7.3 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 40

Tips dari Kitab Suci: 3 Hal yang Harus Dipenuhi Ketika Kita Berdoa

0

3 Hal yang Harus Dipenuhi Ketika Kita Berdoa: Tips dari Kitab Suci, JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 5:14-21

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bacaan pertama hari ini isinya cukup menarik. Di dalamnya disuguhkan tiga hal penting yang harus kita penuhi ketika kita berdoa. Pertama, menyangkut keberanian untuk menghadap Tuhan.

Semua orang bisa berdoa, tetapi tidak semua bisa melakukannya dengan baik. Banyak orang berdoa, tetapi masih menyimpan sejuta keraguan. Padahal, tak seharusnya kita ragu-ragu dalam berdoa. Sebaliknya, kita justru mempunyai cukup alasan untuk selalu dan senantiasa berdoa kepada Tuhan. Alasan terbesar mengapa kita harus berdoa adalah karena Tuhan akan senantiasa mengabulkan setiap doa kita.

Karena kita tahu bahwa permintaan kita tidak akan pernah sia-sia, maka tak henti-hentinya kita berdoa kepada Tuhan. “Inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita” (1 Yoh. 5:14a).

Kedua, menyangkut syarat agar doa dikabulkan. Tuhan akan mengabulkan doa kita hanya ‘jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya’ (1 Yoh. 5:14a). Jadi, perlu diingat bahwa tidak semua permintaan kita dikabulkan oleh Tuhan, terutama jikalau permintaan itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Banyak kali kita meminta bukan seturut kehendak Tuhan, melainkan sesuai dengan kehendak sendiri. Maka, jangan heran jika ada sebagian dari doa kita yang tidak dikabulkan oleh Tuhan. Jika itu terjadi, jangan salahkan Tuhan; sebab barangkali permintaan kita itu memang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Jika saja sesuai dengan kehendak-Nya, yakinlah Ia mengabulkannya.

Ketiga, menyangkut sikap kita pasca doa dikabulkan. Jika Tuhan  sudah mengabulkan permintaan kita, jangan sekali-kali melupakan Tuhan. Sebaliknya, kita harusnya makin sadar bahwa semua itu kita terima karena Ia mengasihi kita. “Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” (1 Yoh. 5:15).

Tak ada hal baik yang kita alami dalam hidup ini kalau bukan dari Tuhan. Maka, bersyukurlah kepada-Nya. Sadarlah, semua yang kita dapatkan tidak akan ada kalau bukan karena Tuhan.

Akhirnya, sebagai balasan, Tuhan hanya mau satu hal dari kita, yaitu bahwa kita melakukan perintah-perintah-Nya. “Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yoh. 5:3-4). Marilah kita membangun iman yang kokoh dan kuat kepada Tuhan. Percayalah kepada-Nya, jangan kepada yang lain. Amin.

Orang Katolik Tidak Menyembah Patung (Seri II)

0

Dialog tentang pemakaian patung dalam Gereja Katolik tidak ada habisnya. Hampir di semua media kelompok yang menolak pemakaian patung terus melancarkan serangan. Mereka menyerang ajaran Gereja Katolik dari berbagai sisi. Mereka mengutip ayat dari berbagai kitab, meskipun terkadang tidak mengetahui konteks dan tafsir dari perikop yang dikutip.

[postingan number=3 tag= ‘patung’]

Gereja Katolik telah melawan bertubi-tubi tuduhan dari berbagai jenis bidat sejak abad pertama hingga kini. Meskipun ajaran Gereja Katolik terus diserang, namun mereka tidak berhasil menghancurkan Gereja Katolik. Yesus sendiri telah berjanji untuk menjaga Gerejanya sehingga kuasa maut tidak  menguasainya (bdk. Mat. 16:18).

Banyak dari kelompok penuduh bahwa orang-orang Katolik menyembah patung tidak mengerti sama sekali iman Katolik. Mereka juga seringkali mengutip ayat yang sama sekali tidak membahas tentang pemakaian patung. Biasanya mereka mengutip Yohanes 4:24 yang berisi tentang menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Entah bagaimana mereka menafsirkan ayat ini sehingga mereka menganggap bahwa itu larangan pemakaian patung. Bila kita membaca secara utuh perikop Injil Yohanes 4:21-26 dan perikop sebelumnya, kita tidak menemukan sama sekali pembahasan tentang patung.

Perikop sebelumnya ada dialog Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan Samaria tersebut mengatakan bahwa penyembahan terhadap Bapa yang benar hanya ada di Yerusalem. Maka Yesus mengatakan bahwa telah tiba saatnya perempuan itu tidak lagi menyembah Allah di Yerusalem. Yesus mengatakan bahwa penyembah-penyembah benar menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Yesus hendak meluruskan pemahaman perempuan Samaria bahwa Allah dapat disembah dimana saja, tanpa terikat tempat. Lebih dari itu, Yesus menekankan yang terpenting dalam penyembahan adalah berfokus dan berpusat kepada-Nya. Maka perikop itu sama sekali tidak menyampaikan larangan terhadap pemakaian patung, selama patung itu membuat kita fokus dan berpusat kepada sosok Yesus yang sesungguhnya.

Kutipan lain yang sering digunakan untuk menyerang pemakaian patung dalam Gereja Katolik adalah Kis. 17:29, Keluaran 20:4-5, Yesaya 48:5-8, Mazmur 115:4-8, Ulangan 27:15, Keluaran 34:17, Imamat 19:4, Ulangan 4:16-19. Menurut mereka kutipan ayat-ayat itu menunjukkan bahwa pemakaian patung Yesus, Bunda Maria dan santo-santa dilarang oleh Allah. Mari kita lihat isi dari kutipan ayat-ayat di atas.

Pertama, Kis. 17:29, “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia”. Tampaknya pengutip ayat menafsir ayat itu secara lurus atau harfiah, sehingga menimbulkan pemahaman yang salah kaprah. Perikop Kis. 17: 16-23 sebenarnya membahas Kisah Rasul Paulus ketika sedang berada di Atena. Rasul Paulus sedang berbincang-bincang dengan golongan Epikorus dan Stoa mengenai patung-patung dewa-dewa asing atau dewa-dewa Atena. Rasul Paulus hendak mengajak mereka untuk meninggalkan ajaran yang menyembah dewa-dewa asing. Maka Rasul Paulus mengatakan bahwa Allah tidak tinggal dalam kuil-kuil dewa yang dibuat oleh orang-orang Atena. Kemudian Rasul Paulus mengajak orang-orang Atena bertobat dan mengikuti Tuhan. Maka ia mengatakan kepada mereka bahwa keadaan ilahi tidak sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Rasul Paulus mengatakan itu agar mereka tidak lagi menyembah patung dewa-dewa asing, melainkan mengikuti Kristus. Jelas kutipan ayat tersebut tidak membahas mengenai patung Yesus, Bunda Maria dan santo-santa yang hanya digunakan sebagai sarana, lambang dan simbol. Gereja Katolik tidak pernah menganggap patung Yesus, Bunda Maria dan santo-santa sebagai ilahi atau Tuhan.

Kedua, Keluaran 20:4-5, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan m  yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, … Ayat ini tidak dapat dijelaskan secara terpisah, maka harus dimulai dari ayat 3. Mari kita liat satu persatu.

Keluaran 20:3-5 (menurut LAI, 1999), jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.

Menurut orang-orang yang menentang pemakaian patung, ayat 4 dan 5 tidak dapat dipisahkan sehingga diartikan bahwa pengikut Yesus tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh sujud menyembah kepadanya.

Seandainya pandangan tersebut benar, maka Allah sendirilah yang pertama melanggar FirmanNya, karena Ia memerintahkan Musa membuat patung ular tembaga dan patung kerub (bdk. Kel. 21:4-9, 25:20-21, Raj. 7:1-51). Tentu kita tidak ingin mengkontradiksikan Firman Tuhan dalam Alkitab. Maka, kita harus menghindari tafsiran lurus atau harfiah. Oleh sebab itu, ayat di atas perlu dilihat dari berbagai bahasa. Dalam terjemahan bahasa Inggris kita akan menemukan patung apa yang sesungguhnya dilarang.

You shall not have other gods besides me (NAB, CCB); no other gods before me (RSV, NIV, KJV); You shall not carve idols (NAB); a graven image (RSV); any graven image (NIV, KJV); a carved image (CCB) for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth; you shall not bow down (NAB, RSV, NIV, KJV, CCB) before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Dari catatan terjemahan tersebut kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah Carved Idols yang berarti patung berhala/allah lain atau carven image yang berarti ukiran dari suatu gambaran allah lain. Kalau pengertian kita sebatas pada ukiran suatu gambaran maka kembali lagi kita menemukan kontradiksi, karena Allah sendiri memerintahkan Salomo membuat Bait Allah dengan membuat suatu ukiran pada dinding.

Maka, tuduhan sebagian orang Kristen non-Katolik bahwa Katolik menyembah berhala adalah keliru, karena orang Katolik tidak menghormati atau menyembah patung, melainkan menghormati pribadi yang digambarkan. Malahan bila kita menelusuri lebih jauh, banyak ayat dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Tuhan memerintahkan pembuatan patung untuk kepeluan ibadah (bdk. Kel. 25:1,18-20, 1 Taw. 28:18-19, Yehezkiel 41:17-18, Bilangan 21:8). Dengan demikian kita menemukan bahwa Allah melarang kita menyembah image/gambaran/patung sebagai Tuhan.

Ketiga, Keluaran 34:17, “Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan”.  Ayat ini tidak dapat diartikan bila dipisahkan dari ayat sebelumnya atau topik perikop. Perikop ini setidaknya berisi tentang penegasan Tuhan agar orang Israel berpegang pada perintahNya. Konsekuensi dari ketaatan pada perintah Tuhan adalah orang Israel dilarang mengikuti allah-allah orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Orang Israel malah diperintahkan untuk merubuhkan dan meremukkan mezbah-mezbah, tugu-tugu berhala, dan tiang-tiang berhala orang orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Oleh sebab itu, orang Israel dilarang menyembah dan membuat patung dewa-dewi orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Sekali lagi kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah carve idols/graven image (patung berhala/allah lain), dalam konteks ayat tersebut adalah patung dewa-dewi (bdk. Kel. 34:11-18).

Keempat, Yesaya 48:5-8, “…maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya”. Ayat di atas tidak bisa dipisahkan dengan kisah pembuangan bangsa Israel di Babel. Seperti kita ketahui Yesaya Bab 40-55 mengisahkan kehidupan orang-orang Yehuda dalam pembuangan. Mereka tidak mempunyai harapan lagi. Oleh sebab itu, mereka mulai terpengaruh dengan agama babel yang menyembah dewa-dewi/allah lain dengan membuat patung tuangan/pahatan. Maka, Yesaya memberitahukan bahwa Tuhan yang menguasai sejarah dan menyelamatkan mereka, bukan allah lain atau patung pahatan/tuangan orang-orang babel. Sekali lagi kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah patung berhala (carve idols/graven image) atau patung allah lain.

Kelima, Mazmur 115:4-8, “Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.” Ayat di atas membahas tentang patung yang disembah sebagai Tuhan (berhala). Oleh sebab itu, Tuhan tidak menghendaki penyembahan terhadap patung berhala. Sekali lagi ayat ini membahas tentang (carve idols/graven image) atau patung allah lain. Dan dalam konteks ini berhala mempunyai banyak jenis, misalnya uang, jabatan, dan lain sebagainya. Ayat di atas cukup jelas tidak membahas tentang patung yang digunakan sebagai simbol, lambang, sarana dalam ibadah.

