8.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 33

Charles Sebastian Sihombing Terpilih Sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Sibolga

0

Seperti kita ketahui bahwa Mgr. Anicetus B. Antonius Sinaga, OFMCap meninggal dunia (Sabtu, 7 November 2020). Kepergian Mgr. Anicetus meninggalkan duka mendalam terutama bagi umat di Keuskupan Sibolga. Tentu kepergian Mgr. Anicetus tidak menjadi hambatan bagi umat untuk melanjutkan peziarahannya di dunia ini. Hanya doa yang dapat dipanjatkan sebagai wujud cinta kepada Mgr. Anicetus.

Baca Juga:

Puji Tuhan, 3 hari setelah kepergian Mgr. Anicetus telah dipilih Administrator Keuskupan Sibolga. Melalui (Facebook) Beranda Keuskupan Sibolga diumumkan bahwa pada hari selasa, 10 November 2020, Kolegium Konsultores Keuskupan Sibolga telah memilih RP. Charles Sebastian Sihombing, OFMCap sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Sibolga.

Peristiwa tersebut merupakan kegembiraan dan sukacita bagi umat Katolik terutama umat Keuskupan sibolga.*

Sumber: https://www.facebook.com/Beranda-Keuskupan-Sibolga-110902900576509/

Kita Bekerja, Kita Sukses: Mengapa Kita Harus Bersyukur?

0

Kita Bekerja, Kita Sukses: Mengapa Kita Harus Bersyukur?: Renungan Harian, 11 November 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Tit. 3:1-7; Injil: Luk. 17:11-19

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bait Pengantar Injil pada bacaan liturgi hari ini diambil dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika yang bunyinya demikian: “Hendaklah kalian mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kalian” (1 Tes. 5:18).

Dari kutipan bait pengantar Injil ini menjadi jelas bagi kita mengenai apa yang diinginkan oleh Tuhan dari kita. Tuhan mau kita menjadi orang yang tahu bersyukur. Pertanyaannya adalah: mengapa kita harus bersyukur? Bukankah semua yang kita peroleh selama ini merupakan hasil jerih lelah kita? Atau memang sudah seharusnya terjadi demikian?

Itulah persoalan kita. Kita cenderung menerima segala sesuatu secara taken for granted, seolah memang seharusnya terjadi demikian. Atau juga, kita terlampau merasa berjasa. Kita merasa bahwa kesuksesan kita merupakan hasil usaha pribadi. Padahal, ketika gagal, kita dengan gampang menyalahkan Tuhan. Kita bilang bahwa Tuhan melupakan kita dan tidak menjawab doa kita.

Boleh jadi kita memang pekerja keras, tapi hasil kerja kita itu bergantung pada Tuhan. Jika Tuhan tidak memberi hasil atas kerja kita, sekeras apapun usaha kita tetap saja tidak ada hasilnya. Maka dari itu, surat yang ditulis oleh Paulus kepada Titus seperti yang kita baca hari ini menjadi catatan penting bagi kita. Paulus menulis begini: “Tuhan  telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya” (lih. Tit. 3:5).

Tuhan sudah begitu baik kepada kita. Ia memberi segala sesuatu yang kita butuhkan. Tapi, berapa banyak dari kita yang kembali sambil memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada-Nya? Ada tapi tidak banyak. Padahal, Tuhan hanya mau satu hal dari kita, yaitu agar kita senantiasa mengucap syukur.

Tentang bersyukur ini, kita harus belajar dari orang kusta, seorang Samaria, yang diceritakan dalam Injil hari ini. Ketika melihat bahwa dirinya sembuh, ia kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur. Pertanyaan Yesus kepada orang kusta yang kembali itu menjadi pelajaran penting bagi kita. Yesus berkata kepadanya: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:17-18). Dengan bertanya seperti ini Yesus sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ia mau agar mereka semuanya kembali untuk mengucap syukur.

Ketika meminta, kita meminta dengan kyusuk bahkan sampai meneteskan air mata. Kita seperti sepuluh orang kusta yang datang memelas dan meminta pertolongan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Tapi, ketika kita mendapat apa yang kita minta, kita diam-diam saja bahkan merasa sebagai hasil jerih lelah sendiri? Kita lupa bahwa Tuhan menjawab doa kita melalui beragam cara dan bentuk. Barangkali Tuhan menjawabnya seperti orang kusta yang tiba-tiba menjadi tahir ketika sedang dalam perjalanan.

Seringkali, kita seperti sembilan orang kusta yang tidak kembali. Kita tidak tahu diuntung. Karena itu, kedua bacaan hari ini kiranya menjadi teguran sekaligus ajakan bagi kita untuk selalu bersyukur. Ingatlah pesan pemazmur: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”.

