5.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 42

Renungan Masa Adven: Tuhan Datang untuk Membawa Perubahan

0
Lilin dan warna liturgi ungu melambangkan pertobatan dan penyesalan untuk mempersiapkan jiwa kita dalam menyambut Kristus pada Hari Natal.

Tuhan Datang untuk Membawa Perubahan: Renungan Masa Adven, Jumat 6 Desember 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 29:17-24; Injil: Mat. 9:27-31

Saat ini kita sedang berada dalam masa Adven. Kata ‘Adven’ itu sendiri berasal dari kata bahasa Latin ‘Adventus’ yang berarti kedatangan. Pada masa ini kita menunggu kedatangan Sang Mesias yang akan lahir di tengah-tengah kita.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Bisa dipastikan bahwa tidak ada ruginya apabila kita menunggu kedatangan-Nya; dan tidak ada yang sia-sia bagi mereka yang setia menunggu kedatangan Tuhan; sebab Tuhan yang akan datang itu akan mengubah segala sesuatunya menjadi baik adanya.

Perubahan ke arah yang lebih baik itu dilukiskan dengan sangat baik oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini. Nabi Yesaya bilang: “Tidak lama lagi Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan” (bdk. Yes. 29:17).  

Saya sendiri belum pernah pergi ke Libanon, dan boleh jadi tidak akan pernah pergi ke sana. Tapi, dari banyak sumber yang saya baca dan lihat, dilukiskan bahwa Libanon terdiri atas pegunungan dan perbukitan yang sambung-menyambung seperti pegunungan di Indonesia. Bedanya, jika di Indonesia rata-rata kondisinya hijau karena penuh dengan pepohonan, tidak demikian dengan Libanon. Libanon tampak gersang dan gundul.

Nah, dalam situasi itu, Nabi Yesaya memberi petunjuk. Dia katakan bahwa pada saat kedatangan Tuhan, Libanon yang gersang dan gundul itu akan berubah menjadi kebun buah-buahan.

Bukan hanya itu. Pada saat Tuhan datang, orang-orang tuli akan mendengar, dan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin akan bersorak-sorak. Orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.

Semua keadaan kita akan dibalikkan oleh Tuhan yang akan datang itu seratus delapan puluh derajat. Mereka yang yang tadinya sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan.

Satu hal yang dituntut dari kita, selain setia menunggu, yaitu menaruh sikap percaya. Tuhan mau agar kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Percuma kita menunggu kalau tidak percaya.

Dua orang buta, dalam cerita Injil hari ini, disembuhkan oleh Yesus hanya karena mereka percaya kepada-Nya. Begitu pentingnya sikap percaya itu, makanya Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka.

Sikap percaya ini harus kita tanamkan dalam diri kita saat ini juga. Yakinlah, kalau kita setia menunggu dan sungguh percaya terhadap Dia yang kita tunggu, Dia akan mengubah semua yang kita alami saat ini menjadi baik adanya. Amin.

Perpecahan dalam Gereja dan Lahirnya Gerakan Ekumene (2)

0
Sumber: Google.com

(Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya, “Perpecahan dalam Gereja dan Lahirnya Gerakan Ekumene (1).” Pada bagian ini, saya secara khusus membahas secara singkat tentang lahirnya Gerakan Ekumene dalam Gereja Protestan berdasarkan beberapa sumber yang telah saya dalami.)

[postingan number=3 tag= ‘gereja-katolik’]

Sejarah Singkat Gerakan Ekumene 

Ekumene berasal dari bahasa Yunani oikoumene yang berarti seluruh dunia. Setelah agama Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, kata ekumene mulai diartikan sebagai “termasuk Gereja.” Ekumene berarti juga menyangkut semua orang. Pada awal abad 20, kata ekumene diberi arti geografis yakni orientasi Gereja misioner yang terarah kepada seluruh dunia. Pada zaman ini juga, Nathan Soderblom, Uskup Agung Lutheran di Uppsala (Swedia), memberikan arti lebih teologis terhadap kata ekumene ini. Ia memakai kata ekumene untuk menjelaskan bahwa Gereja-Gereja Kristen secara fundamental bersifat satu. Ekumene merupakan ungkapan untuk Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasar kesatuan yang harus diwujudkan oleh Gereja-Gereja Kristen. Jadi, ekumene memiliki dua arti yang saling berkaitan yakni menyangkut seluruh dunia (universal) dan sesuatu yang menyangkut kesatuan Gereja-Gereja.

Gerakan Ekumene adalah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat kristen.[1] Kesatuan diakui sebagai ciri dasar Gereja Kristus. Harus dikatakan pula bahwa gerakan ekumene  itu pertama-tama muncul dari Gereja Reformasi.[2] Menurut Christian De Jonge, pada abad 19, sekurang-kurangnya ada empat usaha yang dilakukan oleh Gereja Reformasi (Protestan) dalam membangun kesatuan Gereja.

Pertama, usaha mempersatukan orang-orang Kristen dari gereja-gereja yang mempunyai dasar teologis dan konfensional yang sama. Kedua, usaha mempersatukan orang-orang Kristen Protestan dalam satu perhimpunan. Usaha ini dipelopori oleh seorang pendeta Skotlandia, Thomas Chalmers (1780-1847). Hasilnya adalah pembentukan Perserikatan Injili (Evangelical Alliance) di London tahun 1846. Sumbangan perserikatan ini bagi perkembangan gerakan ekumene adalah pelaksanaan Minggu Doa Sedunia untuk kesatuan Gereja, pelaksanaan konferensi dan penerbitan majalah ekumenis yang pertama, Evangelical Christendom. Ketiga, pembentukan Gerakan-gerakan Sukarela (Voluntary Movements). Yang mempersatukan anggota gerakan yang berasal dari banyak gereja (denominasi) ini adalah tugas mewartakan Injil kepada dunia. Gerakan ini pada awalnya bertumbuh di Amerika Serikat dan kemudian berkembang juga di Eropa. Keempat, kerja sama dalam bidang pewartaan Injil. Kerja sama ini mulai dalam bidang penerjemahan dan penyebaran Alkitab. Beberapa lembaga Alkitab yang melakukan ini, antara lain, Lembaga Alkitab Btitish dan Luar Negeri (British and Foreign Bible Society) yang didirikan tahun 1804; Lembaga Alkitab Belanda yang didirikan tahun 1804.[3]

Visser’s Hooft, seorang pelopor gerakan ekumene abad 20 mengungkapkan pendapatnya tentang motivasi ekumenisme.

“Hanya ada satu motivasi yang bisa memberi kekuatan dan bobot bagi gerakan ekumene yaitu kenyataan bahwa kesatuan adalah hakikat Gereja dan keterpecahan dalam bentuk apapun menggelapkan rencana Allah bagi umat-Nya. Motivasi ini harus dipertahankan tanpa peduli dengan aliran apa pun. Motivasi ini berlaku untuk abad ke-20 sama seperti abad pertama. Bila terpecah, Gereja menyangkal hakikatnya sendiri dan mengkhianati tugas perutusannya. Gereja membutuhkan persekutuan bukan karena hal itu berguna atau menyenangkan, melainkan karena termasuk inti kehidupan Gereja.”[4]

Pendapat di atas hendak menegaskan bahwa kesatuan bukan suatu ciri yang bisa ada, tetapi harus ada; ciri esensial, agar Gereja bisa mewartakan diri secara benar.[5] Kitab Suci Perjanjian Baru yang diakui oleh semua Gereja sangat menyadari bahwa kesatuan adalah ciri hakiki para pengikut Kristus.[6] Kesatuan itu merupakan perintah Yesus sendiri sebagai Kepala Gereja. Dengan demikian, jika para pengikut Kristus tidak berjuang untuk hidup dalam persekutuan, mereka melawan perintah Sang Kepala Gereja.

