10.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 39

Surat Cinta Dari Roma: Ikuti Himbauan Pemerintah, Tetap Tinggal di Rumah

0
Faithfuls fill Saint Peter's Square in Vatican City 16 June 2002 to attend the canonization ceremony of Italian priest Padre Pio. Padre Pio, who is the second most popular figure in the country after Pope John Paul II, became the Catholic Church's 758th saint on Sunday. AFP PHOTO EPA/ANSA MARIO DE RENZIS hh

Oleh: P. Kasianus Nana, SDV

Untukmu yang tercinta bapak, mama kakak dan ade sebangsa dan setanah air. Sejujurnya saya tidak ingin menuliskan surat ini, karena tentunya kalian sudah menyaksikan dan membaca lewat berbagai media yang menampilkan berbagai kisah sedih dan duka mendalam yang dialami oleh masyarakat Negara Italia dan Negara Vatikan.

Namun, saya ingin memberikan kesaksian kepadamu sekalian bahwa apa yang ditampilkan oleh Televisi Italia saat ini adalah BENAR. Benar bahwa terdapat korban dari wabah corona virus ini semakin hari semakin tinggi. Dalam catatan yang sempat direkam oleh para medis di seluruh italia, bahwa hanya kemarin terdapat 793 orang, tidak terhitung hari-hari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kejamnya Corona Virus.

Tentunya kalian menonton video ada beberapa mobil tentara yang sedang mengantarkan peti untuk dibuatkan kremasi. Kematian yang terus menerus melonjak ini bukan karena virus sekali kena langsung meninggal, akan tetapi semenjak awal ketika pemerintah menginstruksikan kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah, hanya masyarakat begitu APATIS atau CUEK dengan himbauan pemerintah.

Baca Juga:

Himbauan ini, kemudian lewat mimbar agama yang mana para pemimpin agama dipercayakan oleh pemerintah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah.

Dan barulah mereka mau tinggal di rumah. Akan tetapi, memang sudah banyak yang terkontaminasi.

Maka melalui goresan yang sederhana ini, terutama lewat media ini, saya ingin menyampaikan kepada bapak mama ade, kakakku sekalian sebangsa dan setanah air INDONESIA, untuk tetap tinggal di rumah, untuk menghindari korban di dalam rumah kita. Marilah kita mencintai keluarga kita.

Tuhan itu Maha penyayang dan maha pengasih, tidak akan membiarkan kita menderita atas kelalaian orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas pengetahuan yang tidak tepat.

Namun, INGAT, bahwa Tuhan membutuhkan tanggung jawab kita untuk menjaga dan melindungi diri kita dan diri orang lain di sekitar kita.

INGAT, TETAP TINGGAL DI RUMAH, SESUAI DENGAN HIMBAUAN PEMERINTAH. SAYA SENDIRI SAAT INI SEDANG BERADA DI ROMA, HAMPIR 2 MINGGU LEBIH TIDAK LIHAT JALAN RAYA.

Roma, Via Cortina d’Ampezzo, 14.

 

Berhenti Berpikir Negatif tentang Sesama

0
Sumber: Google. com

Tatkala Anda mencintai seseorang, apapun yang dilakukannya menyenangkanmu, walaupun kenyataannya ia keliru, bahkan melakukan kesalahan, entah besar, entah kecil. Anda selalu memahaminya, memaafkannya; memberi kesempatan kepadanya untuk berubah-membaharui diri.

Namun, ketika Anda membenci seseorang, apapun yang dilakukannya menjengkelkan, bahkan menyakitimu; walaupun kenyataannya ia melakukan kebaikan, entah besar, entah kecil. Dunia tahu ia melakukan kebaikan, tapi tidak bagimu. “Ia pribadi yang tdk baik!” Ini saja yang ada dalam benakmu. Anda tidak mau dan tidak mampu memahaminya, tidak mau memberi kesempatan kepadanya untuk membaharui diri; apalagi memaafkan kekhilafannya. Mata Anda tertutup untuk melihat aneka kebaikan yang dilakukannya.

Jadi, baik tidaknya seseorang sangat tergantung pada kecintaanmu padanya. Cara pandangmu terhadap seseorang sering kali dipasung oleh pengalaman ‘pahit’ bersamanya pada hari kemarin; padahal hari ini ia telah berubah dalam banyak hal. Hari ini ia lebih baik; ia telah membaharui dirinya. Hari ini Anda seharusnya bergembira-mencintainya.