Keuskupan Sibolga Kehilangan 6 Orang Biarawan Dalam Waktu Singkat

0

Duka mendalam dialami oleh umat Keuskupan Sibolga, pasalnya dalam waktu yang sangat singkat kehilangan 6 orang biarawan (pastor dan uskup). Seperti diketahui, dalam kurun waktu 22 September hingga 7 November 2020, jumlah biarawan (pastor dan uskup) yang meninggal dunia mencapai 6 orang. Belum kering air mata atas meninggalnya beberapa orang pastor, duka mendalam kembali melanda. Pada hari sabtu 7 November 2020, Mgr. Anicetus B. Antonius Sinaga meninggal dunia.

Baca Juga:

Berikut adalah tanggal dan nama pastor dan uskup yang meninggal dunia dalam kurun waktu 22 September hingga 7 November 2020 yakni Pastor Blasius Fau, OFMCap (22 September 2020), Pastor Servasius Sihotang,OFMCap (10 Oktober 2020), Pastor Philipus Tola Awo Harefa, Pr (25 Oktober 2020), Pastor Theophilus Odhental, OFMCap (29 Oktober 2020), Pastor Barnabas Winkler, OFMCap (6 November 2020), Uskup *Mgr Anicetus B. Antonius Sinaga, OFMCap (7 November 2020).

Mari kita doakan agar para pastor dan uskup yang telah dipanggil Tuhan, beristirahat abadi bersama Para Kudus.*

Belajar dari Paulus, Kita Balik Haluan

0

Belajar dari Paulus, Kita Balik Haluan: Renungan Harian, 5 November 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Flp. 3:3-8a; Injil: Luk. 15:1-10

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Kita semua pastilah mengenal tokoh Paulus. Surat-surat yang ditulisnya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru hampir pasti pernah kita baca.

Sebelum mengenal Kristus, Paulus adalah seorang penganiaya jemaat. Ia sendiri mengakui hal itu. Mengenai dirinya, ia menulis begini:

“Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp. 3:4-6).

Tapi, semenjak Tuhan Yesus memperkenalkan diri kepadanya, Paulus berubah seratus delapan puluh derajat. Kita mengenal peristiwa itu sebagai peristiwa Damsyik. Peristiwa itu memurnikan kembali penglihatan Paulus.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

Tuhan mengubah cara pandang Paulus dengan membuat matanya tidak bisa melihat untuk beberapa saat. Peristiwa Damsyik membuat penglihatan Paulus kembali ke titik nol. Ia seperti bayi yang baru belajar melihat. Dan, jelaslah, kini ia dapat melihat dengan jernih.

Apa yang dulu dilihatnya sebagai suatu keuntungan, kini ia melihatnya sebagai yang merugikan. “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Flp. 3:7-8).

Paulus adalah seseorang dengan masa lalu yang kelam. Kita pun demikian. Kita juga seringkali tergelincir dalam salah dan dosa. Tapi, seperti Paulus, kita harus mampu melihat dengan jernih setiap pengalaman kita. Biarkan cara melihat kita dipengaruhi oleh Kristus.

Jika kita orang yang keras kepala, Paulus lebih keras kepala. Tapi, ia toh mau hatinya diubahkan oleh Tuhan. Masa kita tidak? Jika kita selalu merasa diri benar, Paulus lebih dari kita. Tapi, kini ia menyadarinya sebagai sikap yang salah. Masa kita tidak bisa mengubah pola pikir kita? Kita perlu belajar dari Paulus tanpa harus menunggu jatuh tersungkur dan menjadi buta. Jadikanlah peristiwa kecil dan sederhana sebagai momentum kita berubah haluan.

Tuhan selalu memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat. Dan sebagaimana Injil hari ini, dipastikan bahwa ‘akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat’ (Luk. 15:10).

Tuhan selalu menantikan pertobatan kita. Di sini kita harus banyak belajar dari Paulus. Yang kita anggap benar belum tentu benar. Yang kita anggap menguntungkan belum tentu baik.

Tuhan menunggu kita di ujung jalan. Ia membuka tangan-Nya lebar-lebar menanti pertobatan kita. Saya dan Anda pernah salah, bahkan masih sering berbuat salah. Tapi, kita mempunyai Tuhan yang selalu merindukan pertobatan kita. Mari kita belajar dari Paulus, saatnya kita balik haluan dan kembali ke jalan Tuhan. Amin. –JK-IND–

Paus Memperjuangkan Hak LGBT, Bukan Mengizinkan Pernikahan Sesama Jenis

0

Beberapa hari belakangan ini banyak berita yang tersebar tentang Paus Fransiskus baik di televisi maupun di media online. Menurut beberapa media online, Paus Fransiskus mendukung serikat sipil dan persatuan sipil (Undang-Undang) kaum LGBT agar hak asasi dan hak-hak dasar LBGT dilindungi sebagai warga negara. Sayangnya banyak orang salah paham terhadap pernyataan Paus termasuk media-media di Indonesia.

