9.3 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 34

150 Tahun Gereja Katolik di Manado

0

Sekitar tahun 1534, imam asal Portugis bernama Simon Vas melakukan penginjilan di Pulau Ternate dan Maluku sampai ia menjadi Martir. Setelah kemartirannya, pada tahun 1546 hingga 1547 para pastor Jesuit datang ke Maluku, salah satunya adalah Fransiskus Xaverius membaptis banyak orang Maluku. Diperkirakan orang yang dibaptis saat itu, mencapai 150 ribu orang. Pada tahun 1563, Pastor Diogo Magelhaes datang pula untuk melakukan penginjilan di wilayah keuskupan Manado.

Misi penginjilan Katolik kehilangan jejak, ketika VOC hadir di Maluku pada tahun 1602. VOC melarang misi penginjilan Katolik hingga tahun 1799 di seluruh wilayah Hindia Belanda. Penginjilan Katolik kembali berkembang setelah kedatangan Pastor Van De Vries sekitar tahun 1870 di wilayah Keuskupan Manado.

Menurut Pastor Albertus Sujoko, kekatolikan kembali berkembang dengan kedatangan imam-imam projo dari Belanda. Selain itu, Serikat Jesus juga mengutus Pastor Van De Vries ke wilayah Keuskupan Manado atas undangan Daniel Mandagi. Seperti diketahui, setelah periode imam-imam Serikat Jesus, pelayanan diambil alih oleh MSC.

“Periode MSC mengambil alih pelayanan Jesuit di Keuskupan Manado sering disebutkan terjadi  antara tahun 1919 atau 1920. Yang benar adalah pada tanggal 19 November 1919 Bapa Suci membuat keputusan untuk memisahkan Sulawesi dari Vicariat Apostolik Batavia dan menyerahkannya kepada Tarekat MSC. Jadi kalau m elihat surat keputusan dari Bapa Suci, maka tahun 1919 MSC sudah diserahi tugas itu.

Namun kalau melihat kenyataannya, maka nanti tanggal 2 September 1920, Trio MSC pertama baru tiba di Manado. Tiga MSC pertama yang datang ke Manado adalah Mgr. Dr. G.J. Vester, MSC sebagai Prefek Apostolik, A. Broker, MSC dan J. Klemman, MSC dan mereka disambut oleh Pastor Anton van Velsen, SJ dan Pastor Serink, SJ,” tuturnya.

Baca Juga:

Pastor Sujoko mengatakan bahwa serah terima dari SJ kepada MSC dan pelantikan Mgr. G. Vesters sebagai Prefek Apostolik. Menurut P. M. Stigter, MSC di Tomohon segala-galanya telah disiapkan untuk peristiwa besar timbang terima pada tanggal 7 September 1920 di dalam Gereja yang penuh sesak orang. “Di Tomohon segala-galanya sudah siap untuk peristiwa besar timbang terima pada tanggal 7 September 1920 di dalam Gereja yang penuh sesak orang. Berlangsunglah perkataan penyerahan, berlangsunglah perkataan penerimaan. Mgr. Vesters membaca surat penyaksian dalamnya beliau berjanji menjadi gembala yang baik yang akan mempertahankan agama Kristus yang satu-satunya benar, dengan setianya. Ramai benar!”

Sementara itu, menurut Pastor Jan Van Paasen bahwa tanggal 7 September 1920 adalah hari Selasa. “2 September 1920, Selasa Mgr. Vesters dilantik di Tomohon dengan Misa Pontifikal. Pada kesempatan itu, hadir 6 pastor SJ, para suster JMJ dan umat.” Pastor Jan diketahui lupa menyebutkan dua pastor MSC yang hadir juga dalam perayaan Ekaristi.

Menurutnya, warisan yang diterima oleh MSC dari karya Jesuit yang disampaikan Pastor M. Stigter adalah jumlah umat yang ada pada waktu itu sebanyak 11.111 suster-suster JMJ, Sekolah Guru di Woloan, dan Majalah bulanan Gereja Katolik.

Pastor Sujoko, setelah tiga MSC mengambil alih tugas enam Jesuit, oleh sebab itu, untuk sementara waktu Mgr. Vesters tinggal di Woloan untuk melanjutkan segala karya yang ditinggalkan oleh Pastor Van Velsen, Pastor Broker dan Pastor Klemann tinggal di Tomohon untuk mempelajari bahasa Tombulu. “Setelah tiga MSC mengambil alih tugas enam Jesuit, maka untuk sementara waktu Mgr. Vesters tinggal di Woloan untuk melanjutkan segala karya yang ditinggalkan oleh Pastor Van Velsen, Pastor Broker dan Pastor Klemann tinggal di Tomohon untuk mempelajari bahasa Tombulu,” katanya.

Pada tanggal  21 April 1921 Tarekat MSC mendapat tambahan tenaga untuk daerah misi yakni Pastor H. Croonen, Pastor H. Kapell dan Pastor H. Humburg. Mereka berasal  dari Jerman dan Belanda. Tak lama lagi, Gereja Katolik Keuskupan Manado akan merayakan 150 tahun Gereja Katolik bertumbuh dan berkembang di wilayah Keuskupan manado.

