8.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 44

Martir Katolik: Rela Mati demi Surga yang Dirindukan

0
tassilo111 / Pixabay

Kitab 2 Mak. 7:1-2, 9-14, seperti yang kita dengar pada bacaan pertama hari Minggu kemarin, mengisahkan tentang tujuh bersaudara dan ibu mereka yang dengan gigih membela apa yang mereka imani. Kita tahu bahwa mereka merupakan penganut agama Yahudi.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Sebagai orang Yahudi yang taat, ketujuh bersaudara dan ibu mereka itu tahu betul bahwa Tuhan melarang umat-Nya memakan daging babi yang haram. Dan, bagi mereka, larangan itu merupakan bagian dari iman. Maka, sebisa mungkin mereka tidak melanggar larangan itu, entah dalam situasi apapun; sebab melanggar larangan Tuhan, sama saja artinya dengan ‘menyangkal iman’. Karenanya, mereka rela memilih mati daripada harus melanggar larangan dari Tuhan.

Apa yang membuat mereka berani? Kitab 2 Makabe itu menjelaskan bahwa mereka berani mati karena mereka percaya bahwa hidup di dunia ini sifatnya sementara saja. Semua orang, entah cepat atau lambat, akan mati juga. Tapi, bagi orang yang selama hidupnya mampu mentaati perintah Tuhan dan menjauhi larangannya, mereka akan dibangkitkan untuk kehidupan yang kekal. Jadi, mereka percaya pada kebangkitan orang-orang mati.

Keyakinan itu terungkap lewat pernyataan dari anak yang kedua. Dalam kisah itu, anak yang kedua angkat bicara, katanya: “Memang benar, engkau dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya” (2 Mak. 7:9).

Orang seperti mereka ini orientasinya bukan lagi kesenangan duniawi, tapi kebahagiaan kekal. Mereka rela mengorbankan kesenangan duniawi, demi memperoleh kebahagiaan di dunia akhirat. Mereka memandang segala hal yang ada di dunia ini bukan apa-apa dibandingkan kebahagiaan kekal yang sudah disiapkan oleh Tuhan bagi mereka.

Mereka tahu bahwa surga itu ada dan harus diperjuangkan, tidak cuma-cuma. Hanya orang yang terbukti setia yang pantas menerimanya; sebab surga adalah upah bagi orang yang percaya; dan bagi orang yang mampu mempertahankan imannya selama hidupnya di dunia ini.

Itulah sebabnya, ketika anak ketiga dalam kisah itu diminta menjulurkan lidahnya untuk dipotong, ia bahkan juga menyodorkan tangannya; supaya dipotong sekalian. Dengan berani ia berkata: “Dari surga aku telah menerima anggota-anggota ini! Demi hukum-hukum Tuhan, kupandang semuanya ini bukan apa-apa! Aku berharap akan mendapat kembali semua ini dari-Nya!” (2 Mak. 7:11).

Luar biasa. Justru sang raja sendiri yang tercengang-cengang atas semangat pemuda itu yang memandang kesengsaraannya bukan apa-apa. Mengapa mereka begitu berani? Karena mereka mempunyai iman yang besar terhadap kebangkitan orang mati.

Dalam Gereja Katolik, cukup banyak orang yang berani mati seperti orang-orang yang diceritakan dalam Kitab Makabe itu. Gereja menyebut mereka sebagai ‘martir’. Para martir itu berani mati demi membela imannya. Mereka dipaksa meninggalkan iman Katolik, tetapi mereka tidak goyah. Mereka memilih mati daripada harus meninggalkan Yesus.

Apa yang membuat mereka berani mati? Sama seperti ketujuh bersaudara yang dikisahkan dalam Kitab 2 Makabe itu, para martir percaya bahwa hidup di dunia ini sifatnya sementara saja. Ada hidup lain yang harus mereka perjuangkan, yang sifatnya abadi. Mereka percaya bahwa sekalipun hidup mereka di dunia ini dihapuskan, Tuhan akan membangkitkan mereka untuk menikmati kehidupan yang kekal. Itulah surga yang dirindukan oleh banyak orang.

Ya, semua orang ingin masuk surga, namun tidak semua orang dapat masuk ke dalamnya; sebab pintu surga itu sesak. Yesus sendiri berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk. 13:24).

Perkataan Yesus ini mau mengatakan kepada kita bahwa tidak ada orang yang secara otomatis bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga; sebab masuk Surga itu susah. Tidak enteng. Maka dari itu, semua orang yang ingin masuk surga harus berusaha dan berjuang.

Orang hanya bisa masuk ke dalamnya sejauh ada usaha dan kerja keras. Apa yang perlu kita usahakan untuk menerobos pintu yang sempit itu? Tidak ada yang lain kecuali  menuruti segala perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya; entah dalam situasi apapun, termasuk jika harus mati demi mempertahankan apa yang diimani.

Babi Haram dalam Alkitab: tapi Mengapa Orang Katolik Boleh Makan Dagingnya?