Media-media di Indonesia menafsirkan bahwa Paus mendukung pernikahan sesama jenis. Tentu saja tidak mungkin Gereja Katolik mendukung pernikahan sesama jenis. Jangankan pernikahan sesama jenis, aborsi dan Keluarga Berencana saja ditentang oleh Gereja. Media resmi Gereja Katolik seperti vaticannews menyampaikan bahwa Paus tidak menyetujui pernikahan sesama jenis, melainkan mendukung adanya payung hukum supaya hak-hak dasar LGBT dilindungi oleh negara.

Paus sejatinya tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis, karena ajaran Gereja Katolik sangat menentang pernikahan sesama jenis. Paus sebenarnya tidak menyinggung tentang pernikahan, melainkan tentang hak-hak dasar LGBT yang harus dilindungi oleh negara.

Mengutip status dari Jost Kokoh Prihatanto, berikut adalah beberapa jawaban atas pernyataan Paus Fransiskus:

1. Apa yang Paus Francis katakan tentang serikat sipil?

Dalam segmen “Francesco” yang membahas reksa pastoral Paus Fransiskus yang mengidentifikasi sebagai LGBT, paus membuat dua komentar berbeda.
Dia berkata pertama bahwa: “Homoseksual memiliki hak untuk menjadi bagian dari keluarga. Mereka adalah anak-anak Tuhan dan memiliki hak untuk berkeluarga. Tidak ada yang harus dibuang, atau dibuat sengsara karenanya. ”

Sementara Paus tidak merinci makna dari pernyataan tersebut dalam video, Paus Fransiskus telah berbicara sebelumnya untuk mendorong orang tua dan kerabat agar tidak mengucilkan atau menghindari anak-anak yang diidentifikasi sebagai LGBT. Ini sepertinya pengertian di mana paus berbicara tentang hak orang untuk menjadi bagian dari keluarga.
Beberapa orang berpendapat bahwa ketika Paus Fransiskus berbicara tentang “hak untuk sebuah keluarga,” paus menawarkan semacam dukungan diam-diam untuk diadopsi oleh pasangan sesama jenis. Tetapi paus sebelumnya telah berbicara menentang adopsi semacam itu, dengan mengatakan bahwa melalui mereka anak-anak “dirampas dari perkembangan manusia mereka yang diberikan oleh ayah dan ibu dan dikehendaki oleh Tuhan,” dan mengatakan bahwa “setiap orang membutuhkan ayah laki-laki dan ibu perempuan yang dapat membantu mereka membentuk identitas mereka. ”

Tentang serikat sipil, paus mengatakan bahwa: “Apa yang harus kita ciptakan adalah hukum serikat sipil. Dengan cara itu mereka dilindungi undang-undang.”
“Saya membela itu,” tambah Paus Fransiskus, tampaknya mengacu pada proposalnya kepada para uskup, selama polemik 2010 di Argentina tentang pernikahan gay, bahwa menerima serikat sipil mungkin merupakan cara untuk mencegah berlakunya undang-undang pernikahan sesama jenis di negara itu.

2. Apa yang Paus Francis katakan tentang pernikahan homoseks?

Tidak ada. Topik pernikahan gay tidak dibahas dalam film dokumenter tersebut. Dalam pelayanannya, Paus Fransiskus sering kali menegaskan ajaran doktrinal Gereja Katolik bahwa pernikahan adalah kemitraan seumur hidup antara satu pria dan satu wanita.
Sementara Paus Fransiskus sering mendorong sikap untuk tetap merangkul umat Katolik yang diidentifikasi sebagai LGBT, Paus juga tetap mengatakan bahwa “pernikahan adalah antara seorang pria dan seorang wanita,” dan mengatakan bahwa “keluarga terancam oleh upaya yang berkembang di pihak beberapa untuk mendefinisikan ulang institusi pernikahan, ”dan upaya untuk mendefinisikan ulang pernikahan“ mengancam untuk merusak rencana Tuhan untuk penciptaan ”.