Editor: Silvester Detianus Gea

Katolik Menjawab: Dasar Alkitabiah Allah Tritunggal (1)

0

Belakangan ini banyak orang bertanya tentang Allah Tritunggal. Bukan hanya orang Kristiani melainkan juga orang-orang non-kristiani. Bahkan para teolog Kristiani masih berdebat tentang Allah Tritunggal hingga hari ini. Namun dipihak Kristen Katolik hampir tidak pernah ditemukan para teolognya berdebat soal Allah Tritunggal. Kemungkinan karena dasar atau fondasi iman Katolik termaktub dalam Kitab Suci dan dokumen-dokumen Gereja, seperti Katekismus Gereja Katolik (KGK). Berhadapan dengan misteri Allah Tritunggal, St. Agustinus dalam sermon. 52, 6, 16 (dikutip dalam KGK 230) pernah berkata, “kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah.”

Dasar Alkitabiah Allah Tritunggal

Yesus Kristus adalah Sang Firman yang telah ada bersama-sama dengan Allah dan oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan (lihat Yoh. 1:1-3). Yesus juga menyatakan tentang keberadaan-Nya bersama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lihat Yoh. 17:5). Selain itu, Yesus menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa dan Roh Kudus yang keluar dari Bapa (lihat Yoh. 15:26). Kesatuan yang sama ditegaskan oleh Yesus sebelum naik ke surga, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus…” (lihat Mat. 28:18-20).

Kitab Suci menunjukkan persatuan Yesus dan Allah Bapa yang tak terpisahkan, “Aku dan Bapa adalah satu” dan “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (lihat Yoh. 10:30, 14:9). Yesus dalam doa-Nya juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa, sehingga Ia meminta agar para murid-Nya bersatu seperti Yesus dan Bapa adalah satu (lihat Yoh. 17:21). Yesus dalam berbagai kesempatan juga menyatakan diri-Nya sebagai ilahi. Pernyataan Allah Bapa tentang keilahian Yesus juga kita temukan dalam Kitab Suci ketika Yesus disebut sebagai Anak-Nya (lihat Luk. 3:22, Mat. 17:5).

Rasul Yohanes dalam suratnya juga mengajarkan bahwa Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah satu (lihat 1 Yoh. 5:7). Rasul Petrus dalam pengajarannya juga menyampaikan hal yang sama (lihat 1 Pet. 1:1-2, 2 Pet. 1:2). Selain itu Rasul Paulus juga menjelaskan tentang keilahian Yesus (lihat 1 Kor. 1:2-10, 8:6, Ef. 1:3-14).

Baca Juga:

Kesatuan “Substansi/Hakekat” dan Keterpisahan “Pribadi”

Substansi sering disebut juga hakekat atau kodrat. Kodrat dan pribadi merupakan dua hal yang berbeda, misalnya kodrat manusia, dimiliki semua orang. Sementara “Pribadi” tidak dapat disamakan satu sama lain. Setiap pribadi mempunyai keistimewaan dan keunikannya sendiri. Kata “Pribadi” dapat kita bedakan dengan memakai kata ‘aku’. Tentu ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sementara itu, substansi atau hakekat dapat dibedakan dengan sebutan “manusia”. Banyak orang juga menjelaskan Allah Tritunggal dengan analogi tubuh dan jiwa.

Sederhananya, tanpa jiwa, maka kita bukan manusia. Tanpa tubuh, kita tentu bukan manusia. Maka kesatuan antara tubuh dan jiwa membentuk hakekat/kodrat sebagai manusia, sedangkan sifat-sifat membentuk pribadi sebagai manusia. Apabila memakai prinsip yang sama, maka Allah Tritunggal memiliki substansi/hakekat/kodrat yang satu yaitu Tuhan. Sementara itu, dalam kesatuan terdapat tiga Pribadi, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Allah Tritunggal, tiga Pribadi Allah yang mempunyai kesamaan hakekat/kodrat/substansi. Dengan kesamaan itu, maka terbentuk kesatuan. Menurut KGK 252, perbedaan Pribadi yang satu dengan yang lain terletak pada hubungan timbal balik. Dalam tiga Pribadi Allah, terdapat hanya satu kodrat/hakekat/substansi.

Harta dan Takhta Hanya Titipan Tuhan — Renungan Hari Minggu

0

Harta dan Takhta Hanya Titipan Tuhan: Renungan Hari Minggu, 24 Agustus 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 22:19-23; Bacaan IIRm. 11:33-36

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Kadang kita terjebak untuk besar kepala dan tinggi hati. Kita merasa diri hebat dan seperti tidak ada lagi orang lain yang sehebat kita. Kita merasa seperti orang yang tak akan pernah tergantikan. Hanya kita yang bisa, orang lain tidak. Padahal, kita tak sepantasnya bersikap begitu.

Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita bahwa segala rezeki, jabatan atau posisi, yang kita miliki saat ini,  semuanya hanyalah titipan Tuhan. mengapa? Paulus memberi alasan, katanya: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rm. 11:36).

Di sini kita diajarkan untuk tidak menjadi sombong jika mempunyai kekayaan yang banyak atau duduk pada jabatan yang tinggi, sebab itu semua semata-mata titipan dari Tuhan. Jika Tuhan yang menitipkannya kepada kita menarik kembali semuanya itu dari kita, maka terjadilah seperti yang dikehendaki-Nya.

Lihat saja pengalaman Sebna dalam bacaan pertama hari ini. Tuhan menurunkannya dari jabatannya dan memberikan jabatannya itu kepada orang lain, yaitu kepada Elyakim. Tuhan berfirman kepadanya:

“Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda” (Yes. 22:19-21).

Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan berkuasa penuh atas hidup manusia. Jalan hidup kita bukan kita sendiri yang atur, tapi Tuhan yang atur. Tidak ada orang yang bisa menyogok Tuhan untuk bisa mengubah keputusan-Nya. Sebab, kata Paulus, “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (Rm. 11:34).

Jika titipan Tuhan yang kita terima tidak kita jalankan dengan baik, maka bukan tidak mungkin Tuhan akan menariknya kembali dari kita dan memberikannya kepada orang lain.

Jadi, pelajaran berharga yang kita petik hari ini adalah bahwa apapun jabatan kita, sebanyak apapun harta yang kita dapatkan, jangan sombong. Itu semua hanya titipan. Semua bisa berubah kalau Tuhan mau. Tidak ada yang bisa mengetahui pikiran Tuhan.

Inilah Kemenangan yang Mengalahkan Dunia menurut Kitab Suci

0

Allah mewahyukan diri-Nya kepada kita melalui Yesus dari Nazaret; sehingga Dia yang tadinya tidak kelihatan kini menjadi kelihatan. Maka, sebagai jawaban atau tanggapan kita terhadap wahyu Allah itu, kita harus beriman kepada Yesus.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Beriman kepada Yesus itu tidak bisa sekedar ‘ikut arus’. Jika bukan karena panggilan, kita tidak kuat. Tuntutan untuk menjadi pengikut Yesus itu berat; sebab yang diwariskan oleh Tuhan Yesus bukan kesenangan dan kenikmatan, melainkan salib. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24).

Beriman kepada Yesus tidak bisa kalau hanya ikut rame. Kita beriman karena kita dipilih. Kita adalah orang-orang pilihan dari antara sekian banyak orang. Kita beriman karena Tuhan sendiri yang memilih kita. Tugas kita adalah menjaga agar tetap menjadi orang pilihan Tuhan, dengan tidak menyangkal iman itu.  Tuhan Yesus sendiri berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:26). Bukankah ini merupakan kabar baik untuk kita? Maka, entah kita beriman Katolik karena ‘warisan’ orang tua, atau karena ‘terpanggil’, kita semua mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjaga iman itu.

Menjadi orang pilihan jelas banyak suka-dukanya, banyak lovers dan juga haters-nya. Tidak sedikit orang geram ketika beriman. Si jahat sakit hati kalau kita beriman; sebab jika kita beriman, dia tidak mempunyai celah untuk menguasai kita lagi. Jangan kalah terhadap si jahat. Jangan pernah mengorbankan iman demi apapun juga.

Tuhan Yesus menawarkan salib, dunia menyajikan sejumlah kemudahan dan kenikmatan. Kita pilih yang mana? Tidak sedikit orang mengambil jalan pintas: mereka memilih kemudahan dan kenikmatan dunia. Demi itu semua, mereka rela menukar imannya.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap orang-orang yang dengan sengaja rela mengorbankan imannya demi kesenangan pribadi. Segitunya kah kita membalas pengorbanan Yesus di kayu salib?

Dunia mencoba membenturkan iman kita dengan banyak hal. Jika tidak cermat, kita bisa mengorbankan iman kita. Orang merongrong iman kita dengan banyak isu dan propaganda. Jika kita gegabah, kita akan mengorbankan iman kita. Iman tak boleh kalah berhadapan dengan tawaran dan keadaan.

Dunia mencobai iman kita dengan beragam cara. Pilihan ada di tangan kita. Jangan sekali-kali mengorbankan iman demi apapun. Sebagus apapun tawaran yang diterima, jika taruhannya adalah iman, jangan sekali-kali mengorbankan iman.

Demi kita, Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Demi Dia, kita harusnya bertahan di bawah kaki salib-Nya, bukannya meninggalkan-Nya. Apapun situasinya, tetaplah bertahan dengan iman Katolik yang kita punya. Katolik harus selalu di hati kita. Sekali Katolik, tetap Katolik untuk selamanya.

Jika kita tidak beriman, kita akan terhempas. Tetapi, jika kita beriman, kita akan bertahan. “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yoh. 5:4).

Santo Yosef: Berawal dari Mimpi, Bekerja dalam Senyap

0

Beberapa waktu yang lalu, seorang umat mengirim pesan WA kepada saya, katanya: “Apakah saat menikahi Maria, Yosef berstatus duda ataukah masih bujangan?”

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Tidak banyak yang bisa kita ketahui mengenai pribadi Yosef atau Yusuf, suami Maria. Dalam Kitab Suci hanya ada beberapa kali namanya disebut, itupun bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, tak ada satu pun kalimat yang diucapkannya. Dia diam seribu bahasa.

Juga, tidak ada data yang pasti mengenai dirinya, selain dari berbagai tuturan dalam tradisi, misalnya dari teks apokrif. Beberapa kisah menceritakan bahwa Yosef adalah seorang duda, saat ia bertunangan dengan Maria. Dari sini lalu orang memahami ungkapan dalam Injil tentang ‘saudara-saudara’ Yesus (lih. Mrk. 3:32; Mat. 12:47; Luk. 8:20).

Namun, beberapa penulis lain justru berpandangan sebaliknya. Menurut mereka, Yosef masih tergolong muda saat menikah dengan Maria. Ungkapan saudara-saudara tidak senantiasa terkait dengan saudara kandung.