1
Pexels / Pixabay

Dalam Kitab 2 Mak. 7:1-2, 9-14, sebagaimana kita dengarkan pada bacaan pertama hari Minggu kemarin, diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Antiokhus Epifanes, ada tujuh orang bersaudara serta ibu mereka, ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan, mereka dipaksa oleh sang raja untuk makan daging babi yang haram. Nah, menariknya, setelah mendengar kalimat terakhir ini, orang kemudian bertanya, “Kalau begitu daging babi haram, dong?”

[postingan number=3 tag= ‘haram-halal’]

Perlu kita ketahui bahwa Kitab Taurat memang menyebutkan sederet binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya, alias haram. Pengaturan ini bermula dari peristiwa air bah, yaitu ketika Nuh diperintahkan oleh Tuhan supaya memasukkan ke dalam bahtera yang dibuatnya segala binatang yang halal dan binatang yang haram; dengan perbandingan tujuh berbanding satu. Tujuh pasang binatang halal, dan satu pasang binatang haram.

Berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya” (Kej. 7:1-2).

Apa saja nama-nama binatang yang haram itu? Mengenai rincian jenis dan namanya bisa kita lihat di dalam Kitab Imamat. Kitab Imamat menyebutkan bahwa daging binatang yang tidak boleh dimakan, antara lain: unta, pelanduk, kelinci, dan babi hutan (Im. 11:4-8).

Sampai di situ jelas bahwa di dalam Kitab Taurat memang ada sederet nama binatang yang haram. Tapi, jangan lupa bahwa Kitab Taurat, yang di dalamnya ada Kitab Kejadian dan Kitab Imamat, merupakan Kitab Suci orang Yahudi. Artinya, semua peraturan dan larangan yang tertulis di dalam kitab tersebut pertama-tama dan terutama ditujukan untuk mereka, dan karenanya berlaku seratus persen bagi mereka.

Nah, yang diceritakan di dalam Kitab 2 Mak. 7:1-2, 9-14 itu adalah penganut agama Yahudi. Mereka bukan orang Kristen. Belum ada orang Kristen saat itu; karena Kristen artinya pengikut Kristus. Saat itu, Yesus belum lahir.

Sebagai orang Yahudi tulen, ketujuh bersaudara dan ibu mereka itu tahu betul bahwa Tuhan melarang umat-Nya memakan daging binatang haram; dan bagi mereka yang melanggarnya ada sanksinya. Makanya, sebisa mungkin mereka berusaha untuk tidak melanggarnya, dalam situasi apapun.

Terbukti, mereka tidak goyah sedikipun. Meski mereka ditangkap, disiksa dan dipaksa, mereka tetap tidak mau makan daging babi yang haram itu. Pokoknya, biar disiksa sampai mati, yang terpenting tidak melanggar larangan Tuhan. Seorang dari mereka bilang: “Kami lebih senang mati daripada melanggar hukum nenek moyang” (2 Mak. 7:2).

Seperti sudah disebutkan di atas bahwa perintah dan larangan yang tertuang di dalam Kitab Taurat itu berlaku sepenuhnya untuk orang Yahudi; tapi – sekalipun Kitab Taurat – menjadi bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama umat Kristiani, peraturan dan larangan yang ada di dalamnya tidak semuanya berlaku untuk pengikut Kristus, terutama soal haram-halal.

Mengapa? Karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa ‘bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang’ (Mat. 15:11). Jadi, sebagai pengikut Kritus, tidak ada larangan bagi kita untuk makan daging babi atau daging binatang apa saja sejauh kita suka dan berguna bagi tubuh.

Tapi, bukankah Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat? Betul sekali. Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat; dan penggenapannya itu mencakup mempertahankan Hukum Taurat dalam hal moralitasnya (hukum moral dalam sepuluh perintah Allah), namun berbagai ketentuan lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan hukum moral itu, tidak diberlakukan lagi dengan cara yang sama seperti dalam Kitab Taurat. Jadi, sama sekali tidak ada pertentangan antara perkataan Yesus dengan peraturan dan larangan dalam Kitab Taurat; sebab Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat.

Fungsi Paus dalam Katolik dan Tanggapan Kita

0
reynaldodallin / Pixabay

Dari manakah asal otoritas Paus? Apa fungsi dari otoritasnya itu? Ketaatan macam apa yang patut kita, sebagai umat, berikan kepadanya? Itulah sejumlah pertanyaan yang biasanya diajukan oleh banyak orang.

[postingan number=3 tag= ‘gereja-katolik’]

Otoritas paus memiliki asal muasal ilahi. Tuhan menjadikan Simon yang Dia sebut Petrus, sebagai ‘batu karang’ dari Gereja-Nya. Lalu, Dia memberikan kepadanya kunci-kunci Gereja-Nya dan menetapkan dia sebagai gembala bagi seluruh kawanan domba-Nya.