3. Mengapa komentar paus tentang serikat sipil menjadi masalah besar?

Meskipun Paus Francis sebelumnya telah membahas serikat sipil, dia belum secara eksplisit mendukung gagasan tersebut di depan umum. Meskipun konteks kutipannya dalam film dokumenter itu tidak sepenuhnya terungkap, dan mungkin saja paus menambahkan kualifikasi yang tidak terlihat di kamera, dukungan dari serikat sipil untuk pasangan sesama jenis adalah pendekatan yang sangat berbeda untuk seorang paus, pendekatan yang mewakilinya berangkat dari posisi dua pendahulunya langsung tentang masalah ini.
Pada tahun 2003, dalam sebuah dokumen yang disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II dan ditulis oleh Kardinal Joseph Ratzinger, yang menjadi Paus Benediktus XVI, CDF (Kongregasi untuk Doktrin Iman) mengajarkan bahwa “penghormatan terhadap kaum homoseksual tidak dapat mengarah pada persetujuan perilaku homoseksual dengan cara apa pun. atau pengakuan hukum atas serikat homoseksual. ”

Bahkan jika serikat sipil mungkin dipilih oleh orang-orang selain pasangan sesama jenis, seperti saudara kandung atau teman berkomitmen, CDF mengatakan bahwa hubungan homoseksual akan “diramalkan dan disetujui oleh hukum,” dan bahwa serikat sipil “akan mengaburkan nilai-nilai moral dasar tertentu dan menyebabkan devaluasi institusi pernikahan. ”

“Pengakuan hukum atas serikat homoseksual atau menempatkan mereka pada level yang sama dengan pernikahan tidak hanya berarti persetujuan atas perilaku menyimpang, dengan konsekuensi menjadikannya model dalam masyarakat saat ini, tetapi juga akan mengaburkan nilai-nilai dasar yang dimiliki bersama, warisan kemanusiaan, ”dokumen itu menyimpulkan.

Dokumen CDF 2003 berisi kebenaran doktrinal, dan posisi Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI tentang cara terbaik untuk menerapkan ajaran doktrinal Gereja pada pertanyaan kebijakan mengenai pengawasan sipil dan pengaturan pernikahan. Meskipun posisi-posisi itu konsisten dengan disiplin Gereja yang telah lama ada tentang masalah ini, mereka sendiri tidak dianggap sebagai pasal-pasal kepercayaan.

4. Beberapa orang mengatakan apa yang diajarkan paus adalah bid’ah. Benarkah?

Tidak. Pernyataan paus tidak menyangkal atau mempertanyakan kebenaran doktrinal apa pun yang harus dipegang atau dipercayai oleh umat Katolik. Faktanya, paus sering kali menegaskan ajaran doktrinal Gereja tentang pernikahan.

Baca Juga:

Seruan Paus untuk undang-undang serikat sipil, yang tampaknya berbeda dari posisi yang diungkapkan oleh CDF pada tahun 2003, telah diambil untuk mewakili penyimpangan dari penilaian moral lama yang telah diajarkan oleh para pemimpin Gereja untuk mendukung dan menjunjung tinggi kebenaran. Dokumen CDF mengatakan bahwa undang-undang serikat sipil memberikan persetujuan diam-diam untuk perilaku homoseksual; Sementara paus menyatakan dukungan untuk serikat sipil, dia juga berbicara dalam kepausannya tentang amoralitas tindakan homoseksual.

Penting juga untuk dicatat bahwa wawancara dokumenter bukanlah forum untuk pengajaran resmi kepausan. Pidato paus tidak disajikan secara lengkap, dan tidak ada transkrip yang telah disajikan, jadi kecuali Vatikan memberikan kejelasan tambahan, mereka perlu dipahami mengingat terbatasnya informasi yang tersedia tentang mereka.

5. Kami memiliki pernikahan sesama jenis di negara ini. Mengapa ada orang yang berbicara tentang serikat sipil?

Ada 29 negara di dunia yang secara hukum mengakui “pernikahan” sesama jenis. Kebanyakan dari mereka berada di Eropa, Amerika Utara, atau Amerika Selatan. Namun di belahan dunia lain, perdebatan tentang definisi pernikahan baru saja dimulai. Di beberapa bagian Amerika Latin, misalnya, definisi ulang pernikahan bukanlah topik politik yang mapan, dan aktivis politik Katolik di sana menentang langkah untuk menormalisasi undang-undang serikat sipil.

Para penentang serikat sipil mengatakan bahwa mereka biasanya menjadi jembatan menuju undang-undang pernikahan sesama jenis, dan juru kampanye pernikahan di beberapa negara mengatakan mereka khawatir bahwa pelobi LGBT akan menggunakan kata-kata paus dalam film dokumenter untuk memajukan jalan menuju pernikahan sesama jenis.