Keenam, Ulangan 27:15, Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah menjawab: Amin!. Ayat tersebut tidak dapat ditafsirkan secara terpisah dari ayat sebelumnya. Perikop ini setidaknya membahas tentang perintah Tuhan yang harus dipatuhi oleh bangsa Israel ketika mereka sampai di tanah terjanji. Tuhan memerintahkan mereka agar mendirikan mezbah bagi-Nya dan mezbah itu harus dibuat dari batu. Selanjutnya, Tuhan melarang mereka untuk membuat patung pahatan atau patung tuangan  untuk disembah atau dijadikan Tuhan. Sekali lagi, yang dimaksud oleh ayat ini adalah patung berhala atau patung allah lain (carve idols/graven image). Sekiranya ini larangan untuk membuat patung sebagai simbol, lambang, dan sarana tentulah akan muncul kontradiksi karena dalam berbagai ayat Tuhan juga memerintahkan pembuatan patung (bdk. Kel. 25:1,18-20, 1 Taw. 28:18-19, Yehezkiel 41:17-18, Bilangan 21:8).

Ketujuh, Imamat 19:4, “Janganlah kamu berpaling kepada berhala-berhala dan janganlah kamu membuat bagimu k  dewa tuangan; Akulah TUHAN, Allahmu.” Perikop ayat tersebut setidaknya membahas tentang perintah Tuhan kepada bangsa Israel agar mereka berpegang teguh pada Tuhan. Oleh sebab itu, Tuhan melarang mereka untuk berpaling kepada berhala-berhala dan dewa tuangan. Sekali lagi, kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah patung allah lain (carve idols/graven image).

Kedelapan, Ulangan 4:16-19, “supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan; yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi; dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka,…” Perikop ini setidaknya membahas tentang perintah Tuhan yang harus ditaati oleh bangsa Israel agar masuk negeri yang dijanjikan. Oleh sebab itu, Tuhan melarang mereka membuat patung berhala (allah lain) yang menyerupai apapun untuk disembah. Sekali lagi yang dimaksud adalah patung allah lain (berhala) atau carve idols/graven image. Apabila ayat tersebut diartikan secara harfiah maka akan kontradiksi dengan berbagai ayat dimana Tuhan sendiri memerintahkan pembuatan patung untuk ibadah (bdk. Kel. 25:1,18-20, 1 Taw. 28:18-19, Yehezkiel 41:17-18, Bilangan 21:8). Maka, yang dimaksud adalah patung allah lain (berhala) atau carve idols/graven image yang disembah menggantikan Tuhan.

Gereja Katolik  tidak pernah mengajarkan penyembahan terhadap patung. Bagi Gereja Katolik, patung adalah simbol, lambang, sarana dan alat untuk mengingat/mengenang. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2132:

“Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601) Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67.. Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah. “Penghormatan kepada Allah tidak diberikan kepada gambar sebagai benda, tetapi hanya sejauh mereka itu gambar-gambar, yang mengantar kepada Allah yang menjadi manusia. Gerakan yang mengarahkan ke gambar sebagai gambar, tidak tinggal di dalam ini, tetapi mengarah kepada Dia, yang dilukiskan di dalam gambar itu” (Tomas Aqu., s.th. 2-2,81,3, ad 3).**

Allah Menjelma menjadi Manusia karena Ia Mengasihi Kita

0
Natal berasal dari bahasa Portugis yang berarti kelahiran. Karena itu, Natal untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Allah Menjelma menjadi Manusia karena Ia Mengasihi Kita: Renungan Masa Natal, Jumat 3 Januari 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 2:29 – 3:6; Injil: Yoh. 1:29-34

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Kita masih berada pada masa Natal. Natal adalah peristiwa di mana Allah yang Mahakuasa menjelma menjadi manusia. Dengan menjadi manusia seperti kita, Ia ingin menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Jadi, karena kasih-Nya kepada kitalah makanya Ia turun ke tengah-tengah kita dan menjadi manusia sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.

Kasih Allah itu menjadikan kita anak-anak-Nya. Sebagai anak-anak Allah, kita yakin dan percaya bahwa Allah mempunyai rencana dan rancangan yang indah bagi kita. Hanya saja, kita sendiri tidak tahu persis apa sebetulnya rencana dan rancangan yang Allah siapkan untuk kita itu. Ya, kita tidak pernah tahu bagaimana masa depan kita, karena hal itu masih merupakan misteri bagi kita.

Namun demikian, dengan kelahiran Kristus di tengah kita, kita mempunyai pengharapan di dalam Dia. Kita percaya bahwa Yesus tahu semua persoalan kita dan peduli pada keadaan kita sebab Ia sendiri merasakan apa yang kita rasakan. Kita menaruh harapan pada Yesus. Satu hal yang perlu kita ingat: yaitu bahwa orang yang menaruh pengharapan pada Kristus harus menyucikan diri, sama seperti Dia suci adanya.

Kita beruntung karena Yesus datang untuk menebus dosa-dosa kita. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yohanes Pembaptis memperkenalkan peran Yesus sebagai penebus dosa.

Dengan kelahiran Kristus, martabat kita diangkat; sehingga kita yang tadinya penuh dengan dosa, tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang melulu berdosa. Sebaliknya, predikat kita sebagai ciptaan yang ‘sungguh amat baik’ sebagaimana ditulis di dalam Kitab Kejadian, dikembalikan. Sebab, Yesus lahir untuk menjadi tumbal atas salah dan dosa kita.

Dulu, sebelum Yesus lahir, setiap kali orang melakukan kesalahan, maka kambing atau domba harus dikurbankan sebagai korban tesus salah. Sejak Yesus, tidak ada lagi hewan yang dikurbankan; sebab Yesus adalah satu-satunya kurban atas tebus dosa dan salah umat-Nya.

Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Kata-kata Yohanes ini dipakai dalam Ekaristi. Ketika imam mengangkat piala dan hosti, imam berkata: “Lihatlah, inilah Yesus Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.”

Kita tentu senang karena dosa kita ditebus. Tapi, tidak hanya senang, kita juga harus berupaya untuk menyelaraskan hidup kita dengan apa yang diajarkan oleh Yesus.

Katolik Menjawab: Penetapan Natal 25 Desember Bukan dari Perayaan Kaum Pagan

2
Dalam akun instagramnya, Deddy Corbuzier membahas soal penciptaan figur Sinterklas. Menurutnya, figur tersebut dibuat oleh minuman bersoda raksasa di AS. Dia juga menyebut jika tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Nabi Isa atau Yesus.

Gereja Katolik, setidaknya sejak abad ke-2, telah meyakini bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Namun, sejumlah orang membuat teori yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa hari raya Natal berasal dari kebiasaan kafir.

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Teori itu muncul karena mereka menghubungkan peringatan kelahiran Yesus yang jatuh pada tanggal 25 Desember itu dengan perayaan dewa Sol Invictus (dewa matahari kerajaan Romawi). Padahal, penghormatan kepada dewa Sol Invictus di kerajaan Romawi baru dimulai pada tahun 274 AD; sedangkan penghormatan umat Kristen kepada Kristus, Sang Terang Dunia (Yoh. 9:5), sudah ada lebih dulu daripada penghormatan kepada dewa Sol Invictus itu.

Tradisi perayaan pada tanggal 25 Desember tidak ada dalam kalender Romawi sampai setelah Roma menjadi negara Kristen. Bukti prasasti di zaman Kaisar Licinius, menuliskan bahwa perayaan dewa Sol Invictus itu jatuh pada tanggal 19 Desember. Prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa persembahan kepada Sol Invictus itu dilakukan pada tanggal 18 November. Jadi, bukti ini sendiri menunjukkan adanya variasi tanggal perayaan Sol Invictus, dan juga bahwa perayaannya tersebut baru marak dilakukan pada abad ke-4 dan ke-5, jauh setelah zaman Kristus dan para Rasul.

Tanggal 25 Desember baru menjadi hari ‘Kelahiran Matahari yang tak terkalahkan’  sejak pemerintahan  kaisar Julian yang murtad. Kaisar Julian pernah menjadi Kristen, tetapi telah murtad dan kembali ke paganisme Romawi. Sejarah menyatakan bahwa Kaisar Julian itulah yang menentukan hari libur pagan tanggal 25 Desember. Dengan demikian, pandangan yang lebih logis adalah bahwa kaisar  ‘mengadopsi’ perayaan Natal 25 Desember sebagai perayaan dewa matahari-nya, dan bukan sebaliknya, umat Kristen yang mengadopsi perayaan itu dari mereka.

Lantas, bagaimana umat Kristiani menentukan tanggal dan bulan kelahiran Yesus? Menurut St. Yohanes Krisostomus, tanggal kelahiran Yesus dihitung dari kelahiran Yohanes Pembaptis.

St. Lukas, dalam Injil yang ditulisnya, mengatakan bahwa pada suatu saat Zakaria dari ‘rombongan Abia’ melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan (Luk. 1:5). Keturunan Harun dibagi ke dalam dua puluh empat rombongan (1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan itu bertugas untuk menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Setiap rombongan imam melayani satu minggu di bait Allah, dua kali setahun. Rombongan Abia melayani di giliran ke-8 dan ke-32 dalam siklus tahunan.

Namun bagaimana siklus dimulai? Josef Heinrich Friedlieb dengan sangat yakin mengatakan bahwa rombongan imam pertama, Yoyarib, bertugas sepanjang waktu penghancuran Yerusalem pada hari ke-9 pada bulan Yahudi yang disebut bulan Av ((Josef Heinrich Friedlieb’s Leben J. Christi des Erlösers. Münster, 1887, p. 312.)). Maka, masa rombongan imamat Abia (yaitu masa Zakaria bertugas) melayani adalah minggu kedua bulan Yahudi yang disebut Tishri, yaitu minggu yang bertepatan dengan the Day of Atonement, hari ke-10. Di kalender kita, the Day of Atonement dapat jatuh di hari apa saja dari tanggal 22 September sampai dengan 8 Oktober.

Dikatakan dalam Injil Lukas bahwa Elisabet mengandung beberapa saat setelah masa pelayanan Zakaria (lih. Luk. 1:24). Maka, konsepsi St. Yohanes Pembaptis dapat terjadi sekitar akhir September, sehingga perhitungan empat puluh minggu setelahnya, menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis di akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.

Selanjutnya dikatakan bahwa sesaat setelah Perawan Maria mengandung Kristus, ia pergi untuk mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung di bulan yang ke-6. Artinya, umur Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua daripada Yesus Kristus (lih. Luk. 1:24-27, 36). Jika 6 bulan ditambahkan kepada 24 Juni maka diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. Jika tanggal 25 Desember dikurangi 9 bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira (Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret. Jika Yohanes Pembaptis dikandung segera setelah the Day of Atonement, maka tepatlah penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25 Desember.

Selain itu, Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Sumber dari Tradisi tersebut adalah kesaksian Bunda Maria sendiri. Sebagai ibu tentu Maria mengetahui dengan rinci tentang kelahiran anaknya [dan ini yang diteruskan oleh para rasul dan para penerus mereka]. Bunda Maria pasti mengingat secara detail kelahiran Yesus ini yang begitu istimewa, yang dikandung tidak dari benih laki-laki, yang kelahirannya diwartakan oleh para malaikat, lahir secara mukjizat dan dikunjungi oleh para majus.

