yang halal dan menghindari yang haram. Sampai di sini, tentu tidak ada masalah. Menjadi masalah ketika mereka mulai memaksakan kehendak mereka kepada orang lain, dan menghakimi orang lain.

Kita tahu bahwa keempat Injil banyak kali memuat cerita perseteruan antara Yesus dengan orang-orang Farisi. Kelompok ini selalu berselisih paham dengan Yesus mengenai banyak hal, terlebih menyangkut pengampunan dosa.

Bagi orang-orang Farisi, yang namanya pendosa, harus dihukum. Kapanpun seseorang jatuh ke dalam dosa, maka ‘tidak ada kata maaf bagimu.’ Namun, tidaklah demikian bagi Yesus. Bagi Yesus, siapapun yang berdosa, asalkan dia mau mengakui dosanya dan bertobat, maka orang tersebut akan mendapat pengampunan. Sikap Yesus yang seperti itulah yang membuat orang-orang Farisi selalu melawan, menentang, dan mengkritik Yesus.

Dari sekian banyak bacaan yang mengisahkan perseteruan antara orang-orang Farisi dengan Yesus, bacaan Injil hari ini termasuk lain dari yang lain. Tidak biasanya, kali ini ada satu orang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus menerima undangan dari orang Farisi itu dan Ia pun datang makan di rumahnya. Ini sungguh luar biasa sebab peristiwa seperti ini jarang sekali terjadi.

Tetapi, cerita itu tidak berhenti di situ. Diceritakan bahwa ketika Yesus sedang duduk makan di rumah orang Farisi itu, datanglah seorang wanita ke rumah itu sambil membawa minyak wangi. “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyaki-Nya dengan minyak wangi itu” (Luk 7:38).

Injil hari ini menerangkan bahwa wanita itu dikenal di seluruh kota sebagai seorang pendosa. Sudah lama ia ingin bertemu dengan Yesus. Maka, ketika dia mendengar bahwa Yesus datang makan di rumah orang Farisi itu, wanita itu pun datang ke rumah itu. Tentu hal itu tidak mudah bagi wanita itu untuk masuk ke rumah orang Farisi itu. Pertama, ia datang ke rumah itu tanpa diundang. Kedua, semua orang tahu bahwa dia adalah seorang pendosa. Namun, wanita itu tetap memberanikan diri untuk bertemu dengan Yesus di rumah itu.

Melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu, orang Farisi itu sangat jengkel. Ia mau supaya Yesus mengusir wanita itu. Namun, Yesus tidak se-ide dengan orang Farisi ini; sebab Yesus datang untuk mengampuni orang yang berdosa, bukan untuk menghakimi. Yesus pun membuka mata hati orang Farisi itu dengan membandingkan apa yang dirinya lakukan terhadap Yesus dengan apa yang dilakukan oleh wanita pendosa itu terhadap Yesus.

Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa Yesus datang makan di rumah orang Farisi dengan peristiwa kedatangan wanita pendosa itu ke rumah orang Farisi itu? Setidaknya, ada dua hal yang bisa kita pelajari dari dua kejadian itu. Pertama, sekeras apapun sikap kita, kalau kita akhirnya mau membuka pintu hati kita untuk Tuhan dan mengundang-Nya, Tuhan pasti mau datang dan menerima undangan kita. Tuhan datang ke rumah orang Farisi itu karena dia mengundang-Nya. Tuhan tidak akan datang ke rumah kita kalau kita hanya sibuk mengeluh dan bersungut-sungut. Maka, undanglah Tuhan ke tempat kita, terutama ke dalam keluarga kita.

Kedua, Tuhan selalu memberikan kesempatan kedua bagi tiap-tiap orang untuk bertobat. Seseorang akan diampuni dosanya jika orang bersangkutan sudah ada niat dan usaha untuk bertobat. Yesus tidak akan mengampuni wanita pendosa itu jika wanita itu tidak mempunyai niat untuk bertobat. Maka, kalau kita mau supaya dosa kita diampuni oleh Tuhan, mulailah membangun niat dan usaha untuk bertobat.