6. Apa yang Gereja ajarkan tentang homoseksualitas?

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa mereka yang mengidentifikasi diri sebagai LGBT “harus diterima dengan rasa hormat, kasih sayang, dan kepekaan. Setiap tanda diskriminasi yang tidak adil dalam hal mereka harus dihindari. Orang-orang ini dipanggil untuk memenuhi kehendak Tuhan dalam hidup mereka dan, jika mereka adalah orang Kristen, untuk bersatu dalam pengorbanan Salib Tuhan kesulitan yang mungkin mereka hadapi dari kondisi mereka. ”

Katekismus menjelaskan bahwa kecenderungan homoseksual “tidak teratur secara objektif”, tindakan homoseksual “bertentangan dengan hukum alam”, dan mereka yang mengidentifikasi diri sebagai lesbian dan gay, seperti semua orang, dipanggil untuk menjunjung tinggi kesucian.

7. Apakah umat Katolik terikat untuk setuju dengan paus tentang serikat sipil?

Pernyataan Paus Francis dalam “Francesco” bukan merupakan ajaran resmi kepausan. Sementara penegasan paus tentang martabat semua orang dan seruannya untuk menghormati semua orang berakar pada ajaran Katolik, umat Katolik tidak diwajibkan untuk mendukung posisi legislatif atau kebijakan karena komentar paus dalam sebuah film dokumenter.

Beberapa uskup telah menyatakan bahwa mereka menunggu kejelasan lebih lanjut tentang komentar paus dari Vatikan, sementara seorang uskup menjelaskan bahwa: “Meskipun ajaran Gereja tentang pernikahan jelas dan tidak dapat diubah, percakapan harus dilanjutkan tentang cara terbaik untuk menghormati martabat orang-orang yang sama, sehingga mereka tidak mengalami diskriminasi yang tidak adil. ”

Menabur di Kebun Anggur Tuhan — Renungan Hari Minggu

0

Menabur di Kebun Anggur Tuhan: Renungan Hari Minggu, 4 Oktober 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 5:1-7; Bacaan II: Flp. 4:6-9; InjilMat. 21:33-43

Di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang mengisi waktu #dirumahaja dengan berkebun dan bercocok tanam. Ada yang menanam bunga, ada juga yang menanam sayur-sayuran.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Meski terkesan sekedar mengisi waktu luang, sebetulnya kita tidak asal menanam. Kita pasti menaruh harapan pada apa yang kita tanam. Harapannya tentu saja adalah agar apa yang ditanam bisa berhasil baik.

Kadang, yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Namun, tidak jarang juga yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, kami menanam bibit sayur bayam. Setelah ditanam, kami rutin menyiram. Rumput-rumput di sekitarnya kami cabut. Harapannya agar ketika sudah tiba waktunya untuk panen, kami bisa memanen sayur bayam. Sayangnya harapan tinggal harapan. Bibit bayam yang kami tanam hanya tumbuh sebentar kemudian mati. Tentu ada rasa kecewa.  Siapapun pasti kecewa jika apa yang dihasilkan tidak sesuai harapan.

***

Hari ini kita mendengar ilustrasi tentang kebun anggur. Tuhan mempunyai kebun anggur. Sebagai pemilik, Tuhan memperhatikan perkembangan kebun itu. Ia mencangkulnya dan membuang-buang batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan. Harapannya: agar kebun anggur itu menghasilkan anggur yang baik. Sayangnya, yang dihasilkan berbeda dari yang diharapkan. Anggur yang dihasilkan justru anggur yang asam.

Ini ilustrasi tentang kita. Kebun anggur Tuhan itu ialah kita semua. Sebagai kebun anggur-Nya, Tuhan memperhatikan kita. Ia baik kepada kita. Ia menjamin kehidupan kita, menjauhkan kita dari wabah, dan sebagainya. Tapi apa balasan kita? Kita kurang bersyukur, malah banyak menuntut. Kita menjadi orang-orang yang tidak tahu diuntung. Air susu dibalas air tuba. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Hati siapa yang tidak sakit?

Tuhan mau supaya kita memurnikan hidup kita dari hari ke hari, terutama dari unsur-unsur yang menjauhkan kita dari-Nya. Semoga kita menjadi orang yang tahu bersyukur dan mau melakukan kehendak-Nya.

Kita Semua Pernah Salah, tapi Tuhan Mencintai Mereka yang Bertobat

0

Kita Semua Pernah Salah, tapi Tuhan Mencintai Mereka yang Bertobat: Renungan Hari Minggu, 27 September 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yeh. 18:25-28; Bacaan II: Flp. 2:1-11; InjilMat. 21:28-32

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus membuat ilustrasi mengenai dua tipe manusia. Tipe pertama adalah orang-orang yang tutur katanya bagus, selalu bicara yang baik-baik, alim, tidak pernah bilang tidak. Tapi sayangnya antara perkataannya dengan perbuatannya tidak sejalan. Di depan bilang iya tapi di belakang membangkang. Tipe pertama ini menggambarkan orang yang khilaf dan berdosa.