Sebagaimana umum bahwa orang bertanya kepada orangtua yang membawa bayi akan umur bayinya, demikian juga orang saat itu akan bertanya, “Berapa umur anakmu?” kepada Bunda Maria. Maka, tanggal kelahiran Yesus 25 Desember (24 Desember tengah malam), sudah diketahui sejak abad pertama. Para Rasul pasti menanyakan tentang hal ini sehingga baik St. Matius maupun St. Lukas mencatatnya bagi kita. Singkatnya, adalah sesuatu yang masuk akal jika para jemaat perdana telah mengetahui dan merayakan kelahiran Yesus, dengan mengambil sumber keterangan dari ibu-Nya.

Sumber:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/refuting-the-pagan-roots-of-christmas-claim
http://www.katolisitas.org/apakah-yesus-lahir-tanggal-25-desember/
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/why-december-25

Sejarah Singkat Kalender Masehi: Dihitung sejak Kelahiran Yesus dari Nazaret

0

Pada tahun 527 Kaisar Justinian memerintahkan Dionisius Exiguus (seorang biarawan, Sejarawan, Teolog, Matematikawan, dan Astronom ulung) untuk membuat perhitungan tahun berdasarkan kelahiran Yesus Kristus. Berdasarkan perintah itu, Dionisius Exiguus membuat kalender Masehi (Anno Domini). Kalender itu disebut Masehi karena merujuk kepada Yesus Kristus. Kalender ini disusun berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari.

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Selanjutnya, pada abad ke-15, Paus Gregorius XII memerintahkan beberapa orang ilmuan Ordo Jesuit antara lain, Dr. Aloysius Lilius dari Napoli-Italia untuk memperbaiki kekurangan dari kalender Julian Lama. Setelah melalui berbagai proses, akhirnya Paus Gregorius XII menetapkan sistem kalender ‘Julian Baru’ yang disebut kalender Gregorian (Anno Domini/Masehi) pada tanggal 24 Februari 1582.

Perbedaan Kalender Julius dan Gregorian

Kalender Julius berlangsung selama 365 hari, 6 jam dalam satu tahun. Sementara itu revolusi Bumi berlangsung selama 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik. Oleh sebab itu setiap 1 milenium, Kalender Julius kelebihan 7 sampai 8 hari (11 menit 14 detik per tahun).  Pada Kalender Julius, setiap tahun yang bisa dibagi dengan 4 disebut tahun kabisat. Berbeda dengan Kalender Gregorius, setiap tahun dengan kelipatan 100 dianggap sebagai tahun kabisat bila tahun itu bisa dibagi dengan 400. Misalnya tahun 1600, 2000, dan 2400 masuk dalam kategori tahun kabisat.

Tujuan awal Kalender Gregorian ini diciptakan untuk menentukan secara tepat penanggalan liturgi Gereja Katolik terutama tentang perayaan Paskah. Kalender Julius dinilai kurang akurat, karena permulaan musim semi tanggal 21 Maret semakin maju. Oleh sebab itu, perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I (325) tidak tepat (pada tahun 1582, jatuh pada hari Kamis 4 Oktober dan Jum’at 15 Oktober).

Kalender Gregorian dinilai sangat valid, akurat dan bermanfaat bagi banyak kalangan, maka diadopsi sebagai kalender yang dipakai di seluruh dunia hingga saat ini. Meskipun tahun Masehi sangat kental dengan sejarah Gereja Katolik, namun kini kalender tersebut digunakan secara umum, oleh semua kalangan di seluruh dunia. Oleh sebab itu, tahun baru masehi bermakna universal tanpa pandang bulu.

Renungan Natal: Yesus, Sahabat Bagi Semua Orang

0
Perayaan Natal tahun 2019 ini bertemakan 'Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang'. Tema tersebut juga merupakan pesan Natal bersama dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Setiap kali Natal tiba, gereja penuh. Panitia Natal harus memasang tenda karena umat sampai di luar gereja. Kursi tempat duduk umat mesti ditambah. Umat yang jarang ke gereja pun tergerak hatinya untuk ikut perayaan Natal. Bahkan, ada umat yang mau datang berjam-jam sebelum waktu Misa Natal agar mendapat kursi di dalam gereja. Tidak hanya itu, hampir semua mall memasang ornamen dan dekorasi Natal. Banyak umat saling berbagi kado dan kue Natal. Pendeknya, suasana Natal terasa di mana-mana. Natal disambut dengan gembira dan persaudaraan!

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Ada juga fenomena lain. Beberapa tahun terakhir, menjelang Natal terjadi silang pendapat apakah boleh dan tidak boleh umat lain menyampaikan “Selamat Natal” kepada umat Nasrani. Ironisnya mereka yang melarang ucapan Natal bependidikan tinggi, bahkan “tokoh” agama. Ada pihak yang begitu bersuka-cita menyambut kelahiran Yesus. Tetapi, masih ada juga yang begitu benci. Fenomena itu bukan hal baru. Dalam Matius 2: 1-12, Raja Herodes tidak gembira mendengar kabar kelahiran Yesus. Herodes dikuasai amarah kebencian, maka ia hendak membunuh Yesus, sang Mesias itu. Dari mana kebencian itu? Yang pasti bukan dari Allah, tapi dari sijahat! Dari kuasa gelap. Tetapi, tak usah takut dengan fenomena itu. Tak usah juga juga menghakimi mereka yang benci Natal. Mengampuni mereka merupakan jalan kerendahan hati, sumber kekuatan umat Kristiani. Jangan ragu dan surut langkahmu menyambut kelahiran Yesus. Kita perlu belajar dari orang-orang Majus. Kebencian dan ancaman yang dilancarkan Herodes, tak menyurutkan langkah orang-orang Majus menemui Sang Mesias. Fenomena menggemberikan dan menggelisahkan menyambut Natal menjadi salah satu tanda bahwa Natal merupakan perayaan yang sangat fundamental dan istimewa bagi umat beriman Kristiani.

Saudara-Saudari terkasih, mengapa Natal istimewa dan fundamental dalam iman kita? Jawabannya dapat kita temukan dalam bacaan-bacaan liturgis malam ini. Dalam Bacaan I (Yes 9: 1-6), Nabi Yesaya menyatakan bahwa “seorang Anak telah lahir bagi kita, seorang Putra telah diberikan kepada kita […] Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Sosok Anak di sini adalah Yesus sendiri. Tidak hanya itu Yesaya memberitakan dampak luar biasa dari kelahiran Anak itu: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, terang telah bersinar atas mereka yang diam di negeri kekelaman. Engkau, ya Tuhan, telah banyak menimbulkan sorak-sorai dan sukacita yang besar”. Natal menjadi istimewa bagi kita jika kita mampu melihat dan berjalan dalam terang: keadilan, kebenaran dan kedamaian. Penindasan akan reda jika semakin banyak orang yang berlaku adil, menegakkan kebenaran dan menjadi juru damai. Dari bacaan ini, umat Kristiani di manapun berada mesti berjuang menyebarkan kedamaian, merajut persahabatan yang terkoyak oleh kebencian dan keegoisan manusia.

Dalam Bacaan II (Tit 2: 11-14) kita semakin dikuatkan imannya karena dalam diri Yesus Kristus yang lahir itu, “nyata kasih Allah yang menyelamatkan semua manusia”. Melalui kelahiran Yesus ke dunia, Allah menyatakan cintaNya kepada kita: menyelamatkan kita. Maka, Allah berusaha agar kita mengenalNya. Salah satu usaha Allah adalah mendekatkan diriNya kepada manusia, mau bersama dan menyertai kita. Melalui kelahiran Yesus ke dunia, Allah mau terlibat dalam perkara umatNya. Kedatangan Yesus ke dunia, penuh tantangan. Hanya sebagian kecil umat menerimaNya. Sebagian lainnya malah membenci, menghina, menyalibkan dan membunuhNya. Yesus berani menanggung semua risiko itu. Ia tak mundur selangkahpun untuk setia pada kehendak BapaNya.

Hal yang sangat penting dalam Bacaan II adalah “Kasih karunia itu mendidik kita agar meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, dan agar kita hidup bijaksana, adil dan beribadah, di dunia sekarang ini, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan pe-nyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Penyelamat kita Yesus Kristus”. Dengan kata lain, pernyataan kasih Allah melalui kelahiran Yesus Kristus menjadi berarti bagi kita jika kita mau dididik oleh Kristus sendiri yang adalah KASIH. Umat yang sudah lulus dari didikan KASIH, tidak akan tunduk pada kefasikan, dan keiginan daging. Umat yang membiarkan dirinya dituntun oleh KASIH, kedalaman rohaninya menuntunnya untuk mencintai siapapun (sesama dan musuh) dengan aksi nyata dan bijaksana.

Sebaliknya, mereka yang tidak dituntun oleh kasih, oleh Allah Tritunggal, hidupnya dikuasai roh jahat dan kebencian. Akibatnya, hal yang baikpun dianggap salah. Hal yang salah dianggap kebenaran. Saudara sebangsa dikafir-kafirkan! Merasa terganggu karena ada umat beribadat kepada Allah. Tak heran jika orang yang dihantui roh jahat dan kedagingan manusiawi, menganggap perayaan Natal sebagai tindakan yang tidak beriman kepada Allah. Saudara-saudari, dalam diri kita telah diberi pengetahuan oleh sang Khalik. Maka, orang tak beragamapun, termasuk nenek moyang kita zaman dulu, memiliki ketajaman nurani untuk mencintai dan memelihara martabat manusia. Kita yang beragama kini, mestinya, lebih mencintai manusia, kreatif merajut persaudaraan.  Jika kitab agama kita sungguh diilhami oleh Roh Kudus, sungguh Sabda Allah, maka buahnya sesuai kehendak Allah, ya itu damai, pengampunan, persaudaraan, dst. Bukan kebencian!

Saudara-Saudari terkasih, dalam bacaan Injil, kita sadar bahwa Yesus lahir sangat sederhana, di tempat yang dapat dijangkau oleh masyarakat umum. Ini simbol kerendahan hati Allah mendekati manusia. Tuhan Yesus tidak lahir di istana Raja yang dijaga ketat oleh tentara, yang hanya dapat dikunjungi oleh orang-orang tertentu, yang punya jabatan. Tidak! Yesus lahir di “stasiun” di mana rombongan manusia tidur bersama kuda-kuda mereka! Yesus lahir saat Yusuf dan Maria sedang mengikuti perintah Kaisar Agustus agar semua warga mendaftarkan dirinya di kampung halaman leluhur mereka. Kampung leluhur Yusuf adalah Betlehem. Maka Yusuf  berangkat dari Nazaret ke Betlehem (Yudea) untuk mendaftarkan diri bersama Maria tunangannya. Anda sudah bisa menebak, saat itu kampung Betlehem pasti dipenuhi banyak orang. Tempat penginapan penuh. Maka ketika Maria melahirkan, tak ada lagi tempat penginapan. Maria akhirnya melahirkan di tempat di mana berkumpul banyak orang yang membawa serta kuda dan hewan tunggangan mereka. Wajarlah jika di situ ada palungan tempat makan bagi kuda tunggangan. Jadi, bayangannya begini: Yesus lahir di tempat istirahat, semacam stasiun titik kumpul rombongan karavan.

