10.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 38

Yesus Dihukum Mati, Dimanakah Saya?

0

Penulis: P. Alfonsius Laia, Pr*

Hari itu di Kota Yerusalem, gegap gempita seruan Hosanna.. Hosanna Putera Daud. Anak-anak cucu Abraham yang mendiami kota Sion bak rusa yang haus akan air ketika Sang Guru memasuki Kota Yerusalem. Dialah Mesias. Diakah Mesias yang didambakan kehadirannya? Kala itu daun-daun pohon zaitun dan daun palma dari tanah terjanji menjadi saksi yang benar. Sesungguhnya tatkala Mesias muncul dengan keledai rapuh, keraguan menyelemuti orang-orang yang bersorak-sorai itu. Mengapa bukan kuda perang? Dimana pedang penghunus musuh? Pasukannya? Kok… kumpulan orang-orang kampung yang tidak berpendidikan. Jangan-jangan Dia ini Mesias gadungan.

Terlanjur. Dalam tanya pekikan itu digemakan walau hati tak bersambung. Hanya lidah dalam kata tak bermakna berseru-seru.

Dimanakah gema hosanna itu? Tidak ada! Orang-orang itu kini mundur. Menyiasati kebengisan amarah. Tersulut hasutan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, putera-puteri sion itu; mulai dari yang tua-muda, laki-laki dan perempuan terjebak dalam kebengisan. Bak serigala buas mereka kini berseru: “Salibkan Dia… Salibkan Dia…”.

Demi nyawa suci seorang yang tak berdosa, orang-orang Yahudi itu berskongkol dengan Pilatus. Tanpa rasa malu mereka mengakui: “Dia bukan raja kami. Kami tidak mempunyai raja selain kaisar”. Tidak, kata Pilatus meyakinkan; “Ini raja kalian”. Semakin buas mereka mendesak; “Salibkan Dia… Salibkan Dia… Kaisar adalah raja kami, bukan dia”

Baca Juga:

Sendirian. Yesus berjuang memikul salibNya. Tanpa rasa iba. Tanpa empati dari orang-orang yang dulu mengelu-elukan dia. Seolah mereka tak pernah mengenalnya. Bagi mereka dia adalah pendosa terhina. Apakah dosanya? Berdosakah Ia karena berbuat baik dan menyembuhkan banyak orang? Dimanakah para rasul? Dimanakah orang-orang yang dulu ia sembuhkan? Mereka semua meninggalkan dia. Yesus memikul semuanya demi cinta dan ketaatan pada BapaNya.

Di Puncak Golgota. Di atas Salib suci, tersingkap kebenaran ini: YESUS ADALAH TUHAN DAN RAJA YANG MULIA. Orang-orang itu kini menebah dada. Sesal tiada tara. tidak ada gunanya; lebih besar dosa dia yang menyerahkan nyawa anak manusia itu.

Kisah sengsara Yesus merupakan didikan yang paling berharga bagi kita. Selain Dia adalah Tuhan yang Jaya dalam penderitaan, kisah penyaliban itu sangat historis. Ada dan terjadi dalam historisitas dunia. Berada di tengah-tengah kita.

Hukuman mati yang dijatuhkan atas Yesus sangat diragukan legalitasnya. Pengadilan yang menjatuhkan hukuman itu sarat dengan persekongkolan. Tidak ada bukti-bukti valid atas tuduhan yang ditimpakan pada Yesus. Subjektivitas teramat kuat untuk melegalkan kehausan darah oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Pilatus saja gentar, tapi lagi-lagi suara mayoritas itu mendesak; “Salibkan Dia…!”

Mari bercermin dari kisah yang mengubah cara pandang dunia ini. Bagaimana kita sekarang? Ketidakpuasan kerap menjadi serangan pada personal. Persekongkolan dibentuk. Berbuah hoax demi melancarka maksud. Mulailah berterbaran cacian, makian, dan berbagai bentuk hasutan guna mempengaruhi opini public. Tidak adakah cara-cara yang lebih elegan YANG MENANDAKAN BAHWA YANG BERPIKIR INI ADALAH MANUSIA YANG BERMARTABAT? Mengapa, membiarkan diri diperbudak oleh insting binatang alam liar; “homo homini lupus”. Kemanusiaan seorang manusia penuh manakala hati dan budinya rasuki kebaikan dan terang yang siap menghalau berbagai manifestasi kegelapan dunia.

Maka saat memperingati sengsara Tuhan, sangat penting kita masing-masing bertanya diri; dimana posisi saya saat itu? Orang Yahudikah? Orang Farisi atau ahli-ahli tauratkah? Atau saya dalam posisi Pilatus yang suka mencuci tangankah? Atau lebih parah lagi, jangan-jangan saya adalah Yudas si penghianat demi pundi-pundi? Atau saya ada diantara orang banyak dengan suara lantang; Salibkan Dia? Dimanakah saya….?

Jawaban jujur kita adalah aplikasi masa sekarang kita. Ketidakdilan yang tercipta. Cara berpikir yang tidak sehat dan tidak positif dan berbagi bentuk keburukan lain MERUPAKAN TINDAKAN PENYALIBAN ATAS PERSONIFIKASI YESUS.

*Imam Projo Keuskupan Sibolga dan melayani di Paroki Trinitas Sogawunasi, Nias Selatan.

 

Misteri Pemakaman Yesus Diabaikan

0
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fkabarpolisi.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F01%2Fimages-1.jpeg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fkabarpolisi.com%2Fhistoria%2Fmakam-yesus-ditemukan-kota-yerusalem-dibongkar-pertama-kali.html&tbnid=VpSkIyXb02UFCM&vet=12ahUKEwjp39Lcxd_oAhX2w3MBHfiAAEkQMygHegUIARD3AQ..i&docid=oA2tozAv_jLCsM&w=500&h=281&q=Pemakaman%20Yesus&safe=strict&ved=2ahUKEwjp39Lcxd_oAhX2w3MBHfiAAEkQMygHegUIARD3AQ

 

Kemarin sore pukul 15.00, kita sudah merenungkan misteri penderitaan Yesus. Kita merenungkan bagaimana Yesus ditangkap, diadili, dimahkotai duri, dihina, dipukul, disuruh memanggul salib yang berat, dipaku pada salib dan kemudian wafat di salib. Ajakan merenungkan misteri penderitaan ini sama sekali tidak bermaksud agar kita menangis. Umat Katolik hanya diajak untuk merenungkan bahwa Yesus menderita bukan karena kesalahan  atau dosa-Nya sendiri. Ia menderita karena dosa orang lain, termasuk dosa kita. Ia menanggung dosa kita walaupun Ia bukan pendosa. Yesus adalah orang benar yang menderita karena dosa manusia. Kita juga yakin, penderitaan-Nya menyelamatkan kita. Ia menebus dosa-dosa kita dengan darah-Nya di kayu salib. Bandingkan juga dengan seruan yang berulang-ulang kita lantunkan saat devosi Jalan Salib, “Sebab dengan salib suci-Mu, Engkau telah menebus dunia.” Itulah keyakinan kita.

Penderitaan Yesus juga wujud solidaritas dengan penderitaan manusia. Ia turut merasakan kemalangan dan kelemahan manusia. Hanya saja Ia tak berdosa. Atas dasar inilah kita terus yakin bahwa Yesus peduli dengan penderitaan kita, termasuk penderitaan kita karena wabah Covid 19 ini. Kita telah mempersembahkan penderitaan kita ini kepada-Nya agar Ia meringankannya bahkan memampukan kita mengatasi penderitaan ini. Kita pun yakin, berkat bantuan-Nya melalui banyak cara dan bentuk, pada saat yang dikehendaki-Nya, sambil tetap menjaga kesehatan dan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, penderitaan karena Covid 19 ini akan berakhir. Sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya percaya akan hal ini. Tak perlu ragu! Bukankah tiada yang mustahil bagi-Nya?

Setelah merenungkan misteri penderitaan Yesus (Jumat Agung), kita merenungkan misteri pemakaman Yesus (Sabtu Suci). Menurut Injil Yohanes (19:38-42), setelah Yesus wafat di salib, Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus untuk menurunkan mayat Yesus. Permintaan ini dikabulkan oleh Pilatus. Setelah mengurus segalanya, Yusuf dari Arimatea dan orang-orang yang ada bersamanya, menguburkan Yesus. Memang menurut Kitab Ulangan 21:22-23, mayat-mayat orang yang dihukum mati tidak boleh dibiarkan tergantung sampai malam supaya tanah Tuhan tidak dinajiskan. Mayat-mayat itu harus dikuburkan pada hari itu juga.  Kiranya demikian juga dengan Yesus.  Ia dimakamkan atau dikuburkan.

Misteri penguburan atau pemakaman Yesus ini agaknya kurang direnungkan secara sungguh-sungguh oleh umat Katolik. Ada kesan orang Katolik cenderung fokus merenungkan penderitaan Yesus dan kebangkitan-Nya dari alam maut, tetapi mengabaikan penguburan atau pemakaman Yesus (bdk,  Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Padahal menurut Dokumen Gereja “Perayaan Paskah dan Persiapannya” artikel 73 menegaskan bahwa pada hari Sabtu Suci Gereja tinggal di makam Tuhan, merenungkan penderitaan, wafat dan turun-Nya kea lam maut dan menantikan kebangkitan-Nya dengan puasa dan tobat. Hal-hal penting ini tampaknya kurang dihayati oleh umat Katolik. Apa buktinya? Sebagai  contoh, umat menghayati hening total selama hari Jumat, tetapi hari sabtu suci tak ada keheningan. Semuanya sibuk mempersiapkan segala hal untuk perayaan malam Paskah.  Bahkan di tempat tertentu (secara khusus di Manggarai), kalau ada pertandingan untuk memeriahkan pesta Paskah, hari Sabtu pun diadakan pertandingan!  Tak ada waktu untuk merenungkan penguburan atau pemakaman Yesus. Bagi saya ini kekeliruan yang perlu perbaiki. Semua pihak harus berbenah, mulai dari imam dan semua umat.