Tipe kedua adalah orang-orang yang apa adanya, ceplas-ceplos, tampak seperti orang yang keras kepala, tapi di belakang diam-diam menyesal dan memperbaiki keadaannya. Di depan bilang tidak tapi di belakang sadar dan bertobat. Tipe kedua ini menggambarkan orang yang insaf dan bertobat.

Kita termasuk tipe yang mana? Minimal kita mengambil tipe kedua: terlihat seperti pendosa, tapi di belakang merenung dan berubah ke arah yang lebih baik. Lebih baik kita terlihat seperti pendosa tapi bertobat, daripada tampil seperti orang suci bak panitia surga tapi diam-diam melakukan perbuatan yang mengarah pada dosa.

Kita memang bukan orang suci, kudus, dan sempurna. Kita hanyalah orang-orang yang berusaha untuk menjadi orang baik. Bacaan pertama hari ini menunjukkan bahwa Tuhan lebih senang melihat orang berdosa yang bertobat, daripada orang yang merasa diri suci, tapi tergelincir ke dalam dosa.

Maka, ‘kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya’ (Yeh. 18:26-27).

Kita perlu belajar banyak dari para santo dan santa. Mereka bukanlah orang-orang yang tak pernah salah. Kita bisa menyebut sederet nama: Matius, si pemungut cukai, yang kemudian menjadi salah satu murid Yesus; Maria Magdalena, wanita yang dicap sebagai pelacur, yang kemudian mengikuti Yesus; Paulus, si pembunuh umat Kristiani, yang kemudian menjadi pembela iman Kristiani; dan masih banyak lagi. Mereka semua mulanya jauh dari kudus.

Tapi, apa yang terjadi sehingga mereka kemudian disebut sebagai orang-orang kudus? Jawabannya: mereka insaf dan bertobat dari segala dosa yang mereka perbuat. Maka, yang namanya menyesal, insaf, dan bertobat adalah sikap-sikap yang Tuhan inginkan dari kita. Orang yang demikian akan diberi pengampunan oleh Tuhan.

Tuhan selalu memberi kesempatan kedua kepada tiap-tiap orang untuk bertobat. Ia menghargai usaha kita untuk memperbaiki diri terus-menerus. Kiranya kita menggunakan dengan baik kesempatan kedua yang Tuhan berikan itu. —JK-IND–

Tuhan Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang

0

Tuhan Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang: Renungan Hari Minggu, 13 September 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 27:30 – 28:9; Bacaan II: Rm. 14:7-9; Injil: Mat. 18:21-35

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Kita hidup bersama dengan orang lain. Dan, yang namanya hidup bersama dengan orang lain, hampir pasti selalu saja ada gesekan, ada benturan, dan ada salah paham. Pemicunya bisa bermacam-macam: antara lain karena orang salah kata, kita merasa dilangkahi, kita merasa harga diri kita diinjak-injak, dan sebagainya; yang ujung-ujungnya membuat kita sakit hati, membuat amarah kita keluar, dan rasa-rasanya kita ingin balas dendam.  Hal seperti itu bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja.

Bagi mereka yang hatinya tersakiti, kemarahan dan balas dendam dirasa sebagai solusi jitu untuk mengobati sakit hati. Tapi, benarkah begitu? Jawabannya: ternyata tidak.

Tidak ada satu pun persoalan di dunia ini yang bisa diselesaikan dengan amarah dan balas dendam. Kemarahan dan balas dendam hanya akan membuat hidup kita tidak tenang: merasa ada musuh yang mengintai, tensi naik, tekanan darah meningkat, dan sebagainya. Sama sekali tidak ada untungnya.

Padahal, biasanya, kalau kita berada pada posisi yang salah, kita mau sekali dimaafkan dan diampuni. Tapi, giliran orang lain yang bersalah kepada kita, kita bukan hanya tidak mau memaafkan dan mengampuni, tapi juga mau marah-marah dan balas dendam.

Makanya, perumpamaan yang diceritakan di dalam bacaan Injil hari ini sebenarnya adalah cerita tentang kita. Hampir semua dari kita melakukan hal seperti yang terjadi dalam cerita itu. Kita seperti hamba yang selalu mencari-cari dan menghitung-hitung kesalahan orang lain. Sedikit dibuat sakit hati dendamnya sampai ke liang kubur. Kita mau diampuni dan dimaafkan tapi sendiri tidak mau mengampuni dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Maka, perkataan raja dalam cerita itu menjadi teguran keras bagi kita. Raja berkata: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau” (Mat. 18:32-33).

Kita semua berdosa; dan karena dosa itu seharusnya kita semua dihukum oleh Tuhan. Tapi, Tuhan justru memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, panjang sabar, dan penuh kasih setianya. Gambaran itu sangat jelas diungkapkan melalui perumpamaan raja yang tergerak hati oleh belas kasihan dan membebaskan dan menghapus hutang hamba-Nya.