Paus, Uskup Roma dan pengganti Petrus, ‘adalah sumber dan dasar yang abadi dan kelihatan dari kesatuan di antara para uskup dan di antara seluruh umat beriman’ (lih. LG 23). “Karena Uskup Roma, berkat kedudukannya sebagai Pengganti Kristus … dan sebagai gembala seluruh Gereja, memiliki kekuasaan penuh, tertinggi dan universal atas seluruh Gereja, kekuasaan yang selalu dijalankan tanpa halangan” (lih. LG 22).

Ketika Paus berbicara mengenai perkara-perkara yang berkaitan dengan iman dan moral, dan bahkan disiplin Gereja, umat beriman terikat oleh sebuah kewajiban ilahi untuk menaatinya. Maka, sebagai orang Katolik yang setia, kita harus memeluk pernyataan-pernyataannya dengan patuh. Hanya dengan cara ini kita akan terbuka terhadap kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Kristus mendirikan Gereja sedemikian rupa sehingga otoritasnya menjadi bagian dari hakikatnya. Dia menetapkannya sebagai ‘Tiang penopang dan dasar kebenaran’ (bdk. 1Tim 3:15) dan memberikan kepadanya otoritas ilahi untuk memelihara kesatuan dan kebenaran (lih. Mat 28:18-20).

Asal Muasal Ilahi Takhta Kepausan

Sebagaimana ditunjukkan oleh Yesaya 43:1, tindakan memberi nama sama artinya dengan menyatakan hak atas orang yang dinamai. ‘Pernyataan hak’ di sini mencakup pengakuan atas tujuan atau misi khususnya. Mengenai hal ini, Kitab Suci memberikan contoh yang sangat jelas, misalnya dari tindakan penamaan Allah atas Abraham dan Israel (Kej. 17:5 32:29).

Ketika Nebukadnezar mengangkat Mattaniah sebagai raja Yehuda, dia mengubah nama Mattaniah menjadi Zedekiah sebagai sebuah tanda bahwa otoritas raja baru itu berasal dari raja Babilonia (2Raj. 24:17).

Dalam cara yang sama ini, Yesus menyatakan hak Petrus dan para penggantinya sebagai sumber otoritas yang kelihatan dalam Gereja-Nya. Yesus berkata Simon:

“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kau ikat di dunia akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga (Mat.  16:18-19).

Dengan menjadikan Petrus sebagai ‘batu karang’, Kristus menganugerahinya otoritas ilahi untuk memenuhi misi-Nya di dunia. Nama ‘batu karang’ memadukan antara misi Petrus dengan otoritas Kristus. Fungsi utama dari otoritas ini adalah kesatuan (Luk. 23:31-32).

Umat beriman Katolik, dari pembaptisan yang diterimanya, memiliki kewajiban untuk memelihara kesatuan dengan Gereja. Karenanya, pengakuan iman, kepemimpinan gerejawi, dan sakramen-sakramen, merupakan perekat-perekat kesatuan antara umat beriman Katolik dengan Gereja Kristus yang dipimpin oleh Paus dan para Uskup.

Sebagaimana dinyatakan kepada Petrus dan para rasul yang lain, jika salah satu perekat kesatuan ini mengendor, maka kesatuan dengan Gereja pun mengendor. “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku” (Luk. 10:16).

Maka dari itu, seturut kehendak ilahi, dan demi kesatuan seluruh Gereja, kita dituntut untuk taat terhadap otoritas hukum dalam Gereja. Dan, karena Paus adalah otoritas tertinggi dalam Gereja dan mempumyai kewajiban khusus untuk memastikan kesatuan iman, maka ketaatan terhadapnya merupakan sesuatu yang patut kita lakukan.

Referensi:
– Lumen Gentium no 22, 23,
– Kitab Hukum Kanonik no 750
– Katekismus Gereja Katolik no 2035 – 36, 2051
Leon J. Suprenant, Jr & Philip C.L. Gray, Faith Facts – Answer to Catholic Questions, Vol. 1, Emmaus Road Publishing, terjemahan oleh Agustinus Tukan, Penerbit Dioma.
– Kitab Suci – Deuterokanonika.

Dampak dari Kejatuhan Manusia Pertama: Diusir dari Taman Eden

0
KolosVito / Pixabay

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul: Kejatuhan Manusia Pertama: dari Coba menjadi Dosa. Silahkan terlebih dahulu membaca tulisan tersebut sebelum lanjut membaca tulisan ini.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Adam dan Hawa diinterogasi oleh Tuhan. Adam ditanya duluan. “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” (Kej. 3: 11). Adam tidak menjawab pertanyaan Tuhan, tapi melemparkan kesalahannya kepada Hawa. Ia berkata: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12).

Hawa juga ditanya oleh Tuhan dengan pertanyaan yang kurang lebih sama. Seperti Adam, ia juga tidak menjawab pertanyaan Tuhan, tapi melemparkan kesalahannya kepada ular: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (Kej. 3:13). Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu” (Kej. 3:14).