Hari Sabtu Suci adalah kesempatan untuk tinggal di makam Yesus dan merenungkan misteri Yesus turun ke dunia orang mati. Bahwasannya Yesus telah sungguh-sungguh mati dan dikuburkan. Ia telah menjadi sama dengan kita dan turut mengalami keadaan kita, “Supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia yaitu iblis yang berkuasa atas maut” (Ibr.2:14).  Ia tak hanya disalibkan, tetapi juga dikuburkan.  Dia telah mengambil bagian terburuk dari kemanusiaan kita yakni dikuburkan (Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Kita sadar, kubur atau makam merupakan salah satu aspek dari kehidupan manusia. Karena itu, kita perlu merenungkan misteri kubur dan pemakaman Yesus. Akan tetapi, kita tahu, kubur tidak akan menjadi tempat kediaman-Nya untuk selama-lamanya (bdk. Mzm 49).

Dalam pembaptisan kita juga disadarkan bahwa kita telah dikuburkan bersama dengan Yesus agar dibangkitkan dalam kehidupan baru bersama-Nya.  Sebagaimana Yesus pernah pergi ke kubur Lazarus dan di sana ia menangis (bdk. Yoh. 11:34-35), pada Sabtu Suci ini seharusnya kita melihat kubur Yesus dan duduk dekat makam-Nya (bdk. Mat. 27:21). Melihat kubur Yesus dan duduk dekat makam-Nya berarti kita mengambil waktu hening: berdoa, menyesali dosa dan memohon ampun, meditasi dan merasakan bagaimana terbaring kaku dalam makam. Inilah yang kurang kita hayati selama Sabtu Suci. Bahkan tak berlebihan kalau dikatakan bahwa Sabtu Suci seperti ‘waktu kosong’ menjelang Malam Paskah (Bdk. Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Padahal jika tidak merenungkan penguburan Yesus dan tidak duduk di makam-Nya, kita juga tidak mengingat misteri penguburan kita bersama dengan Dia dalam pembaptisan.

Renungan Sabtu Suci, saat kita merenungkan penguburan dan pemakaman Yesus ini berakhir sebelum Perayaan Malam Paskah. Atau biasanya ditutup dengan Ibadat Sore yang tak lain adalah ibadat untuk merayakan misteri wafat dan pemakaman Yesus (bdk. Bertold Parera: Manuscripto, 2012).  Akan tetapi, Ibadat Sore ini jarang sekali dilakukan. Padahal kalau Ibadat Sore ini dirayakan, kita sungguh-sungguh dipersiapkan merayakan Paskah; merayakan kebangkitan Tuhan. Setelah ibadat ini baru kita mempersiapkan diri untuk perayaan Malam Paskah. Biasanya perayaan Malam Paskah ini dilaksanakan pkl. 18.00 ke atas, saat matahari mulai terbenam.

Apakah saudara/i berada di sekitar makam atau kubur Yesus pada hari Sabtu Suci ini? Apakah saudara/i merenungkan dengan sungguh-sungguh misteri penguburan atau pemakaman Yesus hari ini? ***

 

Labuan Bajo, 11 April 2020

(Hari Sabtu Suci)

(P. Laurensius Gafur, SMM)

Yesus Peduli dengan Penderitaan Kita

0
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fsgp1.digitaloceanspaces.com%2Fdata-cdn%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F04%2F10113523%2FInilah-Makna-Jumat-Agung-bagi-Umat-Kristen.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.harianaceh.co.id%2F2020%2F04%2F10%2Finilah-makna-jumat-agung-bagi-umat-kristen%2F&tbnid=LqoAiI21NzqVrM&vet=10CIYBEDMopQFqFwoTCNiJ576U3egCFQAAAAAdAAAAABAC..i&docid=L_Wg-NhBYgc0SM&w=800&h=533&itg=1&q=yesus%20peduli%20dengan%20penderitaan%20manusia&safe=strict&ved=0CIYBEDMopQFqFwoTCNiJ576U3egCFQAAAAAdAAAAABAC

Setelah tadi malam kita mengenangkan kembali Perjamuan Terakhir Yesus bersama murid-Nya, hari ini kita secara khusus merenungkan misteri penderitaan Yesus. Tak ada misa atau perayaan Ekaristi hari ini. Hanya ada ibadat. Memang, melalui  ibadat jalan salib dan secara istimewa melalui ibadat Jumat Agung nanti pukul 15.00 (jam 3 sore), kita semua diajak untuk sungguh-sungguh masuk  dan menyatukan diiri dengan misteri penderitaan dan penyaliban Yesus. Penderitaan dan penyaliban yang mendatangkan keselamatan bagi yang mengandalkan-Nya.

Menurut saya, situasi penderitaan yang sedang kita rasakan saat ini karena virus Corona membantu kita memaknai secara lebih mendalam penderitaan Kristus. Kita bisa menyatukan penderitaan kita ini dengan penderitaan Kristus agar kita mendapatkan peneguhan dan kekuatan baru untuk terus berlangkah. Sebagian besar manusia di bumi ini memang belum terjangkit virus Corona secara langsung (positif Covid 19), tetapi hampir semua orang dilanda kecemasan dan ketakutan. Belum lagi bencana kelaparan yang mengancam dunia dan akibat lain yang ditimbulkan oleh wabah ini. Di tengah situasi inilah kita merenungkan penderitaan Kristus yang sangat kejam dan tak manusiawi. Tetapi bagi saya, apa yang kita alami ini tak pernah sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh Yesus. Kita hanya mengalami sebagian kecil penderitaan. Selebihnya kita banyak mengalami kegembiraan dalam hidup ini.

Yesus Menderita karena Kita dan untuk Kita

Saya mau mengajak saudara-saudari melihat bacaan suci yang direnungkan  pada hari Jumat Agung ini oleh umat Katolik di seluruh dunia. Bacaan pertama (Yes. 52:13-53:12) melukiskan tentang hamba Yahwe yang menderita. Hamba Yahwe itu menderita bukan karena ia bersalah atau berdosa.  Ia adalah orang benar, tetapi ia menderita karena kesalahan dan dosa orang lain. Penderitaanya ini mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang membuatnya menderita.  Yesaya menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53:4-5). Pada bagian akhir bacaan ini, nabi Yesaya kembali menegaskan, “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak (Yes. 53:11-12).”

Apa hubungan perkataan Yesaya dengan misteri Jumat Agung? Bagi kita pengikut Kristus, apa yang disampaikan oleh Yesaya ini secara sempurna terjadi dalam diri Yesus. Nubuat Yesaya ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah orang benar yang menderita karena kesalahan dan dosa orang lain. Tentang penderitaan-Nya ini, kita temukan dalam  Kisah Sengsara  menurut Yohanes (Yoh. 18:1-19:42) yang dibaca dan renungkan hari ini. Yesus ditangkap,  diadili, dicemooh, dihina, didera, dipukul, dimahkotai duri, disuruh memanggul salib dan Ia jatuh-bangun, ditendang, ditikam lambungnya, dipaku pada salib dan akhirnya wafat di salib. Ia dihukum mati seperti penjahat, walau sesungguhnya ia tak pernah melakukan kejahatan. Ia disiksa seperti pendosa, walau ia tak pernah berdosa. Dialah hamba Yahwe yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya. Yang perlu disadari dan diimani adalah penderitaan-Nya itu menyelamatkan orang-orang yang membuatnya menderita. Penderitaan Yesus mendatangkan keselamatan bagi kita, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya, “Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53:5).” Ia menanggung dosa-dosa kita dengan memanggul salib sampai wafat di kayu salib sekaligus menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan dosa.  Oleh penderitaan-Nya, kita diselamatkan.

Yesus menderita karena dosa manusia, termasuk kita saat ini. Ya, Yesus menderita karena dosa-dosa kita. Karena itu, hari Jumat Agung ini seharusnya menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan terhadap Yesus. Barangkali ada yang menyangkal dan bertanya, “Bagaimana kita mengakui bahwa Yesus menderita karena dosa-dosa kita sementara ia sudah disalibkan lebih dari dua tahun yang lalu? Apakah benar aneka tindakan yang dilakukan saat ini, kita lakukan  terhadap Yesus?”

Saudara-saudari, mari kita lihat apa yang tertulis dalam Kis. 9:1-31, kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus. Dalam teks ini kita temukan bagaimana Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan para pengikut-Nya yang teraniaya. “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Dan ketika Saulus bertanya, siapakah Engkau, Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang telah engkau aniaya itu!” Perhatikan! Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang yang menderita penganiayaan yang dilakukan oleh Saulus. Kita semua tahu bahwa setelah peristiwa itu, Saulus bertobat. Ia menjadi Paulus, seorang pewarta Injil yang tak tertandingi sepanjang sejarah Gereja!

Dengan demikian, kalau saat ini kita berdosa, misalnya, kita melukai, memfitnah, mencerca orang lain, kita melukai, memfitnah dan mencerca Yesus! Aneka kejahatan yang kita lakukan kepada orang lain, kita melakukannya terhadap Yesus! Sebab, Ia hadir dalam diri sesama, terutama yang menderita dan tersisihkan. Yesus juga mau dikenal sebagai seorang yang disalibkan dan supaya kita memandangnya dengan penuh iman (Yoh. 20:19-31). Ingatlah kata-katanya dalam Mat 25: 40, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Berkaitan dengan hal di atas bisa dikatakan bahwa setiap kali kita berdosa, kita membuat Yesus menderita lagi walau bukan secara fisik. Hati-Nya terluka setiap kali kita  berdosa. Dia menderita karena kita tidak atau kurang mengasihi-Nya.  Ingatlah juga ucapan-Nya sebelum menghembuskan nafas terakhir di kayu salib, “Aku haus!” Sesungguhnya Ia tidak  sedang haus air. Ia sesungguhnya haus akan kasih kita kepada-Nya. Ia haus akan kesadaran kita untuk mengakui kasih karunia Allah melalui diri-Nya, secara khusus melalui penderitaan dan wafat-Nya di salib. Ia haus akan ketaatan kita kepada kehendak Allah seperti diri-Nya.  Karena itu, menurut saya, seharusnya hari Jumat Agung adalah saat bagi kita untuk mengakui segala dosa kita dan memohon  rahmat pengampunan dari Yesus.  Kita berharap agar darah-Nya menyucikan diri kita; menghapus segala dosa kita. Dengan darah-Nya, kita diselamatkan. Ini juga saat indah untuk membuat komitmen baru agar ke depan kita menjadi lebih baik dan tidak mudah jatuh dalam dosa.