Apakah Yesus “kebetulan” lahir saat Yusuf dan Maria mengikuti perintah Kaisar Agustus? Tentu tidak. Ada rencana Ilahi di dalamnya. Yesus lahir di Betlehem, di tempat umum, agar Yesus dapat menyapa dan disapa oleh sebanyak mungkin orang. Tidak heran jika akhirnya para gembala tidak sulit menemukan tempat kelahiran Yesus dan menyembah sang Bayi (Yesus) dengan persembahan berharga zaman itu: emas, kemenyan dan mur.

Peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem hendak menunjukkan bahwa Yesus lahir untuk semua orang, Ia mau bersahabat kepada siapapun. Pesan semacam ini yang ditegaskan juga dalam tema Pesan Natal bersama KWI dan KWI: “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang”  (bdk. Yohanes 15:14-15). Yesus yang lahir adalah Raja Damai. Ia datang ke dunia bukan untuk menghakimi manusia, tetapi merobohkan tembok pemisah, yakni perseteruan (Ef 2: 14) yang memecah belah umat manusia.

Saudara-Saudari terkasih, kita telah menerima Kristus saat kita dibaptis. Saat itu pula kita diangkat menjadi anak-anak Allah, kita disaturagakan dengan Kristus. Tapi apakah kita telah berjuang mati-matian menghidupi ajaran Kristus? Apakah kita setia sebagai pengikut Kristus? Apakah kita telah menjadi juru damai?

Jika hari ini kita datang ke sini merayakan kelahiran Yesus Kristus, sebenarnya kita juga sedang bersyukur bahwa kita telah berjuang setia mengikuti pesan yang dibawa Yesus: juru damai, berlaku bijaksana, kita mau bersahabat kepada semua orang, kita umat yang tidak tunduk pada kefasikan dan keinginan daging. Jika hari ini kita merayakan kelahiran Yesus dari keluarga kudus Yusuf dan Maria, sebenarnya para keluarga Kristiani sedang merayakan bahwa sosok yang mempersatukan mereka sehingga setia satu sama lain adalah Yesus sendiri.

Jika hari ini, kaum muda-mudi dan anak-anak merayakan kelahiran Yesus, sesungguhnya kalian sedang bersyukur bahwa Anda sudah dididik oleh Papa-Mama yang berjuang keras agar kalian bertumbuh dalam iman, terbiasa mengampuni dan berdamai karena kalian pun mengalami dan melihat Papa-Mama Anda saling memaafkan!

Tapi, jika keluarga yang hadir di sini sedang mengalami kesulitan hidup, anak-anak mengalami Papa-Mama yang broken home, kalian sedang disapa oleh Yesus yang mengalami penderitaan jauh lebih besar. Yesus disalib, bukan karena Ia berdosa, tetapi karena Ia mau menebus dosa umatNya. Ingatlah, betapapun beratnya derita yang ditanggung Yesus, Ia tetap setia kepada BapaNya. Kitapun hendaknya demikian. Betapapun getirnya hidup, betapa menderitanya batin kita, betapa menganganya luka batin kita, kita diundang untuk tetap setia pada iman akan Yesus itu. Yesus yang lahir itu Immanuel, Allah menyertai kita. Selamat Natal. Tuhan Yesus menyartai kita!

Bandung, 23 Desember 2019
Homili Malam Natal, 24 Desember 2019
Oleh Pastor Postinus Gulö, OSC

Tulisan ini telah dimuat dalam https://postinus.wordpress.com/2019/12/23/homili-malam-natal-24-desember-2019/

Sudah Misa Vigili Natal 24 Desember, Apakah 25 Desember Perlu Misa Lagi?

0

Pada hari Minggu dan pada hari raya wajib lain umat beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Misa; selain itu, hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan urusan-urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga. – Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1247.

Perintah untuk ambil bagian dalam Misa dipenuhi oleh orang yang menghadiri Misa di manapun Misa itu dirayakan menurut ritus katolik, entah pada hari raya itu sendiri atau pada sore hari sebelumnya. – KHK 1248.1.

“Di Kitab Hukum Kanonik (KHK) tertulis demikian, lantas apakah saya harus tetap ikut misa keesokannya? Atau hanya ikut besok, dan malam paskah/natalnya tidak perlu?”

Ada perbedaan TPE dan bacaan. Baik malam paskah ataupun natal, hal ini perlu dicermati. Upacara pada Ekaristi seperti “Upacara Cahaya” pada paskah atau “Maklumat Kelahiran Yesus” pada natal, yang hanya ada pada vigili.

Baca Juga:

Vigili sendiri merujuk kepada tradisi berjaga-jaga pada malam sebelum sebuah perayaan besar. Sinode Seligenstadt di tahun 1022 menyebut vigili pada malam Natal, Epifani, pesta para rasul, pengangkatan Maria ke surga, dll.

Mengikuti vigili sangat direkomendasikan oleh St. Agustinus dan St. Jerome (Pleithner, dalam “Aeltere Geschichte des Breveiergebetes”, hal 223)

Mengikuti vigili natal (misa malam natal), berarti kita ikut berjaga-jaga, bersiap diri menyambut kedatangan Sang Mesias. Zaman dulu, orang-orang mengikuti vigili dengan berdoa, mendengar kotbah, membaca bacaan ofisi, dan berpuasa. Barulah pada hari H-nya (natal atau paskah dalam konteks ini), mereka keluar rumah dan menunggu pelayanan dari para gembala.

Mudahnya, malam natal itu Yesus belum lahir, tapi akan lahir sebentar lagi. Malam paskah, Yesus belum bangkit, tapi Yesus akan bangkit sebentar lagi. Bilamana misa malam natal diadakan pada pukul 00:00 (tanggal 25) dengan bacaan yang sama di hari natal, baru dianggap ikut keduanya. Jadi, ikutlah misa malam natal, demikian keesokannya. Semua untuk Tuhan.*

Sumber: disadur dari catholicnewsagency.com

Seorang Perempuan Muda Mengandung dan akan Melahirkan Seorang Anak Laki-laki

0
Kristus datang ke dunia, hidup, berkarya, menderita, sengsara, wafat, dan bangkit untuk menebus dosa kita agar kita memperoleh hidup yang kekal.

Seorang Perempuan Muda Mengandung dan akan Melahirkan Seorang Anak Laki-laki: Renungan Masa Adven, JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 7:10-14; Bacaan II: Rm. 1:1-7; Injil: Mat. 1:18-24

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Natal sudah semakin dekat. Tinggal menghitung hari, kita akan tiba pada perayaan puncak Hari Raya Natal. Makin dekat dengan Natal, klue yang disampaikan oleh Nabi Yesaya tentang kelahiran Yesus, makin jelas.

Kalau pada hari-hari sebelumnya kita mendengar Nabi Yesaya berbicara tentang Betlehem sebagai tempat lahirnya Sang Mesias, serta menyebut Daud sebagai leluhur-Nya; hari ini ia mempertegas lagi. Dia bilang: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Jadi, secara lengkap Nabi Yesaya memberi tahu kita bahwa Sang Imanuel yang kita tunggu-tunggu selama masa Adven ini akan lahir sebagai seorang anak laki-laki, di Betlehem, dalam garis keturunan Daud, dari seorang perempuan muda.

Kemudian hari, Nubuat Yesaya ini benar-benar terjadi. Nabi Yesaya memang tidak menyebut siapa nama perempuan muda itu; tapi Injil Matius memberi tahu kita bahwa nama perempuan muda itu adalah Maria atau yang kita kenal dengan sebutan ‘Bunda Maria’. Bunda Maria melahirkan seorang anak laki-laki pada saat usianya masih sangat muda.

Jarak antara zaman Yesaya dengan zaman Maria sangatlah jauh. Tapi, jauh sebelum Maria lahir, Yesaya sudah bernubuat tentangnya. Ini menunjukkan bahwa Allah  sangat konsisten terhadap rencana-Nya. Melalui Nabi Yesaya, Ia menyampaikan rencana-Nya.

Bunda Maria tidak pernah tahu apa rencana Allah atas hidupnya. Demikian juga Yusuf, tunangannya. Ia juga tidak pernah tahu apa yang direncanakan Allah atas hidupnya. Kita dapat membayangkan kebingungan dan kegelisahan Yusuf. Gadis yang sangat dicintai dan dihormatinya mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri.

Makanya, ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria mengandung, ia diam-diam ingin menceraikannya. Dan reaksi Yusuf ini sangatlah normal. Bisa kita bayangkan, orang sedang berpacaran, tiba-tiba si perempuan bilang, “Bang, jangan kaget ya, saya sudah mengandung dari Roh Kudus”. Apakah laki-laki akan langsung percaya? Tentu saja tidak. Begitu juga Yusuf.

Kitab Suci memang menjelaskan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Keterangan ini diberitahukan kepada kita, tetapi bukan kepada Yusuf. Makanya, daripada ribut, mumpung masih tunangan, Yusuf mau pergi saja secara diam-diam. Tapi, ternyata, Allah mengutus malaikat-Nya untuk mendatangi Yusuf dalam mimpi dan menjelaskan semua yang terjadi.

Malaikat itu berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20). Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf pun berbuat seperti yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.

Dalam kehidupan kita, Tuhan juga punya rencana. Di balik semua peristiwa hidup yang kita alami, tersembunyi rencana Tuhan. Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah atas hidup tiap-tiap orang. Tapi, kita tidak pernah tahu apa isi dari rencana Tuhan itu.

Supaya kita tahu rencana-Nya, Tuhan memberi kita tanda-tanda. Tanda itu bisa gamblang dan besar, bisa juga kecil dan sederhana. Hanya saja ada orang yang bisa membacanya, ada yang tidak. Kadang tanda dari Tuhan tidak bisa kita baca karena mata kita disilaukan oleh banyak hal. Bahkan orang yang tulus hati seperti Yusuf pun harus mendapat penerangan dari atas untuk bisa mengetahui dan mengimani tanda-tanda dari Tuhan itu.

Kedatangan Allah ke dunia merupakan rencana yang paling indah dari semua rencana-Nya. Peristiwa Natal merupakan tanda besar yang dibuat Allah atas hidup kita. Peristiwa ini berada di luar dugaan dan jangkauan pemikiran kita sebagai manusia. Maka, sambil kita mempersiapkan diri menyambut kelahiran-Nya, kita memohon bantuan Roh Kudus untuk membantu kita memahami peristiwa yang agung dan luhur ini.

Tidak sedikit orang bertanya: “Bagaimana mungkin Allah menjadi manusia?” Bagi si penanya, Yesus tidak lebih dari seorang nabi, sama seperti nabi-nabi pada umumnya. Hal yang mungkin tidak diketahui atau sengaja dilupakan oleh si penanya  adalah bahwa kelahiran Yesus sudah dinubuatkan oleh para nabi.

Yesaya, adalah nabi yang paling jelas dan terang-benderang menubuatkan tentang kelahiran Yesus. Dalam nubuatnya, ia berkata: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14).

Bagi kita, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Dia bisa menjadi apa saja karena Dia Mahakuasa. Ia rela menjelma menjadi manusia, karena Ia mengasihi kita. Tentu saja Ia bisa turun begitu saja dari langit, tetapi jika itu yang terjadi, maka barangkali semua orang akan lari terbirit-birit karena ketakutan.