Usaha-usaha di atas berpuncak pada Konferensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh (14-23 Juni 1910).[7] Konferensi ini dipelopori oleh John Raleigh Mott (1865-1955) dan Joseph H. Oldham (1874-1969) dari Skotlandia. Yang hadir pada konferensi ini lebih dari 1.335 orang. Konferensi  ini dipandang sebagai titik awal gerakan ekumene abad 20.[8] Akan tetapi, yang hadir pada saat itu sebagian besar dari Eropa. Dari negara-negara di Asia hanya 17 orang yang hadir.

Konferensi Edinburgh berjalan dengan baik dan memberikan sumbangan besar bagi perkembangan gerakan ekumene karena beberapa hal berikut ini:

Pertama, para peserta konferensi adalah wakil-wakil atau utusan-utusan Badan-Badan Pekabaran Injil yang menghadiri konferensi bukan atas namanya sendiri. Karena itu, keputusan-keputusan yang diambilnya mengingatkan Badan Pekabaran Injil yang diwakilinya. Kedua, masalah-masalah yang dibicarakan dalam konferensi adalah masalah-masalah aktual dan mengenai hal-hal yang dihadapi bersama dalam bidang Pekabaran Injil. Hasilnya sangat nyata dalam rumusan strategi dan rencana di bidang Pekabaran Injil. Hal-hal tersebut antara lain, Pekabaran Injil kepada masyarakat bukan Kristen, pendewasaan jemaat, perlengkapan para Pekabar Injil, tugas pendidikan para Pekabar Injil dan pemupukan kerja sama untuk kesatuan. Ketiga, konferensi tidak membahas hal-hal yang memancing perdebatan panjang, misalnya yang berkaitan dengan Lembaga Iman dan tata Gereja. Keempat, masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam konferensi disalurkan dan dilanjutkan di dalam wadah kesatuan. Wadah kesatuan ini disebut Dewan Misi Internasional (International Missionary Council).[9]

Konferensi ini juga menghasilkan beberapa hal penting yang membuka jalan bagi gerakan ekumene.[10] Antara lain, pertama, peserta konferensi semakin menyadari betapa penting pewartaan Injil ke seluruh dunia. Kedua, berusaha membentuk dan mengembangkan Gereja nasional yang mencukupi kebutuhan sendiri (self-supporting), mengatur diri sendiri (self-governing) dan mengembangkan diri (self-propagating). Ketiga, menjalin kerja sama dalam menciptakan keesaan Gereja (cooperation and unity).

Konferensi di Edinburgh semakin menumbuhkan semangat Gereja-Gereja Protestan dalam membangun kesatuan Gereja.  Kemajuan ini ditandai dengan dibentuknya secara resmi Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (World Council of Churches, WCC) pada tanggal 23 Agustus 1948.[11] Yang menjadi anggota WCC berjumlah 147 gereja dari 44 negara. Ditegaskan bahwa WCC tidak boleh menjadi lembaga yang mengambil alih tugas dan wewenang gereja-gereja anggota. Selain itu, ditekankan pula bahwa Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD) adalah persekutuan yang menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah dan Juru Selamat.[12] Inilah pengakuan dasar yang dibuat dan disetujui oleh semua gereja anggota. DGD adalah wadah di mana gereja-gereja dapat berkumpul, dalam satu persekutuan rohani untuk berunding dan mencari jalan menuju kesatuan Gereja yang sempurna.  Pada waktu pertemuan di Toronto tahun 1950 ditegaskan pula bahwa DGD tidak bertolak dari eklesiologi tertentu dan hanya melihat titik kesatuan dalam Kristus.[13] Tugas mewujudkan Gereja Kristus yang esa adalah tugas gereja-gereja sendiri, sedangkan DGD hanya mau menolong gereja-gereja dalam tugas ini.

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh gereja-gereja anggota DGD:

Pertama, berupaya mewujudnyatakan keesaan Gereja dalam satu iman dan satu persekutuan ekaristi.Kedua, meningkatkan kesaksian bersama mereka dalam karya untuk misi dan penginjilan. Ketiga, melibatkan diri dalam pelayanan Kristen melalui pelayanan demi kebutuhan manusia, meruntuhkan tembok-tembok penghalang antar manusia, mengusahakan keadilan dan perdamaian, serta menjunjung keutuhan ciptaan. Keempat, mengupayakan pembaruan dalam keesaan, ibadah, misi, dan pelayanan.[14]

Pada tahun 2010, Konferensi Edinburgh berusia 100 tahun. Untuk memperingati peristiwa bersejarah ini,  lebih dari 1000 orang utusan dari pelbagai persekutuan atau denominasi dari seluruh dunia berkumpul di Edinburgh pada 2-6 Juni 2010.[15]Ada banyak kegiatan yang dilakukan, antara lain, seminar yang bertujuan untuk mengembangkan wawasan ekumenis sekaligus melanjutkan perjuangan yang telah berjalan dengan baik selama ini. Peserta yang hadir pada perayaan 100 tahun ini bukan hanya dari gereja-gereja Reformasi, tetapi juga Katolik-Roma, Ortodoks dan persekutuan gerejani lainnya.[16] Salah seorang teolog Katolik yang hadir sekaligus menjadi pembicara pada perayaan tersebut adalah Steven Bevans.[17] Ia berbicara tentang tugas Gereja sebagai pewarta kabar gembira kerajaan Allah kepada dunia.

Hal-hal yang digarisbawahi pada perayaan 100 tahun Edinburgh adalah:

Pertama, gereja-gereja memiliki kesempatan untuk merayakan dan bersyukur atas apa yang Tuhan lakukan dalam perkembangan Gereja di seluruh dunia pada abad sebelumnya dan dalam doa berjanji  kepada Tuhan untuk menjadi saksi-Nya pada abad 21.Kedua, pewartaan Injil harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang konteks kontemporer dengan penekanan khusus pada makna evangelisasi dan relevansi kekristenan zaman ini. Ketiga, dialog kunci dalam misi akan diprakarsai oleh pemimpin misi  yang sudah berpengalaman  yang berkembang di  bagian Utara dan perkembangan misi baru di Timur dan Selatan, dengan dialog yang representatif dengan tradisi kekristenan tertentu. Keempat, pedoman/petunjuk akan dikembangkan dan hasil studi dipublikasikan untuk membantu gereja dan pemimpin misi dalam mengevaluasi model misi demi perkembangan yang lebih efektif. Kelima, jaringan-jaringan akan dikerahkan dan persekutuan akan dibentuk agar mengembangkan kolaborasi strategi dan sinergi yang lebih besar dalam mewujudkan mandat misi. Keenam, berdasarkan analisis kritis atas situasi dunia, sebuah visi baru atas kehendak Allah terhadap ciptaan dalam Kristus dan spiritualitas yang dibaharui dan etos misi akan dikembangkan dalam gereja-gereja di seluruh dunia.[18]

Beberapa hal yang digarisbawahi di atas menunjukkan bahwa para pengikut Kristus  membangun komitmen untuk hidup bersama dalam semangat kesatuan  demi mewartakan Injil pada zaman ini. Pewartaan itu diawali dengan mempelajari konteks dunia dan situasi aktual masyarakat sehingga Injil yang diwartakan menghasilkan buah yang berlimpah.