Yesus Peduli dengan Penderitaan Kita

Pada hari Jumat Agung ini juga saya merenungkan bahwa penderitaan Yesus, selain sebagai bentuk ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa (Ibr. 5:8) juga merupakan bentuk solidaritasnya (kepedulian) yang mendalam dengan penderitaan dan kelemahan manusia. Bacaan kedua hari ini melukisnya dengan indah tentang hal ini. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr. 4:15-16).” Bagi saya, Yesus terlibat dalam penderitaan  dan kelemahan manusia, termasuk penderitaan dan kelemahan kita saat ini karena Covid 19.

Karena itu, sebagai para pengikut Yesus, tepatlah bila kita tak hanya mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan menjaga stamina tubuh masing-masing. Kita juga perlu berdoa dengan tekun memohon campur tangan Tuhan Yesus seperti yang tertulis pada ayat 16 bacaan kedua hari ini, “Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”  Itulah yang telah kita lakukan sejak Covid 19 mengacaukan dunia. Para pengikut Kristus mulai dari bapa suci Paus Fransiskus dan semua umat beriman bersatu hati dalam doa agar Yesus menyembuhkan dunia ini dari wabah Corona. Kita semua telah menghampiri takhta kasih karunia dan memohon dengan tekun agar mendapat pertolongan dari Yesus pada waktunya.

Apakah Tuhan Yesus sudah mendengarkan aneka doa kita anak-anak-Nya? Saya merenungkan, Tuhan Yesus mendengarkan doa-doa kita. Ia telah memberikan pertolongan kepada kita. Sayangnya kita kurang menyadarinya. Saat ini memang Virus Corona belum lenyap dari muka bumi. Akan tetapi saya melihat banyak hal positif yang muncul di tengah wabah ini.  Bagi saya Yesus telah hadir dalam diri orang-orang  baik yang rela berkorban untuk menyembuhkan dunia ini. Yesus hadir dalam diri pemerintah, pelayan kesehatan (dokter, perawat dan timnya), relawan-relawati (kelompok dan indvidu), lembaga-lembaga internasional, agamawan-agamawati (pemimpin dan umat), lembaga-lembaga amal, LSM, perusahaan yang dengan penuh kasih melakukan aneka aksi kemanusiaan untuk pencegahan dan pengobatan  dalam rangka mengatasi wabah ini. Dengan pelbagai cara dan bentuk aksi, pihak-pihak ini telah menjadi ‘kaki-tangan’ Yesus saat ini. Yesus juga hadir dalam diri warga masyarakat yang taat pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah demi memutuskan mata rantai penyebaran virus ini.

Menurut saya, saat ini sedang bertumbuh subur solidaritas global (kepedulian yang mencakup seluruh dunia)  yang barangkali belum pernah terjadi sebelumnya. Betapa tidak, hampir semua orang bersatu mengatasi penderitaan yang disebabkan Covid 19. Sangat mengagumkan!  Rupanya virus ini telah mendidik manusia zaman ini yang cenderung individualis (tak peduli dengan orang lain) agar membangun persekutuan global demi kebaikan bersama. Virus ini mendidik manusia zaman ini yang sering sombong membanggakan harta, pangkat, kenikmatan dan kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tapi tak berdaya berhadapan dengan sesuatu yang tak kasat mata bernama Covid 19! Ia mendidik manusia zaman ini agar hidup dalam persekutuan, bergandengan tangan dan tak hanya memikirkan diri sendiri. Virus ini juga mengajak semua manusia untuk semakin mengakui keagungan Sang Pencipta dan kemahakuasaan-Nya dan percaya pada penyenggaraan-Nya atas dunia ini. Barangkali karena kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan tekhnologi, selama ini aspek ini terabaikan. Kini, saya duga, selain menempuh jalur manusiawi mengatas virus ini, semakin banyak orang mencari perlindungan pada Tuhan. Tentu masih banyak hal positif lain yang tumbuh di tengah wabah ini. Sebagai pengikut Yesus,  saya mengakui, semuanya ini juga karya  Sang Tangan Tersembunyi (the invisible hand) bernama Yesus. Ia terlibat dalam jeritan dan tangisan dunia saat ini. Syukur kepada-Mu, Tuhan Yesus!

Akhirnya, saya  yakin, Tuhan Yesus sangat bangga dengan hal-hal positif yang muncul di tengah situasi penderitaan ini. Karena itu, saya juga sangat percaya,  virus Corona ini akan berlalu. Wabah ini akan berlalu. Kapan? Pada waktunya Tuhan! Waktu Tuhan selalu  yang terbaik. Bukan waktu manusia.  Itulah cara saya melihat  situasi penderitaan saat ini dari sudut pandang iman kristiani.***

Selamat merenungkan misteri penderitaan Tuhan Yesus!

 

Labuan Bajo, 10 April 2020

(Jumat Agung tanpa umat)

RP. Laurensius Gafur, SMM

Memento Mori: Ingatlah Kematianmu

0
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fkoranseruya.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F04%2FGlenn-Friedly-wafat.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fkoranseruya.com%2Fglenn-fredly-tutup-usia.html&tbnid=I96NwoH48lHctM&vet=12ahUKEwimopjTptroAhWt8TgGHRWbCXwQMygiegQIARBF..i&docid=CbhEwyKqPVdThM&w=673&h=373&q=glenn%20fredly&safe=strict&ved=2ahUKEwimopjTptroAhWt8TgGHRWbCXwQMygiegQIARBF
Bro Glenn Fredly, Rest in Peace!

Tadi malam, kita dikejutkan dengan berita meninggal dunianya  musisi hebat asal Ambon, Glenn Fredly. Berita kepergian musisi kelahiran  tahun 1975  ini sangat mengagetkan banyak orang, termasuk saya. Media sosial online penuh dengan ucapan belangsungkawa atas kepergiannya. Ada orang yang  menayangkan (posting) lagi lagu-lagu ciptaan Glenn Fredly. Ada juga orang yang menulis puisi indah tentangnya.

Memang tak sedikit orang yang selayang pandang mengulas aneka keutamaan hidupnya, termasuk ibu Sri Mulyani (Menkeu). Pada laman facebooknya Ibu Sri Mulyani menulis, “Saya kehilangan seorang teman yang memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap berkembangnya industri music dan kesejahteraan para musisi serta seniman Indonesia.” Duka yang mendalam juga dirasakan mbak Najwa Shihab. Pada laman facebooknya ia menulis, “Duka mendalam atas kepergian Glenn Fredly, musisi kenanamaan Indonesia sekaligus sahabat dekat kami.” Masih ada orang penting lainnya yang menarasikan kebersaman indahnya bersama Glenn.

Saya membatin, aneka ungkapan bernada positif ini menunjukkan hal penting bahwa Glenn adalah orang baik. Hidupnya penuh keutamaan dan menginspirasi banyak orang.  Ia tak hanya piawai bermain gitar, menciptakan lagu dan menyanyikannya, tetapi pandai berelasi dengan sesama bahkan melakukan aksi positif (tindakan kemanusiaan) untuk kebaikan orang lain. Ia memang  telah menjadi berkat bagi banyak orang. Ia telah berjasa bagi Indonesia!

Tapi, Glenn tetap pergi untuk selamanya. Aneka keutamaan hidupnya tidak membuatnya hidup abadi di dunia ini. Ia sudah pergi menghadap Sang Pemberi hidup. Yang sisa di dunia ini hanya aneka kenangan tentangnya. Kita hanya bisa bersyukur kepada Tuhan karena sudah mengirimkan Glenn untuk memberi warna yang indah bagi bangsa ini. Kita hanya bisa berterima kasih kepada Glenn atas pengabdiannya di bidang seni musik dan aneka tindakan kemanusiaan yang sudah dilakukannya selama ini untuk Indonesia. Tentu saja kita juga berdoa agar Glenn mengalami sukacita abadi bersama Allah yang diimaninya dan keluarga yang ditinggalkan diberi rahmat kekuatan dan kesabaran. Bro Glenn, rest in peace! Hanya itu yang bisa kita lakukan. Tak lebih!

Hari Kematian

Bagi saya, kepergian Glenn (juga kepergian orang lain karena Corona, misalnya)  seharusnya mengajak kita untuk merenungkan hidup masing-masing dan mengingat hari kematian masing-masing. Ini yang dalam ungkapan Latin disebut memento mori. Ingatlah akan hari kematianmu! Ya, semua orang memang perlu mengingat kematiannya. Bahwasannya, ini hanya soal waktu. Yang namanya manusia, entah kaya atau miskin, terkenal atau tidak terkenal, pejabat atau masyarakat biasa, orang berpendidikan formal  dengan sederet gelar atau tidak, orang kota atau kampung, tinggal di negara maju atau berkembang, beragama atau tidak,  pasti akan meninggal dunia dunia seperti Glenn.  Untuk mati itu bahkan tak harus sakit atau dirawat di rumah sakit. Banyak orang kelihatan sehat. Tiba-tiba meninggal dunia. Tak harus juga tunggu usia lanjut. Toh banyak anak kecil, remaja atau orang muda meninggal dunia. Tak harus juga meninggal di rumah sendiri atau di rumah sakit.  Toh ada yang meninggal dunia di jalan, di hutan, di laut atau di mana saja di luar rumah. Jika saat kematian tiba, tak ada seorang pun bisa menghalanginya. Siapapun  dia!

Karena  kesadaran bahwa yang namanya manusia pasti meninggal dunia, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita takut? Takut itu manusiawi, asal tak berlebihan. Sebab takut atau tidak, sama sekali tidak membuat kita hidup abadi di dunia ini. Kita tetap meninggal dunia. Memento Mori seharusnya membuat kita memaknai hidup hari ini dengan sebaik-baiknya. Bila perlu kita menganggap bahwa hari ini, minggu ini atau bulan ini adalah saat terakhir dalam hidupku! Seremkah? Bisa jadi. Tapi ini cara yang baik untuk mengakrabkan diri dengan kematian.  Ini cara untuk menyadarkan diri kita bahwa kematian bahkan menjadi bagian dari hidupku yang tak seharusnya ditakutkan secara berlebihan. Tak berlebihan juga kalau dikatakan bahwa memento mori menggerakkan hati kita agar mencintai kematian, jangan membencinya! Sebab tak ada gunanya juga membenci kematian. Kita tetap meninggal dunia!

Tak hanya itu, memento mori  juga menggerakkan hati kita untuk hanya melakukan yang  terbaik hari ini, minggu ini atau bulan ini. Apa yang terbaik itu? Menurutku, patokannya adalah norma atau aturan dalam keluarga, masyarakat/negara atau norma agama masing-masing.