Maka, lahir sebagai manusia merupakan cara yang diambil oleh Allah untuk masuk ke dalam dunia. Ia tidak turun begitu saja dari langit, tetapi Ia masuk lewat suatu cara yang biasa seperti yang dilewati oleh manusia pada umumnya; supaya manusia dapat menerima dengan baik kehadiran-Nya.

Itulah Natal. Natal adalah peristiwa di mana Allah menjelma menjadi manusia. Kita sudah makin dekat dengan perayaan itu. Maka, baiklah kita matangkan segala persiapan kita.

Kiranya dengan segala persiapan yang kita lakukan selama beberapa pekan ini, ditambah dengan pengetahuan secukupnya tentang bagaimana Allah menjadi manusia, kita dapat memaknai perayaan Natal kita tahun ini. Amin.

Beberapa Contoh Kerja Sama Ekumenis Katolik-Protestan  di Indonesia

0
Sumber: Google.com

Tulisan ini lanjutan tulisan sebelumnya (Konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus Menjiwai Kerja Sama Ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia). Pada bagian ini, saya secara khusus menguraikan beberapa contoh kerja ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia. Selamat membaca! Tuhan memberkati!

 

Bagian ini memaparkan secara khusus beberapa bentuk kerja sama ekumenis antara Gereja Katolik dengan Gereja-Gereja Protestan di Indonesia.[1] Menurut penulis, kerja sama ekumenis ini dilandasi oleh nasihat bahkan perintah Surat Efesus tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Kerja sama ekumenis tersebut dijiwai oleh konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus. Pendapat ini juga dikuatkan oleh kenyataan bahwa dalam dokumen penting ekumenisme, Unitatis Redintegratio (Katolik) dan Lima Dokumen Keesaan Gereja (Protestan), dikutip teks-teks Efesus yang mengandung konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus.[2] Hakekat Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah kesatuan dengan Kristus dan kesatuan dengan sesama pengikut Kristus.

Pertama, membuat pesan atau imbauan untuk  kehidupan umat kristiani di Indonesia.[3] Pesan-pesan tersebut, antara lain: setiap tahun PGI dan KWI mengeluarkan pesan Natal bersama untuk semua umat beriman kristiani. Setiap tahun  selalu ada tema baru  yang kontekstual dan berguna untuk hidup umat kristiani. Tema ini umumnya menjadi bahan diskusi atau renungan, bahkan tema perayaan liturgis Natal bagi umat kristiani di seluruh Indonesia. Selain itu,KWI dan PGI merefleksikan tentang kehidupan negara dan merumuskan tanggapan mereka  terhadap situasi aktual yang dihadapi bangsa Indonesia, misalnya, situasi seputar Pemilihan Umum (Pemilu).[4]

Kedua, tatkala membahas Rancangan Undang-Undang Perkawinan tahun 1973, mereka dengan tegas memberikan masukan kepada pemerintah berkaitan dengan hal-hal yang bertentangan dengan UUD 1945.[5] Dalam undang-undang itu ditegaskan bahwa perkawinan itu sah ketika terdaftar di kantor pemerintahan dan perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk perkawinan. Beberapa pemimpin muslim menentang dengan keras Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut. Mereka menganggap bahwa di balik UU itu ada pengaruh orang-orang Kristen. Mereka mendesak  pemerintah agar merevisi UU yang bernuansa sekular ini sehingga perkawinan diatur oleh hukum agama. Terhadap reaksi ini, PGI[6] dan MAWI mengeluarkan dokumen yang disebut, “Pokok-pokok Pemikiran DGI dan MAWI” untuk mengingatkan pemerintah agar hati-hati dalam membuat Undang-undang Perkawinan sehingga tidak bertentangan dengan UUD 1945, khususnya pasal 29 ayat 2 yang menjadi landasan kebebasan beragama.

Ketiga,  memberikan tanggapan terhadap keputusan Menteri Agama, nomor 70 dan 77, 1 dan 15 Agustus 1978, yang pada 2 Januari 1979 menjadi sebuah Keputusan Bersama (No. 1/1979) dari Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri  tentang aturan yang mengikat penyebaran agama dan bantuan asing untuk lembaga religius di Indonesia.[7]  PGI dan MAWI meminta pemerintah untuk membatalkan peraturan itu dengan tiga alasan: bertentangan dengan kebebasan beragama yang dijamin dalam UUD 1945, pembagian wilayah di Indonesia berdasarkan agama itu bertentangan dengan dasar negara Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan; dan Gereja sebagai institusi religius memiliki dimensi universal.

Keempat, kerja sama dalam bidang penerjemahan, penerbitan dan distribusi Alkitab.[8]Menurut Martin Harun, kerja sama di bidang ini paling intensif dilakukan. Kerja sama ini bermula pada tahun 1968 di Cipayung,  ketika Gereja Katolik yang diwakili oleh PWI Ekumene (Mgr. N. Geise dan P. G. Zegwaard) dan Lembaga Biblika (P. C. Groenen) mengusulkan kerja sama dalam penerjemahan Alkitab kepada Lembaga Alkitab Indonesia (Protestan).  Tawaran ini disambut baik oleh pihak Protestan. Rupanya kerja sama ini membuat Gereja Katolik di Indonesia menjadi pelopor  kerja sama ekumenis dalam penerjemahan Alkitab sebagaimana dianjurkan oleh Konsili Vatikan II.[9]  Kerja sama ini berlangsung dengan baik hingga saat ini.

Kelima, Pembentukan Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI). Pada bulan Oktober 2011, di Manado diselenggarakan kegiatan yang melibatkan banyak umat kristiani dari seluruh dunia.[10] Acara tersebut diberi tema, “Global Christian Forum.” Perayaan ini dihadiri oleh seluruh lembaga-lembaga Gereja sedunia, baik dari World Council of Churches (WCC), Gereja Katolik (utusan dari Vatikan), World Evangelical Alliance, Pentecostal World Fellowship, Gereja Ortodoks (Gereja Ortodoks Koptik, Ortodoks Rusia, Ortodoks Syria) dan Gereja Bala Keselamatan. Dengan semangat Global Christian Forum, yang merupakan kemitraan Lembaga-lembaga Gereja sedunia, dibentuklah Indonesia Christian Forum atau Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI).[11]Deklarasi Indonesia Christian Forum ditandatangani oleh pimpinan PGI, KWI, PGLII (Persekutuan Gereja Lembaga Injili Indonesia), PGPI (Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia), Gereja Bala Keselamatan, Persekutuan Baptis Indonesia dan Gereja Ortodoks Indonesia. FUKRI merupakan forum kerja sama umat beriman kristiani di Indonesia. Salah satu contoh kerja sama tersebut adalah diskusi tentang kaderisasi kepemimpinan dalam Gereja yang diselenggarakan pada 2 september 2013.[12]

Keenam, Perayaan Kesatuan 17-18 Mei 2013. Pada tahun 2013, Sidang Raya WCC (World Council of Churches)  ke-10 digelar di Busan, Korea Selatan, pada 31 Oktober hingga 8 November 2013.[13] Sebelum sidang ini,  WCC memilih Indonesia sebagai penyelenggara Prasidang Raya. Prasidang ini disebut Perayaan Kesatuan (Celebration of Unity)  yang digelar di Jakarta, 17-18 Mei 2013. Pendeta Nus Reimas (ketua Panitia Celebration of Unity) menggarisbawahibahwa dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Prasidang Raya WCC tidak terlepas dari kesatuan dan persatuan gereja yang telah terjalin erat di antara sinode-sinode dan aras gereja nasional.[14] Gereja Katolik juga berpartisipasi dalam Perayaan Kesatuan ini.[15]

Dasar  biblis perayaan ini diambil dari doa  Yesus dalam Yoh 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”[16]Dengan demikian, Perayaan Kesatuan yang dilaksanakan dengan meriah ini merupakan wujud nyata kerinduan umat kristiani di Indonesia untuk bersatu sebagai murid-murid Kristus. Setiap gereja berusaha menghargai perbedaan ajaran dan aturan dengan gereja atau aliran yang lain. Yang ditonjolkan adalah kesatuan Gereja sebagai orang-orang yang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat.

Ketujuh, kerja sama ekumenis “akar rumput.”Di kalangan umat beriman kristiani biasa (bukan pimpinan), kerja sama ekumenis yang sering dilakukan, antara lain,Perayaan Natal dan Tahun Bersama,[17]Ibadat Ekumenis di Perusahaan/kantor, Ibadat Ekumenis di Lingkungan atau kelompok basis.[18]Kegiatan-kegiatan ini merupakan wujud kesadaran umat Katolik dan Protestan di Indonesia untuk membangun kesatuan sebagai Tubuh Kristus. Persatuan yang mendalam dengan Kristus Sang Kepala mendorong mereka untuk bersatu dengan jemaat yang lain.

Berdasarkan beberapa  contoh kerja sama ekumenis Katolik-Protestan di atas, tampak bahwa kesadaran akan pentingnya kesatuan sebagai Tubuh Kristus sudah bertumbuh dengan baik di Indonesia.[19] Kerja sama ekumenis ini dijiwai oleh konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus. Tetapi, kerja sama ekumenis ini pertama-tama mengungkapkan  kesatuan atau kebersamaan dalam tindakan, bukan kesatuan dalam tata aturan, liturgi dan  dogma atau ajaran.[20] Hal ini bisa dipahami sebab mencari kesatuan dalam liturgi, dogma  atau aneka aturan lainnya sering menemukan jalan buntu. Masing-masing gereja mempertahankan apa yang benar menurutnya. Dengan demikian, kesatuan dalam kesaksian dan karya pelayanan lebih mudah diterima, sambil tetap menghargai perbedaan masing-masing gereja.[21]

Referensi:

[1]Untuk Gereja Katolik di Indonesia, urusan ekumene menjadi tanggung jawab Komisi HubunganAntaragama dan Kerukunan (Komisi HAK pada awalnya bernama PWI Ekumene). Bdk. Martin Harun, Op. Cit.,hal. 91.

[2]Tentang hal ini, lihat lagi bagian sebelumnya (Poin 4.5.)

[3]Bdk. Jan Sihar Aritonang and Karel Steenbrink (eds.), Op. Cit., hal. 839-840.

[4]Bdk.Forum Spiritual, DiskusiKristen danSeputarGereja,  “SeruanPGI-KWI: UmatKristianiTetapTenang”, dalam http://old.jawaban.com/index.php/mobile/forum/detail/id_news, diakses 10 Februari 2015. Seruan ini dikeluarkan oleh KWI dan PGI  berkaitan dengan perbedaan pendapat tentang penghitungan cepat hasil Pilpres, bulan Juli 2014 yang lalu. Umat kristiani diminta untuk menanggapi situasi ini dengan tenang sambil menanti penghitungan resmi dari KPU.

[5]Bdk. Jan Sihar Aritonang and Karel Steenbrink (eds.), Loc. Cit.

[6]Waktu itu masih disebut DGI (Dewan Gereja-Gereja di Indonesia)

[7]Ibid.

[8]Bdk. Martin Harun,Op. Cit., hal. 92.

[9] Bdk. Dei Verbum, art. 22

[10] Bdk. http://www.reachoutfoundation.com/celebration_of_unity.html, diakses 24 Januari 2015

[11]Ibid.