Saat ini, anggota DGD berjumlah lebih dari 340 gereja di sekitar lebih dari 100 negara di dunia dan mewakili sekitar 550 juta orang Kristen.[19] Sejak tahun 1948 hingga tahun 2013, DGD telah mengadakan Sidang Raya sebanyak 10 kali.[20] Yang dibahas dalam sidang-sidang ini adalah  hal-hal penting berkaitan dengan keberadaan Gereja, tantangan dan karya pelayanannya di tengah dunia saat ini. Berikut ini adalah kesepuluh Sidang Raya yang sudah dilaksanakan oleh DGD:

  1. Sidang Raya I dengan tema “Kekacauan Manusia dan Rancangan Allah” di Amsterdam, tahun 1948.
  2. Sidang Raya II dengan tema “Kristus-Pengharapan Dunia” di EvanstonIllinois, Amerika Serikat, tahun 1954.
  3. Sidang Raya III dengan tema “Kristus Terang Dunia” di New Delhi, India, tahun 1961.
  4. Sidang Raya IV dengan tema “Lihatlah, Aku Jadikan Semuanya Baru” di Uppsala, Swedia, tahun 1968.
  5. Sidang Raya V dengan tema “Yesus Kristus Membebaskan dan Mempersatukan”, di Nairobi, Kenya,  tahun 1975.
  6. Sidang Raya VI dengan tema “Yesus Kristus – Terang Dunia” di Vancouver, Kanada, tahun
  7. Sidang Raya VII dengan tema “Datanglah ya Roh Kudus – Perbaruilah Seluruh Ciptaan”, di Canberra, Australia,tahun 1991
  8. Sidang Raya VIII, dengan tema “Berbaliklah kepada Allah – Bersukacitalah di dalam Pengharapan”, di HarareZimbabwe, tahun1999.
  9. Sidang Raya IX dengan tema “Ya Allah, di dalam Anugerah-Mu, Perbaruilah Dunia”, diPorto Alegre, Brasil, tahun 2006
  10. Sidang Raya X dengan tema “Ya Allah Kehidupan, pimpin kami kepada Keadilan dan Perdamaian”, di Busan, Korea Selatan, Bulan November tahun 2013.[21]

Referensi:
[1] Bdk. Unitatis Redintegratio, art. 2. Bdk juga  Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 3.
[2] Bdk. Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Sejarah, Dokumen-Dokumen dan Tema-Tema Gerakan Oikumenis),  Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1990, hal.6.
[3] Ibid.
[4] Pendapat Visser’t Hooft ini dikutip oleh Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 6.
[5] Ibid.,  hal. 5.
[6] Bandingkan dengan Doa Yesus dalam Yoh. 17:21
[7] Ibid., hal. 9.
[8] Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 90.90
[9] Josef Konigsmann, Gerakan dan Praktek Ekumene, Ende: Nusa Indah, 1986, hal. 21.
[10] Bdk. Frederiek Djara Wellem, “Konferensi Edinburg” dalam Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, hal. 222.
[11] Bdk. Christiaan De Jonge, Menuju Keesaan Gereja, Op. Cit., hal. 39.
[12] Ibid., hal. 36.
[13] Ibid., hal. 40.
[14] Ibid.
[15] Bdk. http://www.edinburgh2010.org/en/about-edinburgh-2010.html, diakses 6 Februari 2015.
[16] Ibid.
[17] Bdk. Steven Bevans, “The Mission has A Church: Perspectives of a Roman Catholic Theologian,” dalam http://www.edinburgh2010.org/en/resources/papersdocuments8ad4&sechash=43e9d7d6, diakses 5 Februari 2015.
[18] http://www.edinburgh2010.org/en/about-edinburgh-2010.html, diakses 6 Februari 2015.
[19] http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Gereja-gereja_se-Dunia, diakses 22 Januari 2015.
[20] Ibid.
[21] Ibid.

Benda-Benda Rohani Rusak? Jangan Dibuang Sembarangan

0

Seseorang yang memiliki benda-benda berharga, tentu memperlakukan benda-benda berharga itu secara baik. Tujuannya agar benda berharga itu tidak rusak dan tetap mempunyai ‘nilai’. Benda berharga itu misalnya emas, uang, dan lain sebagainya.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Bahkan, banyak orang berjuang mati-matian supaya mendapatkan dan melindungi benda-benda berharga itu. Jika benda-benda yang bersifat jasmani saja diperlakukan secara baik,  apalagi benda-benda yang bersifat rohani.

Maka, pada kesempatan ini kita akan melihat cara yang dapat dilakukan untuk memperlakukan benda-benda Rohani.

Pertama, Katekismus Gereja Katolik (KGK 1672) menegaskan: “Pemberkatan-pemberkatan tertentu mempunyai arti tetap karena menahbiskan pribadi-pribadi untuk Allah atau mengkhususkan benda dan tempat-tempat tertentu untuk keperluan liturgi.” Pemberkatan yang dimaksud sering dilakukan pada benda-benda yang dipakai dalam ibadat dan tindakan keagamaan. Pemberkatan yang dilakukan mengubah status benda dari tidak suci menjadi suci, misalnya air suci, abu untuk Rabu Abu, salib, patung Yesus, Bunda Maria, dan para kudus, minyak krisma, daun palma dan lain sebagainya.

Kedua, benda-benda rohani ‘harus’ dan ‘wajib’ diperlakukan secara hormat meskipun telah rusak. Cara pembuangan yang dapat dilakukan antara lain: menghancurkan bentuk dan rupanya, misalnya hosti yang rusak tidak dibuang di tong sampah atau di tempat sembarangan, melainkan terlebih dahulu dimasukkan ke dalam air sehingga hancur dan hilang bentuk hostinya. Kemudian, hosti yang telah larut dalam air itu dimasukkan ke dalam sakrarium.

Begitu juga jika patung, gambar atau buku rohani rusak, maka sebaiknya dihancurkan dengan cara disobek sampai tidak berbentuk, kemudian dibakar. Patung, logam dan kaca sebaiknya dihancurkan terlebih dahulu, karena tidak akan mudah hancur meskipun dibakar. Sementara itu, kertas yang secara sempurna dapat terbakar, tidak perlu lagi disobek terlebih dahulu. Seandainya masih ada sisa-sisanya, tidak boleh dibuang sembarangan, melainkan dimasukkan ke sakrarium (sumur suci) atau jika sakrarium tidak ada, sisa-sisa itu dapat dikubur atau ditanam di tanah.

Cara-cara di atas bertujuan agar sisa benda-benda rohani itu terurai menjadi tanah dan proses itu dilakukan secara hormat seperti pemakaman. Apabila tempat pembuangan itu mirip atau setidaknya seperti liang kubur/pemakaman, umat dapat berdoa seperti menguburkan jenazah ketika membuang (mengubur/menanam) benda-benda rohani.

Perlu diketahui pula bahwa benda-benda rohani berbeda dengan benda-benda yang diminta atau dimohonkan berkat seperti rumah, alat transportasi dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, benda-benda ini tidak tergolong sebagai benda-benda rohani; dan ketika rusak tidak perlu diperlakukan seperti benda-benda rohani. Benda ini hanya diberkati dan tidak mengubah status benda itu.