Bagi para pengikut Yesus, norma  tertinggi atau norma pertama dan terutama adalah KASIH. Norma ini ditegaskan sendiri oleh Tuhan Yesus. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22:37-38).” Norma inilah yang seharusnya menjiwai peziarahan hidup para pengikut Kristus.

Memento mori menggerakkan hati para pengikut Kristus untuk hanya berjuang mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan segenap hati  sesuai panggilan dan perutusan masing-masing. Norma ini dihayati secara konkret di dalam keluarga, komunitas, lingkungan atau kelombok basis, tempat kerja dan di tengah masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga bentuk persiapan pribadi menghadapi kematian yang sering datang seperti pencuri itu. Semuanya ini harus dilakukan selama hari ini, minggu ini atau bulan ini. Jangan menunda-nunda! Sebab barangkali ini saat terakhir hidup kita.

Dengan demikian, segala tindakan yang bertentangan dengan norma KASIH, antara lain: menyangkal Tuhan (ateis), malas berdoa, benci, iri hati, fitnah, menyebar kebohongan, sombong, berhamba pada harta atau tahta atau kenikmatan tertentu, mencuri/korupsi, tidak peduli dengan penderitaan orang (egois), membunuh, aborsi, euthanasia perlu dihindari atau tidak perlu dilakukan. Semuanya tindakan ini tidak perlu dilakukan hari ini, minggu ini atau bulan ini. Jangan menunda-nunda! Sebab barangkali ini saat terakhir kita menikmati hidup di dunia ini.

Memento Mori juga menyadarkan orang bahwa harta, pangkat/jabatan dan kenikmatan yang diperoleh di dunia ini semuanya fana. Tak abadi. Karena itu, orang tak perlu melekatkan hati pada semuanya itu. Tidak perlu berhamba pada tuan harta, uang, pangkat/jabatan dan kenikmatan tertentu. Semuanya akan berlalu. Semuanya tak akan dibawa pulang saat kematian. Semua orang akan pulang kepada Allah dalam keadaan telanjang sebagaimana ia keluar dari rahim ibunya. Telanjang bulat. Bulat sekali!

Akhirnya, memento mori menyadarkan orang bahwa dunia ini tidak abadi. Yang abadi adalah tinggal bersama Allah dalam keabadian yang dialami setelah meninggalkan dunia ini. Dunia ini bukan rumah kita. Dunia ini hanya tempat singgah (mampir ngombe: mampir minum) dan bukan tujuan peziarahan. Tujuan peziarahan adalah berada di rumah Tuhan dalam keabadian.

Tentang kefanaan hidup manusia, saya tertarik untuk membagikan kepada Anda syair lagu yang indah sekali dari  Maria Shandi, artis Kristen yang terkenal beberapa tahun terakhir ini. Saya sangat menyukai lagu ini. Jika Anda belum tahu lagu ini dan mau tahu bagaimana menyanyikannya, silahkan mencari dan mendengarkannya di Youtube.

Dunia bukan Rumahku

(Maria Shandi)

Dunia ini bukanlah rumahku
Semua yang ada hanya sementara
Tak ada satupun yang dapat kubawa
Saat ku kembali pada-Nya

Ku sadari singkat hidup ini
Seperti embun pagi yang datang dan pergi
Selama kuhidup senangkan hati-Mu
Ku yakin kembali pada-Mu

Janji-Mu kan membawaku
Dimana Kau ada, aku pun berada
Ku nanti datangnya hari-Mu
Bila tiba saatnya, ingatlah aku
Bawaku tinggal bersama-Mu

Ku sadari singkat hidup ini
Seperti embun pagi yang datang dan pergi
Selama kuhidup senangkan hati-Mu
Ku yakin kembali pada-Mu

Janji-Mu kan membawaku
Dimana Kau ada, aku pun berada
Ku nanti datangnya hari-Mu


Saudara/i, Memento mori! Ingatlah kematianmu!***

Labuan Bajo, 9 April 2020

 

Pribadi  Ekaristi

0
Sumber: Google.com

Seharusnya pada malam Kamis Putih ini umat Katolik bersama-sama secara meriah merayakan Ekaristi memperingati Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya ini. Tapi karena Virus Corona, kita tidak bisa melakukannya secara bersama. Kami para imam misa di tempat kami masing-masing dan umat mengikuti-Nya dari rumah melalui media TV atau live streaming Media Sosial, atau membuat ibadat sendiri di rumah. Tapi sadarlah, kita bersatu dalam doa. Yakinlah, Tuhan Yesus mendengarkan doa kita sekalian, teristimewa untuk kesembuhan dunia dari Corona pun kesembuhan kita sendiri dari segala penyakit baik fisik maupun psikis, secara khusus kesembuhan dari segala dosa kita

Pada malam Kamis Putih ini saya merenungkan secara serius tentang hubungan antara Ekaristi dan pelayanan. Renungan pribadi ini saya bagikan kepada saudara/i sekalian

Ekaristi

Malam perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama para murid-Nya ini boleh dikatakan sebagai malam lahirnya Sakramen Ekaristi. Tentang hal ini, Rasul Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus (11:23-26) sebagaimana dibacakan malam ini menegaskan: “Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuhku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan dalam Darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.”

Perayaan Ekaristi (eucharistia: syukur) tak lain adalah perayaan syukur Yesus kepada Bapa-Nya sebagai ungkapan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa sekaligus pemberian diri-Nya secara total kepada kita. Penyerahan tubuh-Nya (yang dilambangkan dengan roti) dan darah-Nya (dilambangkan dengan anggur) merupakan ungkapan pemberian diri yang total. Semuanya ini dilakukan-Nya dengan tujuan agar manusia diselamatkan. Jadi, keselamatan kita adalah tujuan pemberian diri-Nya.

Tuhan Yesus juga meminta para murid-Nya agar terus melakukan hal tersebut. “Perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sepanjang zaman Gereja terus melakukan apa yang diwariskan oleh Yesus itu melalui Perayaan Ekaristi yang dirayakan setiap hari di seluruh dunia. Perayaan yang dipimpin atas nama Kristus oleh Bapa Suci, para Uskup dan para imam dan melibatkan umat beriman ini telah terbukti menghidupkan Gereja hingga saat ini. Gereja bertahan karena Ekaristi!

Bagi kita Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup umat beriman. Disebut demikian, karena di dalam Ekaristi, umat beriman berjumpa dengan Kristus melalui sabda-Nya dan teritimewa melalui santapan Tubuh dan Darah-Nya (roti dan anggur). Karena itu, orang yang tekun mengikuti Ekaristi pasti sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Yesus dan pasti mendapatkan rahmat berlimpah dalam hidup.

Pembasuhan Kaki

Hal penting lain yang saya renungkan malam ini adalah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 13:1-15). Ini tindakan tidak biasa dalam masyarakat Yahudi. Ini pekerjaan seorang hamba! Hanya hamba yang bertugas membasuh kaki tuannya. Bukan sebaliknya! Tak ada pula guru yang membasuh kaki para muridnya. Hanya murid yang membasuh kaki gurunya. Tapi Yesus melakukan hal yang tidak biasa ini.

Tindakan Yesus ini memiliki pesan yang sangat mendalam. Antara lain: ini ungkapan kerendahan hati yang tulus! Yesus mau para murid-Nya menjadi pribadi rendah hati. Yesus juga mau agar para murid-Nya saling melayani. “Kamu pun wajib saling membasuh kaki!” Itu yang dikatakan-Nya. Inti perutusan mereka adalah pelayanan. Mereka harus menjadi pelayan; harus melayani satu sama lain. Tak hanya asal melayani, tapi melayani dengan rendah hati. Keutamaan seorang pelayan adalah kerendahan hati!

Pribadi Ekaristi

Apa hubungan Ekaristi dengan membasuh kaki? Menurutku, hubungannya adalah Ekaristi menggerakkan hati orang untuk saling membasuh kaki. Membasuh kaki artinya melayani satu sama lain. Maksudnya, perjumpaan dengan Kristus yang dialami dalam Ekaristi mengandung perutusan penting yakni pelayanan kepada sesama. Bahkan perjumpaan dengan Kristus itu mendesak orang untuk pergi melayani sesama dan tidak hanya tinggal diam.

Selain itu, rahmat yang berlimpah yang diterima melalui Ekaristi harus dibagikan; jangan dinikmati sendiri, sebagaimana Yesus rela membagi-bagikan diri-Nya (tubuh dan darah-Nya) demi keselamatan manusia. Semuanya ini dilakukan dengan tulus dan rendah hati. Dengan demikian, menurut saya, Ekaristi mendorong atau menggerakkan hati umat beriman agar menjadi pelayan yang rendah hati seperti Yesus. Ekaristi mendorong kita saling membasuh kaki dalam semangat kerendahan hati.

Mari sejenak melihat ziarah hidup kita yang telah berlalu! Kita sudah sering mengikuti Ekaristi baik saat misa harian maupun hari Minggu dan Hari Raya lainnya. Harapannya kita sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mendapatkan banyak rahmat yang mengalir dari Ekaristi.

Apakah Ekaristi yang kita ikuti selama ini mendorong kita menjadi pelayan? Apakah perjumpaan kita dengan Kristus mendesak kita agar melayani sesama dan tidak hanya hidup bagi diri sendiri? Apakah Ekaristi menggerakkan hati untuk saling membasuh kaki? Harapannya, kita semua sudah melakukannya. Harapannya kita semua telah menjadi pelayan yang rendah hati. Di mana kita melakukannya? Di mana saja kita berada sesuai panggilan dan perutusan kita masing-masing (keluarga, komunitas, kelompok basis/lingkungan, tempat kerja, di tengah masyarakat, dan sebagainya).

Kalau sudah melakukannya, itu berarti kita sudah menjadi pribadi Ekaristi. Yang saya maksudkan dengan pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau berbagi kepada sesama, peduli dengan sesama, tergerak untuk membantu sesama dan tidak hanya hidup untuk diri sendiri. Pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau saling membasuh kaki (saling melayani). Pribadi Ekaristi melakukan semuanya itu dengan tulus dan penuh kerendahan hati. Teladan sempurna pribadi Ekaristi adalah Tuhan Yesus. Dialah pelayan sejati!