[12]Yang hadir pada acara tersebut berjumlah sekitar 200 orang. Nara sumber diskusi adalah Ketua PGI (Pdt. Andreas A. Yewangoe), sekretaris eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (Romo Eddy Purwanto) dan Pdt. Nus Reimas, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII). Bdk. http://indonesia.ucanews.com/2013/09/03/kwi-dan-pgi-serahkan-kaderisasi- kepemimpinan-kepada-organisasi-awam/, diakses 24 Januari 2015

[13]Bdk. http://www.beritasatu.com/nasional/114376-indonesia-tuan-rumah-prasidang-raya-dewan-gereja-dunia.html, diakses 18 Januari 2015

[14]Acara ini berlangsung selama dua hari. Hari pertama mengumpulkan 2.500 pimpinan denominasi Gereja dari tujuh Aras Gereja Nasional yakni KWI, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI),  Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja Lembaga Injili Indonesia (PGLII),  Persekutuan Baptis Indonesia, Gereja Bala Keselamatan, Gereja Ortodoks, dan Gereja Advent. Pada hari kedua, lebih dari 10.000 umat dari Gereja-gereja hadir dalam acara doa bersama yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kehadiran banyak umat ini mau menunjukkan bahwa perayaan kesatuan ini bukan hanya acara para pemimpin Gereja, tetapi juga seluruh umat beriman kristiani yang  merindukan terwujudnya kesatuan sebagai pengikut Kristus.Bdk.http://indonesia.ucanews.com/2013/06/11/umat-kristiani-indonesia-butuh-proses-untuk-mencapai-kesatuan/, diakses 18 Januari 2015

[15]Menurut Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI), gerakan ekumene di Indonesia saat ini sudah berkembang. Akan tetapi, perkembangan ini  belum sungguh-sungguh menyentuh hal-hal yang lebih substantif, misalnya kerja sama ekumenis dalam menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, HAM, konstitusi dan hukum, kekerasan, dan hal-hal yang terkait dengan kehidupan Gereja dan masyarakat.  Gerakan ekumene  di Indonesia semakin bermakna kalau umat kristiani ikut memberikan kontribusi untuk kemajuan Gereja dan bangsa. Tanggapan ini diberikan olehnya setelah “Perayaan Kesatuan” di Jakarta (17-18 Mei 2013) dan juga setelah melihat perkembangan ekumenisme di Indonesia hingga  saat ini.Bdk.http://indonesia.ucanews.com/2013/06/11/umat-kristiani-indonesia-butuh-proses-untuk-mencapai-kesatuan/, diakses 18 Januari 2015

[16]Bdk. http://www.reachoutfoundation.com/celebrationofunity.html, diakses 19 Januari 2015

[17]Bdk.http://medan.tribunnews.com/2014/12/26/diperkirakan-40-ribu-jemaat-akan-hadiri-perayaan-natal-oikumene-sumut, diakses 17 Januari 2015

[18]Bdk.Martin Harun,Loc. Cit. Sekadar contoh, di Joyo Grand (tempat tinggal penulis), ada sebuah kelompok ekumenis yang mengadakan doa bersama satu kali sebulan. Kelompok ini terdiri dari umat dari  beberapa denominasi Protestan dan  beberapa umat Gereja Katolik.

[19] Bdk. Mgr. Anicetus B. Sinaga, “Teologi Communio dan Gereja Katolik Indonesia,” dalam Eddy Kristiyanto (ed.), Semakin Mengindonesia, 50 Tahun Hieararki, Yogyakarta: Kanisius, 2011, hal. 98.

[20]Bdk. Zakaria J. Ngelow, Op. Cit., hal. 54.

[21] Bdk. Iman Santoso, “Gereja-gereja di Indonesia dan Misi: Hubungan dan Kerjasama dalam Pelayanan dan Kesaksian,”  dalam, M. Pattiasina dan Weinata Sairin (eds.), Gerakan  Oikoumene: Tegar Mekar di Bumi Pancasila, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1993, hal. 134-135.

Konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus Menjiwai Kerja Sama Ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia

0
Sumber: Google.com

Tulisan ini masih lanjutan tulisan sebelumnya (Lahirnya Gerakan Ekumene di Indonesia). Pada bagian ini saya menjelaskan tentang konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus yang menjiwai kerja sama ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia. Selamat membaca! Tuhan memberkati!

 

Di Indonesia, Gereja Katolik hidup bersama dengan umat kristiani yang berasal dari gereja-gereja Protestan. Gereja-Gereja Protestan ini menyebar di setiap daerah dan bertumbuh dengan ciri-cirinya masing-masing. Walaupun  berjumlah banyak (lebih dari 300 denominasi)[1] dan menyebar di setiap daerah, gereja-gereja ini mau bekerja sama dengan gereja-gereja lain. Hal ini terlihat ketika gereja-gereja ini bergabung dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). PGI adalah wadah ekumenisme bagi Gereja-Gereja Protestan. Dengan demikian, ketika mereka menggabungkan diri dengan PGI, mereka mau menjalin kerja sama ekumenis dengan jemaat-jemaat dari gereja-gereja yang lain.

Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik di Indonesia menjalin kerja sama  ekumenis dengan  gereja-gereja Protestan. Kerja sama tersebut, antara lain, kerja sama dalam penerjemahan Kitab Suci, perayaan Natal bersama, membuat pesan Natal bersama setiap tahun (pimpinan KWI dan PGI) dan doa bersama di lingkungan atau kantor dengan tujuan tertentu.[2] Kerja sama ini  disebut kerja sama ekumenis sebab dilandasi oleh kesatuan  iman akan Kristus sebagai Juru Selamat yang menghendaki para pengikut-Nya bersatu (Yoh. 17:21).[3]

Dekret Ekumenisme,  Unitatis Redintegratio menjelaskan dengan baik  tentang kerja sama di antara para pengikut Kristus.

“Kerja sama antara semua orang kristen secara cemerlang mengungkapkan persatuan yang sudah ada antara mereka, dan lebih jelas menampilkan wajah Kristus Sang Hamba. Kerja sama itu, yang sudah dimulai dibanyak negara, hendaknya makin dipererat, terutama di daerah-daerah, yang tengah mengalami perkembangan sosial dan teknologi, dalam usaha menghargai sepantasnya martabat pribadi manusia, dalam memajukan perdamaian, dalam menerapkan Injil pada situasi kemasyarakatan, dalam mengembangkan ilmu-pengetahuan maupun kesenian dalam suasana kristen, dalam menggunakan segala macam usaha untuk menanggulangi penderitaan-penderitaan zaman sekarang, misalnya, kelaparan dan bencana-bencana, buta aksara dan kemelaratan, kekurangan akan perumahan, dan pembagian harta benda yang tidak adil. Berkat kerja sama itu semua orang yang beriman akan Kristus dengan mudah dapat belajar, sebagaimana orang-orang dapat lebih saling mengenal dan saling menghargai, dan bagaimana membuka jalan menuju kesatuan umat kristen.”[4]

Kutipan ini menegaskan bahwa kerja sama yang terjalin di antara umat kristiani merupakan bentuk pewartaan kepada dunia bahwa Kristus telah mempersatukan para pengikut-Nya. Kerja sama yang dilandaskan pada kesatuan iman memupuk semangat persekutuan dalam persaudaraan sekaligus menampakkan Kristus sendiri kepada dunia.[5]

Kerja sama yang tercipta di antara para pengikut Kristus, secara khusus antara Gereja Katolik dan Protestan merupakan buah doa Yesus sebelum penderitaan-Nya. Ia berdoa kepada Bapa-Nya agar para pengikut-Nya bersatu (Yoh. 17:21). Kerja sama ekumenis merupakan bukti bahwa para pengikut Kristus mulai bersatu, walaupun belum sempurna karena hal-hal tertentu (misalnya, perbedaan aturan, tata ibadat dan ajaran tertentu). Menurut penulis, doa Yesus Sang Kepala Gereja ini tak terpisahkan dari konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus yang dimaksudkan oleh pengarang Surat Efesus.[6]Kesimpulan ini dibuat setelah penulis memahami konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam Surat Efesus. Konsep ini menekankan persatuan antara Gereja dan Kristus dan juga kesatuan di antara sesama umat yang beriman kepada Kristus. Persatuan seperti inilah yang diharapkan oleh Yesus dalam doa-Nya sebelum mengalami penderitaan.

Di pihak lain, dalam beberapa dokumen tentang ekumenisme, penulis  tidak menemukan pernyataan eksplisit bahwa konsep Tubuh Kristus dalam surat Efesus adalah landasan biblis kerja sama ekumenis bagi para pengikut Kristus. Tetapi, beberapa teks Efesus yang berhubungan dengan konsep Tubuh Kristus dikutip dalam dekret tentang ekumenisme, Unitatis Redintegratio (UR). Artikel kedua dekret tersebut mengutip Ef. 4:4-5; 4:12; 2:17-18.

Ketika Tuhan Yesus telah ditinggikan di salib dan dimuliakan, Ia mencurahkan Roh yang dijanjikan-Nya. Melalui Roh itulah Ia memanggil dan menghimpun umat Perjanjian Baru, yakni Gereja, dalam kesatuan iman, harapan dan cinta kasih, menurut ajaran Rasul: “Satu Tubuh dan satu Roh, seperti kalian telah dipanggil dalam satu harapan panggilan kalian. Satu Tuhan, satu iman, satu babtis(Ef 4:4-5). Sebab “barang siapa telah dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus …. Sebab kalian semua ialah satu dalam Kristus Yesus (Gal 3:27-28). Roh Kudus, yang tinggal dihati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu, dan sedemikian erat menghimpun mereka sekalian dalam Kristus, sehingga menjadi Prinsip kesatuan Gereja. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah, untuk memperlengkapi para kudus bagi pekerjaan pelayanan, demi pembangunan Tubuh Kristus (Ef 4:12)…. Demikianlah Gereja, kawanan tunggal Allah, bagaikan panji-panji yang dinaikkan bagi bangsa-bangsa, sambil melayani Injil kedamaian bagi segenap umat manusia (Ef. 2:17-18), berziarah dalam harapan menuju cita-cita tanah air di Surga. Itulah misteri kudus kesatuan Gereja, dalam Kristus dan dengan perantaraan Kristus, disertai oleh Roh Kudus yang mengerjakan kemacam-ragaman kurnia-kurnia. Pola dan Prinsip terluhur misteri misteri itu ialah kesatuan Allah Tri Tunggal dalam tiga Pribadi Bapa, Putera dan Roh Kudus [7]

Pada artikel ketujuh, dekret Unitatis Redintegratio mengutip juga teks Ef. 4:1-3.