Tak jarang kita menertawakan kesalahan orang lain. Kita lupa bahwa kita pun mempunyai banyak kesalahan. Memang, lebih mudah menertawakan kesalahan orang lain daripada memikirkan bagaimana cara kita untuk membantu orang itu. Kita harusnya ingat bahwa tidak ada orang yang jahat total di dunia ini. Setiap orang mempunyai sisi baiknya, meskipun orang bersangkutan dikenal sebagai penjahat kelas kakap. Maka, kalau Tuhan mau memberi kesempatan kedua kepada para pendosa untuk bertobat, mengapa kita justru menghakimi sesama kita? Semoga.

Keberadaan Surga: di mana Letaknya? Baca Penjelasannya di sini!

0

MASUK SURGA’ merupakan harapan setiap umat beragama; sebab semua agama mengajarkan bahwa tujuan akhir dari peziarahan manusia di bumi ini adalah agar kelak bisa masuk surga. Jadi, ‘surga’ adalah harapan yang diberikan setiap agama kepada para pemeluknya.

Sayangnya, umat beragama selalu berhadapan dengan pertanyaan pelik mengenai bagaimana dan di mana persisnya surga itu. Maklum, sampai sejauh ini belum ada satu orang pun di dunia ini yang sudah pernah bolak-balik dari dan ke surga; sehingga memang praktis tak seorang pun di dunia ini yang tahu mengenai letak dan bentuk dari surga itu.

Saking peliknya pertanyaan seputar surga itu, orang beragama terpaksa membuat beragam spekulasi; yang kebenarannya masih tanda tanya. Tidak sedikit orang beragama mengira bahwa surga itu merupakan suatu tempat tertentu di atas langit. Makanya sampai ada orang yang mengatakan bahwa akan ada pesta seks di surga.

Pesta seks di surga? Semoga saja ide ini dimunculkan sekedar untuk lucu-lucuan; sebab kalau itu serius, maka kesesatan berpikir yang ditimbulkannya pun akan menjadi serius. Bagaimana tidak, orang yang tidak paham agama saja tahu bahwa setelah seseorang mati dan masuk surga, tidak mungkin ada lagi yang namanya pesta seks. Mengapa? Karena tubuh jasmani kita tidak akan masuk surga.

Ketika mati, tubuh kita akan hancur, secantik atau seganteng apapun tubuh itu; sebab prinsipnya jelas: ‘yang diambil dari tanah akan kembali menjadi tanah’. Tubuh kita diambil dari tanah, maka akan kembali menjadi tanah [Kej. 3:19]. Padahal, yang namanya hasrat seksual, rasa lapar, pikiran, dan segala bentuk emosi; semua itu berhubungan dengan tubuh jasmani. Jadi jelaslah, di surga tidak ada yang namanya pesta seks.

Dalam hal ini, Yesus tepat ketika Dia menjawab pertanyaan orang-orang Saduki mengenai seorang perempuan yang menikahi tujuh pria bersaudara secara berturut-turut (bdk. Ul. 25:5-10). Mereka bertanya kepada Yesus, “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan?” Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” [Mat. 22:28-30].

Kata-kata Yesus terhadap orang-orang Saduki itu cukup keras: “Kamu sesat”. Kiranya perkataan ini juga bisa kita tujukan kepada siapa saja yang beranggapan bahwa di surga ada pesta seks. Sekali lagi, siapapun yang beranggapan demikian, mereka sebenarnya termasuk orang-orang yang ‘sesat’ dalam berpikir.

Yesus justru mengatakan bahwa ‘pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga’. Pertanyaan yang harus kita ajukan sekarang adalah: “Mengapa dikatakan ‘seperti malaikat di surga?” Jawaban atas pertanyaan ini sekaligus menjawab pertanyaan kita mengenai “Apa dari kita yang akan masuk surga?”

Kita tahu bahwa malaikat itu bukan anak kecil yang bersayap, meskipun seringkali dilukiskan demikian. Malaikat itu adalah roh, tidak berbentuk. “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?” [Ibr. 1:14]. Itu berarti bahwa setelah kita mati, kita akan hidup ‘seperti malaikat’; kita hidup dalam bentuk roh. Maka, yang akan masuk surga dari diri kita adalah roh kita, bukan tubuh jasmani kita.

Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus pernah menulis demikian, “Bila kemah kediaman kita di bumi telah dibongkar, Allah menyediakan bagi kita suatu tempat kediaman di surga” [1Kor 5:1]. Tetapi tidak ada yang mengetahui seperti apa rupa dari surga itu. Barangkali juga kurang tepat berbicara mengenai ‘rupa’ surga, sebab surga berarti kebahagiaan manusia dalam kesatuan dengan Allah. Bahwa surga seringkali digambarkan bagaikan sebuah tempat, itu harus dipandang sebagai bahasa kiasan.

Nah, kalau yang masuk surga dari diri kita itu ternyata adalah roh, bukan badan, berarti surga itu bukan tempat. Prinsipnya, kalau tidak ada badan, tidak perlu tempat. Memang, kita harus mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara lain untuk menggambarkan keindahan surga selain menggambarkannya seolah-olah seperti sebuah tempat. Yang pokok dari surga ialah bahwa itu tempat Allah [lih. Mzm 2:4; Why 11:13; 16:11]. Jadi, jangan pernah membayangkan surga itu seperti taman kota atau pantai manapun di dunia ini.

Hai Anak Muda, Bangkitlah! — Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Hai Anak Muda, Bangkitlah!: Renungan Harian Katolik, Selasa 18 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 7:11-17

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Injil hari ini berkisah soal Yesus yang membangkitkan anak muda di Nain. Penginjil memberi bahwa anak muda itu adalah anak tunggal seorang janda.

Penekanan seperti ini jelas ada maksud dan tujuannya. Kita tahu bahwa predikat sebagai janda bukan predikat yang menguntungkan, apalagi jika janda itu tidak mempunyai anak. Janda yang tidak mempunyai anak akan hidup dalam kesepian karena sebatang kara, ada dalam posisi yang sangat tidak terlindungi, dan mudah sekali dilukai.

Yesus memahami betul betapa tidak menguntungkannya predikat sebagai janda itu. Keadaannya itu baru akan tertolong sedikit jika ia mempunyai anak yang bisa menemani dan menghibur. Itulah sebabnya, ketika Yesus melihat seorang janda yang harus kehilangan anak satu-satunya, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan (Luk. 7:13). Yesus tidak ingin janda itu menderita dua kali. Ia pun ingin menghapus air mata dari mata janda itu. Ia terdorong untuk menghidupkan kembal anak tunggal janda itu yang sudah mati. Yesus berkata: “Jangan menangis” (Luk. 7:13).

Perkataan Yesus itu disertai dengan suatu perbuatan ajaib. Ia membangkitkan kembali anak tunggal dari janda itu. Hanya dengan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk. 7:14) anak muda itu pun bangkit kembali. Luar biasa.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menjumpai banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan kita. Mereka ada di ada dan hidup tidak jauh dari kita. Jangan pernah bilang bahwa kita tidak mempunyai sesuatu untuk kita berikan kepada mereka. Kita selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan, yaitu diri kita sendiri, kehadiran kita.

Tuhan mau supaya kita menjadikan diri kita sebagai penolong dan penghibur bagi mereka. Kita harus bisa berkata kepada mereka: “Jangan menangis” dan menghentikan air mata dari mata mereka. Itu tugas dan tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus. Yesus sudah memberi contohnya bagi kita.

Ketika kita melihat kesusahan orang lain di sekitar kita, dan hati kita tidak tergerak sedikitpun untuk menolong, itu berarti bahwa ada sesuatu yang harus kita koreksi dari diri kita. Jangan-jangan ada yang salah dengan diri kita; sebab seharusnya kesusahan orang lain menjadi undangan bagi kita untuk berbuat baik. Jangan sampai kita justru tertawa di atas penderitaan orang lain.