Tetapi jika belum sungguh-sungguh melakukannya, semoga perayaan Kamis Putih malam ini membarui hidup kita agar semakin menjadi pribadi Ekaristi. Semoga ke depan kita juga semakin mencintai Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup kita. Semoga kita juga semakin menjadi pribadi yang ‘mau saling membasuh kaki’ (melayani) dan rela berbagi dengan sesama terutama yang sangat membutuhkannya di jalan panggilan dan perutusan kita masing-masing. Semua itu kita perlu lakukan dengan tulus dan rendah hati. Itulah pribadi Ekaristi!***

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian! Amin.

 

Labuan Bajo, 9 April 2020

(Kamis Putih tanpa umat)

 

 

Iman Vs Akal Budi

0

Oleh: Silvester Detianus Gea*

Wabah Corona Virus Disease (Covid 19) yang melanda dunia saat ini menimbulkan berbagai masalah. Tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, sosial, politik, melainkan berkaitan dengan ideologi, terutama ideologi agama. Pada konteks ini berkaitan dengan pandangan orang-orang yang ‘mengaku’ beriman kepada Tuhan. Terlebih sejak pemerintah mengeluarkan larangan untuk membuat kerumunan atau pertemuan-pertemuan yang memungkinkan adanya kontak fisik. Seperti kita ketahui, pemerintah juga menghimbau agar tempat-tempat ibadah untuk sementara melaksanakan ibadah online.

Banyak orang mulai berdalih, dan mencoba mencari pembenaran untuk ‘melawan’ aturan yang dibuat oleh pemerintah. Mereka mencomot dan mengutip berbagai ayat untuk mendukung pendapat mereka bahwa satu-satunya yang harus ditakuti adalah Tuhan. Oleh sebab itu, mereka mengajak jemaat mereka agar tetap melaksanakan ibadah di gereja. Bahkan mereka membuat pernyataan bahwa ketika umat takut untuk mengadakan ibadah di gereja, sesungguhnya telah menduakan Tuhan. Namun, seiring berjalannya waktu, penganut paham ‘fideisme’ (iman saja cukup) ini mulai menghilang. Menghilang dalam arti, mereka mulai patuh kepada aturan pemerintah. Meskipun sebagian dari mereka tetap membuat dan menyebarkan pernyataan yang sama di berbagai sosial media.

Terkait dengan paham ‘fideisme’ tersebut, salah seorang tokoh agama menyampaikan tantangan kepada penganut paham fideisme agar mereka turun langsung untuk melaksanakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) penyembuhan di rumah-rumah dan di rumah sakit. Hingga saat ini, tantangan tersebut belum dijawab oleh penganut paham fideisme. Malahan mereka lebih banyak membuat tulisan-tulisan di media sosial daripada bertindak dan turun langsung. Penganut paham fideisme disatu sisi benar, namun disisi lain mereka kurang bijak, dan tidak memakai akal budi. Pandangan mereka benar, bahwa kita wajib takut hanya kepada Tuhan. Namun, mereka disisi lain tidak menggunakan akal budi yang telah diberikan oleh Tuhan. Ibarat didepan mereka ada jurang yang sangat dalam, namun mereka tetap berjalan karena mereka yakin Tuhan menyelamatkan. Sementara jika mereka memakai akal budi, mereka tahu bahwa Tuhan tidak mungkin menegur seketika supaya tidak jatuh ke dalam jurang itu. Tentulah Tuhan bisa saja memakai orang lain untuk menegur agar kita tidak jatuh ke dalam jurang.

Baca Juga:

Meskipun ada sekelompok orang menganut paham fideisme, ada pula yang menganut paham fideisme dan akal budi. Penganut fideisme dan akal budi sesungguhnya lebih bertindak bijak dalam hal ini. Mereka memandang suara pemerintah sebagai ‘suara Tuhan’. Tidak heran paham tersebut terkandung dalam Kitab Suci, dimana umat beriman diajak untuk menghormati lembaga pemerintahan. Bisa jadi, penganut fideisme sekaligus akal budi setidaknya pernah membaca gagasan St. Thomas Aquinas seorang imam dari ordo dominikan. Menurut St. Thomas Aquinas iman dan akal budi mesti berasal dari wahyu Allah. Oleh sebab itu, iman harus dibangun di atas akal budi sehingga sempurna. Iman dapat menjelaskan apa yang terbatas secara akal budi, sementara akal budi menjelaskan apa yang diketahui secara inderawi.

Dengan demikian, umat beriman sebaiknya memiliki paham fideisme tanpa membuang akal budi. Sebab keduanya saling melengkapi. Seandinya saja, paham fideisme itu tanpa akal budi, maka seseorang itu dapat beriman secara membabi-buta. Artinya, akal budi dibuang secara total demi menegaskan bahwa fideisme satu-satunya yang harus dipegang. Akal budi dan iman bekerja sama untuk memahami apa yang tersembunyi di balik setiap peristiwa kehidupan manusia. Oleh sebab itu, akal budi dan iman adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan sehingga mampu menelusuri lebih jauh keagungan dan kebesaran Tuhan di balik setiap peristiwa.

*Penulis adalah Wartawan FloresNews.net, ZIARAHNEWS.COM, dan  KOMODOPOS.COM, Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul “MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS” (2018). Kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289.

Memaknai Pekan Suci di Tengah Badai Corona

0

Hari ini kita umat Katolik memasuki Pekan Suci yang diawali dengan Perayaan Minggu Palma. Perayaan ini dirayakan dengan sangat sederhana dan tanpa kehadiran umat. Kita tahu alasannya: Covid 19 (Corona). Kita sedang dilanda badai yang membahayakan peradaban manusia. Tapi, walaupun badai sedang mengamuk kencang, Pekan Suci tetap dijalankan. Mungkin ini Pekan Suci paling menyedihkan dan paling bersejarah bagi umat Katolik.

Di tengah situasi ini, saya hendak membagikan permenungan saya tentang Pekan Suci yang berbeda ini. Intinya saya mengajak saudara/i untuk memanfaatkan dan memaknai situasi badai ini secara positif, bukan secara negatif, demi kematangan iman.

Menurutku, pada Pekan Suci sebelumnya barangkali kita terlalu sibuk dengan aneka kemeriahan lahiriah (koor, dekorasi, tablo, agape, tos paskah, telur paskah, pakaian misa atau busana yang keren, dll) tapi agak atau nyaris lupa merenungkan secara mendalam misteri SENGSARA, WAFAT dan KEBANGKITAN YESUS yang tak lain adalah inti misteri Pekan Suci.

Kali ini berbeda. Tuhan Yesus barangkali mengajak kita para pengikut-Nya agar merenungkan secara mendalam inti misteri Pekan Suci: SENGSARA, WAFAT dan KEBANGKITAN-NYA sekaligus melupakan sejenak aneka kemeriahan sebagaimana yang dirasakan-dialami pada Pekan Suci sebelumnya.

Barangkali Tuhan Yesus sedang meminta kita masuk masa retret agung Pekan Suci dalam keheningan keluarga atau komunitas masing-masing. Sebab sesungguhnya, Dia hanya ditemukan dalam keheningan batin, keheningan doa yang dilantunkan penuh syukur dan iman walau sebesar biji sesawi.

Menurut saya, mungkin ini juga saatnya bagi kita memaknai apa yang diwartakan oleh Gereja Katolik bahwa keluarga adalah Gereja Kecil atau Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica). Disebut Gereja Kecil karena seharusnya di dalam keluargalah iman kepada Tuhan itu diajarkan, ditumbuhkan, dihidupi dan mulai diamalkan. Berkaitan dengan itu, doa bersama, baca Kitab Suci dan merenungkannya secara bersama-sama, sharing iman dan sebagainya seharusnya menjadi roh dari setiap keluarga Katolik.

Kalau selama ini hal tersebut mungkin diabaikan, barangkali ini saatnya. Saat untuk mewujudkan bahwa setiap keluarga adalah Gereja Kecil. Tuhan Yesus adalah andalannya. Tiada yang lain.

Apa yang saya sampaikan ini hanya merupakan ajakan untuk berpikir positif di tengah badai Covid 19. Sebab bagiku, berpikir positif itu ‘cara hidup’ orang beriman. Ini ciri-ciri pengikut Yesus yang baik. Bukankah setiap peristiwa bahkan sepahit apapun selalu memiliki pesan positif untuk kita? Bukankah rahmat terselubung (blessing in disguise) itu tak terbantahkan?

Saya hanya tak ingin kita terlarut dalam kesedihan karena tak bisa mengikuti Pekan Suci secara meriah seperti sebelumnya. Sebab bagiku, terlarut dalam kesedihan itu bukan ciri-ciri pengikut Yesus yang baik. Apalagi kalau memaki atau mengumpat situasi ini atau pihak tertentu. Apakah itu menyelesaikan persoalan wabah Covid 19? Sama sekali tidak. Itu hanya letupan ketidakdewasaan dalam banyak hal, khususnya ketakdewasaan dalam beriman.

Akhirnya, selamat memasuki retret agung mandiri Pekan Suci. Selamat menghidupkan kembali Gereja Kecil kita masing-masing.

Jangan lupa pula berdoa agar badai Covid 19 ini bisa diatasi dengan baik. Doakan pula para pasien Covid 19 di seluruh dunia agar bisa disembuhkan. Jangan lupa juga berdoa bagi para pelayan kesehatan, pemerintah terkait, relawan/ti di seluruh dunia yang berada di garis depan “bertempur” mengatasi covid 19. Bagi yang telah berpulang ke pangkuan ilahi, semoga karena doa kita mengalami sukacita abadi dan menjadi pendoa bagi dunia yang sedang sakit-terluka ini.

Semoga kita semua juga dibebaskan dari wabah ini. Bukankah tiada yang mustahil bagi orang percaya-beriman? ***

“Selamat memasuki retret agung Pekan Suci; tetaplah berpikir positif. Tuhan memberkati kita! Amin.”

#StayPositiveThinking

Homili Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Doa Pemberian Berkat Urbit et Orbi dan Indulgensi Penuh (Jumat, 27 Maret 2020 pkl. 18 Waktu Italia)

0

Catatan Pengantar

Dalam doa pemberian Indulgensi dan Berkat Urbi et Orbi, Bapa Paus Fransiskus mendasari homilinya dengan Injil Markus 4: 35-41. Baiklah jika kita membaca Perikop Injil tersebut sebelum kita membaca dan merenungkan homili Bapa Paus.