Sejarah Para Raja: dari Keturunan Raja Israel Lahirlah Raja Semesta Alam

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Makanya, dari bacaan pertama sampai dengan bacaan Injil kita mendengar dua kata kunci: yaitu raja dan kerajaan.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Masuknya konsep ‘kerajaan’ ke dalam dunia kekristenan tentu ada latar belakangnya; dan latar belakang itu ada di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Salah satunya seperti yang kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini.

Bacaan pertama bercerita tentang pengangkatan Daud sebagai raja Israel. Tapi, Daud bukanlah raja pertama di Israel, melainkan raja yang kedua. Raja pertama namanya Saul.

Sebelum Saul diangkat menjadi raja, bangsa Israel dipimpin oleh seorang hakim pilihan Tuhan, namanya Samuel. Lambat laun, Samuel menjadi tua, ia pun mengangkat anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel, tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti dirinya. Mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

Maka, tua-tua Israel datang kepada Samuel dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (1 Sam. :5).

Tampaknya, saat itu, sudah banyak bangsa lain berbentuk kerajaan. Orang-orang Israel mau juga seperti itu. Tapi, ternyata permintaan mereka itu membuat Samuel tersinggung. Samuel merasa dirinya ditolak. Ia pun berdoa Tuhan; dan TUHAN berfirman kepadanya: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Sam. 8:7).

Samuel melakukan apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Ia berkeliling mencari seseorang yang bisa menjadi raja atas bangsa Israel. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Saul. Kitab Suci menyebutkan bahwa Saul anak seorang berada, ia seorang pemuda yang elok rupanya, dan tidak ada seorang pun dari antara orang Israel yang lebih elok daripadanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi daripada orang sebangsanya (1 Sam. 9:1-2; 10:22).

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku” (1 Sam. 9:17). Demikianlah Saul dipilih menjadi raja pertama di Israel.

Tapi, sayangnya, Saul tidak dapat memenuhi harapan Tuhan. Ia tidak menuruti firman Tuhan. Ia diperintahkan oleh Tuhan untuk mengalahkan musuh Israel, tapi yang dibuatnya malah menjarah dan merampas hak milik lawan-lawannya itu. Akibatnya, Tuhan menolak Saul sebagai raja. Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku” (1 Sam. 15:10-11).

Tuhan menyuruh Samuel mencarikan pengganti bagi Saul. Ia disuruh pergi ke seseorang yang bernama Isai, orang Betlehem. Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku” (1 Sam. 16:1).

Masalahnya, Isai mempunyai delapan orang anak laki-laki. Samuel tidak tahu anak mana yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tapi, Samuel ingat bahwa Saul itu parasnya elok, dan badannya tinggi. Ia mengira bahwa Tuhan memilih seseorang menjadi raja karena elok parasnya dan tinggi badannya. Makanya, ketika Samuel melihat Eliab, satu dari delapan anak Isai itu, ia berpikir: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya” (1 Sam. 16:6-7). Mengapa Samuel bilang begitu? Karena Eliab itu parasnya elok dan badannya tinggi.

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Sam. 16:6-7).

Ternyata Tuhan memilih Daud menjadi raja atas bangsa Israel, menggantikan Saul. Tapi, saat itu, Daud tidak ada di tempat. Dia sedang berada di ladang menggembalakan kambing domba ayahnya; sebab ia anak bungsu dari delapan bersaudara. Biasanya, anak bungsu kerjanya tukang disuruh-suruh. Kitab Suci menggambarkan bahwa ia kemerah-merahan, matanya indah, dan parasnya elok (1 Sam. 16:12).

Daud berumur tiga puluh tahun pada waktu ia menjadi raja. Ia cukup berhasil menjadi seorang raja. Buktinya, ia memerintah sebagai raja Israel selama empat puluh tahun.

Kemudian hari, Nabi Mikha dan Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Sang Mesias akan lahir dari keturunan Daud. Nabi Mikha menuliskan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mi. 5:2). Siapa Dia? Tidak lain adalah Yesus Kristus, Sang Raja Damai.

Yesus adalah Rajanya para raja. Kerajaan-Nya bukan berasal dari dunia ini, melainkan dari atas dan mengatasi semua kerajaan di dunia. Karenanya, Dia adalah Raja Semesta Alam.

Kristus Raja Semesta Alam Membuka Gerbang Firdaus bagi Mereka yang Bertobat

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Pada hari Minggu terakhir tahun liturgi, yaitu hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Adapun masuknya konsep ‘kerajaan’ ke dalam dunia kekristenan berakar pada Kitab Suci Perjanjian Lama; salah satunya seperti yang kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Bacaan pertama bercerita tentang pengangkatan Daud sebagai raja Israel. Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja. Ia cukup berhasil menjadi seorang raja. Buktinya, ia memerintah sebagai raja Israel selama empat puluh tahun.

Nabi Mikha dan Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Sang Mesias akan lahir dari keturunan Daud. Nabi Mikha menuliskan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mi. 5:2).

Seperti kerajaan-kerajaan pada umumnya, takhta kerajaan biasanya diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam satu garis keturunan. Yesus lahir dari keturunan Daud. Maka, Yesus sebetulnya secara otomatis menjadi pewaris takhta kerajaan Israel.

Sayangnya, Yesus baru diakui sebagai raja ketika Ia disalibkan. Injil hari ini mewartakan hal itu. Sebagai raja yang disalibkan, di satu pihak Dia diejek, ditertawakan dan dihujat, tetapi di lain pihak Dia disembah. Itulah Kerajaan Yesus. Yesus Kristus adalah Raja yang disalibkan.

Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang sama sekali tidak kelihatan, kerajaan yang berada di balik dunia ini. Ketika Yesus ditanyakan oleh Pilatus, “Engkau inikah raja orang Yahudi?”, Ia menjawab: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh. 18:34,36).

Kerajaan Yesus bukan berasal dari dunia ini. Kerajaan-Nya berasal dari atas dan mengatasi semua kerajaan di dunia. Dia adalah raja semesta alam. Artinya, raja untuk seluruh alam semesta. Jika kerajaan-kerajaan di dunia ini serba terbatas, baik dari segi wilayah maupun kekuasaannya; tidak demikian dengan Kerajaan Yesus. Kerajaan-Nya mencakup seluruh wilayah alam semesta, dan kekuasaan-Nya kekal selamanya.

Sebagai raja semesta alam, Kristus menjamin seluruh roda kehidupan kita. Dialah puncak dan sumber hidup kita. Hal ini tergambar dengan sangat jelas dalam kalender liturgi kita. Sepanjang tahun kita melewati perayaan demi perayaan: mulai dari Adven, Natal, Prapaskah, Paskah, Pentakosta, dan berbagai perayaan lainnya sepanjang tahun; dan di akhir tahun liturgi, kita tutup dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

Apa yang terjadi dalam liturgi kita sebetulnya mengajarkan kepada kita agar kita pun menjadikan Kristus sebagai raja atas hidup pribadi kita masing-masing. Jika Yesus menjadi raja atas hidup kita, tidak ada lagi yang bisa menguasai kita selain Dia; sebab Dia adalah Raja di atas segala raja. Yang terpenting, kita dan semesta alam tunduk kepada-Nya.

Kerajaan Yesus mempunyai hubungan dengan pengampunan dosa. Karenanya, Yesus adalah Raja pengampunan dosa. Dia adalah raja semua orang yang mau mendapatkan keselamatan. Sebagai raja semesta alam, Ia akan datang untuk mengadili orang hidup dan orang mati, seperti terungkap di dalam syahadat iman kita.