Benarkah hanya ular yang salah dalam kasus ini? Jawabannya: jelas tidak benar. Ular memang salah, tetapi Adam dan Hawa juga salah. Tuhan sudah memberitahukan larangan itu sejak awal, Hawa ingat itu, meskipun Adam dengar tapi tidak mempedulikannya. Tapi, apapun alasannya, keduanya tetap salah. Mereka tidak bisa seenaknya begitu saja melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Mereka harus bertanggung jawab.

Tapi memang, jika kita perhatikan dalam kehidupan kita setiap hari saat ini, apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa ini, kita lakukan juga dalam kehidupan kita. Kita mudah mengkambing-hitamkan pihak lain ketika kita terjepit dan salah. Kita sulit mengakui kesalahan kita. Kita salahkan si A, si B, dan si C, dan tidak pernah berkata, “Saya salah”.

Kita cenderung merasa diri sebagai korban; dan karenanya tidak mau dipersalahkan. Sebagai contoh, pernah terjadi beberapa kasus pemerkosaan. Anehnya, yang disalahkan bukan si pemerkosanya (laki-laki), tetapi justru si korbannya, yaitu si perempuannya. Alasannya: siapa suruh perempuan itu berpakaian seksi. Mereka berdalih, seandainya saja perempuan itu berpakaian yang sopan, pastilah laki-laki itu tidak tergoda untuk memperkosanya. Aneh kan? Nah, tampaknya, cara berpikir seperti ini sudah ada sejak zaman Adam dan Hawa.

Istilah ‘ngeyel’ dan ‘ngeles’ yang kita gunakan saat ini ternyata sudah dilakukan juga oleh manusia pertama itu. Ini warisan Adam dan Hawa. Keduanya saling menuduh, hingga akhirnya menyalahkan binatang (si ular) yang tidak berdaya dan tidak mampu membela diri. Padahal, Tuhan menempatkan mereka di taman Eden supaya mereka bisa menikmati kebahagiaan di sana. Tuhan sudah menyediakan segala-galanya untuk mereka. Tapi, sayangnya, tingkah laku mereka malah edan. Saking enaknya tinggal di situ, mereka tidak lagi mengindahkan apa yang dilarang oleh Tuhan. Bahkan, mereka ingin sama seperti Tuhan.

Tuhan mau supaya kita menjadi pribadi yang sadar dan tahu apa yang dilakukan: yaitu pribadi yang mampu mempertanggungjawabkan setiap tindakan dan tutur katanya. Tuhan tidak mau kita menjadi pribadi yang suka tebar fitnah, ujaran kebencian, dan berita bohong (hoaks); serta seenaknya melemparkan kesalahan kepada orang lain. Karenanya, Tuhan tidak percaya begitu saja terhadap setiap pembelaan diri dan saling tuduh yang dilakukan oleh manusia pertama itu. Ia mau supaya sikap seperti itu harus dihentikan.

Makanya Ia memanggil mereka satu persatu. Mula-mula Ia memanggil Hawa dan berkata kepadanya: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu” (Kej. 3:16).

Tuhan juga memanggil Adam dan bekata kepadanya: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:17-19).

Tuhan melihat bahwa manusia yang diciptakan-Nya itu sudah angat lancang. Mereka tidak mendengarkan larangan dari-Nya. Belum lagi, mereka hanya tahu berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab. Baru makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat saja mereka sudah merasa seperti ahli surga, apalagi kalau sampai mereka memakan buah dari pohon kehidupan. Bisa jadi mereka akan merasa seperti pemilik surga. Mereka tidak percaya lagi kepada-Nya dan mereka bisa menjadikan diri mereka sendiri sebagai tuhan; sebab jika buah kehidupan itu mereka makan, mereka akan hidup selamanya.

Tuhan tidak mau manusia itu jatuh untuk kedua kalinya. Maka, daripada hal itu terjadi, Tuhan pun mengantisipasinya. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya” (Kej. 3:22). Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.

Dari sinilah konsep mengenai dosa asal itu muncul di dalam ajaran Gereja kita. Kita menanggung akibat dari dosa yang dilakukan oleh manusia pertama, Adam dan Hawa itu. Pertanyaannya: mengapa kita yang harus menanggung akibat dari dosa mereka, padahal bukan kita yang melakukannya? Jawabannya: memang, bukan kita yang melakukan dosa itu, tapi karena dosa yang mereka lakukan itu, maka kesempatan setiap manusia, termasuk kita, untuk menikmati kebahagiaan di taman Eden dicabut oleh Tuhan.