Markus 4: 35-41: Angin ribut diredakan

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” 4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” 4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” 4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Baca Juga:

Homili Bapa Paus Fransiskus:

“Waktu hari sudah petang” (Markus 4:35). Perikop Injil ini baru saja kita dengar dimulai dengan kata-kata tersebut. Telah berminggu-minggu hingga saat ini tampaknya gelapnya malam telah tiba. Kegelapan tebal telah menyelimuti alun-alun, jalan-jalan, dan kota-kota kita; kegelapan itu telah mengambil alih hidup kita, mengisi segala sesuatu dengan kesunyian yang menulikan dan kehampaan yang menyedihkan, yang menghentikan segala yang dilewatinya; kita merasakannya di udara, kita melihat dalam berbagai gerak orang lain, tatapan mereka menunjukkannya. Kita menemukan diri kita takut dan tersesat. Seperti para murid dalam Injil ini, kita terkaget-kaget oleh badai yang tak terduga dan mengamuk hebat. Kita telah menyadari bahwa kita berada di dalam perahu yang sama, kita semua ternyata rapuh dan mengalami disorientasi, tetapi pada saat yang sama kehadiran kita penting dan dibutuhkan, kita semua dipanggil untuk bersama-sama mendayung perahu, masing-masing dari kita perlu menghibur orang lain. Dalam perahu ini….kita semua berada di dalamnya. Sama seperti para murid, yang berbicara dengan cemas dengan satu suara, berkata: “Kita binasa” (Markus 4: 38), jadi kita juga telah menyadari bahwa kita tidak bisa hanya memikirkan diri kita sendiri, tetapi kita dapat mengatasi badai tersebut hanya ketika kita bersama-sama.

Adalah mudah untuk mengenali diri kita sendiri dalam kisah ini. Sikap Yesuslah yang lebih sulit untuk dipahami. Sementara para muridNya secara alami waspada dan putus asa, Dia malah berdiri di buritan, di bagian kapal yang tenggelam terlebih dahulu. Dan apa yang Dia lakukan? Meskipun terjadi badai, Yesus tidur nyenyak, Ia percaya kepada Bapa; inilah satu-satunya kisah dalam Injil tentang Yesus tidur. Ketika Dia terbangun, setelah menenangkan angin dan danau, Yesus berpaling kepada para murid dengan kata-kata teguran: “Mengapa kamu begitu takut? Apakah kamu tidak memiliki iman?” (Markus 4: 40).

Marilah kita coba mengerti. Dalam hal apa para murid kekurangan iman, sehingga berbeda dengan iman Yesus? Sebenarnya mereka tidak berhenti percaya kepadaNya, malah mereka memanggil-Nya. Akan tetapi kita melihat bagaimana cara mereka memanggilNya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (Markus 4: 38). Apakah Engkau tidak peduli: mereka berpikir bahwa Yesus tidak tertarik pada mereka, tidak peduli terhadap mereka. Salah satu dari banyak hal yang paling melukai kita dan keluarga kita ketika kita mendengar kata ini: “Apakah Engkau tidak peduli kepadaku?” Kata-kata itu merupakan kalimat yang melukai dan melepaskan badai di hati kita. Kalimat itu pula yang menggoncang Yesus. Sebab Dia peduli pada kita, lebih dari siapa pun. Sesungguhnya, begitu para murid memanggil-Nya, Yesus menyelamatkan murid-muridNya itu dari keputusasaan mereka.

Badai menyingkap kerentanan kita dan membuka kedok semua kekeliruan dan hal-hal tak berguna di mana kita telah membangun jadwal harian kita, proyek-proyek kita, kebiasaan-kebiasaan dan berbagai prioritas kita. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana kita telah membiarkan menjadi tumpul dan lemah hal-hal yang penting untuk memelihara, menjaga, dan menguatkan hidup kita dan masyarakat. Badai ini menelanjangi semua ide yang sudah kita kemas dan membuat kita lupa tentang hal apa yang memelihara jiwa orang-orang kita; semua upaya yang membius kita dengan cara berpikir dan bertindak yang seharusnya “menyelamatkan” kita, yang terjadi justru sebaliknya membuktikan ketidakmampuan menghubungkan kita dengan akar kehidupan kita dan menjaga ingatan kita tetap hidup terhadap mereka yang telah mendahului kita. Kita menghilangkan antibodi (daya tahan) yang dibutuhkan untuk menghadapi kesulitan kita.

Dalam badai ini, sebenarnya telah terbuang wajah dari berbagai stereotip yang dengannya kita menyamarkan eg-ego kita, yang selalu mengkhawatirkan citra kita, dan sekali lagi mengungkapkan bahwa (hal terberkati) adalah keanggotaan bersama, yang mana tidak dapat dihilangkan oleh kita: keanggotaan (kepemilikan) kita sebagai saudara dan saudari.

“Mengapa kamu begitu takut? Apakah engkau tidak memiliki iman?” Tuhan, SabdaMu yang kami dengar malam ini memecut kami dan mengarah kepada kami, kami semua. Di dalam dunia ini, yang Engkau cintai lebih daripada apa yang kami lakukan, kami terlalu maju dengan sangat cepat, merasa kuat dan mampu melakukan apa saja. Oleh sebab tamak demi keuntungan diri, kami membiarkan diri kami terperangkap dalam berbagai hal, dan dengan tergesa-gesa mudah terpikat oleh berbagai hal itu. Kami tidak berhenti saat Engkau menegur kami, kami tidak terperanjat bangun oleh perang atau ketidakadilan di seluruh dunia, kami juga tidak mendengarkan rintihan orang miskin atau planet kami yang sakit. Kami terus melanjutkan, kami berpikir bahwa kami akan tetap sehat di dunia yang sakit ini. Sekarang kami berada di lautan badai, kami mohon kepadaMu: “Bangunlah, Tuhan!”.

“Mengapa kamu begitu takut? Apakah engkau tidak memiliki iman?” Tuhan, Engkau memanggil kami, memanggil kami untuk beriman. Kami yang kurang beriman bahwa Engkau ada, kemudian datang kepadaMu dan percaya padaMu. Dalam masa Prapaskah ini seruanMu bergema dengan mendesak: “Bertobatlah!”, “Kembalilah kepadaKu dengan sepenuh hati” (Yoel 2:12)”. Tuhan, Engkau memanggil kami untuk menggunakan waktu percobaan ini sebagai waktu untuk memilih. Ini bukan waktu penghakimanMu, tetapi waktu penghakiman kami: waktu kami untuk memilih apa yang penting dan apa yang perlu ditinggalkan, waktu untuk memisahkan apa yang perlu dari yang tidak. Ini adalah waktu untuk mengembalikan hidup kami ke jalur yang  berkenan padaMu, Tuhan, dan dengan orang lain. Kita dapat melihat begitu banyak teman sebagai teladan dalam perjalanan, yang, meskipun takut, telah bertindak dengan memberikan hidup mereka. Ini adalah kekuatan Roh yang dicurahkan dan dibentuk dalam penyangkalan diri yang berani dan murah hati. Inilah kehidupan dalam Roh yang dapat menebus, menghargai, dan menunjukkan bagaimana kehidupan kita terjalin bersama dan didukung oleh orang-orang biasa – yang sering dilupakan banya orang – yang tidak muncul dalam berita utama surat kabar dan majalah atau di panggung besar pertunjukan paling anyar, tetapi mereka yang tanpa keraguan pada hari-hari ini menuliskan peristiwa-peristiwa penting dalam zaman kita: para dokter, perawat, karyawan supermarket, petugas kebersihan, pengasuh, penyedia transportasi, penegak hukum, sukarelawan, pastor/imam, para religius laki-laki maupun perempuan, dan banyak lagi lainnya yang telah mengerti bahwa tidak seorang pun dapat mencapai keselamatan hanya dengan diri sendiri. Dalam wajah yang menghadapi begitu banyak penderitaan, di mana perkembangan otentik dari bangsa kami yang terbebani, kita mengalami doa imami Yesus: “Supaya mereka semua menjadi satu” (Yohanes 17:21). Berapa banyak orang setiap hari yang berlatih dalam kesabaran dan menawarkan harapan, berusaha untuk tidak menabur kepanikan melainkan berbagi tanggung jawab. Sudah berapa banyak ayah, ibu, kakek, nenek, dan guru yang menunjukkan kepada anak-anak kita, dalam gerakan kecil sehari-hari, bagaimana menghadapi dan mengatasi krisis dengan menyesuaikan rutinitas mereka, melayangkan pandangan mereka dan menguatkan hidup dalam doa. Berapa banyak mereka yang berdoa, mempersembahkan diri dan menjadi perantara untuk kebaikan bagi semua. Doa dan pelayanan yang tenang: ini adalah senjata kemenangan kita.

“Mengapa kamu begitu takut? Apakah engkau tidak memiliki iman?” Iman dimulai ketika kita menyadari bahwa kita membutuhkan keselamatan. Kita tidak mandiri, tidak bisa sendirian; jika hanya diri kita sendiri (perahu) kita tenggelam: kita membutuhkan Tuhan, bagaikan navigator kuno yang membutuhkan bintang-bintang. Marilah kita mengundang Yesus ke dalam perahu kehidupan kita. Mari kita serahkan ketakutan kita kepadaNya sehingga Dia bisa menaklukkan berbagai ketakutan itu. Seperti para murid, kita akan mengalami bahwa bersama Yesus di atas perahu, perahu kita tidak akan karam. Sebab inilah kekuatan Tuhan Allah: mengubah segala sesuatu yang terjadi pada kita menjadi hal yang baik, bahkan sekalipun hal yang buruk. Dia membawa kedamaian dalam badai hidup kita, karena bersama Tuhan hidup tidak pernah mati.

Tuhan Allah meminta kita dan, di tengah-tengah badai kita, Ia mengundang kita untuk bangun kembali dan mengaktifkan solidaritas dalam tindakan nyata dan harapan yang mampu memberikan soliditas/kekuatan, dukungan, dan makna pada saat-saat ini ketika segala sesuatu tampaknya karam. Tuhan bangun untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali iman Paskah kami. Kita memiliki jangkar: melalui salibNya kita telah diselamatkan. Kita memiliki kemudi: melalui salibNya kita telah ditebus. Kita memiliki harapan: melalui salibNya kita telah disembuhkan dan dipeluk sehingga tidak ada hal apapun dan tidak seorang pun dapat memisahkan kita dari cinta penebusanNya. Di tengah keterasingan ketika kita menderita karena kurangnya kasih sayang dan perjumpaan, dan kita mengalami kehilangan terhadap berbagai hal, marilah kita sekali lagi mendengarkan pernyataan yang menyelamatkan kita: Dia bangkit dan hidup di samping kita. Tuhan menantang kita dari salibNya untuk menemukan kembali kehidupan yang menanti kita, untuk memandang mereka yang melihat kita, untuk menguatkan, mengenali dan memelihara rahmat yang hidup di dalam diri kita. Marlah kita tidak memadamkan nyala api yang pudar nyalanya (lih. Yes 42: 3) yang tidak pernah goyah, dan marilah kita membiarkan harapan hidup kembali.