Penjahat yang tergantung di salib sebelah Yesus tahu itu. Makanya Ia berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk. 23:42). Apa jawaban Yesus? Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).

Yesus membuka pintu kerajaan-Nya bagi orang berdosa yang bertobat. Hanya Yesus yang dapat mengampuni dosa; dan hanya Dialah yang dapat membawa kita ke dalam Firdaus. Karena itu, untuk menjadi warga kerajaan-Nya, kita harus bertobat dan percaya sungguh-sungguh kepada-Nya. Maka, sama seperti penjahat yang bertobat itu, kita juga berdoa: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. Amin.

Perpecahan dalam Gereja dan Lahirnya Gerakan Ekumene (1)

0
Sumber: Google.com

Gereja berakar pada karya Allah Tritunggal dan terwujud melalui perutusan Putera  dalam Roh Kudus.[1] Selama hidup-Nya Yesus memang tidak mendirikan Gereja. Tetapi, melalui hidup, pewartaan dan karya-Nya, Ia telah meletakkan dasar yang kokoh bagi terbentuknya Gereja. Dengan demikian, Gereja terbentuk dan dimengerti melalui seluruh peristiwa hidup Yesus.[2]

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Yohanes 17 mengisahkan bahwa sebelum menderita sengsara, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk para murid-Nya. Salah satu isi doa-Nya adalah memohon kepada Bapa agar para murid-Nya bersatu sebagaimana Ia dan Bapa bersatu (Yoh. 17:21). Doa ini tampaknya gagal, karena Gereja mengalami perpecahan. Para pengikut-Nya tidak hidup lagi dalam persekutuan.

Selayang Pandang Perpecahan dalam Gereja

Salah satu perpecahan besar dalam Gereja adalah munculnya Gereja Reformasi  pada abad XVI yang diprakarsai oleh Martin Luther. Melalui  “95 Tesis” yang dipajang di Gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517, ia memberikan tanggapan sekaligus kritiknya terhadap Gereja, secara khusus mengenai praktik indulgensi.[3] Ia menegaskan bahwa keadilan Allah bukan keadilan yang menghukum dan menghakimi, tetapi keadilan yang mengampuni dan membenarkan.[4] Martin Luther juga meyakini bahwa  manusia dikatakan benar di hadapan Allah bukan karena perbuatan dan usaha sendiri, tetapi semata-mata karena rahmat Allah. Apa yang dilakukan oleh Luther ini tidak diterima dengan baik oleh Gereja. Pada tahun 1518, Martin Luther dianggap Heresi (bidah).

Sesungguhnya, Martin Luther tidak hendak membuat Gereja baru.[5] Ia hanya mau mengusulkan pentingnya reformasi dalam Gereja.  Bahkan ia menganggap bahwa ekskomunikasi yang diterimanya itu hanya sementara. Hal ini terbukti ketika pada tahun 1530 diadakan sidang kekaisaran di Augsburg yang membicarakan kesatuan Gereja. Pada saat itu, Philipp Melanchthon berbicara atas nama Martin Luther dan menyusun Confessio Augustana (pengakuan iman Augsburg).[6]

Pertanyaan penting yang diajukan oleh Martin Luther dan kelompoknya adalah apakah mereka boleh tetap berada di dalam Gereja. Tetapi, mereka dikecewakan oleh jawaban pimpinan Gereja Katolik Roma yang menegaskan bahwa mereka bersalah, bahkan dalam Confessio Augustana tersebut terdapat 400 kesalahan.[7] Akhirnya, Martin Luther dan pendukungnya yang awalnya berjuang mereformasi Gereja menjadi sebuah Gereja Baru. Confessio Augustana menjadi salah satu dokumen penting bagi gereja Lutheran.

Tokoh reformasi lain adalah Zwingly dan Johanes Calvin.  Zwingli (1484-1531) lahir di Swiss.[8] Ia menjadi imam Katolik. Akan tetapi, ia meninggalkan jabatan itu karena tidak setuju dengan beberapa ajaran dalam Gereja. Ia tidak mau memimpin misa lagi dan menerimakan sakramen-sakramen. Menurutnya, paham misa sebagai kurban merupakan penghinaan bagi satu-satunya korban sempurna yang dipersembahkan oleh Kristus.[9] Ia menuntut agar yang diajarkan kepada umat beriman adalah apa yang mempunyai dasar dalam Injil. Reformasi yang dilakukan oleh Zwingli ini berkembang di Swiss.

Johanes Calvin (1509-1564) lahir di Noyon-Prancis.[10] Ia bertemu dengan tokoh-tokoh reformasi di Swiss. Perjumpaan itu membuatnya tergerak untuk terlibat dalam pembaharuan Gereja. Ia menetap di Jenewa. Di sana Calvin membuat peraturan jemaat yang menjadi acuan bagi para pengikutnya.  Di dalam Gereja Calvinis, ada empat jabatan yakni para pendeta, para guru agama, para diakon untuk melayani kaum miskin dan sakit dan para panatua untuk menjaga tata tertib dalam jemaat.[11]

Salah satu ajaran yang ditekankan oleh Calvin adalah ajaran tentang kehadiran Kristus dalam Ekaristi.[12] Ia tidak setuju bahwa Kristus dikurung ke dalam unsur-unsur duniawi ini. Tetapi, ia mempertahankan bahwa orang beriman yang menerima roti dan anggur dalam perjamuan sungguh-sungguh menerima tubuh dan darah Kristus secara rohani.[13] Sebab, Kritus hadir melalui Roh-Nya. Roh mengikat persatuan umat beriman dengan Kristus.

Pada tahun 1549, melalui konsensus Zurich (Consensus Tigurinus), Calvin dan Heinrich Bullinger (pengganti Zwingli) mencapai suatu kesepakatan dalam ajaran tentang  perjamuan Tuhan.[14] Ditegaskan bahwa hal-hal indrawi tidak bisa menyampaikan keselamatan. Akan tetapi, Kristus yang bersemayam di surga dipersatukan oleh Roh dengan roti dan anggur, sehingga ketika umat menyambutnya, umat beriman menerima Kristus. Dengan kesepakatan ini, pada tahun 1566 dibentuk  Gereja Nasional Swiss.[15] Gereja ini sering disebut Gereja Reformed.

Apa yang telah penulis uraikan di atas merupakan gambaran singkat tentang  latar belakang  munculnya Gereja-Gereja Reformasi atau sering disebut Gereja-Gereja Protestan. Gereja-Gereja  Protestan yang memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma  di atas berkembang pesat dan tersebar di seluruh dunia.

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi tempat bertumbuh dan berkembangnya gereja-gereja Protestan. Saat ini, gereja-gereja Protestan di Indonesia berjumlah lebih dari 300 gereja (denominasi).[16] Sebagian besar dari jumlah ini adalah gereja-gereja Protestan aliran Calvinis.

Memperjuangkan Kesatuan Gereja

Atas realitas perpecahan tersebut, banyak tokoh Gereja yang berjuang  membangun kembali kesatuan Gereja. Kegiatan-kegiatan  yang diadakan untuk membangun dan mendukung kesatuan Gereja disebut ekumenisme atau gerakan ekumene.[17] Berkembangnya gerakan ekumene[18] saat ini dipelopori oleh para pemikir Gereja-Gereja Protestan.[19]Pada tahun 1910, di Edinburgh (Scotlandia) dilaksanakan konferensi misi untuk membahas tentang kesatuan Gereja yang diikuti oleh 1.335 utusan. Pertemuan ini dipandang sebagai titik awal gerakan ekumene abad 20.[20]Peserta  yang hadir pada saat itu sebagian besar dari Eropa. Dari Asia hanya 17 orang yang hadir.