Tidak ada ekumenisme sejati tanpa pertobatan batin. Sebab dari pembaharuan hati, dari ingkar diri dan dari kelimpahan cinta kasih yang sungguh ikhlaslah kerinduan akan kesatuan timbul dan makin menjadi masak. Maka hendaklah dari Roh Ilahi kita mohon rahmat penyangkalan diri yang tulus, kerendahan hati dan sikap lemah lembut dalam memberi pelayanan, begitu pula kemurahan hati dalam persaudaraan terhadap sesama. “Kunasihatkan kepada kalian, demikianlah Rasul para bangsa berpesan, “aku yang dipenjarakan dalam Tuhan, supaya menempuh cara hidup yang pantas menurut panggilan kalian. Hendaklah selalu bersikap rendah hati dan lemah-lembut. Hendaklah kalian dengan sabar saling membantu dalam cinta kasih dan sungguh berusaha memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai (Ef 4:1-3).” Dorongan itu terutama ditujukan kepada mereka, yang telah ditahbiskan dengan maksud, agar tetap berlangsunglah perutusan Kristus, “yang datang tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat 20:28).”[8]

Efesus 2:17-18; 4:1-3; 4:4-5, 4:12, yang dikutip pada dua artikel di atas menunjukkan bahwa teks-teks ini menjadi landasan biblis yang menjiwai ekumenisme yang dikembangkan di dalam Gereja Katolik.  Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa kerja sama ekumenis yang dibangun di antara para pengikut Kristus merupakan perintah Kitab Suci.

Selain dekret Unitatis Redintegratio(Gereja Katolik), di Indonesia ada juga Lima Dokumen Keesaan Gereja (Gereja-Gereja Protestan yang bergabung dalam PGI) yang mengutip beberapa teks Efesus.[9] Ketika menguraikan tentang Pokok-Pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB), secara khusus tema “membangun Gereja”, PGI mengutip teks Efesus 4:13-16.

Membangun Gereja pada dasarnya berarti memenuhi apa yang tertulis dalam Efesus 4:13-16, yaitu “pembangunan Tubuh Kristus  sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota, menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.[10]

       PGI menggarisbawahi juga bahwa pembangunan dan pertumbuhan Gereja itu pada dasarnya adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menggerakkan dan menuntun jemaat dalam proses pertumbuhan menuju Yesus Sang Kepala.[11]  Pertumbuhan Gereja itu tampak bukan hanya dalam hal jumlah pengikut, tetapi juga pertumbuhan kualitas iman jemaat. Mereka semakin menjadi orang percaya yang dewasa dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh “rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Ef. 4:14).

PGI juga mengutip  teks Efesus ketika membahas tentang Pemahaman Bersama Iman Kristen di Indonesia (PBIK), secara khusus tema Gereja. Roh Kudus menghimpun umat dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa ke dalam suatu persekutuan yaitu Gereja, di mana Kristus adalah Tuhan dan Kepala (Ef. 4:3-16).[12] Roh Kudus juga memberi kuasa kepada Gereja untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada dunia (bdk. Mat. 28:19-20). Ketika membahas tentang kesatuan dalam Gereja, PGI mengutip teks Ef. 4:4-6.

Allah menjadikan Gereja itu suatu persekutuan yang mengakui satu tubuh, satu Roh dalam ikatan damai sejahtera, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua. Dengan demikian, Gereja itu esa. Keesaan Gereja bukanlah keesaan menurut pola dunia, melainkan keesaan seperti keesaan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (Yoh. 17:21-22). Di dalam keesaan itu terdapat persekutuan kasih sebagai keluarga dan kawan sekerja Allah. Kristus menghendaki keesaan seperti itu yang bisa menjadi kesaksian kepada dunia agar dunia percaya bahwa Yesus Kristus telah diutus oleh Allah dan bahwa Gereja memperoleh mandat dari Kristus untuk memberitakan pendamaian dan penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus bagi dunia ini. Persekutuan itu mencakup semua orang percaya dari segala tempat dan sepanjang zaman, dan mencakup segala suku, bangsa, kaum dan bahasa, dan dari pelbagai lapisan sosial yang disatukan ke dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja.[13]

       Di dalam Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima di antara Gereja-Gereja Anggota PGI (PSMSM), dikutip lagi teks Ef. 4:3-6.

Dengan menerima baptisan dan pengakuan percaya, mereka dimasukkan ke dalam Gereja yang mengakui satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan, sehingga mereka semua adalah anggota dari keluarga Allah yang satu, sebagai satu tubuh dalam kebersamaan dan damai sejahtera (bdk. Ef. 4:3-6; 1Kor. 12:13-26), untuk menerima kasih dan keselamatan dari Allah dalam Kristus dan untuk melaksanakan panggilan dan misi bersama sebagai bagian dari orang percaya sedunia dan di Indonesia.[14]

Teks Efesus  dikutip lagi oleh PGI ketika membahas Tata Dasar PGI.

Bahwa sesungguhnya orang-orang percaya di semua tempat dan dari segala abad dan dari segala zaman mengakui dan menghayati adanya satu Gereja yang esa, kudus, am dan rasuli, seperti keesaan antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (bdk. Ef. 4:1-6; Yoh 17; Rm 12:4-5). Panggilan akan adanya satu Gereja yang esa, kudus, am dan rasuli  tadi, adalah juga suatu panggilan dan suruhan bagi semua gereja untuk mewujudkannya agar dunia percaya bahwa Allah Bapa telah mengutus Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus, menjadi Juru Selamat dunia.[15]

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, tampak bahwa teks Efesus, secara khusus Ef. 4:1-16 itu penting bagi PGI. Teks ini menjadi salah satu  fondasi biblis yang kokoh bagi pertumbuhan dan perkembangan PGI.  Teks-teks ini juga menjadi landasan bagi gereja-gereja anggota PGI dalam menjalin kerja sama dengan umat kristiani dari gereja lain di Indonesia.

Teks-teks Efesus yang  dikutip dalam dokumen Gereja Katolik dan juga oleh PGI yang berhubungan dengan konsep Tubuh Kristus  meyakinkan penulis bahwa teks-teks tersebut adalah landasan biblis  yang menjiwai setiap kerja sama ekumenis yang dilakukan. Baik Gereja Katolik maupun Protestan, sama-sama menyadari bahwa kerja sama ekumenis merupakan perintah Kitab Suci dan sesuai dengan kehendak Kristus (Yoh 17:21). Kerja sama ekumenis memupuk semangat kesatuan di antara para pengikut Kristus sekaligus bentuk pewartaan kepada dunia tentang Kristus yang diimani.[16] Atas dasar hal ini, penulis memberikan kesimpulan bahwa konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam Surat Efesus adalah landasan biblis ekumenisme, secara khusus kerja sama  ekumenis Katolik-Protestan. Melalui konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus, aspek vertikal dari kesatuan (kesatuan dengan Kristus) tak bisa dipisahkan dari aspek horisontalnya (kesatuan dengan sesama).

Di Indonesia, umat kristiani merupakan kelompok minoritas yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keanekaragaman suku, budaya, pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya menjadi tantangan bagi kerja sama ekumenis di Indonesia.Tantangan lain adalah terbentuknya denominasi yang berhubungan dengan suku-suku atau tempat tertentu, misalnya,Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).[18]Melihat keanekaragaman ini, tampak bahwa membangun kerja sama ekumenis di antara para pengikut Kristus  tidak mudah. Tetapi, Gereja Katolik dan Protestan semakin sadar akan pentingnya kesatuan. Kesadaran ini terbukti melalui beberapa bentuk kerja sama ekumenis yang mereka lakukan. Yang mempersatukan mereka adalah pemahaman bahwa berkat sakramen pembaptisan, mereka yang berasal dari latar belakang denominasi, daerah, suku dan budaya yang berbeda menjadi Tubuh Kristus.[19] Mereka sama-sama mengimani Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat yang menghendaki para pengikut-Nya bersatu. Persatuan mereka dengan Kristus Sang Kepala memiliki konsekuensi langsung, yakni bersatu dengan umat kristiani yang lain.Berdasarkan hal-haltersebut,  penulis berpendapat bahwa konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus  dalam Surat Efesus  ‘menjiwai’ setiap kerja sama ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia.

Menurut Aritonang, ciri khas ekumenisme di Indonesia adalah membangun “kesatuan dalam keanekaragaman.”[20]Pernyataan ini menegaskan bahwa sikap saling menghargai dan menerima perbedaan merupakan kunci keberhasilan kerja sama ekumenis di Indonesia.Kesadaran bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus menggerakkan umat kristiani dari pelbagai denominasi atau persekutuan untuk terlibat dalam usaha pemulihan kesatuan umat kristiani di Indonesia.

Frans Magnis-Susenojuga menyampaikan pendapat sekaligus renungannya tentang kerja sama ekumenis di Indonesia.

Melihat konteks keanekaragaman suku, budaya dan denominasi Protestan di Indonesia, kesatuan itu tidak dapat dipaksakan. Akan tetapi, dengan gembira kita melihat betapa kita sudah dekat satu sama lain. Memang antara Katolik dan Protestan masih ada pelbagai perbedaan, misalnya mengenai bentuk ibadat. Tetapi dalam inti iman, kita bersatu. Kita sama-sama percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Maka, marilah kita membangun hubungan yang penuh persaudaraan di antara kita. Tak ada ruang lagi untuk segala macam persaingan. Barangkali kekayaan Injil tidak dapat ditampung dalam batas-batas satu Gereja saja. Mari kita saling membantu untuk memahami perutusan kita dengan lebih mendalam agar kita dapat memberikan kesaksian bersama tentang keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang kita imani bersama.[21]

Inti iman kristiani yakni mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat menggerakkan hati umat kristiani untuk membangun kerja sama ekumenis sambil tetap menghargai perbedaan masing-masing. Pemahaman ini  juga hendak menegaskan bahwa fondasi kerja sama ekumenis di Indonesia bukan nasionalisme, tetapi kesadaran akan kesatuan kristiani sebagai Tubuh Kristus.[22]Kerja sama ekumenis juga tidak dilandaskan pada kenyataan bahwa pengikut Kristus di Indonesia menjadi kelompok minoritas  sehingga harus bersatu dalam menghadapi persoalan bangsa dan negara. Kerja sama ekumenis di Indonesia dilandaskan pada pemahaman bahwa berkat sakramen pembaptisan, orang menjadi anggota tubuh Kristus dan bersatu dengan jemaat yang lain untuk mewartakan Injil.

  1. Roh Kudus sebagai Penggerak Kerja Sama Ekumenis Katolik-Protestan

Teks Ef. 4:1-16 memaparkan tentang Roh sebagai penggerak Tubuh Kristus dalam pertumbuhan menuju Kristus sang Kepala. Roh Kudus menggerakkan umat kristiani untuk membangun kesatuan.[24] Dapat dikatakan pula bahwa Roh Kudus adalah penggerak kerja sama ekumenis Katolik-Protestan yang sedang bertumbuh di Indonesia saat ini. Keterbukaan Gereja Katolik untuk berdialog dan membangun kerja sama ekumenis dengan Gereja-Gereja Protestan dalam menerjemahkan Kitab Suci adalah karya Roh Kudus.[25] Kerja sama ini telah berlangsung sejak tahun 1968 dan hasilnya sungguh-sungguh dirasakan oleh umat beriman kristiani saat ini. Umat dengan mudah memperoleh Kitab Suci bahasa Indonesia yang mudah dipahami, bahkan ada juga Alkitab untuk anak-anak.[26]

Roh Kudus juga telah menggerakkan hati umat beriman untuk berdoa bersama pada saat-saat tertentu dan juga melakukan kegiatan sosial yang berguna untuk banyak orang. Selain itu, munculnya pemimpin-pemimpin Gereja baik dalam Gereja Katolik maupun Protestan yang diteladani banyak orang saat ini juga merupakan karya Roh Kudus. Singkatnya, Roh Kudus menjadi prinsip kesatuan yang selalu memberikan karunia-karunia kepada umat beriman dalam pertumbuhan Gereja sebagai Tubuh Kristus menuju Sang Kepala.