Merangkul salibnya berarti menemukan keberanian untuk merangkul semua kontradiksi sekarang ini, meninggalkan sejenak kecemasan kita tentang kekuasaan dan kepemilikan harta untuk memberi ruang pada kreativitas yang hanya dapat ditimbulkan oleh Roh. Itu berarti menemukan keberanian untuk membuka ruang di mana semua orang dapat merasa terpanggil dan membiarkan bentuk-bentuk baru keramahan, persaudaraan, dan solidaritas. Dalam salib-Nya kita telah diselamatkan untuk menyambut harapan dan membiarkan salibNya itu menguatkan dan mendukung semua langkah dan cara yang memungkinkan untuk dapat membantu menjaga diri kita dan orang lain aman serta terjamin. Merangkul Tuhan berarti merangkul harapan: itulah kekuatan iman, yang membebaskan kita dari rasa takut dan yang memberi kita harapan.

“Mengapa kamu begitu takut? Apakah engkau tidak memiliki iman?” Saudara-saudari yang terkasih, dari tempat ini, yang menceritakan tentang iman Santo Petrus begitu kuat, malam ini, saya hendak mempercayakan Anda semua kepada Tuhan, demi kesehatan umat manusia, melalui perantaraan Bunda Maria dan sang Bintang Laut yang bergelora. Dari barisan tiang pilar (Basilika St. Petrus) yang merangkul Roma dan seluruh dunia ini, berkat Tuhan turun atas kalian bagaikan pelukan penghiburan. Tuhan, berkatilah dunia, berikanlah kesehatan bagi tubuh kami dan hiburlah hati kami. Engkau meminta kami untuk tidak takut. Namun iman kami lemah dan kami takut. Akan tetapi, Engkau, Tuhan, janganlah tinggalkan kami di bawah kuasa badai. Katakan lagi kepada kami: “Janganlah kamu takut” (Mat 28: 5). Dan kami, bersama-sama dengan Petrus, “kami menyerahkan segala kekuatiran kami padaMu, sebab Engkaulah yang memelihara kami” (bdk. 1 Pet 5: 7).

==========================================================================

Homili Bapa Paus Fransiskus ini diterjemahkan oleh Pastor Postinus Gulö, OSC artikel https://postinus.wordpress.com/2020/03/28/homili-bapa-suci-paus-fransiskus-dalam-doa-pemberian-berkat-urbi-et-orbi-dan-indulgensi-penuh-jumat-27-maret-2020-pkl-18-waktu-italia/?fbclid=IwAR26k6r4lgxFOq9sJ8x7KaWDsnQrm3hMpcHA6wEk8UuKnQmxEzJs2HgYkO8

Sumber resmi Vatikan:

https://www.vaticannews.va/it/papa/news/2020-03/papa-francesco-omelia-testo-integrale-preghiera-pandemia.html

 

http://w2.vatican.va/content/francesco/it/homilies/2020/documents/papa-francesco_20200327_omelia-epidemia.html

 

kami juga membaca versi Bahasa Inggrisnya:

 

https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-03/urbi-et-orbi-pope-coronavirus-prayer-blessing.html

 

Mukjizat itu Masih Ada

0
Sumber: Google, Com

Minggu Prapaskah V

Yohanes 11:1-45 

Sudah dua minggu umat Katolik tidak mengikuti misa di gereja. Alasannya jelas: memutus rantai penyebaran Virus Corona yang mengacaukan dunia saat ini. Demi kemanusiaan, misa bersama ditiadakan. Umat  diminta berdoa di rumah masing-masing atau mengikuti misa/ibadat online. Saya senang karena rupanya banyak umat merindukan misa. Hal ini saya ketahui dari percakapan pribadi dengan mereka via alat komunikasi maupun yang saya amati kerinduan mereka sebagaimana tersebar di media sosial online, terutama di lapak pribadi mereka (Fb, Wa, IG). Mereka merasa hampa tanpa misa. Bagiku, ini kesadaran iman yang baik. Sembari berharap agar Virus Corona segera diatasi dengan baik, umat tetap diminta bersabar di rumah sambil tetap merawat kesehatan dan berdoa. Ini pasti berlalu. Kita hanya perlu bersabar menunggu waktu-Nya Tuhan, bukan waktu manusia.

Saudara/i terkasih!

Pada hari Minggu Prapaskah V, hari ini, Injil yang direnungkan oleh seluruh umat Katolik di dunia adalah kisah “Lazarus dibangkitkan.” Penginjil Yohanes (Yoh. 11:1-45) mengisahkan dengan baik dan menarik bagaimana mukjizat kebangkitan Lazarus terjadi. Injil menulis bahwa Lazarus adalah sahabat yang dikasihi Yesus. “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Ini kabar yang disampaikan oleh kedua saudari Lazarus (Marta dan Maria) kepada Yesus.  Terhadap kabar itu Yesus hanya berkata, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu, Anak Allah akan dimuliakan (ay. 4).” Setelah itu, Ia tak langsung mengunjungi Lazarus. Beberapa hari kemudian baru Ia datang. Dan Lazarus sudah empat hari di dalam kubur! Ketika Yesus tiba, Marta mengungkapkan kekecewaannya. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya (21-22).” “Saudaramu akan bangkit.” Begitulah Yesus menanggapi kekecewaan Marta. “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Marta terus menanggapi Yesus sesuai dengan apa yang dipahaminya. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah Engkau akan hal ini? (25-26). Rupanya Yesus semakin serius menanggapi Marta. Akhirnya Marta mengungkapkan imannya, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia (27).” Betapa dialog antara Yesus dan Marta ini sangat mendalam.

Lazarus dibangkitkan

Sekarang giliran saudari Lazarus yang lain, Maria. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati (33).” Ini ungkapan hati Maria ketika berjumpa dengan Yesus. Sama persis dengan ungkapan hati Marta sebelumnya! Ini juga ungkapan kekecewaan karena Yesus terlambat datang. Tak banyak dialog dengan Maria. Yesus malah langsung menanyakan tempat Lazarus dibaringkan (dikuburkan). Sebagaimana Marta, Maria dan kerabat yang lain sangat sedih dan menangis, Yesus pun sedih bahkan menangis. Ya, Yesus menangis! Barangkali ini menunjukkan bahwa Yesus sangat mengasihi Lazarus dan juga Ia terlibat secara mendalam dengan kesedihan keluarga berduka. Solidaritas yang mendalam. Kepedulian yang tak tertandingi. “Angkat batu itu!” Perintah Yesus ini langsung dibantah oleh Marta: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Yesus mengingatkan  Marta akan dialog sebelumnya. Marta sekali lagi diminta percaya. Tak perlu ragu lagi!

Setelah batu penutup kubur dibuka, Yesus berdialog dengan Bapa-Nya. “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (41-42).” Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah ungkapan “Supaya mereka percaya.” Yesus mau semakin banyak yang beriman; percaya pada kemahakuasaan Allah. “Lazarus, marilah ke luar!” Perintah Yesus yang penuh kuasa ini dan telah diawali  dialog dengan Bapa-Nya, membangkitkan Lazarus dari kematian. Tentu saja Marta dan Maria beserta keluarga yang lain bergembira atas mukjizat ini walau Injil tidak mencatatnya. Peristiwa ini menegaskan kata-kata Yesus dalam dialog dengan Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Penginjil mencatat bahwa banyak orang yang menyaksikan mukjizat itu percaya kepada Yesus (45). Memang inilah salah satu hal penting yang dikehendaki Yesus, “Supaya mereka percaya.” Benarlah juga apa yang disampaikan Yesus pada awal bacaan ini, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu, Anak Allah akan dimuliakan (4).”

Sikap Yesus terhadap Wabah Corona

Menurut saya, kisah  Yesus membangkitkan Lazarus tepat dibaca dan direnungkan secara serius pada situasi gawat yang sedang dihadapi dunia saat ini. Virus Corona betapa membawa dunia pada kematian. Tak hanya kematian fisik, yang mana puluhan ribu orang sudah meninggal, tapi juga kematian dalam banyak bidang kehidupan lainnya (ekonomi, sosial, politik, sosbud, dll). Virus ini melahirkan krisis besar bagi dunia saat ini. Situasi saat ini tampaknya mencekam. Pelbagai pihak terkait (pemerintah, lembaga-lembaga amal, relawan/ti, institusi religius-keagamaan, dan sebagainya) telah  dan sedang melakukan upaya terbaik untuk mengatasi krisis besar ini. Hasilnya sudah mulai dirasakan tapi belum mampu menghalau virus ini.

Para ahli dalam pelbagai bidang kehidupan juga telah dan sedang berjuang melawan Corona. Semoga mereka segera berhasil. Pelbagai agama dan aliran kepercayaan uga meminta umatnya tekun berdoa meminta intervensi Tuhan atau Dewa junjungannya agar virus ini segera lenyap dari bumi ini. Tampaknya Tuhan atau Dewa itu masih belum mau intervensi! Tapi menariknya, umat beragama dan aliran kepercayaan itu belum lelah berdoa. Mereka masih percaya, Sang Maha Kuasa, masih peduli dengan dunia dan segala ciptaan-Nya dan akan melenyapkan Corona.

Tak ketinggalan kita umat Katolik. Bapa Suci, para uskup, para imam, biarawan/ti meminta semua umat Katolik tak lelah berdoa memohon campur tangan Tuhan Yesus agar wabah ini segera berlalu. Salah satu hal yang mengagumkan bagi saya adalah ketika Bapa Suci Fransiskus dengan pelbagai cara mengajak umat Katolik untuk berdoa memohon intervensi (campur tangan) Tuhan untuk mengatasi wabah ini. Setelah beberapa hari lalu ia meminta umat Katolik mendaraskan Doa Bapa Kami secara bersama-sama, kemarin ia meminta umat Katolik di seluruh dunia mengambil bagian dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus dan memberikan berkat urbi (kota Roma) et orbi (dunia). Berkat urbi et orbi  yang biasanya diberikan saat Natal dan Paskah, kini diberikan juga saat situasi darurat Corona. Ini tindakan yang luar biasa! Tujuannya jelas: Meminta kemurahan hati Tuhan Yesus agar segera terlibat menyembuhkan dunia ini; terlibat menghentikan wabah ini.