Memang, pertanyaan mengenai Yosef dan perannya dalam sejarah keselamatan umat manusia seringkali diajukan oleh banyak orang. Mereka mempertanyakan apakah dia pasif atau sungguh terlibat, apakah kehadirannya penting ataukah tidak, dan sebagainya.

Kita tahu bahwa Matius adalah satu-satunya penginjil yang mengawali kisah Yesus dari figur Yosef. Yosef diperkenalkan oleh Matius sebagai keturunan Daud. Kiranya hal ini mengingatkan kita akan janji kedatangan Mesias yang berasal dari garis keturunan Daud.

Namun baik dalam Injil Matius maupun dalam ketiga Injil lainnya, tak terdengar kata-kata yang diucapkan oleh Yosef. Sepertinya tidak ada sesuatu yang istimewa yang dibuatnya. Makanya banyak orang beranggapan bahwa Yosef hanyalah tokoh tambahan atau pemeran figuran dalam sejarah keselamatan.

Tapi, sebenarnya, diamnya Yosef bukan diam yang pasif melainkan diam yang mendengarkan. Diperlihatkan dalam Kitab Suci bahwa memang semula ada keraguan dalam diri Yosef ketika pertama kali ia mengetahui bahwa Maria, tunangannya, hamil di luar perkawinan. Ia ragu karena ia tidak memahami apa yang sedang sedang terjadi terhadap Maria. Dia pun mempertimbangkan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang dihadapinya itu. Ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20).

Bagi Yosef, mimpi bukan sekedar ‘bunga tidur’ tetapi mengandung pesan penting dari Allah. Makanya, segera setelah bangun dari tidur, ia membuat suatu keputusan penting. “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya” (Mat. 1:24). Di sinilah kita bisa melihat bahwa memang Yosef bukan tipe orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Menariknya, Yosef kembali didatangi Malaikat Tuhan dalam mimpinya. Kali ini malaikat itu meminta dia untuk membawa kanak-kanak Yesus dan Maria, ibu-Nya, ke Mesir, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia (lih. Mat. 2:13). Di sini tampak sekali bahwa Allah berbicara dan menyertai Yosef dalam dan melalui mimpi.

Apakah Yosef diam saja dan pasif? Jawabannya: sama sekali tidak. Dia justru melaksanakannya tanpa bertanya mengapa dan berapa lama. Tanpa ragu Yosef mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya dalam mimpi meski ia tahu bahwa Mesir adalah tanah asing, bukan tempat yang ramah baginya. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk ketaatannya kepada kehendak Allah. Di sini kita melihat bahwa Yosef memang telah dirancang dan dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam rencana Allah.

Bersama dengan Maria, Yosef dipilih Allah untuk mengambil bagian secara langsung dan khusus dalam misteri agung penjelmaan dan karya penyelamatan umat manusia.

Berawal dari mimpi, Yosef bekerja dalam senyap. Mimpi telah mengubah hidupnya.  Ia menjalankan perannya dengan tanggung jawab. Dia membiarkan dirinya tersembunyi. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah alat di tangan Tuhan. Panggilan khusus yang diterimanya tidak membuatnya besar kepala. Dirinya tidak penting, hanya Allah yang penting, demikian bagi Yosef. Dapatkah kita belajar dari St. Yosef? –JK-IND—

Referensi Utama:

Cahyadi, Krispurwana. 2018. Keluarga Kudus, Belajar Beriman dari Yesus-Maria-Yosef. Yogyakarta: Kanisius.

Tak Ada Duanya: Bunda Maria, Wanita Terpuji dan Pilihan Allah

0

Tak ada yang bisa menandingi Maria, Ibu Yesus. Sampai-sampai Penginjil Lukas menuliskan bahwa Allah menyuruh Malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bernama Maria (lih. Luk. 1:26-27). Dialah wanita pilihan Allah.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Bunda Maria beroleh kasih karunia yang luar biasa dari Allah. Bukan manusia yang mengatakan itu, melainkan Malaikat Gabriel. Malaikat itu berkata:

“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk. 1:28). Dia mengulanginya sekali lagi: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk. 1:30).

Bukan sembarang karunia. Bunda Maria mendapat karunia khusus, yang tidak pernah didapat oleh manusia manapun. Ia mengandung dari Roh Kudus.

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk. 1:31-33).

Malaikat Gabriel memberi kabar bahwa Maria akan melahirkan seorang anak laki-laki. Yesus nama-Nya. Nama itu bukan Maria yang berikan melainkan Allah sendiri, melalui Malaikat Gabriel.

Bunda Maria tentu saja terkejut mendapat kabar itu. Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34). Maria berpikir seperti manusia biasa pada umumnya, seorang perempuan seperti dirinya baru bisa mengandung hanya jika bersetubuh dengan laki-laki (baca: suaminya).

Malaikat Gabriel menjelaskan bagaimana hal itu akan terjadi. Ia berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35).

Kalimat terakhir dari Malaikat Gabriel menjadi kalimat pamungkas: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37).

Bunda Maria tidak menyangka bakal mendapat karunia sebesar itu: dipilih dan mendapat karunia khusus. Perasaannya kala itu tentu saja campur aduk, antara senang dan takut. Senang karena yang bakal dikandungnya adalah Anak Allah, tapi takut karena ia belum bersuami. Ia tahu bagaimana resikonya mengandung di luar perkawinan. Hukumnya adalah hukuman mati dengan cara dirajam. Maka, bisa saja ia menolak tawaran itu, tapi ia tidak memilih opsi itu. Ia memilih ‘YA’ sebagai jawabannya.