Gereja Katolik baru terlibat secara resmi dalam  gerakan Ekumene setelah Konsili Vatikan II.[21] Sebelumnya, Gereja Katolik menganggap diri sebagai satu-satunya Gereja Kristus.[22] Karena itu, Gereja-Gereja yang terpisah dari Gereja Katolik harus kembali bergabung dengannya. Bertumbuhnya semangat ekumenis Gereja Katolik ini terbukti melalui sebuah dokumen hasil Konsili Vatikan II yang berisi sikapresmi Gereja Katolik terhadap Ekumenisme. Dokumen ini berjudul, Unitatis Redintegratio (Pemulihan Kesatuan). Melalui dokumen itu, Gereja Katolik menegaskan bahwa perpecahan itu bertentangan dengan kehendak Kristus dan menjadi batu sandungan bagi dunia.[23] Gereja Katolik sangat mendukung upaya pemulihan kesatuan Gereja. Selain itu,  pada tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik Ut Unum Sint[24] yang menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik dalam membangun kesatuan umat beriman.

Sejalan dengan amanat Konsili Vatikan II, secara khusus yang tercantum dalam dekret Unitatis Redintegratio, upaya memulihkan kesatuan sudah menjadi kebutuhan mendesak yang terus diwujudkan oleh Gereja. Ekumenisme adalah jalan yang harus ditempuh Gereja demi tercapainya pewartaan Injil kepada dunia.[25]

Dalam Seruan Apostolik, Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa pencarian jalan menuju  kesatuan  sangat mendesak di benua Asia dan Afrika.[26] Alasannya adalah skandal perpecahan umat kristiani di kedua benua ini semakin banyak dan telah menjadi bahan keluhan, kritik dan cemooh dari orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Menurut Paus Fransiskus, ada banyak hal penting yang mempersatukan umat kristiani.[27]

Ekumenisme di Indonesia

Di Indonesia, usaha memulihkan kesatuan Gereja menjadi kebutuhan yang mendesak. Dikatakan kebutuhan mendesak karena Gereja-Gereja Protestan (denominasi) di Indonesia semakin banyak, menyebar hampir di setiap daerah dan memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas itu juga berkaitan dengan suku, budaya, pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya.[28] Selain itu, ada banyak denominasi yang diberi nama berdasarkan suku atau tempat tertentu di mana Gereja itu bertumbuh, misalnya Gereja Kristen Sumba (GKS) dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).[29] Semakin banyaknya jumlah denominasi yang berkembang dengan ciri khas masing-masing itu menjadi tantangan ekumenisme di Indonesia.

Kemajuan ekumenisme di Indonesia ditandai dengan terbukanya kerja sama ekumenis  di antara Gereja-Gereja Protestan.[30] Terbentuknya Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) merupakan usaha para pengikut Kristus (dari Gereja-Gereja Protestan) di Indonesia untuk membangun kesatuan. Selain itu, kerja sama ekumenis juga terjalin antara Gereja-Gereja Protestan dan Gereja Katolik. Melalui PGI, Gereja-Gereja Protestan aktif membangun komunikasi dengan KWI (Gereja Katolik). Melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Gereja Katolik mengadakan dialog ekumenis atau pertemuan bersama  dengan PGI untuk membahas hal-hal penting berkaitan dengan kehidupan para pengikut Kristus,[31]misalnya, KWI dan PGI mengeluarkan pesan Natal untuk seluruh umat kristiani.[32]Ketika terjadi pemilihan umum, KWI dan PGI mengeluarkan surat  gembala agar umat kristiani berpartisipasi dalam kehidupan politik, secara khusus dalam memilih pemimpin-pemimpin bangsa.[33]Selain itu, kerja sama penerjemahan Kitab Suci antara Gereja Katolik dan Protestan juga membuktikan bahwa ekumenisme di Indonesia sudah bertumbuh dengan baik.

Konsep “Tubuh Kristus” sebagai Fondasi Ekumenisme

Setelah mendalami realitas perpecahan Gereja, secara khusus munculnya gereja-gereja Protestan dan usaha mengatasi perpecahan itu melalui ekumenisme,  penulis menemukan bahwa salah satu fondasi kokoh untuk memperkuat kerja sama ekumenis adalah mendalami lagi teks-teks Kitab Suci. Kitab Suci adalah salah satu sumber iman kristiani. Teks-teks Kitab Suci yang didalami adalah teks yang menjelaskan apa yang menjadi kehendak Kristus untuk para pengikut-Nya. Tulisan Perjanjian Baru yang diambil oleh penulis adalah Surat Efesus. Menurut Tom Jacobs, satu-satunya tulisan Perjanjian Baru yang secara lumayan mendalam merefleksikan tentang Gereja adalah Surat Efesus.[34] Boleh dikatakan bahwa ide dasar surat ini adalah refleksi tentang Gereja.

Gagasan yang menonjol dalam surat Efesus adalah konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus.[35] Konsep ini menekankan persatuan antara umat beriman dan Kristus sebagai Kepala Gereja dan juga persatuan antara sesama umat beriman. Kesatuan itu bukan hal tambahan, tetapi hakikat Gereja.  Inilah kehendak Kristus atas para murid-Nya (bdk. Yoh. 17:21).

Dalam konteks Indonesia, pemahaman Gereja sebagai Tubuh Kristus membantu umat kristiani yang menyebar di setiap daerah dan bergabung dengan denominasi tertentu untuk bergabung membangun kesatuan. Dengan kembali pada konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam Surat Efesus ini, penulis hendak menegaskan bahwa kerja sama ekumenis itu memiliki fondasi biblis yang kokoh. Kerja sama ekumenis itu adalah perintah Kitab Suci, secara khusus Surat  Efesus. Karena itu, umat kristiani perlu menggali hakekat Gereja yang terkandung dalam konsep Tubuh Kristus itu dan menjadikannya sebagai landasan yang kokoh bagi setiap kerja sama ekumenis demi pemulihan kesatuan Gereja di Indonesia.***