Saudara-saudari yang terkasih, perkataan Yesus ‘Hai Pemuda, bangkitlah’ bisa juga diartikan sebagai ajakan bagi kita, terutama semua pemuda, supaya ‘bangkit’. Kita tahu bahwa kematian itu tidak selamanya merupakan kematian fisik. Kita biasa juga bilang ‘mayat hidup’ untuk orang-orang yang masih hidup tapi tidak mempunyai semangat untuk hidup. Orangnya masih hidup, tapi semangatnya sudah ‘mati’. Kiranya, untuk orang seperti itu jugalah perkataan Yesus di atas ditujukan.

Banyak anak muda di sekitar kita sudah menjadi ‘mayat hidup’. Mereka lebih suka bermalas-malasan daripada berjuang untuk meraih cita-cita. Pasif dalam segala hal. Tidak produktif, tidak mampu bersaing, dan sederetnya. Maka, perkataan Yesus ini kiranya membangkitkan kembali semangat mereka. Sekali lagi, Yesus berkata: Yesus ‘Hai Pemuda, bangkitlah’. Jika selama ini kita masih bermalas-malasan, seperti ‘mayat hidup’ maka Yesus mengajak kita supaya ‘bangkitlah’. Ayo bangkit, kawan!

Apakah Orang Katolik Menyembah Patung? Berikut Penjelasannya!

0

Kita umat Katolik seringkali dituduh sebagai penyembah patung. Tuduhan itu bukan tanpa dasar. Dasar dari tuduhan semacam itu adalah Kitab Keluaran 20:3-5.

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” [ay. 3]. “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” [ay. 4]. “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” [ay. 5].

Mereka yang menuduh selalu bilang begini, “Ayat itu kan sudah sangat jelas pesannya. Kita tidak boleh membuat patung, tetapi apa yang kita lihat di Gereja Katolik di seluruh dunia? Patung! Ya, mereka membuat dan menyembah patung. Padahal, dalam Keluaran 20:3-5 dan Ulangan 5:7-8, Allah jelas-jelas melarang pembuatan patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”

[postingan number=3 tag= “patung”]

Menurut mereka, ayat yang ke-4 dan ke-5 dari Kitab Keluaran 20, tidak dapat dipisahkan, sehingga artinya adalah kita tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh menyembah sujud kepadanya.

Sepintas, argumen yang mereka sampaikan di atas tampak masuk akal. Bahkan boleh jadi, segelintir orang Katolik mendapat pengaruh dari argumen itu. Tetapi, apakah argumen yang mereka sampaikan itu sudah tepat? Mari kita lihat kutipan ayat itu dari beberapa terjemahan, untuk mengurangi kemungkinan adanya distorsi [penyimpangan] dari bahasa terjemahannya.

[ay. 3] You shall not have other gods besides me [NAB, CCB]; no other gods before me [RSV, NIV, KJV]; [ay. 4] You shall not carve idols [NAB]; a graven image [RSV]; any graven image [NIV, KJV]; a carved image [CCB] for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth; [ay. 5] You shall not bow down [NAB, RSV, NIV, KJV, CCB] before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Catatan: NAB= New American Bible; RSV= Revised Standard Version; NIV= New International Version; CCB= Christian Community Bible.

Dari referensi di atas, maka terlihat bahwa istilah yang digunakan adalah: carved idol, yang berarti ‘patung berhala’ dan carved atau graven image yang berarti ‘ukiran dari suatu gambaran’. Jadi, yang dimaksudkan oleh ayat itu adalah bahwa kita tidak boleh membuat image atau patung atau gambaran untuk disembah sebagai allah lain [dalam kaitannya dengan ayat yang ke 3] sebab penyembahan ‘patung berhala’ adalah dosa.

Maka dari itu, Gereja Katolik melihat bahwa ayat ke-4 dari Kitab Keluaran 20 “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” merupakan kelanjutan dari ayat ke-3, yaitu, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Jadi, Allah melarang kita agar kita jangan membuat gambar atau patung untuk disembah sebagai allah lain di hadapan-Nya.