Bunda Maria tunduk pada kehendak Allah. Ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Jawaban ‘YA’ Maria terhadap tawaran Allah tidak serta merta membuat hidupnya bebas masalah. Ketika ia hendak melahirkan, ia harus melahirkan Yesus di tempat yang bukan seharusnya, yang membuatnya terpaksa membungkus bayi itu  dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (lih. Luk. 2:7).

Jika banyak ibu hancur hatinya karena melihat kenakalan anaknya, hati Maria lebih hancur lagi akibat pengorbanan anaknya. Anaknya menderita sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib, demi menebus dosa manusia.

Ketika semua orang lari ketakutan, hanya segelintir yang bertahan, Maria ada di antara yang segelintir itu. Ia mengikuti jalan salib putranya, hingga putranya sampai pada titik darah penghabisan. Maria berada di bawah kaki salib ketika Yesus disalibkan.

Maria tidak pernah diberi kursus untuk menjalani ini semua. Allah punya rencana, tapi Maria tak diajak magang. Ia didatangi, ditunggu jawabannya, dan menjalankannya. Modalnya hanya: menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Sebenarnya banyak orang memuji Maria dan anaknya. Para gembala memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

Menariknya, Maria tetap tenang. Ia tidak serta-merta menggembar-gemborkan tentang kelebihan anaknya. Ia justru menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Kebanyakan orang tidak punya waktu untuk menyimpan perkara dan merenungkannya. Orang-orang cenderung share perkara di sosial media, tanpa menyimpan dan merenungkannya terlebih dahulu.

Maria tidak makan puji, juga tidak panik. Ia tetap tenang, menyimpan dalam hati, dan merenungkan semua perkara. Beda dengan kebanyakan orang tua saat ini, yang suka sekali mengekspose kelebihan-kelebihan anaknya, atau menggembar-gemborkan masalah rumah tangga di sosial media.

Barangkali di sini kita perlu belajar dari Maria untuk tidak terpengaruh dengan segala pujian ataupun cerita orang, atau tidak panik ketika sedang berada dalam masalah.

Keterpilihan Maria sebagai Bunda Allah pasti bukanlah tanpa alasan. Apalagi, yang memilih dia bukan manusia, tapi Allah sendiri. Allah memilih bukan karena kebetulan. Allah memilih Maria karena ada alasannya.

Kerendahan hati. Barangkali itu kelebihan wanita muda itu. Hatinya yang luar biasa membuat Allah jatuh hati padanya. Alhasil, dari antara semua wanita yang hidup sezaman dengan dia, Marialah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda bagi Putra-Nya.

Maria wanita biasa, sama saja dengan wanita-wanita lain sezamannya. Bedanya, Ia dipilih Allah untuk menjadi Bunda bagi Putra-Nya.

Keterpilihan Maria tidak membuatnya besar kepala. Ia tetap rendah hati dan tenang. Padahal usianya masih muda.

Tak ada wanita sehebat Maria. Ia begitu peka terhadap kekurangan anggur pada pesta di Kana. Ia meminta Yesus melakukan sesuatu. Mula-mula Yesus enggan melakukannya. Tapi karena yang minta adalah ibu-Nya, maka Ia melakukannya juga. Terjadilah mukjizat yang paling disukai oleh pencinta alkohol itu, yaitu air berubah menjadi anggur.

Penginjil Yohanes memberi keterangan bahwa itulah mukjizat pertama dari Yesus. “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh. 2:11).

Maria berhasil mempengaruhi Yesus untuk menunjukkan mukjizat pertama-Nya. Maria tahu kemampuan Yesus, karena ia ibu-Nya.

Belajar dari Maria, kita mesti mempunyai sikap iman yang sama seperti yang dia miliki. Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidup kita, bukan kehendak kita. Sebab, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.

–JK-IND—

Yesus, Allah-Manusia, Dikenal melalui Pekerjaan-Nya

0

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Allah memahami keadaan kita, itu pasti; sebab Ia pernah merasakan seperti apa rasanya menjadi manusia.

Penginjil Yohanes, pada permulaan Injilnya, memberitahu kita soal bagaimana Allah menjadi manusia.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1,3,14).

Firman (Allah) itu sungguh-sungguh menjadi manusia, dan bukannya setengah manusia. Allah mengambil rupa manusia dalam diri Yesus dari Nazaret.

Sisi kemanusiaan Yesus digambarkan dengan sangat baik di dalam Injil Markus 14:32-42. Dikatakan bahwa Yesus menderita, bergumul, sangat takut dan gentar. Ia juga sedih, seperti mau mati rasanya.

“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (lih. Ibr. 5:7).

Tapi, sekalipun Yesus tidak pernah berkata ‘Aku ini Tuhan’, Ia bukanlah manusia biasa – melainkan Allah yang mengambil rupa manusia. Mengenai identitas-Nya itu, Yesus berkata: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh. 8:23).

Meskipun Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, Ia tidak pernah berkata ‘Sembahlah Aku’. Justru sebaliknya, Ia berkata: “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia” (Yoh. 5:41).

Jadi, kita tidak akan pernah menemukan di dalam Kitab Suci kalimat Yesus yang berbunyi: “Aku ini Tuhan, sembahlah Aku”. Tidak, Yesus tidak mengatakan itu. Mengapa? Sebab Ia sangat konsisten dengan tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan menjadi salah satu di antara kita.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).