Kira-kira seperti itulah yang terjadi dalam Injil hari Minggu Prapasah IV, hari ini (Yoh.9:1-41). Orang-orang Farisi berpikir negatif tentang Yesus.Tindakan Yesus yang membuat orang buta sejak lahir bisa melihat tak membuat mata hati mereka terbuka akan kebaikan Allah yang tak terhingga melalui Yesus. Tindakan Yesus barangkali mengganggu kemapanan mereka sebagai orang-orang penting dalam agama Yahudi tapi tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan penderitaan umat. Bahkan mereka menganggap Yesus tidak datang dari Allah karena tidak memelihara hari Sabat. Ada juga yang menganggap Yesus sebagai pendosa. Singkatnya, apa saja yang dilakukan oleh Yesus selalu tak baik di hadapan orang-orang Farisi.

Memang, berpikir negatif tentang orang lain mengaburkan, bahkan menguburkan aneka kebaikan-kebajikan hidup yang ada padanya. Anda tentu menderita sendiri dengan sikapmu. Berpikir negatif menyusahkan diri sendiri; membuat hidup tidak bahagia. Bisa jadi dia yang Anda anggap jelek sering kali sangat bahagia ketimbang Anda yang berpikir negatif tentangnya.

Sekarang, marilah mengubah haluan; mengubah cara pandang Anda tentangnya. Hentikan curiga; hentikan prasangka buruk terhadapnya. Dia orang baik, tidak seperti yang Anda duga. Yang perlu diubah adalah cara pandangmu tentangnya. Berpikirlah positif tentangnya. Walau kadang-kadang ia keliru, bahkan melakukan kesalahan, itu tidak menjadi alasan bagimu untuk membencinya. Berilah kesempatan kepadanya untuk membaharui hidup. Esok ia akan semakin baik dan akan menjadi sahabat sejatimu.

Siapapun yang berpikir positif tentang orang lain akan selalu diliputi kebahagiaan. Tapi, siapapun yang selalu berpikir negatif tentang orang lain akan diliputi penderitaan batin.***

                 Sumber: Google.com

Renungan Prapaskah: Koyakkan Hatimu dan Jangan Pakaianmu!

0

Bagi kita orang Katolik, Masa Prapaskah adalah masa tobat. Masa Tobat ini akan kita lalui selama 40 hari ke depan. Masa ini dikenal juga sebagai masa retret agung. Mengapa perlu ada masa tobat? Karena kita orang berdosa.

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Dalam bacaan Kitab Suci dikatakan: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yl. 2:13).

Mengapa Yoel mengatakan koyakkan hati dan jangan pakaian? Karena pada zaman dahulu, ketika seseorang berkabung dan menyesali dosanya,  ia mengoyakkan pakaiannya dan menaruh tanah di atas kepalanya. Sebagai contoh:

  • Ketika Yakub diberitahu bahwa Yusuf, anaknya, telah mati, ia pun mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu (Kej. 37:34).
  • Yosua pun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya (Yos. 7:6).
  • Ketika terjadi pertempuran yang hebat, seorang dari suku Benyamin lari dari barisan pertempuran dan pada hari itu juga ia sampai ke Silo dengan pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya (1 Sam. 4:12).
  • Datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah (2 Sam. 1:2).
  • Ahab, raja Israel (lih. 1 Raj. 16:29), sadar bahwa ia sudah berlaku salah di hadapan Tuhan. Maka ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban (1 Raj. 21:27).
  • Segera sesudah raja Israel membaca surat dari raja Aram, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku” (2 Raj. 5:7).
  • Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya (2 Raj. 6:30).

Yoel menilai bahwa perbaikan diri jauh lebih penting daripada sekedar mengubah penampilan fisik. Tuhan tidak senang orang yang suka pamer. Upah dari pamer adalah pujian dari manusia semata, tapi tidak beroleh upah dari Bapa di surga.

Tuhan bersabda: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh” (Yl. 2:12). Maka, bertobat berarti juga berdamai dengan Allah. Paulus menganjurkan: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor. 5:20). Dalam masa tobat ini, kita membangun kembali relasi kita dengan Allah, relasi yang sempat terputus karena dosa.

Yesus sudah mewanti-wanti, kata-Nya: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” (Mat. 6:1).

Kita menjalankan kewajiban beragama bukan untuk dipuji orang. Adapun kewajiban kita selama Masa Tobat ini adalah berpuasa dan berpantang. Tidak perlu seluruh dunia tahu bahwa kita sedang berpuasa dan berpantang. Maka, jika sedang berpuasa dan berpantang, tidak perlu pamer wajah kusam, bibir pecah-pecah, dan lusuh. Yesus bilang: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Mat. 6:16).

Yesus justru menyerukan: “Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat. 6:17-18).

Ingat, kita berpuasa dan berpantang bukan sekedar kurangi makan dan minum, atau menghindari hal-hal yang menjadi kesukaan kita. Itu namanya diet dan hemat. Dengan menyerukan berpuasa dan berpantang, Yesus tidak berbicara soal diet dan hemat. Puasa dan pantang adalah upaya untuk perbaikan diri dan melatih sikap solider terhadap orang lain. Makanya, bagi kita, doa, tobat, dan tolong menolong itu satu paket.