Dengan demikian, anggapan yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik menyembah ‘patung’ hanya karena mereka memiliki patung Yesus, patung Maria, dan patung santo-santa sangatlah tidak tepat sebab orang Katolik tidak menghormati apalagi menyembah patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalam patung itu. Sama halnya seperti ini: “Apakah kita menghormati kain ketika kita mengarahkan hormat kita ke bendera merah putih pada saat upacara bendera? Tentu tidak kan? Kita tidak menghormati kain bendera, tetapi kita menghormati jasa para pahlawan yang berhasil memperebutkan kemerdekaan; dan jasa mereka itu dilambangkan dengan bendera merah putih”.

Begitu juga ketika orang tua berdoa di depan foto anaknya yang meninggal. Apakah orang tua itu berdoa untuk atau kepada foto itu? Tentu saja TIDAK. Orang tua itu mendoakan anak mereka yang berada di balik foto itu. Foto itu digunakan hanya sebagai sarana untuk membantu imajinasi mereka.

Bagaimanapun, doa membutuhkan konsentrasi. Untuk itu, imajinasi mesti diarahkan dengan baik. Nah, salah satu caranya adalah dengan menggunakan sarana-sarana seperti patung atau foto. Jadi, jelaslah, kita tidak menyembah patung atau foto. ***

Diolah dan dikembangkan dari Katolisitas.org dan Catholic.com

Pengakuan Petrus tentang Yesus — Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Pengakuan Petrus tentang Yesus: Renungan Harian Katolik, Minggu 16 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Mrk. 8:27-35

Selama ini kita berpikir bahwa mendalam atau tidaknya relasi seseorang dengan orang lain, misalnya dengan  teman, pacar, rekan kerja, dan sebagainya, diukur dari berapa lama mereka menjalin relasi itu. Jika relasi yang mereka bangun sudah cukup lama, kita simpulkan bahwa mereka pasti sudah saling mengenal satu sama lain secara  mendalam.

Apakah kesimpulan yang kita ambil itu sudah betul? Tampaknya tidak. Ternyata, banyak orang setelah sekian lama menjalin relasi, masih tidak tahu latar belakang rekan kerjanya, masih tidak tahu kelebihan dan kekurangan temannya, masih tidak tahu kesukaan dan pantangan pacarnya, dan sebagainya. Jadi, lama atau tidaknya relasi  itu tidak bisa menjamin apakah mereka sudah saling mengenal satu sama lain atau belum.

Maka dari itu, untuk mengetahui sejauh mana mereka saling mengenal satu sama lain, perlu ditanyakan langsung ke orangnya. Itulah yang dilakukan oleh Yesus sebagaimana diceritakan di dalam bacaan Injil hari ini. Ia tahu bahwa para murid-Nya sudah berjalan bersama-Nya cukup lama, tetapi Ia toh tetap mengajukan satu pertanyaan kepada mereka. Pertanyaan yang diajukan oleh Yesus itu bertujuan untuk menggali sejauh mana para murid-Nya itu mengenal diri-Nya. Mengapa itu dilakukan? Sebab bagi Yesus, siapapun yang mau menjadi pengikut-Nya, haruslah benar-benar mengenal diri-Nya secara mendalam; bukan asal ikutan saja.

Cara yang dilakukan oleh Yesus pun sangat bagus. Ia tidak langsung ke inti pertanyaan-Nya. Mula-mula Ia bertanya kepada para murid-Nya itu tentang apa pendapat orang mengenai diri-Nya. Ia bilang “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Tanpa berpikir panjang, para murid ramai-ramai menjawab, “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, ada pula yang mengatakan seorang dari nabi-nabi terdahulu yang telah bangkit”. Kita juga seperti itu. Kita, kalau ditanyakan mengenai pendapat orang lain, kita cepat sekali menjawab. Kita bilang “Katanya begini, mereka bilang begitu, dan seterusnya”.

Tetapi itu kan kata orang, belum menurut kita. Makanya Yesus bilang “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Murid-murid-Nya terdiam. Mungkin mereka tidak tahu mau bilang apa. Memang, mereka sudah sekian lama berjalan bersama Yesus tetapi bisa jadi mereka tidak mengenal Yesus secara mendalam. Buktinya, hanya Petrus yang menjawab. Kata Petrus kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”.