Nah, jika Yesus tidak memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan, juga tidak meminta para pengikut-Nya untuk menyembah-Nya, lantas bagaimana kita tahu bahwa Dia adalah Tuhan?

Pertanyaan serupa bukan baru pertama kali diajukan. Sudah dalam Kitab Suci, Yohanes Pembaptis menyuruh dua muridnya untuk mengajukan pertanyaan yang nadanya kurang lebih sama. Dua murid yang diutus oleh Yohanes Pembaptis itu berkata kepada Yesus:

“Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk. 7:20).

Yesus tidak bilang “Ya, Akulah Dia”. Tidak. Dia tidak mengatakan itu. Sebaliknya, Ia menjawab mereka:

“Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk. 7:22).

Begitu pula ketika orang-orang Yahudi (lih. Yoh. 10:24-25) mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya:

“Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku”.

Yesus ingin dikenal melalui pekerjaan-pekerjaan-Nya. Ia mengatakan keinginan-Nya itu dengan terus-terang kepada mereka yang bertanya tentang identitas-Nya.

Barangkali Petrus merupakan satu di antara pengikut-Nya yang menyadari hal itu. Ketika di pantai danau Genesaret, Petrus mula-mula menyapa Yesus sebagai ‘guru’ (lih. Luk. 5:1-11), sapaan biasa kala itu.

Yesus berkata kepadanya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata:

Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap.

Ketika Simon Petrus melihat apa yang dilakukan oleh Yesus, ia jadi tahu bahwa Yesus adalah Tuhan. Kesadaran Petrus ini dipertegas lagi oleh Yesus saat pembasuhan kaki. Yesus berkata:

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:13).

Meski dalam Kitab Suci Yesus tidak meminta siapapun untuk menyembah-Nya, tidak berarti bahwa orang-orang tidak menyembah Dia. Ada banyak teks dalam Injil yang memperlihatkan bagaimana orang menyembah Yesus.

Hal itu dilakukan orang-orang, bahkan jauh sebelum Ia tampil di muka umum. Sudah sejak dalam palungan, tiga raja dari Timur datang jauh-jauh untuk sujud menyembah Dia.

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat. 2:11).

Selama Ia tampil di muka umum, banyak juga orang menyembah-Nya. Ia tidak menyuruh mereka melakukan itu, Ia juga tidak melarangnya. Ia membiarkan mereka melakukan apa yang menurut mereka baik. Semua itu dibuat orang setelah melihat atau mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Yesus.

Dalam karya-Nya, ketika Yesus meredakan angin ribut, orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (Mat. 14:33).

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menjumpai para murid-Nya dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya (Mat. 28:9).

Adakah Yesus berkata ‘Jangan sembah Aku, sebab Aku bukan Tuhan?’ Tidak. Yesus tidak mengatakan itu. Jika Dia bukan Tuhan, pastilah Dia melarang orang untuk menyembah-Nya.

Lantas, mengapa ada orang yang tidak percaya terhadap ketuhanan Yesus? Kiranya perkataan Yesus di bawah ini merupakan jawaban atas pertanyaan ini. Yesus berkata:

Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:26-28).

Jadi, wajar saja jika selama ini ada orang yang meragukan ketuhanan Yesus sebab mereka bukan domba-Nya.

Yang pasti bagi kita sudah jelas: Yesus adalah sungguh Allah, sungguh manusia. Dia ingin agar orang, setelah melihat apa yang dilakukan-Nya, mengenal siapa Dia.

Yesus ingin agar para pengikut-Nya mengenal Dia secara pribadi, bukan berdasarkan ‘kata orang’ tentang Dia. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah” (Luk. 9:20).

Orang yang merasa disentuh secara pribadi, seperti Petrus, tidak mempunyai kesulitan untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan; sehingga tidak ragu-ragu juga untuk menyembah-Nya.

Tak Ada yang Lebih Lucu dari Ini: Ngaku Anak Kardinal Lulusan Injil Vatican School

0

Si penceramah mengaku sebagai anak kardinal, suatu pengakuan yang jelas-jelas ngawur. Dia juga bilang bahwa ibunya seorang penginjil, istilah yang hanya familiar di kalangan Gereja non-Katolik. Lebih ngawur lagi, dia mengaku sebagai lulusan Injil Vatican School, suatu institusi yang tidak pernah ada.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Pengakuan demi pengakuan yang dibuatnya dalam video viral berdurasi pendek itu hanya akan membuat orang tertawa. Rasanya, tak ada lagi yang lebih lucu dari ini. Kita hanya bisa bilang ‘entah apa yang merasukinya’ saat dia membuat pengakuan seperti itu.

Sebenarnya, si penceramah dalam video viral itu bukan orang pertama yang mencoba mengaku-ngaku sebagai seorang mantan Katolik, mantan barawan-biarawati, mantan pastor, dan sebagainya. Sudah ada sederet nama lain yang pernah membuat pengakuan serupa.

Sayangnya, siapapun mereka, kesan yang muncul sama saja: mereka ngarang bebas. Tampak sekali bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan dasar mengenai iman Katolik pada khususnya, dan kekristenan pada umumnya. Mereka tidak dapat membedakan mana Katolik dan mana non-Katolik; sehingga mereka cenderung mencampuradukkan keduanya.