Mengenal Nama dan Fungsi Perlengkapan Misa

0

Perlengkapan Misa dalam Gereja Katolik cukup banyak. Banyak orang yang mengetahui perlengkapan itu, namun tidak semua perlengkapan Misa diketahui fungsi dan namanya. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini tim JalaPress.com akan memberikan penjelasan singkat tentang perlengkapan Misa.

  1. Navikula

Navikula merupakan sebuah bejana yang digunakan sebagai wadah serbuk dupa.

  1. Aspergilum

Aspergilum berasal dari bahasa Latin Aspergere yang berarti memerciki. Aspergilum berbentuk tongkat pendek yang pada bagian ujungnya mengembung dengan lubang-lubang kecil atau berbentuk serabut. Aspergilum biasanya digunakan dalam perayaan pemberkatan atau pembaharuan janji baptis.

  1. Sacramentarium

Sacramentarium merupakan buku panduan Misa yang digunakan oleh para imam. Buku tersebut berisi doa-doa dan tata perayaan Ekaristi.

  1. Piala (Calix/Cawan)

Piala atau cawan adalah tempat yang digunakan untuk anggur sebelum dikonsekrasi atau setelah dikonsekrasi. Biasanya dibuat dari logam mulia, atau logam yang disepuh dengan emas.

  1. Purifikatiroum (Purificatorium)

Purifikatorium berasal dari bahasa Latin Purificatorium adalah sehelai kain lenan berwarna putih berbentuk segi empat. Purificatorium berfungsi untuk membersihkan piala, sibori, dan patena. Biasanya setelah digunakan kain lenan ini dilipat menjadi tiga bagian dan diletakkan di atas piala membentuk kain yang memanjang.

  1. Patena

Patena dapat diartikan sebagai ‘Piring’. Bentuknya bundar, pipih, ada yang datar atau sedikit melengkung. Patena digunakan sebagai tempat hosti yang akan dikonsekrasi. Biasanya patena diletakkan di atas purifikatorium. Patena terbuat dari dari emas atau logam yang disepuh dengan emas.

  1. Palla

Palla Corporalis dapat diartikan kain untuk menutupi Tubuh Kristus. Palla merupakan kain lenan berwarna putih. Palla biasanya keras dan kaku berbentuk persegi. Palla digunakan untuk menutup piala yang diletakkan di atas patena.

Baca Juga:

8. Corporal/Corporale

Corporale merupakan kain lenan berwarna putih berbentuk segi empat, di tengahnya terdapat gambar salib. Corporale berfungsi sebagai alas untuk bejana suci roti dan anggur. Biasanya corporale diletakkan di atas palla.

  1. Monstrans

Monstrans berasal dari bahasa latin monstrare, artinya memperlihatkan, menunjukkan, mempertontonkan. Monstrans biasanya digunakan sebagai tempat pentahtaan Sakramen Mahakudus.

  1. Ampul

Ampul merupakan dua bejana yang terbuat dari kaca atau logam, bentuknya seperti gelas atau tabung kecil dan terdapat tutup di atasnya. Ampul berfungsi sebagai tempat anggur dan air sebelum dituangkan ke dalam piala.

  1. Lavabo

Lavabo berasal dari bahasa latin ‘Lavare’ artinya membasuh. Lavabo berbentuk bejana dan memiliki alas seperti mangkuk. Lavabo berfungsi sebagai tempat air untuk membasuh tangan imam. Biasanya dilengkapi dengan kain putih untuk mengeringkan tangan.

  1. Turibulum

Turibulum biasanya lebih akrab disebut wiruk atau dupa. Dupa atau Wiruk berasal dari bahasa Latin ‘Thuris’ yang artinya dupa. Turibulum digunakan sebagai tempat dibakarnya dupa, sehingga sering diisi dengan arang atau bara api sebelum dituangkan serbuk.

  1. Sibori

Sibori berasal dari bahasa Latin ‘Cyborium’ artinya piala logam. Sibori mempunyai bentuk seperti piala, namun memiliki tutup pada bagian atasnya yang terbuat dari logam mulia, atau logam yang disepuh emas. Sibori digunakan sebagai tempat hosti yang dibagikan kepada umat.

  1. Piksis

Piksis berasal dari bahasa Latin ‘Piyx’ yang berarti kotak atau wadah. Piksis memiliki bentuk bundar kecil dan engsel penutup. Piksi berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan Sakramen Mahakudus.

Demikianlah penjelasan tentang nama perlengkapan misa dan fungsi dari setiap perlengkapan tersebut. Semoga bermanfaat.