Menerobos Pintu Sempit: Kunci Utama untuk Masuk Surga menurut Yesus

0
santiagotorrescl95 / Pixabay

Kunci Utama untuk Masuk Surga: Renungan Harian Katolik, Rabu 30 Oktober 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Rm. 8:26-30; Injil: Luk. 13:22-3

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Cerita Injil hari ini cukup menarik. Diceritakan bahwa seseorang, yang tidak disebutkan namanya, mengajukan satu pertanyaan penting kepada Yesus, katanya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk. 13:13). Yesus tidak bilang ‘ya’, juga tidak bilang ‘tidak’. Tapi, dari jawaban yang diberikan-Nya kepada orang tersebut kita bisa tahu maksud-Nya.

Yesus berkata kepada orang itu: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk. 13:24).

Jawaban Yesus ini mau mengatakan kepada kita bahwa tidak ada orang yang secara otomatis bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga; sebab masuk Surga itu susah. Tidak enteng. Maka dari itu, semua orang yang ingin masuk surga harus berusaha dan berjuang.

Jika kita bertanya, “Apakah semua orang mau masuk surga?” Jawabannya: ya hampir pasti semua orang mau masuk surga. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia: dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan, semuanya mau masuk Surga. Sayangnya, pintu surga itu sesak; sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya.

Memang, surga merupakan ‘tempat’ yang dijanjikan oleh Tuhan untuk semua orang. Yesus sendiri pernah berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (lih. Yoh. 14:2).

Tapi, sekali lagi, Surga itu tidak gratis. Orang hanya bisa masuk ke dalamnya sejauh ada usaha dan kerja keras. Ingat, di sini Yesus menekankan kata ‘usaha’. Apa yang perlu kita usahakan untuk menerobos pintu yang sempit itu? Tidak ada yang lain kecuali  menuruti segala perintah-Nya.

Ya, tiap-tiap orang dipanggil untuk menuruti perintah-Nya. Namun, tidak semua orang mau menanggapi panggilan itu. Hanya orang yang mengasihi Tuhan yang bersedia melakukannya. Yesus sendiri berkata: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15).

Mereka yang menanggapi panggilan Tuhan, merekalah yang dibenarkan oleh Tuhan. Tuhan akan menaruh orang-orang seperti itu di tempat yang mulia, yakni Surga. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, menuliskan: “Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rm. 8:30). Mengapa? Karena ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (lih. Rm. 8:28).

Jawaban Yesus ini mau mengatakan kepada kita bahwa tidak ada orang yang secara otomatis bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga; sebab masuk Surga itu susah.

Sekali lagi, kita harus menuruti perintah Tuhan untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga; dan hal itu kita lakukan selagi masih di sini, yaitu di dunia ini. Jangan sampai terlambat; sebab jika terlambat, percuma. Yesus berkata: “Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu” (Luk. 13:25). Pesannya: berjuanglah untuk menerobos pintu yang sempit itu selagi masih ada kesempatan.

Selama masih ada di dunia ini, Tuhan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk menuruti perintah-Nya. Kita hanya akan diselamatkan apabila semasa hidup di dunia ini kita mampu menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan kita  dengan perintah Tuhan. Jika tidak, kita akan menyesal seperti orang kaya dalam cerita Lazarus.

Orang kaya itu berkata kepada Bapa Abraham: “Aku minta kepadamu, Bapa Abraham, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini” (Luk. 16:27-28).

Marilah kita berusaha dan berjuang untuk menerobos pintu yang sesak itu. Memang tak ada yang mudah. Tak ada yang gampang. Ingat, waktu kita terbatas. Hanya di sini, yakni di dunia ini, saat dan tempatnya kita berusaha dan berjuang. Kiranya kita mampu menyelaraskan hidup kita dengan perintah Tuhan; agar kita pun dibenarkan-Nya, dan kelak dimuliakan-Nya dalam Kerajaan Surga. Amin.

Menggali Spiritualitas ‘Salam’ Maria

0
WikimediaImages / Pixabay

Salam dalam konteks pembahasan ini saya artikan dengan sapaan. Sapaan merujuk pada sebuah ungkapan yang disampaikan kepada orang lain, baik  secara verbal maupun non-verbal.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Refleksi ini bertujuan untuk menemukan kekuatan salam. Ternyata salam memiliki kekuatan yang jarang digali oleh manusia. Maria adalah salah seorang tokoh iman yang mengajarkan kepada kita tentang kekuatan salam.

Salam Maria kepada Elisabet merupakan salam teladan bagi kita orang Kristen. Dalam kisah Maria memberikan salam kepada Elisabet dikatakan bahwa Maria berangkat ke pegunungan Yehuda dan melakukan perjalanan jauh (Luk 1:39), ketika salam Maria sampai ke telinga Elisabet maka melonjaklah anak dalam rahim Elisabet (Luk 1:41). Pertanyaan kita ialah: mengapa anak dalam kandungan Elisabeth melonjak kegirangan?

Yohanes melonjak kegirangan ketika mendengar salam Maria karena Maria membawa serta Yesus dalam perjalanannya mengunjungi Elisabet. Peristiwa Maria membawa Yesus kepada saudaranya Elisabet ini diawali dengan pemberitahuan tentang kabar gembira. Kabar gembira yang diterima Maria hendak dibagikannya kepada saudarnya, Elisabet. Dengan demikian, salam Maria merupakan salam iman. Salam yang lahir dari iman Maria. Iman itu dibawa serta oleh Maria kepada Elisabet.