Saudara/i terkasih!

Barangkali dalam situasi sulit karena Corona ini kita seperti Marta dan Maria berkata sambil menangis, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini atau sekiranya Engkau peduli dengan kami, atau sekiranya Engkau mendengarkan doa kami, Virus ini pasti lenyap. Dunia ini pasti tidak kacau seperti ini.”

Terhadap keluhan dan tangisan kita ini, apa yang Yesus katakan? Apakah Yesus menangis seperti meratapi kematian Lazarus? Entahlah! Menurutku, mungkin Yesus berkata, “Tenang, Virus ini akan segera Kuatasi. Percayalah pada-Ku! Virus Corona ini tidak akan membuat semua manusia punah, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh Virus Corona  ini, Anak Allah akan dimuliakan. Dunia ini akan segera sembuh. Aku akan melakukannya! Tapi sadarlah Virus ini telah mendidikmu mencari Aku yang selama ini kamu abaikan. Sekarang kamu hampir setiap detik menyebut nama-Ku! Tapi, selama ini kamu sangat sibuk, anak-anak-Ku. Tak ada waktu bagimu, walau semenit saja, untuk menyebut nama-Ku. Selama ini atas alasan sibuk mencari nafkah, harta dan pangkat, aneka kesenangan semu, sibuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kamu lupa untuk bersyukur; lupa datang kepada-Ku. Kamu terlalu sombong. Padahal seharusnya kamu sadar bahwa hidupmu hanya sementara. Harta dan pangkatmu, kepintaranmu merakit teknologi, kecanggihan ilmu pengetahuanmu dan aneka kehebatan yang sering kamu banggakan itu tak abadi. Semuanya fana! Yang abadi hanyalah kasihmu kepada-Ku! Sebab pada saatnya engkau akan kembali pada-Ku. Saat itu, harta, pangkat dan segala kemewahan dan kehebatanmu tak akan engkau bawa. Engkau akan kembali ke pangkuan-Ku dalam keadaan telanjang bulat seperti engkau keluar dari rahim ibumu. Virus ini mempertobatkanmu, anak-anak-Ku! Virus ini membuatmu kembali percaya pada-Ku. Kembalilah kepada-Ku! Aku akan melenyapkan Virus ini pada waktu-Ku! Jangan takut! Waktu-Ku selalu terbaik! Bukan waktumu! Kamu hanya perlu terus bertobat-membarui diri. Percayalah kepada-Ku! Percayalah! Jangan ragu!”

Saya membatin, barangkali ini kata-kata yang dikatakan Yesus dalam situasi sulit ini. Ya, barangkali!

Jaga Kesehatan dan Berdoa

Sambil tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, juga yang diminta oleh pihak Gereja Katolik dan sambil terus menjaga stamina tubuh, marilah teruslah datang kepada Yesus. Datang kepada-Nya untuk bersyukur karena kita masih diberi waktu untuk hidup. Sujudlah di hadapan-Nya seraya memohon ampun atas segala dosa kesombongan kita yang sering mengabaikan-Nya selama ini. Marilah mohon berkat dan kemurahan kasih-Nya untuk menyembuhkan diri kita yang sakit, menyembuhkan Gereja kita, menyembuhkan daerah dan bangsa kita, menyembuhkan dunia kita yang sedang sakit dan lumpuh ini. Saya  yakin banyak orang yang bertobat di seluruh dunia ini karena Corona ini! Corona ‘memaksa’ manusia untuk mencari Tuhan dan mengakui kemahakuasaan-Nya yang tak tertandingi oleh harta dan aneka kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi saat ini.

Yakin pula bahwa mukjizat itu masih ada zaman ini. Tentu saja Tuhan bekerja melalui siapapun yang berkehendak baik untuk mengatasi wabah ini. Tapi, tetap ada ruang misteri, ruang mukjizat bahwa Ia sanggup menyembuhkan ketika manusia sudah tak mampu lagi! Ini cara pandang orang beriman. Dunia akan sembuh! Virus Corona akan berlalu!

Sebagaimana  banyak orang yang menyaksikan bagaimana Lazarus dibangkitkan percaya kepada Yesus, saya masih yakin banyak orang  bertobat dan percaya kepada Tuhan baik saat ini maupun setelah Corona berlalu. Mukjizat masih ada zaman ini. Kapan? Pada waktu-Nya Tuhan, bukan pada waktu yang diinginkan manusia. Bukankah waktu Tuhan selalu yang terbaik? Fiat Voluntas tua!***

 

 

Menghargai Kehidupan

0
Sumber: Google.com

Banyak hal yang tak bisa diduga dalam hidup ini. Kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi rupanya belum cukup mampu memprediksi banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Ketika suatu hal yang tak diduga itu terjadi, umumnya manusia huru-hara. Ini reaksi normal-manusiawi. Apalagi kalau sesuatu yang terjadi itu berupa penderitaan dan membahayakan kehidupan. Manusia berjuang mencari jalan keluar terbaik. Semua kemampuan terbaik dikeluarkan. Semua metode atau cara pemulihan dilakukan. Segala sarana sederhana sampai yang canggih dikerahkan. Begitulah manusia berjuang mengatasi penderitaan sekaligus membela kehidupan.

Kira-kira begitulah yang terjadi saat ini. Semua manusia di dunia huru-hara menghadapi badai Covid 19. Virus yang mulai terdeteksi di Wuhan-Cina ini telah mengacaukan dunia. Hampir semua negara di dunia dikacaubalaukan olehnya.  Sudah ribuan orang yang meninggal dunia karenanya. Masih banyak orang lainnya yang dirawat. Barangkali masih banyak orang lain yang akan menjadi korban keganasannya. Pemerintah setiap  negara sudah mengeluarkan aneka kebijakan terbaik agar virus ini segera lenyap. Para ahli di pelbagai negara sibuk mencari antivirus terbaik dan aneka langkah pencegahan dan pengobatan lainnya. Selain itu, warga masyarakat dilarang berkumpul. Semuanya harus jaga jarak. Semua kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa (banyak orang) tak diizinkan untuk dilaksanakan. Bahkan kegiatan rohani setiap agama diminta untuk dihentikan sementara. Aneka tempat ibadah di seluruh dunia kosong. Sepi. Semua umat beragama diminta berdoa di rumah masing-masing. Semuanya harus tinggal di rumah saja.

Tentang instruksi agar berdoa di rumah masing-masing, rupanya cukup banyak umat katolik yang merindukan perayaan ekaristi. Ada yang memberitahukan kepada saya bahwa mereka merindukan Tubuh Kristus. Maklum sudah hampir satu minggu tidak ada perayaan ekaristi bersama umat. Mungkin ini juga baru terjadi dalam sejarah umat katolik di dunia bahwa untuk jangka waktu tertentu tidak ada perayaan ekaristi bersama umat. Padahal perayaan ekaristi adalah puncak dari setiap doa, ibadat dan liturgi orang katolik. Tapi, demi keselamatan banyak orang, langkah ini harus diambil oleh Gereja Katolik.

Memang, betapa mengerikan virus ini. Semua  yang disebut manusia takut. Semua orang panik. Kepanikan semakin tak karuan lantas pemberitaan media massa online semakin liar. Cukup sulit membedakan informasi yang akurat dan abal-abal (hoax). Belum lagi setiap orang jadi wartawan/ti. Ia bebas menulis sesuatu di lapaknya sendiri atas nama kebebasan berpikir, berpendapat dan berbicara yang dijamin undang-undang. Walau kebebasan itu sering kali kebablasan: menimbulkan kepanikan, keresahan bahkan menyesatkan banyak orang. Banyak orang juga bertengkar dan berdebat kusir karena virus ini. Banyak juga orang yang selalu menghujat pemerintah atau pihak berwenang karena dianggap lamban dan tak memiliki strategi mumpuni menghadapi badai ini. Pokoknya kacau!

Entahlah! Virus ini benar-benar mengacaukan dunia. Sepanjang umurku, saya baru merasakan bagaimana semua manusia di dunia dikacaukan oleh wabah penyakit. Saya baru merasakan bagaimana orang di kampung dan kota, orang miskin dan kaya, orang beragama dan tak beragama, pejabat dan rakyat, orang sekolah dan tak sekolah, negara miskin-berkembang dan maju diporakporandakan oleh wabah penyakit. Belum lagi aneka krisis yang timbul dari badai ini. Kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan dan keamanan kacau balau. Benar-benar kacau.

Di tengah kekacauan dunia karena badai Covid 19, saya merenungkan hal penting. Saat ini dunia sedang menunjukkan  apa yang disebut berperang melawan kematian karena virus dan memperjuangkan kehidupan. Dunia sedang menunjukkan kesadaran terbaik bahwa kehidupan itu mahal harganya. Kehidupan itu tak bisa diuangkan atau tak bisa digadaikan dengan emas atau perak atau aneka kekayaan duniawi lainnya. Betapa mahal harga nyawa seorang manusia. Semua kemampuan-keahlian terbaik yang ada di dunia ini dikerahkan demi menyelamatkan kehidupan. Jadi, dunia sedang sadar bahwa menghargai kehidupan itu perjuangan universal. Semuanya demi kehidupan manusia apapun suku, bangsa, warna kulit, status dan agamanya.

Saat ini, semua orang diundang untuk menghargai kehidupan dan sama-sama bergerak melawan badai Covid 19. Melawan badai Covid 19 artinya melawan kematian. Melawan kematian karena Covid 19 artinya menghargai-membela kehidupan. Setiap orang tak hanya menghargai kehidupannya sendiri, tetapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Caranya yang terbaik adalah setia tinggal di rumah masing-masing. Selain mengalami indahnya kebersamaan dengan orang-orang terkasih di rumah, setiap orang juga mengambil waktu untuk berdoa, memohon campur tangan Allah agar badai ini segera teratasi dengan baik. Jika selama di rumah mengalami gangguan kesehatan, segera meminta pertolongan pelayan kesehatan terdekat. Itu saja. Akhirnya, semoga semua orang semakin menghargai kehidupan. Semoga badai Covid 19 ini bisa diatasi dengan baik.***