Mengasihi Musuh

0
Sumber: Google.com

Intisari ajaran Yesus adalah kasih. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari kedua hukum ini (Mrk. 12:30-31).”

Dalam injil hari ini, Yesus meminta-mengajak para pengikut-Nya agar menghayati kasih itu secara konkret tetapi sangat menantang yakni dengan mengasihi musuh. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:44-45).”

Sumber: Google. com

Ajakan sekaligus perintah Yesus ini mudah diucapkan tapi sulit dihayati. Bagaimana tidak, mengasihi orang baik saja perlu perjuangan, apalagi mengasihi musuh (orang yang menyakiti, melukai atau mengecewakan) kita. Kita cenderung merawat-memelihara kebencian-dendam terhadap sesama. Bahkan ada yang bersumpah untuk tak memaafkan sesama sampai mati! Ya, memelihara dendam-benci seumur hidup. Serem! Apakah ini ciri pengikut Yesus yang baik? Sama sekali tidak! Menyimpan dendam dan merawat kebencian dengan sesama bukan identitas pengikut Yesus!

Mari kita berdoa dan memohon berkat dari Tuhan Yesus agar kita mampu mengampuni musuh dan mengasihi serta mendoakan mereka. Semoga teladan Yesus yang mengasihi dan mendoakan musuh-Nya dari atas salib menginspirasi kita. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk. 23:34).”

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!***

Pantang Mencerca di Media Sosial

0
Sumber: Google.com

Hari ini (Jumat) hari pantang bagi umat Katolik. Pantang artinya menahan diri untuk tidak menikmati apa yang paling disukai atau bahkan yang membuat kita kecanduan. Bisa pantang makanan atau minuman tertentu. Bisa juga kebiasaan tertentu, misalnya merokok, menonton TV, main HP atau berselancar di internet. Anda bisa pilih sendiri sesuai situasi-kondisimu.

Ada baiknya kita merenungkan dan berusaha menghayati salah satu pesan penting Paus Fransiskus tentang pantang. Apa itu? Bapa Suci meminta-mengajak umat Katolik agar pantang MENCERCA di media sosial. Pesan ini relevan dengan situasi dunia saat ini yang mana umat manusia seringkali saling mencerca di media sosial, terutama media sosial online.

Atas nama kebebasan berpikir, berbicara dan berpendapat, tampaknya begitu mudah manusia zaman ini mencerca, memfitnah, menghina, mengungkapkan-mempertontonkan kebencian, menyebarkan kebohongan dan sebagainya di media sosial. Aneka tindakan ini mengacaukan kehidupan bersama, bahkan melahirkan kehancuran dalam dunia.

Karena itu, yang terlibat di dalam aneka tindakan di atas perlu BERTOBAT. Lagi pula, Tuhan yang Maharahim itu menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana yang dikatakan dalam Yehezkiel 18:23, “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Bukankah kepada PERTOBATANnya supaya ia hidup?” Pertobatan kita memang dirindukan Tuhan supaya kita hidup.

Maukah kita berhenti mencerca, menghujat, memfitnah, menghina, menyebarkan-mempertontonkan kebencian di media sosial?Jika kita pengikut Kristus yang baik, seharusnya kita MAU.***

3 B: Berdoa, Bermatiraga, Beramal (Refleksi Prapaskah)

0

Saudara/i, terkasih. Hari ini kita sudah memasuki Prapaskah, masa sebelum Paskah. Masa ini diawali dengan perayaan Hari Rabu Abu. Secara istimewa kita ditandai dengan abu sebagai tanda  penyesalan dan pertobatan sekaligus menyadarkan kita semua akan kefanaan hidup ini. Kita berasal berasal dari abu  dan pada saatnya akan kembali menjadi abu.

Masa Prapaskah adalah kesempatan yang istimewa untuk merenung, membarui diri dan membuat komitmen untuk berubah agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jadi, semangat dasar masa Prapaskah adalah PERTOBATAN. Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan secara serius oleh orang katolik selama masa prapaskah.

  1. Berdoa

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan. Isi komunikasi itu, antara lain: pujian dan syukur atas kebaikan Tuhan, permohonan agar Tuhan melindungi dan memberkati ziarah hidup selanjutnya, juga permohonan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Isi komunikasi  dengan Tuhan yang tak pernah boleh diabaikan adalah penyerahan diri. Melalui doa yang adalah berkomunikasi dengan Tuhan, kita menyerahkan diri secara total kepada Tuhan, menyerahkan suka duka hidup juga rencana hidup ke depan. Pada  masa  prapaskah, kita diajak untuk lebih tekun berdoa atau membangun komunikasi dengan Tuhan lebih dari sebelumnya.