Salam Maria membangkitkan sukacita dalam diri Elisabet dan keluargannya. Sukacita Elisabet tidak hanya terjadi ketika ia mengandung Yohanes, akan tetapi sukacita itu menjadi penuh tatkala Maria mengunjunginya. Kunjungan ini meneguhkan Maria ketika Elisabet mengucapkan satu kata indah “Siapakah Aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi Aku?”

Reaksi spontan Elisabet lahir dari sukacita yang ia temukan ketika mendengar salam Maria. Sukacita itu dilengkapi dengan kehadiran Yesus bersama Maria. Dengan kata lain, kehadiran Yesus dalam rahim Maria memberikan sukacita kepada Elisabet. Maka kehadiran kita sebagai orang yang telah dibaptis kristiani dan telah diangkat menjadi anak-anak Allah pun membawa misi yang sama dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Yesus.

Spritualitas salam Maria merupakan spritualitas yang lahir dari jiwa yang memuliakan Tuhan.

Spritualitas salam Maria merupakan spritualitas yang lahir dari jiwa yang memuliakan Tuhan. Jiwa yang memuliakan itu adalah jiwa yang lahir dari hidup Maria, yang seluruhnya terarah kepada Allah: “Aku ini hamba Tuhan”. Ketika jiwa yang bergairah didekatkan pada Tuhan, maka benarlah ungkapan pemazmur yang berbunyi, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mzm 1:3). Demikian pun Maria yang telah dipilih Allah dan menjadi pribadi yang subur. Karena kesuburan itulah Elisabet berani mengucapkan “Siapakah Aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”.

Nasihat Paulus: Hendaklah Dosa Jangan Berkuasa Lagi

0
scholty1970 / Pixabay

Hendaklah Dosa Jangan Berkuasa Lagi: Renungan Harian Katolik, Rabu 23 Oktober 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Rm. 6:12-18; Injil: Luk. 12:39-48

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menitipkan satu pesan penting. Ia menuliskan: “Saudara-saudara, hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya” (Rm. 6:12).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Pesan yang ditulis oleh Paulus tersebut kiranya cukup beralasan. Dia tahu bahwa hidup kita di dunia ini seperti sedang berada di medan pertempuran. Kita berhadapan dengan dua kekuatan besar: kekuatan Tuhan dan kuasa si jahat. Maka, di dunia kita semua bertempur untuk membela kebenaran dan mengalahkan kejahatan.

Sama seperti peraturan di medan pertempuran pada umumnya, siapa saja yang mengaku kalah haruslah menyerahkan diri kepada lawannya. Kemudian, pihak yang kalah itu akan diambil dan dijadikan hamba oleh lawannya. Prinsipnya jelas: kepada siapa kita menyerahkan diri, kita dikuasai orang itu.

Kalau kita menyerahkan diri pada pengaruh jahat, maka kita dikuasai oleh perbuatan jahat. Kita menjadi hamba dosa. Sebaliknya, kalau kita menyerahkan diri pada kuasa Tuhan, maka Tuhan akan menguasai hidup kita. Kita menjadi hamba Tuhan.

Makanya Paulus memberi saran: “Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman. Tetapi, serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Rm. 6:13).

Idealnya, jika kita tunduk pada kuasa Tuhan, maka dosa tidak akan menguasai kita lagi. Maka, tunduklah hanya kepada kuasa Tuhan. Tetapi, kita tidak boleh lengah. Kita harus selalu berjaga-jaga; sebab si jahat selalu mencari celah untuk menguasai hidup kita.

Kepada tiap-tiap hamba-Nya, Tuhan menitipkan segala sesuatunya untuk dikerjakan. Karena itu, kita harus mampu mewujudkan perintah-Nya dalam hidup kita. Ingat, seorang hamba tidak boleh mengikuti kemauan sendiri, melainkan apa yang menjadi kehendak tuannya.

Berhubung sekarang lagi viral pemberitaan tentang penunjukkan para mentri, saya menganalogikan hidup seorang hamba Tuhan itu seperti kerja seorang mentri. Seorang mentri kabinet akan dinilai berdasarkan hasil kerjanya sendiri-sendiri. Tapi, seperti kata Pak Jokowi, seorang mentri tidak punya visi-misi sendiri. Yang punya visi-misi hanyalah presiden. Mentri hanya melakukan apa yang menjadi visi-misi presiden. Begitu juga dengan seorang hamba Tuhan. Pekerjaanya harus selaras dengan kehendak Tuhan; dan pada waktunya akan dinilai. Sayangnya, kita tidak pernah tahu kapan Ia akan menilai kita; sebab Ia datang pada saat yang tidak kita ketahui. Maka, berjaga-jagalah.