2. Kerja Sama Ekumenis Katolik-Protestan sebagai Wujud Ketaatan kepada Kristus Sang Kepala

Kekhasan Surat Efesus (dan Kolose) yang berhubungan dengan konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah posisi Kristus sebagai Kepala (Ef 1:22-23; 4:15-16; 5:22-32). Gereja hidup dari Kristus dan bertumbuh menuju Kristus. Persatuan mistik antara Gereja dan Kristus menggarisbawahi hal penting bahwa orang-orang yang telah dibaptis menjadi pengikut-Nya hidup dalam persekutuan seperti doa-Nya dalam Yohanes 17:21.[27] Dengan demikian, ketika para pengikut-Nya hidup dalam kesatuan, mereka taat pada kehendak Kristus, Kepala Gereja.

Akan tetapi, seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, Gereja mengalami perpecahan, bahkan saling bermusuhan. Hal itu berarti bahwa Gereja tidak taat kepada Kristus. Kenyataan yang bertentangan dengan kehendak Kristus ini disadari oleh Gereja. Kesadaran inilah yang melahirkan gerakan ekumene yang  sudah berkembang dengan baik pada saat ini.

Dapat dikatakan pula bahwa kerja sama ekumenis yang terus diusahakan dan dikembangkan di antara  Gereja Katolik dan Protestan di Indonesia saat ini merupakan wujud ketaatan Gereja sebagai Tubuh Kristus  pada kehendak Kristus, Sang Kepala Gereja.[28]Aneka kerja sama ekumenis yang dijalankan baik oleh para pemimpin (misalnya, dalam diskusi teologi, penerjemahan Kitab Suci, surat gembala) maupun oleh umat biasa (misalnya doa bersama, bakti sosial) merupakan wujud ketaatan kepada Kristus. Kegiatan-kegiatan ini pasti dijiwai oleh Roh Kudus dan berkenan kepada Kristus, Sang Kepala Gereja.

3. Peranan Pemimpin Gereja

Dalam konteks Indonesia, para pemimpin Gereja, secara khusus Katolik dan Protestan aktif membangun kerja sama ekumenis. Selain kerja sama dalam penerjemahan Kitab Suci, para pemimpin Gereja melalui KWI (Katolik) dan PGI (Protestan) juga mengeluarkan pesan Natal bersama setiap tahun yang ditujukan kepada umat kristiani di seluruh Indonesia.[29] Selain itu, menjelang pemilihan umum mereka mengeluarkan surat gembala agar umat beriman menggunakan hak pilihnya dengan baik dan bertanggung jawab dengan memilih pemimpin yang dianggap  bisa mendatangkan kesejahteraan bagi banyak  orang.

Hal-hal yang dilakukan oleh para pemimpin ini merupakan contoh bahwa mereka menjadi penggerak kerja sama Katolik-Protestan di Indonesia.[30] Surat Efesus menyadarkan umat beriman bahwa Kristus sebagai Kepala Gereja telah menganugerahkan kepada Tubuh-Nya (Gereja) “rasul-rasul maupun nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar” demi pembangunan Tubuh Kristus (bdk. Ef. 4:11-14). Para pemimpin inilah yang berada di garis depan dalam membangun kesatuan sebagai murid-murid Kristus. Mereka menjadi teladan dalam memperjuangkan kesatuan umat beriman. Jadi, kehadiran para pemimpin itu sangat penting dalam mengarahkan umat beriman menuju persekutuan dengan Kristus sekaligus menjalin kesatuan dengan jemaat yang lain.

4. Kerja Sama Ekumenis Mengokohkan Misi Gereja

Perpecahan yang terjadi sepanjang sejarah Gereja berlawanan dengan kehendak Kristus, dan menjadi batu sandungan bagi dunia, serta merugikan perutusan suci, yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk.[31]Pernyataan ini hendak mengungkapkan aspek misioner Gereja. Misi Gereja tak lain adalah misi Yesus untuk mewartakan kabar gembira kerajaan Allah kepada dunia dalam tuntunan Roh Kudus.[32] Perpecahan dalam Gereja menghambat pelaksanaan misi ini. Gerakan ekumene bertujuan memulihkan kesatuan  Gereja dalam rangka mewartakan misi Yesus kepada dunia.[33]

Kerja sama ekumenis yang sedang berkembang di Indonesia saat ini jelas membantu umat beriman kristiani dalam mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah. Pewartaan Gereja bisa diterima dengan baik oleh banyak orang ketika umat kristiani menjalin kesatuan yang dipenuhi oleh cinta kasih Kristus. Menurut Paus Paulus VI, terciptanya kesatuan Gereja merupakan bukti bahwa Gereja itu milik Kristus sekaligus bukti bahwa Kristus itu diutus oleh Bapa.[35] Karena itu, aneka perayaan ekumenis dan beberapa bentuk kerja sama ekumenis Katolik-Protestan yang dilakukan di Indonesia bukan ritual belaka, tetapi memiliki aspek misioner yakni mewartakan kabar gembira kerajaan Allah sesuai dengan kehendak Kristus yang menghendaki pengikut-Nya bersatu (Yoh. 17: 21). Hidup dalam persekutuan dan mewartakan kabar gembira bagi banyak orang adalah kehendak Kristus untuk para pengikutnya.

5. Kerja Sama Ekumenis dan Doa

Selain melalui kegiatan-kegiatan ekumenis seperti yang telah disebutkan di atas, doa memiliki peran penting dalam memajukan kerja sama ekumenis.[36] Selain doa bersama dengan jemaat dari gereja lain, setiap tahun Gereja Katolik mengadakan pekan doa sedunia, dengan tujuan khusus memohon persatuan umat kristiani.[37] Berkaitan dengan peranan doa ini, dekret tentang ekumenisme, Unitatis Redintegratio memberikan penegasan berikut ini.

Pertobatan hati dan kesucian hidup itu, disertai doa-doa permohonan perorangan maupun bersama untuk kesatuan umat kristen, harus dipandang sebagai jiwa seluruh gerakan ekumenis, dan memang tepat juga disebut ekumenisme rohani. Sebab bagi umat Katolik merupakan kebiasaan baik sekali : sering berkumpul untuk mendoakan kesatuan Gereja, seperti oleh Sang Penyelamat sendiri pada malam menjelang wafat-Nya telah dimohon secara mendesak dari Bapa: “Supaya mereka semua bersatu (Yoh 17:21).[38]

Melalui doa, semua pihak dituntut untuk bertobat dan memohon rahmat Tuhan untuk memulihkan kesatuan umat kristiani.  Tanpa pertobatan batin dan doa yang tekun, tidak ada ekumenisme sejati.[39]Di Indonesia, doa bersama dengan jemaat dari Gereja-Gereja Protestan untuk persatuan umat kristiani sering dilakukan (misalnya, saat perayaan Natal bersama atau doa bersama di wilayah/lingkungan tertentu). Selain itu, umat katolik juga sering mendoakan ujud ini dalam perayaan liturgis maupun devosional. Doa untuk memohon kesatuan umat kristiani baik oleh umat Katolik maupun Protestan merupakan ungkapan  kesatuan iman akan Kristus dan digerakkan oleh Roh yang sama (bdk. Ef. 4: 4-6).***

 

Referensi:

[1]Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 147.

[2]Uraian lebih lengkap tentang kerja sama ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia akan ditemukan bagian selanjutnya,  (4.6. Beberapa Bentuk Kerja Sama Ekumenis Katolik-Protestan di Indonesia).

[3]Bdk. Ut Unum Sint, art. 74-76.

[4]Unitatis Redintegratio, art. 12.

[5] Bdk. Ut Unum Sint, art. 40.

[6] Bahkan dalam Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, artikel 9, Yohanes 7:21 dikutip bersamaan dengan Ef. 4:12 (tentang pembangunan Tubuh Kristus).

[7]Unitatis Redintegratio, art. 2. Efesus 4:12 juga dikutip dalam “Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme” art. 9, “Gerakan Ekumenis berusaha untuk menjawab karunia rahmat Tuhan yang memanggil semua orang kristiani untuk mengimani misteri Gereja, menurut rencana Tuhan yang ingin membawa umat manusia kepada keselamatan dan persatuan dalam Kristus melalui Roh Kudus. Gerakan ini memanggil mereka kepada pengharapan bahwa doa Yesus “agar mereka semua bersatu” akan terlaksana sepenuhnya.”

[8]Ibid., art. 7.

[9]Sairin, Weinata (ed.),Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia: Lima Dokumen Keesaan Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996, hal. 17.

[10]Ibid.

[11]Ibid.

[12]Ibid., hal. 53.

[13]Ibid, hal. 55-56.

[14]Ibid., hal. 61.

[15]Ibid., hal. 70.

[16]Bdk. Ut Unum Sint, art. 40.

[17]Lihat BAB III

[18]Tentang denominasi-denominasi  ini, lihat Poin4.4.2,Konteks Gerakan Ekumene di Indonesia!

[19]Bdk. Zakaria J. Ngelow, “Perkembangan dan Konteks Gerakan Ekumene di Indonesia,” dalam http://oase-intim./2013/05/perkembangan-dan-konteks-gerakan.html, diakses 6 Februari 2015.

[20]Bdk. Jan Sihar Aritonang and Karel Steenbrink (eds.),Op. Cit., hal. 835.

[21] Bdk. Frans Magnis-Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk, Jakarta: Obor, 2004, hal. 66.

[22] Bdk. Fridolin Ukur, “Menapaki Masa Depan Bersama,” dalam J.M. Pattiasina dan Weinata Sairin (eds.), Op. Cit., hal. 23.

[23]Lihat Bab III, Nomor 4.2.3.2.

[24]Unitas Redintegratio, art. 2.

[25]Bdk. Martin Harun, Op. Cit., hal. 93.

[26]Ibid.

[27]“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh.17:21).

[28]Bdk. Emanuel Martasudjita, “Model-model Gereja di Indonesia Pasca Konsili Vatikan II,” dalam Indra Sanjaya dan F. Purwanto (eds.), Mozaik Gereja Katolik Indonesia: 50 tahun pasca konsili Vatikan II, Yogyakarta: Kanisius, 2014, hal. 675-676.

[29] Bdk. http://katolisitas.org/14201/pesan-natal-bersama-kwi-pgi-tahun-2014-berjumpa-dengan-allah-dalam-keluarga, diakses 22 Januari 2014.

[30]Bdk. Mgr. F. X. Hadisumarta, Op. Cit., hal. 33-34.

[31] Bdk. Unitatis Redintegratio, art. 1.

[32] Bdk. Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), terj. Frans Borgias dan Alfons Suhardi, Jakarta: DOKPEN KWI, 1991, art. 87.

[33]Ibid.

[34]Bdk. Brian Wintle and Ken Bnanakan, (eds.), Op. Cit., hal. 46.

[35]Bdk. Evangelii Nuntiandi, art. 77.

[36]Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 85.

[37]Bdk. Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristiani,Op. Cit., art. 110. Tahun 2015, doa untuk persatuan umat kristiani ini dilaksanakan pada tanggal 18-25 Januari.

[38]Unitatis Redintegratio, art. 8.

[39] Bdk. Yohanes Paulus II, Un Unum Sint, terj. R. Hardawiryana, Jakarta: Dokpen KWI, 1996.