  1. Bermatiraga: Puasa dan Pantang

Dalam masa prapaskah, umat katolik diajak untuk melakukan pantang dan puasa. Apa itu puasa dan pantang? Berpuasa adalah makan kenyang satu kali sehari. Misalnya, Anda memiliki kebiasaan makan tiga kali sehari. Anda berusaha untuk hanya satu kali makan sampai kenyang. Dua kesempatan lainnya hanya makan sedikit atau tidak sampai kenyang. Kapan kita berpuasa? Kita berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi, hanya dua kali selama masa Prapaskah!  Siapakah yang wajib  berpuasa? Yang berpuasa adalah yang berumur 18 tahun sampai 60 tahun.

Apa itu berpantang? Berpantang adalah tidak menikmati apa yang menjadi kesukaan kita. Misalnya, pantang makan daging atau ikan, atau bagi yang suka rokok pantang merokok, atau pantang buka akun medsos (FB, Wa, IG atau Twitter) bagi yang selama ini sulit lepas dari hal-hal demikian. Kapan kita berpantang? Kita berpantang pada setiap Jumat dalam Masa Prapaskah dan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung.  Siapa yang diwajibkan untuk berpantang? Yang diwajibkan berpantang adalah semua yang berumur 14 tahun ke atas.

Siapakah yang tidak diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa?

  • Mereka yang masih belum berusia 14 tahun (pantang) dan 18 tahun (puasa) serta yang sudah berusia 60-an tahun (puasa).
  • Mereka yang karena alasan wajar dan masuk akal tidak bisa berpantang dan berpuasa, misalnya, perempuan hamil, orang sakit dan pekerja berat.
  • Mereka yang berlayar atau melaut (menangkap ikan) atau untuk alasan tertentu sedang dalam perjalanan di laut tidak diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa (bdk. KHK 1251).

Penting untuk disadari bahwa nilai yang diperjuangkan di balik pantang dan puasa adalah PENGENDALIAN DIRI.  Ini bentuk latihan rohani agar kita mampu menguasai tubuh kita sendiri. Kita bermati raga agar  kita tak selalu dikendalikan oleh keinginan tubuh kita sendiri.

Aturan pantang dan puasa yang ditetapkan oleh  Magisterium (wewenang atau kuasa mengajar) Gereja Katolik tentu saja aturan minimal. Dengan demikian, kita bisa melakukan yang lebih dari ini. Misalnya berpantang setiap hari atau berpuasa setiap hari. Tapi ini harus muncul dari kesadaran pribadi atau kerinduan hati.

  1. Beramal atau berbagi

Hal  ketiga yang sangat penting dilakukan selama  masa prapaskah adalah beramal atau berbagi dengan sesama, terutama yang sangat membutuhkannya. Harus saya katakan bahwa orang yang tekun berdoa dan bermatiraga (berpantang dan berpuasa) pasti selalu tergerak hatinya untuk berbagi atau bersedekah dengan sesama. Orang yang tekun berdoa dan bermatiraga pasti hatinya selalu tergerak oleh belaskasihan seperti Yesus untuk berbagi dan menolong sesamanya. Ia pasti peduli dengan sesamanya.

Siapa yang bersedekah? Semua orang katolik. Bahkan anak-anak sekolah dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi juga diajak untuk berbagi atau bersedekah. Biasanya anak-anak sekolah diminta mengumpulkan sejumlah uang atau barang yang pada saatnya disalurkan kepada pihak yang membutuhkannya. Demikian juga dengan umat beriman lain. Melalui Paroki atau wilayah, semuanya diajak untuk terlibat dalam gerakan berbagi kasih ini.  Semuanya diajak untuk peduli dengan sesama sebagaimana Yesus sangat peduli dengan manusia.

Harapannya adalah tindakan beramal atau bersedekah ini dilakukan dengan tulus dan bukan karena kewajiban atau karena terpaksa. Kalau dilakukan dengan tulus, tindakan kasih ini pasti mendatangkan sukacita bagi yang menerimanya maupun yang memberikannya. Selain itu, rahmat secukupnya akan dianugerahkan kepada orang yang bersedekah dengan tulus.