Berjaga-jaga seperti Bunda Maria

0
OmarHaz / Pixabay

“Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan”. (Luk. 12:39-40)

Kewaspadaan adalah sikap yang perlu dimiliki oleh setiap manusia. Ia waspada terhadap apa yang terjadi dalam hidup selanjutnya. Wajar bahwa setiap orang hanya mendambakan segala yang baik  akan terjadi dalam hidupnya.  Bila  segala yang baik itu terjadi, orang pasti bersuka cita. Akan tetapi, hal-hal yang tak baik atau kurang baik dan tak diinginkan kadang-kadang terjadi dalam hidup ini. Misalnya, menderita sakit, kehilangan orang tertentu, kehilangan barang atau harta tertentu, kehilangan pekerjaan dan kematian. Ini bagian dari hidup manusia. Tidak didambakan tetapi terjadi.

Sebelum hal-hal demikian terjadi, setiap orang perlu waspada; perlu hati-hati. Misalnya, menjaga kesehatan, menjaga tali persaudaraan atau menyimpan dengan baik barang atau harta tertentu. Sayangnya, hal-hal demikian sering kali datang pada saat orang lengah atau kurang waspada.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang kewaspadaan. Yesus mengingatkan para murid dan pendengar-Nya bahwa Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak disangkakan.  ‘Saat Anak Manusia datang’ itu boleh ditafsirkan sebagai saat orang meninggal dunia atau saat akhir zaman. Saat itu akan datang.  Ia pasti akan datang, walau waktunya tidak kita ketahui. Ia akan datang seperti pencuri ketika tuan rumah lengah.

Menurut Yesus, murid-murid-Nya perlu menyadari tentang saat kedatangan Anak Manusia itu. Sambil menantikan kedatangan Anak Manusia itu,  para murid harus tetapi tetap melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka. Tugas-tugas itu adalah melakukan kebaikan, mewartakan sukacita kerajaan Allah.

“Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya datang. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya (ay. 43-44).”

Ini ungkapan penting yang keluar dari mulut Yesus apabila para murid-Nya selalu waspada dengan berbuat baik; bertanggung jawab dengan perutusan yang dipercayakan-Nya kepada mereka.

Bunda Maria adalah bunda yang selalu berjaga-jaga dalam hidupnya. Ia hanya mengisi hidupnya dengan melakukan kehendak Tuhan sesuai dengan kata hatinya,  “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (bdk. Luk.1:38). Buktinya adalah ia sangat setia mengikuti Putra-Nya termasuk ketika Putranya ditinggalkan oleh para murid-Nya saat penderitaan-Nya.

Bahkan ketika Yesus sudah naik ke surga, ia tetap menyertai para murid Putranya yang sudah mulai berkumpul lagi melanjutkan misi sang guru (bdk. Kis. 1:12-14). Begitulah cara Bunda Maria berjaga-jaga, berwaspada sambil berbuat baik sesuai dengan kehendak Allah yang memanggilnya. Kita yakin Allah selalu berbangga dengan bunda Maria karena ia hanya melakukan kehendak Allah; ia bertanggung jawab dengan panggilannya sebagai bunda Allah dan bunda Gereja.

Hari  ini, Yesus mengajak kita agar selalu waspada, selalu berjaga-jaga dengan berbuat baik sambil menanti hari kedatangan-Nya yang kita tidak tahu kapan persisnya. Kita diajak bertanggung jawab dengan perutusan yang kita terima dari-Nya. Di sisa hidup kita masing-masing, kita hanya perlu berjuang melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan seperti Bunda Maria. Kita telah mendapatkan banyak hal dari Tuhan dan kita juga dituntut melakukan banyak hal baik yang dikehendaki Tuhan (bdk. Ay. 48). Bunda Maria adalah teladan kita. ***

Tuhan Yesus Mau Kita Berjaga-jaga — Renungan Harian

0
brenkee / Pixabay

Tuhan Yesus Mau Kita Berjaga-jaga: Renungan Harian Katolik, Selasa 22 Oktober 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Rm. 5:12, 15b, 17-19. 20b-21; Injil: Luk. 12:35-38

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma bilang: “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12).

Satu orang yang dimaksudkan oleh Paulus di sini adalah manusia pertama, yakni Adam. Karena dosanya, Adam mendapat hukuman dari Tuhan. Tuhan berkata kepada Adam:

“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:17-19).

Dosa yang dilakukan oleh manusia pertama ini rupanya menjalar kepada semua orang; artinya dilakukan oleh semua orang, sehingga muncul istilah ‘dosa warisan Adam’ atau ‘dosa asal’. Apa dosa Adam itu? Yaitu ‘ketidaktaatan’ pada perintah Tuhan.

Sampai hari ini, ketidaktaatan pada perintah Tuhan menjadi ciri paling nyata dalam diri manusia. Dan seharusnya, karena ketidaktaatan itu, kita semua mendapat hukuman dari Tuhan. Tapi untung saja, seperti kata Paulus, kita ternyata diselamatkan oleh satu orang. Satu orang itu adalah Yesus Kristus.