Tuhan, melalui bacaan pertama hari ini, memberi satu persayaratan kepada kita. Tuhan bersabda: “Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa”. Jika kita mau diampuni, ampunilah terlebih dahulu orang lain yang bersalah kepada kita.

Maka, pertanyaan para murid dalam Injil menjadi pertanyaan kita juga. “Berapa kali kita harus mengampuni? Pertanyaan ini penting supaya kita tahu apakah pengampunan yang harus kita berikan itu ada batasannya atau tidak, supaya kemudian hari kita tidak membuat pembelaan diri, “Kan saya sudah mengampuni”.

Yesus menjawab: “Sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Coba dihitung, berapa jumlahnya? Jawabannya: tak terbatas. Tuhan mau supaya kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita tanpa batas. Artinya, sesering apa orang bersalah kepada kita, sebanyak itu juga kita memaafkan dan mengampuni mereka.

Tidak mudah memang untuk mewujudkannya. Kita juga selalu mempunyai sederet alasan dan pembenaran diri untuk tidak melakukannya. Tapi, itu syarat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita: jika mau diampuni, terlebih dulu harus mengampuni.

Injil hari ini mengajak kita untuk bersedia mengampuni siapapun tanpa batas. Semoga kita mau belajar untuk mewujudkannya dalam hidup keseharian kita. Amin.

Katolik Menjawab: Ajaran Bapa-Bapa Gereja Tentang Allah Tritunggal (3)

0

Tidak henti-hentinya aliran bidat modern menyerang ajaran Gereja Katolik tentang Allah Tritunggal. Sebagian mereka secara terang-terangan memfitnah Bapa-Bapa Gereja melalui youtube, website dan lain sebagainya. Betapa pun kejinya fitnah mereka, namun Gereja Katolik tetap kokoh dan teguh dalam iman kepada Allah Tritunggal. Ajaran tentang Allah Tritunggal bukanlah karangan Gereja atau Bapa-Bapa Gereja.

Ajaran Allah Tritunggal adalah ajaran Alkitabiah, ajaran para rasul yang diteruskan kepada Bapa-Bapa Gereja. Bapa-Bapa Gerejalah yang kemudian menegaskan ajaran tersebut ketika bidat-bidat bermunculan dan menamakan diri ‘kristen’. Sebenarnya, klaim para bidat bahwa mereka “kristen” tidak tepat, karena salah satu identitas kekristenan adalah ajaran Allah Tritunggal, Maha Kudus.

Pada bagian ke-2 saya telah membahas bahwa bukan Tertulianus yang menciptakan Allah Tritunggal. Tertulianus juga tidak pernah menyangkal ajaran Tritunggal hingga akhir hayatnya. Bapa-Bapa Gereja lainnya juga dalam tulisan-tulisan mereka menjelaskan kepercayaan mereka kepada Allah Tritunggal. Santo Irenaeus (115-202) dalam bukunya Against Heresy, buku 4, bab 20, halaman 148 mengatakan, “Sebab bersama Dia selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya,…Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepada-Nya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.”

Baca Juga:

Tidak hanya itu, Santo Athenagoras (133-190) mengatakan secara gamblang bahwa “…kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Bapa-Bapa Gereja sepanjang masa tidak pernah menyangkal Allah Tritunggal. Mereka terus berjuang sepenuh jiwa dan raga untuk membela iman akan Allah Tritunggal. Mereka melawan bidat-bidat yang terus memutarbalik kebenaran. Bahkan, mereka menulis buku berjilid-jilid untuk melawan para bidat anti-tritunggal.

Ajaran tentang Allah Tritunggal dijelaskan pula secara sederhana oleh Santo Clement dari Alexandria (150-215). Santo Clement mengatakan “Sang Sabda Kristus adalah penyebab dari asal mula kita-karena Ia ada di dalam Allah-dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita.”

Penjelasan lainnya juga dapat kita temukan dalam buku Santo Hippolitus yang berjudul Refutation of All Heresies 10:33. Santo Hippolitus mengatakan, “Hanya Sabda Allah adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah*

Katolik Menjawab: Ajaran Bapa-Bapa Gereja Tentang Allah Tritunggal (2)

0

Dewasa ini, banyak aliran bermunculan dan membuat ajaran sesuka hati mereka. Bahkan mereka membuat fitnah terhadap Bapa-Bapa Gereja terutama berkaitan dengan ajaran Allah Tritunggal. Seperti kita ketahui, seorang yang bergelar ‘PS’ (katanya pastor versi mereka) menuduh bahwa Tertulianus pada akhir hayatnya menolak ajaran Allah Tritunggal. Oleh sebab itu, menurut ‘PS’ tersebut ajaran Tritunggal harus dibuang karena tidak relevan dengan zaman modern ini. Fitnahan tersebut disebarkan melalui media youtube. Tak sedikit orang percaya akan ucapan ‘PS’ yang ahistori itu.