Referensi:
[1] Bdk. Lumen Gentium, art. 1-3.
[2] Ibid.
[3] Bdk. Hubert Jedin (ed.), History of the Church, VolIV, New York: The Seabury Press, 1980, hal 3.
[4] Bdk. Georg Kirchberger, Gerakan Ekumene, Maumere: Ledalero, 2010, hal. 18.
[5] Bdk. Michael Collins & Matthew A.Price, The History of Christianity, (terj. Natalias, Ismuliady, Fransiskus), Yogyakarta: Kanisius, 2006, hal. 134.
[6] Ibid., hal. 135.
[7] Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 22.
[8] Bdk. Michael Collins & Matthew A.Price, Op. Cit., hal. 136.
[9] Ibid., hal 136-137.
[10] Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 26.
[11] Ibid., hal. 27.
[12] Bdk. Christian de  Jonge, Apa itu Calvinisme?, Jakarta: Gunung Mulia, 1998, hal. 226
[13] Ibid., hal. 225-226.
[14] Ibid., hal. 227.
[15] Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 31
[16] Ibid., hal. 147.
[17] Bdk. Unitatis Redintegratio, art. 4.
[18] Ekumene berasal dari bahasa Yunani oikoumene yang berarti seluruh dunia. Setelah agama Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, kata ekumene mulai diartikan sebagai “termasuk Gereja.” Ekumene berarti juga menyangkut semua orang. Pada awal abad 20, kata ekumene diberi arti geografis yakni orientasi Gereja misioner yang terarah kepada seluruh dunia. Pada zaman ini juga, Nathan Soderblom, Uskup Agung Lutheran di Uppsala (Swedia), memberikan arti lebih teologis terhadap kata ekumene ini. Ia memakai kata ekumene untuk menjelaskan bahwa Gereja-Gereja Kristen secara fundamental bersifat satu. Ekumene merupakan ungkapan untuk Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasar kesatuan yang harus diwujudkan oleh Gereja-Gereja Kristen. Jadi, ekumene memiliki dua arti yang saling berkaitan yakni menyangkut seluruh dunia (universal) dan sesuatu yang menyangkut kesatuan Gereja-Gereja. Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal 1-3.
[19] Ibid., hal. 90.
[20] Ibid.
[21] Ibid., hal. 59-64.
[22] Ibid.
[23] Unitatis Redintegratio, art 1. “Mendukung pemulihan kesatuan antara segenap umat kristen merupakan salah satu maksud utama Konsili Ekumenis Vatikan II. Sebab yang didirikan oleh Kristus Tuhan ialah Gereja yang satu dan tunggal. Sedangkan banyak persekutuan kristen membawakan diri sebagai pusaka warisan Yesus Kristus yang sejati bagi umat manusia. Mereka semua mengaku sebagai murid-murid Tuhan, tetapi berbeda-beda pandangan dan menempuh jalan yang berlain-lainan pula, seolah-olah Kristus sendiri terbagi-bagi. Jelaslah perpecahan itu terang-terangan berlawanan dengan kehendak Kristus, dan menjadi batu sandungan bagi dunia, serta merugikan perutusan suci, yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk.”
[24] Paus Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (Semoga Mereka Bersatu), terj. R. Hardawiryana, Jakarta: Dokpen KWI, 1996.
[25] Ibid., art. 7-14.
[26] Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium, art. 246, (terj. F.X.Adisusanto dan Bernadeta H. Tri Prasasti), Jakarta: Dokpen KWI, 2014.
[27] Ibid.
[28] Bdk. Zakaria J. Ngelow, “Perkembangan dan Konteks Gerakan Ekumene di Indonesia,” dalam http://oase-intim./2013/05/perkembangan-dan-konteks-gerakan.html, diakses 6 Februari 2015
[29] Bdk. http://st291735.sitekno.com/page/36179/daftar-anggota-pgi.html, diakses 5 Februari 2015.
[30] Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 148.  Bdk. Konradus Epa, Gereja-Gereja di Indonesia butuh proses untuk  mencapai kesatuan, dalam http://indonesia.ucanews.com/2013/06/11/umat-kristiani-indonesia-butuh-proses-untuk-mencapai-kesatuan/, di akses 15 September 2015.
[31] Bdk. http://www.jawaban.com/read/article/id/2013/2/6/90/130206224601/PGI-dan-KWI-Sepakat-Tingkatkan-Kerjasama-Ekumenis.html, diakses 22 September 2014.
[32] Bdk, http://indonesia.ucanews.com/2013/11/29/pesan-natal-bersama-pgi-dan-kwi-2013/, diakses 22 September 2014
[33] Pdt. Dr. A. A. Yewangoe dan  Mgr. Ignatius Suharyo, Seruan Bersama PGI – KWI kepada Umat Kristiani, dalam http://pormadi.wordpress.com/2014/07/18/seruan-bersama-pgi-kwi-kepada-umat-kristiani/, diakses 22 September 2014.
[34] Bdk. Tom Jacobs, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya, Yogyakarta: Kanisius, 1983, hal. 336-337.
[35] Bdk. Gerald F. Hawthorne, (ed.), Dictionary of Paul and His Letters, England: Inter-versity Press, 1993, hlm. 248.

Paus Fransiskus Mengunjungi Thailand

0
Paus Fransiskus mengikuti upacara penyambutan yang dipimpin oleh Perdana Mentri Thailand, Prayut Chan-O-Cha/ Sumber foto: https://en.tempo.co/

Umat Katolik dengan antusias berkumpul di sekitar Kedutaan Vatikan di Bangkok dan Rumah Sakit St. Louis. Mereka ingin berswafoto dengan Paus Fransiskus. “Sekali seumur hidup, saya ingin melihatnya dan dapat menerima doa dari Paus,” kata Orawan Thongjamroon (60) di luar Kedutaan Vatikan, seperti dilansir Reuters.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Paus tiba di Thailand pada Rabu (20/11). Kunjungan tersebut merupakan agenda Paus Fransiskus untuk bertemu dengan minoritas umat Katolik. Pesawat Paus Fransiskus mendarat sekitar tengah hari dan kemudian Paus Fransiskus berjalan di atas karpet merah.

Paus Fransiskus disambut oleh para pemimpin Gereja untuk kunjungan yang bertepatan dengan peringatan 350 tahun misi kepausan pertama di Thailand. Di antara mereka yang menyambutnya adalah sepupu dan teman masa kecilnya dari Argentina, Suster Ana Rosa Sivori, biarawati berusia 77 tahun yang telah bekerja di sekolah-sekolah Thailand selama lebih dari 50 tahun.

Sivori akan menjadi penerjemah pribadi Paus Fransiskus selama berada di Thailand. Keduanya tampak berseri-seri saat berjalan melintasi aspal melalui kerumunan pastor, anak-anak, dan pejabat pemerintah ke iring-iringan mobil yang menunggu.

Paus Fransiskus memulai program resminya pada Kamis (21/11) saat dia dijadwalkan untuk bertemu Raja Maha Vajiralongkorn serta tokoh tertinggi Buddha sebelum mempersembahkan misa di Stadion Nasional. Paus Fransiskus akan mengadakan misa lainnya di Katedral Assumption Bangkok sebelum berangkat ke Jepang pada Sabtu (23/11). Paus Fransiskus akan mengunjungi titik peringatan ledakan nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.

Seperti diketahui, mayoritas masyarakat Thailand beragama Buddha. Jumlah umat Katolik di negara itu tidak lebih dari 2 persen dari seluruh populasi. Agama Katolik pertama kali masuk di Thailand pada pertengahan 1500-an melalui para misionaris dan pedagang Portugis, dan selama bertahun-tahun umat Katolik membangun sekolah dan rumah sakit.

“Teman-teman yang terkasih di Thailand dan Jepang, sebelum kita bertemu, mari kita berdoa bersama agar kita dipenuhi rahmat dan sukacita,” demikian pesan yang tertulis di akun resmi Paus Fransiskus sebelum meninggalkan Vatikan.

Selain itu, di Gereja St. Louis di Bangkok, seorang wanita Katolik Thailand, Nuchnaree Praresri (49) dengan bangga menunjukkan foto-foto dirinya dan Paus Fransiskus dari kunjungannya ke Vatikan bersama suaminya. “Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan memiliki kesempatan lain untuk bertemu dengannya lagi,” kata Nuchnaree Praresri.*

Berita Duka: Uskup Padang, Mgr. Martinus Situmorang Meninggal Dunia

0
Mgr Martinus DogmaSitumorang-OFMCap/Dok. HIDUP

Beberapa waktu lalu, Uskup Padang Mgr. Martinus Dogma Situmorang OFM Cap dikabarkan dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Boromeus, Bandung (Jumat, 8/11/2019).