Saya hanya heran mengapa ada orang yang dengan sengaja membuat pengakuan yang ngawur seperti  itu? Apa pula perlunya mereka menggunakan embel-embel ‘mantan Katolik, mantan biarawati, anak kardinal, lulusan Universitas Vatikan, tamatan Injil Vatican School’ dalam ceramah keagamaan mereka?

Saya tidak ingin berspekulasi macam-macam tentang alasan mereka membuat pengakuan seperti itu. Mereka tentu mempunyai alasannya tersendiri; hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Yang saya lihat hanya satu: adanya usaha keras dari mereka untuk membuat dirinya populer. Memang, di Indonesia ini, ceramah-ceramah seperti ini biasanya digemari oleh banyak orang, sehingga penceramahnya pun lebih cepat populer.

Bagi para penonton yang beragama non-Katolik, pengakuan dari orang seperti dalam video itu barangkali dapat dipercaya, sebab pengetahuan mereka tentang iman Katolik sangat terbatas. Namun, bagi orang-orang Katolik sendiri, jelaslah pengakuan seperti itu tidak lebih dari sekedar joke, candaan, atau lawakan.

Orang Katolik yang paham betul kekatolikannya, tidak akan gampang memercayai pengakuan seperti itu, sebab nyatalah bahwa apa yang disampaikan orang dalam video itu isinya hanya kebohongan belaka.

Apa yang dapat dipercaya dari seorang pembohong? Tidak ada. Yang ada justru kita dibodohi. Memang sangat disayangkan jika ada orang yang percaya terhadap ceramah-ceramah yang berbau kebohongan seperti itu.  Barangkali si penceramah sudah tahu bahwa kebohongan yang diulang-diulang, lama-lama akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Itulah sebabnya, jika kita membaca komentar para warganet, kita akan menemukan bahwa tidak sedikit dari mereka menyayangkan adanya video viral itu; sebab mereka menilainya sebagai suatu pembodohan publik.

—JK-IND—

Antara Bercanda atau Berbohong: Ngaku Lulusan Universitas Vatikan dan Injil Vatikan School

0

Viral lagi, viral lagi. Lagi-lagi viral. Kira-kira begitu reaksi pertama kita ketika menonton video berdurasi pendek yang belakangan ini bertebaran di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengaku anak kardinal lulusan Injil Vatikan School.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bagi mereka yang paham mengenai institusi Gereja Katolik, pengakuan seperti yang dilakukan oleh orang dalam video itu hanya akan dianggap sebagai sebuah joke, lelucon, lawakan, dan sederetnya. Sangatlah keterlaluan jika orang yang tahu betul Gereja Katolik percaya ceramah seperti ini. Orang Katolik tentu tidak pernah mengganggap serius hal-hal seperti itu. Jika dianggap serisus, itu namanya keterlaluan.

Tapi, jangan salah, ceramah yang berbau kebohongan seperti itu justru laris manis di masyarakat. Jangan disangka bahwa tidak ada orang yang percaya terhadap isi ceramah seperti itu. Ingat, kata orang-orang, di Indonesia ini, ngaku Tuhan saja masih ada yang percaya, apalagi jika hanya ngaku anak kardinal, ngaku lulusan Universitas Vatikan, atau ngaku lulusan Injil Vatikan School.

Dari isi pengakuannya, kita tahu bahwa apa yang disampaikan oleh orang dalam video tersebut hanyalah sebuah  joke, lelucon, atau apalah namanyanya. Sayangnya, tempat, situasi, dan cara penyampaiannya saja yang terkesan serius. Jika bukan joke atau lelucon, itu berarti bahwa orang tersebut sedang berbohong atau mempertontonkan kebodohannya. Atau bisa juga dua-duanya.

Si penceramah mungkin saja tahu bahwa kebohongan yang diulang-ulang, lama-lama akan diterima sebagai suatu kebenaran.  Jika itu yang dipikirkannya, maka yang disayangkan sebenarnya adalah para pendengarnya.

Saya hanya membayangkan apa kira-kira yang dipikirkan oleh para peserta yang hadir ketika penceramahnya berbicara seperti ini? Apa wow? Hebat? Luar biasa? Atau justru, masa sih?

Di tengah teknologi komunikasi yang makin canggih saat ini, masih saja ada orang yang berani berbohong. Padahal, jika peserta yang hadir itu mau, mereka bisa melacak informasi yang disampaikan oleh si penceramah di internet. Itu kalau mereka mau. Sayangnya, kebanyakan orang biasanya menelan mentah-mentah informasi yang berbau kebohongan seperti itu.

Pembohong yang cerdas, jika ada, mestinya mempelajari dulu seluk-beluk dan tata cara penggunaan istilah dalam Gereja Katolik sebelum ngaku-ngaku macam-macam itu. Ya, Gereja Katolik mempunyai sederet istilah teknis yang tidak bisa secara sembarangan digunakan. Ngaku-ngaku mantan Katolik dan apalagi mantan pastor, suster, dan sebagainya, tidak gampang. Kecuali jika memang beneran. Tapi, jika tujuannya hanya untuk berbohong, lebih baik niatnya diurungkan daripada kelihatan kurang pengetahuannya tentang Gereja Katolik.