Petrus mampu menjawab pertanyaan Yesus karena dia mempunyai pengalaman pribadi dengan Yesus. Ia mengenal Yesus secara mendalam. Ia pernah melihat Yesus menampakkan kemulian-Nya di Gunung Tabor. Ia tidak mengikuti Yesus asal ikut-ikutan saja.

Kita pun demikian. Kita seringkali menyebut diri sebagai pengikut Yesus. Banyak di antara kita kalau ditanya – sejak kapan menjadi pengikut Yesus – dengan bangga mengatakan – sejak bayi – karena  memang kebanyakan dari kita dibaptis saat bayi. Bahkan, ada orang dengan agak sedikit lebay tidak lagi mengatakan – sejak bayi – tetapi – sejak di dalam rahim ibunya – luar biasa. Meskipun saya sendiri juga tidak tahu apa maksudnya. Yang pasti mereka mau mengatakan bahwa kita sudah lama menjadi pengikut Yesus.

Kalau begitu, pertanyaan Yesus, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” juga ditujukan kepada kita. Kita tentu tidak akan memberikan jawaban yang persis sama seperti jawaban yang diberikan oleh Petrus. Jawaban kita itu tergantung dari bagaimana pengalaman pribadi kita bersama Tuhan. Kita menjawab, bukan lagi berdasarkan perkataan orang lain tentang Yesus, melainkan berdasarkan pengalaman kita sendiri.

Hanya mereka yang mempunyai kedekatan pribadi dengan Yesus yang tahu memberikan jawaban yang tepat. Semoga kita semua terus membangun relasi dengan Yesus, dan dari hari ke hari berusaha memperdalam relasi itu. Hanya dengan cara itu kita bisa mengenal Yesus secara mendalam sehingga kita pun pada akhirnya pantas dengan bangga menyebut diri sebagai pengikut Yesus. Amin.