Jika Adam tidak taat pada perintah Allah, Yesus justru sebaliknya. ‘Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib’ (lih. Flp. 2:8). Makanya, Yesus disebut ‘Adam baru’. Karena pengorbanan-Nya itulah, kita semua diselamatkan.

 ‘Yesus taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib’ (lih. Flp. 2:8).

Satu hal yang diminta dari kita, yaitu berjaga-jaga dan berdoa. Berjaga-jaga di sini berarti bersiap sedia. Ciri orang yang tidak berjaga-jaga adalah ‘lengah’, asal buat, mudah menyerah, dan ikut-ikutan. Tuhan Yesus tidak mau itu. Ia mau kita sadar, tahu, dan mau. Kita sadar apa yang kita lakukan, tidak membeo atau ikut-ikutan. Kita tahu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Dan, kita mau melakukan hanya yang baik, dan meninggalkan yang jahat. Jangan sampai kita menyia-nyiakan sia-siakan pengorbanan Yesus di kayu salib. Semoga.

Asal-usul Munculnya Doa Rosario dalam Gereja Katolik

0
GregReese / Pixabay

Istilah Rosario berasal dari bahasa Latin rosarium [dari akar kata, rosa = bunga mawar], yang berarti karangan bunga mawar. Dalam budaya masyarakat Eropa, bunga mempunyai arti yang sangat penting, yaitu sebagai tanda cinta atau hormat.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Pada abad pertengahan, umat Kristen biasanya merangkaikan bunga mawar untuk dipersembahkan kepada Maria. Mereka meletakkannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria.

Ada dua tradisi mengenai asal-usul doa Rosario. Pertama, tradisi yang bersumber pada pengalaman St. Dominikus, pendiri Ordo Dominikan, pada awal abad ke-12. Menurut tradisi ini, Bunda Maria menampakkan dirinya kepada St. Dominikus. Dalam penampakkan itu, Maria memberikan Rosario kepada Dominikus dan meminta Dominikus untuk mewartakan Rosario itu.

Bunda Maria berjanji, jika Dominikus dengan setia mewartakan dan mendoakan doa Rosario, maka karya kerasulannya akan berhasil. Saat itu, Santo Dominikus kebetulan sedang berjuang melawan kaum bidaah Albigensian [suatu kelompok yang tidak percaya terhadap misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia]. Dalam sejarah akhirnya, Dominikus dan para pengikutnya berhasil ‘mematikan’ bidaah Albigensian itu dengan jalan menggalakkan doa Rosario.

Tradisi ini juga menyebutkan bahwa St. Dominikus adalah santo yang menyebarkan doa Rosario seperti yang kita kenal sekarang. Ia mempunyai peran yang  cukup besar dalam memperkenalkan doa Rosario kepada umat meski catatan riwayat hidupnya tidak menuliskan bahwa dirinyalah yang menyusun doa Rosario; bahkan konstitusi Dominikan juga tidak menyebutkannya sebagai pencipta doa Rosario.

Pada zaman Santo Dominikus, manik-manik yang sebelumnya dipakai untuk mendaraskan Doa Bapa Kami, mulai dipakai untuk mendaraskan Doa Salam Maria. Secara puitis umat mulai menyebut chaplet atau satu untaian manik-manik dengan nama rosarium, yang berarti karangan bunga mawar untuk Maria.

Dalam perjalanan waktu, Doa Bapa Kami yang telah digantikan dengan Doa Salam Maria, dibagi dalam tiga lingkaran lima puluhan, kemudian dibagi lagi ke dalam lima perpuluhan. Doa Bapa Kami lalu diucapkan pada setiap awal Salam Maria, dan pada akhir perpuluhan diakhiri dengan kemuliaan. Dengan demikian, terjadilah doa Rosario yang kita kenal sampai saat ini.

Kedua, setelah mapan secara historis, doa Rosario mulai mendapat dukungan dari lingkungan kepausan. Sikap itu bermula dengan dimasukkannya doa Rosario menjadi doa perang suci melawan Albigensian dan musuh-musuh Gereja, khususnya yang berada di Timur Tengah.

Saat itu, negara-negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman sehingga terdapat ancaman yang genting bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa, dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V meminta umat Katolik untuk berdoa Rosario agar pasukan Kristen memperoleh kemenangan.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa Rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto.

Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut. Jadi secara umum, orang menerima bahwa kemenangan pasukan Katolik yang dipimpin oleh Don Juan atas pasukan Turki dalam pertempuran pada tanggal 7 Oktober 1571, merupakan berkat kekuatan doa Rosario.

Doa ini kemudian berkembang di kalangan umat beriman dan mendapat tempat istimewa dalam Gereja. Paus Gregorius XIII menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Pesta Maria Ratu Rosario. Kemudian pada tahun 1884, Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario.

Diolah dari: Katolisitas.org