Saudara/i, demikianlah penjelasan selayang pandang tentang tiga hal penting yang perlu dilakukan selama masa Prapaskah. Selamat memasuki Prapaskah! Selamat berdoa dengan tekun, bermatiraga (berpantang dan berpuasa) dan  beramal-bersedekah! Tuhan Yesus memberkati dan menyertaimu ziarahmu!***

 

Surat Gembala Bapa Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM

0

 “BERTOBATLAH, SELAMATKAN MANUSIA DAN BUMI DARI SAMPAH PLASTIK”

Saudara-saudariku terkasih! Tahun ini Tuhan memberikan kita sekali lagi waktu yang indah mulai Rabu Abu hingga Sabtu Suci sebagai persiapan merayakan dengan hati yang telah diperbarui misteri agung Kematian dan Kebangkitan Yesus, batu penjuru dari hidup kristiani setiap pribadi maupun sebagai suatu persekutuan. Selama masa Puasa ini, terus menerus setiap hari, kita mesti kembali mengkontemplasikan misteri ini dalam pikiran dan hati, sehingga kita terbuka untuk memperoleh daya rohani peristiwa kebangkitan Kristus dan menanggapinya dengan kehendak bebas dan kesiap-sediaan kita.

Sukacita Kristiani mesti mengalir terus menerus dalam lubuk hati kita. Sukacita itu berasal dari kerelaan hati untuk mendengarkan dan menerima Kabar Baik tentang Kematian dan Kebangkitan Yesus. Puncak Karya Penyelamatan Yesus Kristus itu menyingkapkan secara tepat misteri kasih yang begitu nyata, benar, konkret, yang mengundang kita untuk masuk dalam relasi keterbukaan dan dialog yang berbuah” (Christus Vivit 117). Barangsiapa percaya akan pemberitaan ini berarti menolak atau menentang tawaran si penipu (Iblis) bahwa hidup kita adalah milik kita dan tergantung pada kehendak kita semata-mata; kita menjadi penguasa atas hidup kita. Pada hal yang benar ialah hidup kita lahir dari kasih Allah Bapa, dari kehendakNya yang menganugerahkan kehidupan dalam kelimpahan kepada kita (Lih 10:10). Bila kita sebaliknya mendengarkan suara godaan dari “bapa segala kebohongan” (Yoh 8:44), kita pasti berada dalam bahaya tenggelam kedalam jurang kegelapan (absurditas) dan kita mengalami neraka di sini di atas dunia ini. Ada banyak peristiwa tragis dalam pengalaman pribadi maupun pengalaman bersama disebabkan oleh karena manusia mengikuti godaan si pembohong.

 Paus Fransiskus menyampaikan bahwa dalam masa Prapaskah 2020, Beliau ingin mendorong setiap orang Kristen dengan sebuah seruan yang pernah disampaikannya kepada orang muda dalam Surat Apostolik Christus Vivit: “Arahkanlah pandanganmu pada Kristus yang tersalib, berikanlah dirimu diselamatkan terus menerus olehNya. Ketika engkau mengakui dosa-dosamu, percayalah teguh akan belas kasih yang membebaskan engkau dari kesalahanmu. Pandanglah darahnya yang tercurah keluar karena kasih yang sedemikian besar dan berilah dirimu dibersihkan olehNya. Dengan demikian, engkau akan dilahirkan secara baru lagi” (Christus Vivit 123). Paskah Yesus bukanlah suatu peristiwa masa lalu; namun, melalui kuasa karya Roh Kudus, peristiwa Kematian dan Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa pada saat sekarang, yang memampukan kita untuk melihat dan merasakan kemanusiaan Kristus dalam penderitaanNya.

Umat Keuskupan Bogor terkasih, sejak Rabu Abu seruan dan ajakan untuk bertobat, membarui diri, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu begitu kuat dan lantang disampaikan. Pertobatan diri dan bersama menjadi tiang penunjang utama untuk melaksanakan misi keselamatan bagi orang lain dan diri kita. Bertobat berarti hidup kita tidak lagi berpusatkan pada kehendak sendiri; kita mau bekerja bersama Allah mengembangkan hidup. Allah menjadi pusat seluruh kehidupan kita. Selain itu, hanya dalam semangat pertobatan, gerakan misi menyelamatkan sesama manusia dan ibu bumi menjadi gerakan bersama kita yang selaras dengan rencana dan kehendak Allah. Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus berdampak nyata pada karya menyelamatkan manusia dan bumi ini.

Kami mengajak seluruh umat keuskupan Bogor agar selama 40 hari masa puasa atau prapaskah ini, kita berseru dan melakukan Aksi Puasa Pembangunan dengan tema: “Bertobatlah, selamatkan manusia dan bumi ini dari sampah plastik”. Kita semua, anak kecil, orang remaja, orang muda, keluarga-keluarga, kakek nenek, pastor, suster, bruder, frater, perlu mengadakan gerakan dan aksi yang bercorak:

(a) Gerakan pembaruan rohani: kita mengarahkan perhatian kita pada peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Adakanlah devosi Jalan Salib di gereja-gereja, di tengah alam terbuka sambil menjaga kelestariannya, seperti di tempat ziarah Gua Maria Rangkas Bitung; Taman Doa Kahuripan di Cibadak; Taman doa di Megamendung; Taman Doa Jalan salib di Ciluar ataupun di Parung serta Cibinong. Selain devosi Jalan Salib, penerimaan sakramen Tobat serta Ekaristi diperbanyak.