Kang Je dan Mengasihi Sesama

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Kesekian kali aku melihat temanku itu begitu sibuk menangani sebuah hal. Memang tidak ada kepanitiaan terbentuk, tetapi proyeknya kali ini membutuhkan tangan cekatan serta pemikiran serius. Tidak bisa main-main. Tapi, kalau dilihat rutinitas dia melakukan kegiatan ini, aku pikir dia adalah manusia yang paling sibuk dan heboh sedunia. Waktu 24 jam yang menjadi jatah hidupnya tiap hari, seperti kurang karena kesibukannya. Sudah begitu, ketika ada waktu liburan yang bisa dia pakai untuk sekadar refreshing, ada saja alasan yang membuatnya kembali bersibuk ria.
“Kamu itu apa nggak ada capenya sih?” tanyaku begitu tahu bahwa temanku itu sudah tidak bisa dipegang lagi.
Temanku tersenyum. “Persediaan tenagaku masih full. Penuh. Jangan kuatir.” Ia kembali mengerjakan tugasnya.
“Kapan kamu libur?” tanyaku lagi, penasaran.
“Libur?” temanku balik bertanya. Ia berpikir sejenak. Dahinya berkerut. “Ketika aku tidur, itulah waktuku untuk berlibur. Ketika aku menafas lega karena satu pekerjaanku selesai, itulah jatahku libur.”
“Jadi, kamu nggak pernah ambil cuti?”
Kepala temanku itu menggeleng pasti. “Nggak pernah.Bisa cek ke teman-temanku. Aku menyisakan semua cutiku tiap tahunnya.”
Mataku menatapnya serius. Kupikir dia sedang bercanda atau bermain-main kata saja. Tapi, nampaknya ia bicara serius. Tidak ada tanda-tanda kebohongan yang melintas dalam pancaran matanya.
“Aku kerja gini kan buat sesama juga. Bukan buat diriku sendiri kok,” ujarnya seperti tahu bahwa aku sedikit mencurigainya. “Kamu tahu kan kalau aku paling nggak bisa melihat sesamaku berkekurangan, sedih atau mengalami kesusahan dalam hidupnya. Selama aku bisa membantu mereka, maka aku akan membantu mereka.”
“Tapi, kamu kan punya hidup. Apa kamu nggak berniat membela hidupmu sendiri?”
“Lho, dengan membantu sesama, berarti kan aku membela hidupku juga.”
“Menikah?”
“Ah, urusan itu, mengalir sajalah. Bukan prioritas hidupku.”
Aku menggaruk-garukkan kepala. Tidak mengerti apa yang dikatakan.
Jadi ingat ketika beberapa waktu lalu, sepupunya mengalami musibah kecelakaan. Cukup parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Karena kebetulan keluarganya sedang sibuk mencari darah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perawatan rumah sakit, maka dengan suka cita ia mendampingi sepupunya itu, melewati masa kritis di rumah sakit. Pada waktu bersamaan, dia mendapat perintah dari atasannya untuk menemui seorang klien yang akan memberikan tander kepada perusahaan tempat ia bekerja. Dan, entah bagaimana dia bisa membuat pimpinannya tidak jadi menyuruhnya untuk menemui sang klien. Ketika ditanya bagaimana bisa ia menolak pekerjaan yang diberikan sang atasan, dia bilang bahwa dia harus memilih menemani sepupunya ketimbang mendatangi klien. Meski dengan alasan tersebut, ia mendapat konsekwensi tertentu, temanku itu mau menerima. Baginya menolong nyawa orang lain lebih berharga daripada mengerjakan tugas kantornya sendiri.
Ketika aku mendengar ceritanya, aku Cuma geleng-geleng kepala saja.
Nggak bisa komentar lagi.
Atau ketika ada kegiatan kemanusiaan di tingkat propinsi. Padahal saat itu ia akan menghadapi audit perusahaan. Mengingat pengalaman serta kredibilitas pekerjaannya selama ini dibidang kemanusiaan, maka ia ditunjuk sebagai ketua kegiatan tersebut.
Tanpa berpikir panjang, sahabatku tersebut menyetujui pencalonan dirinya. Dengan kesadaran penuh ia laksanakan komitmen yang ia buat sendiri. Konskwensinya kali ini adalah tubuhnya sendiri yang sempat tergeletak tak berdaya di rumah sakit. Tapi, itu nggak lama. Sebab dua hari setelah keluar dari rumah sakit, ia nampak sibuk kembali.
“Aku bahagia bila sesamaku bisa mendapat kebahagiaan juga bersamaku. Aku nggak peduli karenanya, aku harus rela berkorban demi mereka.”
“Ckckckck…,” kugelengkan kepala. Kagum. “Kamu ini memang hobi atau… kecanduan?”
“Dia kecanduan berbuat baik, anakKu,” sebuah suara menyetuak masuk diantara kami.
“Kang Je?! Waaahhh…,” sobatku itu langsung menyongsong yang datang. Tanpa ragu ia memeluk Kang Je lalu menepuk-nepuk bahu belakangnya. Kang Je pun melakukan hal serupa.