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Menurut Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap, sejak mengikuti Sidang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), di Bumi Asih, Bandung, Jawa Barat (Senin, 4/11/2019), Uskup Padang Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM Cap sudah terlihat lelah dan wajahnya bengkak.

“Dua hari lalu harus dibawa ke rumah sakit dan tadi sore masuk ke ruang ICU. Kondisinya lemah, badan bengkak dan sesak nafas. Saya baru saja melayankan sakramen pengurapan orang sakit kepada beliau, yang dihadiri oleh Mgr. Yohanes Harun, Mgr. Sudarso dan beberapa keluarga,” kata Mgr. Kornelius.

Setelah beberapa hari, kondisinya semakin memburuk dan pada akhirnya Mgr. Martinus Dogma Situmorang menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 21.40 WIB di Rumah Sakit Boromeus, Bandung.

Adapun informasi yang sama diterima dari Vikjen Keuskupan Padang, Pastor Alex I. Suwandi. Pastor Alex membenarkan informasi tersebut. Ia memohon doa bagi almarhum Mgr. Martinus Dogma Situmorang.

Selain itu, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius juga membenarkan bahwa Uskup Padang Mgr. Martinus D. Situmorang telah meninggal dunia. Belum dibuat informasi resmi oleh Keuskupan Padang, namun berita itu benar,” kata dia.*

Zakheus Pemungut Cukai Bertobat setelah Bertemu Yesus

0

Zakheus Pemungut Cukai Bertobat setelah Bertemu Yesus: Renungan Harian Katolik, Selasa 19 November 2019JalaPress.com; Injil: Luk. 19:1-10

[postingan number=3 tag= ‘cinta-tuhan’]

Tuhan mengashi kita, entah seperti apapun kita bentuknya, sifatnya, juga perbuatannya. Lalu pertanyaannya: bagaimana kalau manusia itu jatuh ke dalam dosa, apakah Tuhan tetapi mengasihi-Nya? Mazmur bilang: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya” (Mzm. 145:8).

Tapi, ingat, mengasihi tidak sama dengan membiarkan. Mengasihi itu juga berarti mendidik, misalnya dengan cara menasehati atau menegur. Kitab Suci bilang, “Dari sebab itu, orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit. Mereka Kautegur dengan mengingatkan dalam hal mana mereka sudah berdosa” (Keb. 12:2).

Ketika kita menyimpang dari jalan-Nya, Ia tidak menghakimi dan tidak menghukum kita. Tapi, sebaliknya, Ia tetap mengasihi dan mengampuni. Ia memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat. Dengan harapan agar kesempatan kedua yang diberikan-Nya itu sungguh-sungguh dipakai untuk memperbaiki cara hidup lama yang salah. Hanya kadang-kadang, kita manusia, biar pun diberi kesempatan berkali-kali tetap saja jatuh, bahkan jatuh di lobang yang sama terus.

Injil hari ini menawarkan kepada kita contoh orang yang menggunakan kesempatan kedua dari Tuhan dengan baik. Orang itu adalah Zakheus. Dia seorang pemungut cukai, bahkan kepala pemungut cukai. Zaman dulu, pemungut cukai dicap sebagai pendosa; karena merampas duit orang. Dan, Zakheus pekerjaannya itu. Bahkan ia kepalanya. Kepala dari semua pendosa.

Seorang pendosa seperti Zakheus tidak pernah membayangkan bahwa Yesus mau mampir ke rumahnya. Ia mendengar kabar bahwa Yesus melintas di kota Yerikho, daerah tempat ia tinggal. Ia antusias untuk melihat orang seperti apakah Yesus itu. Besar kemungkinan ia sudah mendengar banyak cerita tentang Yesus, tetapi secara pribadi belum pernah melihat langsung. Uniknya, ia sampai harus naik ke atas pohon karena secara fisik memang pendek.

Ia tidak berharap bertemu; melihat dari jauh saja sudah cukup, pikirnya. Tapi apa yang terjadi? Yesus melihat usahanya dan bilang: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19:5). Hati siapa yang tidak luluh ketika mendapat pengalaman seperti ini?

Tuhan selalu memberi lebih dari apa yang kita harapkan. Zakheus hanya berharap melihat dari jauh, tapi Tuhan Yesus ternyata mau datang ke rumahnya. Kita melihat perubahan apa yang terjadi?

Zakheus yang dikenal sebagai kepalanya pendosa itu berubah seratus delapan puluh derajat. Ia berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk. 19:8).

Kita harus mencontoh sikap Zakheus. Yesus sudah datang ke tengah-tengah kita untuk menyelamatkan kita. Kita memang berdosa; bahkan sangat berdosa. Tidak apa-apa. “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Tapi, satu hal diminta dari kita: yaitu ketika Tuhan mengasihi dengan memberi kita kesempatan kedua, Ia mau kita bertobat. Tuhan mau ada perubahan besar terjadi di dalam hidup kita.

Tanda Akhir Zaman menurut Alkitab: Tuhan Mau Kita Bertahan

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Tanda Akhir Zaman menurut Alkitab: Renungan Harian Katolik, Minggu 17 November 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Mal. 4:1-2a; Bacaan II: 2 Tes. 3:7-12; Injil: Luk. 21:5-19

[postingan number=3 tag= ‘kitab-suci’]

Kitab Suci jelas menyebutkan bahwa hari Tuhan itu akan tiba; meski tidak ada seorang pun yang tahu kapan persisnya. Kedatangan-Nya ibarat musim panen (bdk. Mat. 13:30). Ia akan datang untuk memilah dan memilih dari antara jerami dan padi; ilalang dan gandum.

Gandum dan padi menggambarkan orang-orang yang selama hidupnya takut akan Tuhan; mereka yang senantiasa menjaga tutur kata dan perbuatannya. Sebaliknya, jerami dan ilalang menggambarkan mereka yang selama hidupnya berlaku jahat, tidak sabar, dan suka menyakiti orang lain. Jerami, termasuk akar dan cabangnya, akan dibakar habis; sedangkan padi dan gandum dikumpulkan-Nya ke dalam lumbung. Apa artinya? Yaitu bahwa Tuhan datang untuk memisahkan orang baik dari orang jahat. Satu hal yang pasti: Ia tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah.

Kedatangan Tuhan itu didahului dengan tanda-tanda. Dalam Injil hari ini, murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Yesus menjawab (bahwa tanda-tandanya adalah):

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.

Kedatangan Tuhan ditandai dengan berbagai kejadian dan situasi sulit. Tapi, Yesus meminta kita supaya tetap waspada agar jangan sampai disesatkan; sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Nya dan berkata “Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat.”

Yesus dengan sangat tegas bilang: “Janganlah kamu mengikuti mereka (orang-orang yang menyesatkan itu). Sebab semuanya itu (tanda-tanda itu) harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” Justru sebaliknya, segala kejadian itu dimaksudkan supaya menjadi kesempatan bagi kita untuk bersaksi. Kesaksian seperti apa yang diinginkan Tuhan? Kesaksian bahwa kita mampu bertahan. Yesus sendiri bilang: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Yesus mau supaya apapun situasi sulit yang kita hadapi, tetaplah bertahan. Bekerjalah seperti biasanya. Jangan panik. Jangan takut. Kita tidak akan dibiarkan berjalan sendiri; Tuhan akan menolong kita. Ia menjamin hidup kita; bahkan Ia sendiri bilang bahwa tidak sehelai pun dari rambut kepala kita akan hilang. Tetaplah bertahan dan percayalah pada Tuhan.