Tidak heran karena aliran-aliran mereka baru muncul pada abad 16-21, maka mereka tidak tahu sejarah atau sama sekali tidak mau tahu sejarah. Mungkin juga dibangku Sekolah Teologi mereka diajarkan untuk menolak dan membuang sejarah karena sejarah lebih banyak bicara tentang Gereja Katolik. Maka mereka memilih untuk memfitnah dan memutarbalikkan sejarah. Kita tahu motifnya, yakni ‘asal beda dengan Gereja Katolik’.

Menanggapi fitnah ‘PS’ tersebut, maka saya menghimpun ajaran Bapa-Bapa Gereja dari berbagai sumber dan menyajikan dalam tulisan sederhana ini. Mudah-mudahan ‘PS’ dan para pengikutnya, berkenan membaca agar mereka tidak mempermalukan diri mereka dihadapan banyak umat Kristiani yang masih berpegang teguh pada ajaran Bapa-Bapa Gereja. Berikut tanggapan dari saya;

Tertulianus tidak pernah menyangkal ajaran Allah Tritunggal hingga akhir hayatnya. Hal itu, dibuktikan dalam tulisan-tulisan beliau. Dalam bukunya, Against Praxeas 13:6, Tertulianus (160-240) mengatakan “Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.”

Ajaran Allah Tritunggal sendiri telah dikenal oleh gereja perdana. Pada masa Santo Policarpus (69-155) ajaran Tritunggal telah diterima sebagai ajaran yang resmi. Dalam suatu peristiwa ketika St. Policarpus, uskup Smirna menghadapi kemartiran, ia berkata “…Aku memuji Engkau (Allah Bapa),…aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad, Amin.”

Selain itu, tujuh belas tahun setelah Yesus disalib, St. Ignatius dari Antiokhia (50-177) dalam suratnya kepada umat di Efesus, Bab 9 halaman 146, juga menyinggung tentang Allah Tritunggal. St. Ignatius membandingkan umat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘Katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus”.

Baca Juga:

Seperti kita ketahui, Paus  keempat juga menyampaikan ajaran tentang Allah Tritunggal dalam sebuah tulisannya kepada umat di Korintus, bab 46. St. Paus Clement dari Roma (Menjadi Paus tahun 88-99) dalam suratnya mengatakan “Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?”.  Demikian pula St. Teofilus dari Antiokhia (180), mengajarkan bahwa “…ketiga hari sebelum diciptakannya terang, adalah lambang dari Trinitas, Allah, dan Firman-Nya, dan Kebijaksanaan-Nya.”

Begitu juga dengan seorang Filsuf, yaitu Santo Aristides (90-150) mengatakan “orang-orang Kristen, adalah mereka yang di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenal Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus.”

Berdasarkan kesaksian dari ajaran Bapa-Bapa Gereja di atas, kita mengetahui bahwa ajaran Allah Tritunggal merupakan ajaran hakiki dan identitas kekristenan. Mungkin “PS” dan pengikutnya akan berkata, mana ayat yang menulis kata Tritunggal?. Pertanyaan semacam ini merupakan wujud kedangkalan pengetahuan. Kata ‘Tritunggal’ atau ‘Tauhid’ sekalipun tidak ada tertulis di dalam Kitab Suci baik agama Kristen maupun Islam. Lalu dari mana kata ‘Tritunggal’?.

Kata “Tritunggal” tidak berbicara tentang jumlah Tuhan ada berapa melainkan bagaimana Tuhan mewahyukan diri dalam sejarah keselamatan. Pewahyuan tersebut kemudian direfleksikan dan ditafsirkan oleh Para Rasul yang kemudian diturunkan kepada para murid mereka, yang dalam waktu tertentu dirumuskan sehingga terbentuklah kata ‘Tritunggal’. Hal itu bukan berarti bahwa “Tritunggal” buatan Bapa-Bapa Gereja, melainkan refleksi dan tafsir dari Kitab Suci bagaimana Allah mewahyukan dirinya mulai dari Kitab Kejadian (Kej. 1:1-3) ketika penciptaan hingga Kitab Wahyu Kepada Yohanes.

Gambaran Trinitas kita temukan juga dalam Kisah Abraham. Ketika Abraham melihat tiga orang yang mendatanginya pada saat Allah mengulangi janjinya bahwa Abraham akan memiliki anak laki-laki bernama Ishak. “Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya g  waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanahserta berkata: “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih k  tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu l  ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini.” Jawab mereka: “Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu.”(Kej. 18:1-5).