“Kang Je ini salah satu motivatorku melakukan ini semua.” Temanku mengembangkan senyum lebarnya. Ia bangga sekaligus bahagia sekali mengucapkan kalimat barusan. Keduanya terlihat sangat dekat dan begitu akrab. Aku jadi sedikit surpraise melihat kedekatan mereka itu.
“Tidak usah kaget, anakKu. Temanmu ini adalah salah satu umatKu yang mengamalkan apa yang telah Kuajarkan padanya.” Kang Je tampak bangga. Dia mengacungkan ibu jariNya yang ditujukan bagi temanku yang sedikit bersemu merah mukanya. Menahan malu dipuji begitu.
“Iya sih. Kalau itu nggak usah diragukan lagi. Tapi…, coba deh Kang Je tanya, saking seringnya dia beredar kemana-mana, sempatkah dia memikirkan dirinya sendiri? Menikah misalnya. Atau sekadar liburan saja.”
Kali ini tatapan mata Kang Je seperti orang yang sedang mencari-cari. Dia sepertinya ingin sekali mendapat komentar sebelum dia bertanya. Yang ditatap berusaha mengelak, tapi ia tahu juga, itu percuma dilakukan.
“Aku memang ke sini untuk bertanya itu. Apakah benar anakKu, kau tak peduli lagi dengan hidupmu sendiri?” tanya Kang Je akhirnya setelah Ia yakin pasti bahwa temanku itu tidak bereaksi apa-apa selain salah tingkah tadi.
“Ya-ya-ya.., aku kan kerja bukan cuma untuk duniawi saja, Kang. Kang Je tahu banget itu,” temanku berusaha membantah. “Ini bukan soal idealisme saja, Kang. Tapi, ini masalah kemanusiaan. Kang Je sendiri kan yang bilang supaya kita saling mengasihi sesama?”
Dibantah begitu, bukannya marah, Kang Je malah tersenyum. Dia memang sangat tahu bahwa anakNya satu ini tak perlu disangsikan lagi atas apa pun yang ia kerjakan selama ini.
“Tapi, kau melupakan satu ayat berikutnya, anakKu.” Kang tersenyum panjang sambil memainkan ujung alisnya. Nampaknya dia berusaha tidak membuat down temanku tadi.
“Yang mana?” tanya temanku setelah sempat terlihat keningnya tadi berkerut.
“Kasihanilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Jadi, jika kamu tidak mengasihi dirimu sendiri dulu maka kamu tak bisa pula mengasihi sesamamu.”
Jemari kanan temanku itu mengetuk-ngetuk meja di hadapannya. Sementara tangan kirinya menopang daunya. Mulutnya bergerak-gerak seperti hendak mengatakan sesuatu yang tak jelas. Aku sendiri menunggu reaksi keduanya. Kali ini aku ingin jadi penonton saja. Nggak banyak komentar.
“Tak kan ada yang menyangsikan apa pun yang kau perbuat selama ini, anakKu. Bahkan olehKu sekali pun. Kau salah satu anak yang Kubanggakan.” Kang Je berdiri di samping kiri temanku itu. “Tetapi, tidak baik juga jika dengan alasan menolong sesama, kau abaikan kepentingan dirimu sendiri bahkan berusaha tak mengingatnya. Alam saja butuh pergantian musim untuk kembali memberikan yang terbaik bagi semua mahluk.”
“Bapaku sendiri ketika mencipta dunia ini membuat satu hari khusus untuk beristirahat, yaitu pada hari ketujuh. Apakah kamu yang adalah ciptaan BapaKu akan melebihi dariNya dalam hal berkarya? Tidakkah lebih baik jika satu harimu pun diberikan untuk dirimu sendiri dan untukNya?”
Temanku menunduk.
“Ambillah hari libur bagi dirimu sendiri, anakKu. Matikan hp-mu, jangan biarkan banyak orang tahu kamu ada dimana, hirup udara yang segar dan baru atau biarkan kau dilayani dan diberi oleh sesamamu. Bukan cuma kamu yang memberi dan melayani. Yakin saja bahwa semua akan terjalani dengan baik.”
“Hmmm…,” temanku menarik nafas panjang. “Benar juga sih, Kang… Kadang aku merasa jenuh. Lelah. Ingin sesuatu yang baru.”
“Makanya…, ambil libur. Sementara waktu jangan pikirkan pekerjaanmu. Titipkan sementara saja pada orang yang kamu percaya,” kali ini aku angkat bicara.
“Ya-ya-ya… Baiklah kalau begitu. Aku akan ambil cutiku.”
“Gitu dong!!” spontan Kang Je memberikan telapak tangannya untuk diadu dengan telapak tangan temanku atau “tos” menurut anak muda sekarang. Nampaknya Akang satu ini mengikuti benar trend anak-anakNya. Aku jadi ikut-ikutan juga deh….
Ahhh…
Aku menarik nafas lega.
Senang sekali temanku ini mau melakukan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri. Bukan Cuma memikirkan orang lain saja.
“Dan, kau anakKu,” Kang Je melirik dan tersenyum padaku, “tetap perbuat segalanya hanya demi kemuliaanKu. Segala berkat pun akan tertuju bagimu.”
Oke deh, Kang…
Tak kan kulupa hal satu itu.