 (b) Gerakan menciptakan suasana selamat, shalom, damai sejahtera dengan sesamamu, dalam keluargamu, anak-anak dengan orang tua. Berusahalah mengurangi pertengkaran hingga perselisihan berkepanjangan; perlu ugahari dalam bertindak dan berkata-kata. Bangunlah suatu corak kehidupan yang ditandai oleh persaudaraan insani.

(c) Gerakan untuk menyelamatkan ibu bumi ini dengan membersihkannya dari segala bentuk sampah plastik. Bersihkanlah lingkungan sekolah, gedung gereja-gereja, rumah-rumah keluarga, maupun tempat usaha dari plastik-plastik; tindakan preventif berupa puasa pemakaian plastik, kemasan-kemasan minuman dari plastik  serta pemakaian sedotan-sedotan dan sendok-sendok plastik berusaha dihindari. Membangun network dengan pemerintah dalam mengadakan bank-sampah ataupun mengelola sampah menjadi pupuk organik, seperti sedang diperjuangkan oleh beberapa paroki, a.l. paroki Ciluar, paroki Cibinong, paroki Mateus dan paroki Markus di Depok.

(d) Gerakan para guru sekolah-sekolah Katolik untuk mengadakan aksi bersih sampah bersama anak-anak sekolah dari lingkungan sekolah, kelas secara berkala dan terus menerus. Taman-taman sekolah menjadi demikian asri, indah dipenuhi tanaman hijau dan bunga warna warni serta bebas dari plastik yang biasanya bertebaran.

Demikianlah beberapa Aksi Puasa Pembangunan kita sebagai bentuk implementasi perwujudan dari peristiwa Kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus, yang diyakini mendatangkan keselamatan. Mari kita saling mendoakan, berpuasa dan bersedekah agar karya keselamatan menjadi nyata, konkret pada manusia dan alam semesta termasuk ibu bumi kita. Bunda Maria, bunda Pelindung kita menjadi teladan kesediaan dan kesetiaan untuk merenungkan Perjalanan Salib Yesus Kristus dan KebangkitanNya. Selamat memasuki masa retret agung ini. Tuhan menyertai kita.

KETENTUAN PUASA DAN PANTANG

 1. Ketentuan

 Kitab Hukum Kanonik Kanon 1249 menetapkan bahwa semua umat beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi  hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana:

a. Umat beriman Kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa.

b. Menjalankan karya kesalehan dan amal kasih,

c. Menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia.

d. Berpuasa dan berpantang menurut norma kanon-kanon berikut:

Kanon 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa 40 hari atau prapaskah.

Kanon 1251 – Pantang makan daging atau makan lain menurut ketentuan Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus.

Kanon 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orang tua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita rasa tobat yang sejati.

2. Petunjuk

a. Masa Prapaskah tahun 2020 sebagai hari tobat berlangsung mulai hari Rabu Abu, tanggal 26 Februari 2020 sampai dengan Jumat Agung, tanggal 10 April 2020.

b. Pantang berarti tidak makan makanan tertentu yang menjadi kesukaannya dan juga tidak melakukan kebiasaan buruk, misalnya: marah, benci, berbelanja demi nafsu berbelanja, boros, tidak memaafkan, menghindari penerimaan kantong-kantong plastik bila berbelanja di pasar, warung makan atau supermarket, mall. Tetapi berusaha lebih mengutamakan dan menggandakan perbuatan, tutur kata baik kepada sesama

c. Puasa berarti makan satu kali dalam sehari.

3. Cara mewujudkan Pertobatan

a. Doa: Masa prapaskah hendaknya menjadi hari-hari istimewa untuk meningkatkan semangat berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan dengan tekun mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan serta melaksanakannya dengan setia

b. Karya amal kasih: Pantang dan puasa selayaknya dilanjutkan dengan perbuatan amal kasih yakni membantu sesama yang menderita dan berkekurangan. Kami mengajak Anda sekalian untuk melakukan aksi nyata amal kasih baik pribadi maupun bersama-sama di lingkungan maupun wilayah.

c. Penyangkalan diri: Dengan berpantang dan berpuasa, kita meneladan Kristus yang rela menderita demi keselamatan kita. Kita mengatur kembali pola hidup dan tingkah laku sehari-hari agar semakin menyerupai Kristus.

4. Himbauan: Selama masa Prapaskah, apabila akan melangsungkan perayaan perkawinan hendaknya memperhatikan corak masa tobat. Dalam keadaan terpaksa seyogyanya pesta dan keramaian ditunda.

 Bogor, 21 Februari 2020

 Mgr. Paskalis Bruno Syukur,

Uskup Keuskupan Bogor

Aloma Sarumaha Ditunjuk Sebagai Plt. Dirjen Bimas Katolik

0

Setelah lama viral soal Plt. Bimas Katolik yang dijabat oleh orang beragama Islam. Kini, Menteri Agama menunjuk Aloma Sarumaha sebagai Dirjen Bimas Katolik. Hal ini dapat dipastikan karena desakan sebagaian besar masyarakat terutama umat Katolik.

Namun, kita patut bertanya: Menag sejak bulan Juli 2019 mengapa memilih Plt. Bimas Katolik dari orang yang bukan agama Katolik?. Apakah tindakan itu sengaja?. Benarkah sekarang terpaksa  memilih Plt. Dirjen Bimas Katolik dari orang yang beragama Katolik karena desakan masyakat dan takut kehilangan jabatan sebagai Menteri Agama?.

Baca Juga:

Seperti kita ketahui, Menteri Agama Fachrul Razi hari ini selasa (11/02/2020) menunjuk Aloma sarumaha sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Bimas Katolik. Diketahui, Aloma Sarumaha sebelumnya menajbat sebagai Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyrakat Katolik.

Kepastian penunjukkan Ditjen Bimas Katolik disampaikan oleh Sekjen Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan. “Surat perintah sudah ditandatangani oleh Menag. Per hari ini, Plt. Dirjen Bimas Katolik adalah Aloma Sarumaha.” Kata M. Nur Kholis seperti dilansir kemenag.go.id.

Bunda Maria, Tidak Disembah, tapi Layak Dihormati

0

Banyak orang bertanya-tanya, apa sebetulnya ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria? Untuk menjawab rasa penasaran banyak orang itu, berikut kita simak penjelasan Dr. Miravalle yang dikutip dari buku Rome Sweet Home (Roma Rumahku), salah satu buku best seller yang ditulis oleh Scott Hahn dan Kimberly Hahn.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Pertama, Ia [Bunda Maria] bukan Dewi – ia sungguh sangat layak untuk dihormati tapi tidak layak untuk disembah, sebab hanya Tuhan-lah yang boleh disembah.

Kedua, Maria adalah makhluk yang dirancang secara khusus oleh Putra-Nya dan tidak ada dan tidak akan pernah ada seorang ibu lain yang diciptakan demikian.

Ketiga, Maria bersukacita dalam Allah juruselamatnya seperti yang dinyatakannya dalam Magnificat, karena Yesus menyelamatkannya dari dosa pada saat penjelmaan. Dengan perkataan lain, keadaannya tanpa noda adalah kasih karunia, menyelamatkan dirinya sebelum ia sempat jatuh ke dalam dosa.

Keempat, gelar Maria sebagai Ratu Surga tidak diperoleh karena menikah dengan Allah—tetapi didasarkan pada penghormatan karena menjadi Ibu Ratu dari Yesus, Raja segala Raja, dan Putra Daud. Dalam Perjanjian Lama, raja Salomo, Putra Daud, mendudukkan ibunya Batsyeba di sebelah kanan takhtanya, menghormati dia dalam istananya sebagai ibu ratu. Dalam Perjanjian Baru, Yesus memuliakan ibu-Nya, Perawan Maria yang terberkati, dengan mendudukkannya di atas takhta di sebelah kanan-Nya di surga, dan meminta kita untuk menghormati dia sebagai Ibu Ratu Surgawi.

Kelima, misi Maria adalah untuk menunjuk melalui dirinya kepada Putranya, dengan berkata, “Lakukan saja apa yang Dia katakan.”

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria sesungguhnya berpatokan pada Kitab Suci. Sebab, Kitab Suci sendiri memberi kesaksian bahwa Bunda Maria adalah pilihan Allah. Bahkan, sejak semula Allah telah merancang keselamatan itu, dan Bunda Maria adalah salah satu yang berperan dalam keselamatan itu, melalui kesediaannya melahirkan Yesus Kristus.

Selain itu, kita menemukan dalam Injil Yohanes bahwa Yesus sendiri sebelum wafat-Nya di kayu salib, Ia berkata bahwa Bunda Maria adalah ibu kita—tentu bukan hanya untuk para murid saat itu atau murid yang hadir saat itu, melainkan bagi kita juga sebagai pengikut Yesus.

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (bdk. Yoh. 19:25-27).**

Referensi:

Scott dan Kimberly Hahn. 2016 (cetakan Ketujuh belas). Rome Sweet Home (Roma Rumahku). Malang: Penerbit Dioma, hlm. 234-235. Diterjemahkan dari buku Rome Sweet Home-Our Journey to Catholicism, Scott and Kimberly Hahn, Ignatius Press, San Francisco, 1993.