Jika saja penggunakaan istilahnya benar, barangkali ada juga orang Katolik yang percaya nantinya, meski tidak semudah itu. Sebagai contoh, jika ada yang ngaku mantan imam, maka pertanyaannya: dari ordo mana atau keuskupan mana? Ngaku mantan Katolik: dari keuskupan mana, paroki mana. Semua data pasti ada. Tinggal ditelusuri benar tidaknya.

Tapi, yang terjadi baru-baru ini, tanpa perlu ditelusuri, kita langsung tahu bahwa itu bohong. Misalnya, yang ngaku menempuh pendidikan calon imam hanya dalam tempo singkat. Yang jelas, dalam pendidian calon imam, semua jenjang harus dilalui, tidak ada namanya lompat sana lompat sini.

Ada juga yang mengaku menempuh ‘jenjang’ misdinar, prodiakon, tiba-tiba ditahbiskan menjadi imam. Barangkali dikiranya misdinar dan prodiakon adalah jenjang yang harus ditempuh untuk menuju imamat. Padahal, baik Misdinar maupun Prodiakon, bukanlah tahapan menuju imamat. Misdinar adalah pelayan altar, dan prodiakon adalah pelayan komuni. Mereka membantu imam dalam Misa. Misdinar diambil dari anak-anak remaja yang sudah komuni, prodiakon diambil dari orang-orang yang sudah berkeluarga.

Yang sekarang ini, ngaku anak kardinal. Artinya dia tidak paham aturan selibat dalam Gereja Katolik. Dalam Gereja Katolik, yang namanya bruder, suster, diakon, imam, uskup, kardinal, paus, jelas tidak menikah. Jika dari antara yang disebutkan itu ada yang memilih menikah, mereka harus tanggalkan jubahnya terlebih dahulu. Dan saat itu juga, mereka bukan lagi bagian dari kelompok berjubah.

Belum lagi ada yang ngaku lulusan Universitas Vatikan yang sampai hari ini dan entah sampai kapanpun perguruan tinggi yang dimaksud belum pernah eksis. Begitu juga yang mengaku lulusan Injil Vatikan School, yang lagi-lagi sekolah yang disebutkan tidak pernah eksis.

Saya memang belum pernah ke Vatikan, tapi dari cerita orang-orang, dan pengetahuan yang saya dapatkan selama ini, belum pernah ada nama sekolah atau kampus seperti yang disebutkan itu di Vatikan. Kecuali jika nanti dua orang itu mendirikan dua kampus itu di sana, setidaknya dalam mimpi-mimpi dan khayalan mereka.

Jika mereka mau, setiap kali mereka menyebutkan institusi-institusi fiktif itu, mereka harusnya bilang: saya anak kardinal, saya lulusan Universitas Vatikan, saya lulusan Injil Vatikan School, ‘tapi bohong’; supaya pendengar tidak menganggapnya serius.

Sebetulnya, di sini, yang dirugikan bukan institusi yang disebutkan dalam ceramah, tapi para pendengarnya. Kita yang Katolik paling senyum dan ketawa saja karena pengakuan orang-orang itu memang pantas untuk dianggap lucu dan kocak.

Apa tujuan di balik semua ini? Apakah demi mendapatkan popularitas secara cepat? Jika iya, mengapa harus melibatkan agama lain? Tidakkah lebih baik jika cukup menunjukkan pengetahuan yang mumpuni tentang agamanya sendiri, sehingga para pendengar bisa terkesima, tertarik, dan ingin mengikuti ceramahnya terus? Daripada ngaku-ngaku sembarangan tapi bohong dan salah?

Rafe Mau Bernapas Lagi — Cerita Pendek

0

“MO, masa si Rafe nggak mau napas!”
“Apa?! Kenapa dia? Udah dibawa ke dokter belum?”
“Hah? Kok ke dokter? Ooh, maaf, maaf, Romo salah paham. Bukan nggak napas beneran, Mo. Napas di sini maksudnya NAtal dan PASkah.”

[postingan number=3 tag= ‘kang-je’]

Romo Hendra melotot, alis putihnya yang masih diselingi beberapa helai hitam bertaut tak suka. “Bikin jantungan saja,” gerutunya.
Bu Yayuk, adiknya yang berumur enam puluhan akhir, yang duduk di depannya di ruang tamu pastoran, menyengir. “Ma-aaaf,” ujarnya belagu. Jangankan merasa bersalah, tawanya malah berderai.

Sudut bibir Romo Hendra terangkat sengit.
Raphael atau Rafe adalah cucu Bu Yayuk, yang menjadikannya cucu keponakan Romo Hendra. Sejak bayi Rafe selalu anteng mengikuti misa bersama orang tuanya, tidak pernah rewel minta susu atau makanan, apalagi melengkingkan tangisan. Pun waktu mulai belajar jalan, Rafe tetap duduk manis sepanjang misa, tak pernah berlarian atau harus dialihkan perhatiannya dengan main gim di ponsel orang tuanya. Lalu ketika sudah sekolah, bocah yang kini sudah berumur delapan tahun itu jarang mau ikut Bina Iman Anak dan memilih ikut misa.

Semua cucu keponakan diajari orang tua mereka untuk memanggil Romo Hendra “Eyang Romo”, tapi mereka menemukan sendiri nama panggilan yang lebih pas: “Moyang”. Yah, bagi anak-anak umur sepuluh tahun ke bawah, sosok berumur delapan puluhan itu mungkin memang pantasnya jadi kakek moyang.

Romo Hendra bersandar di kursinya. “Lantas, si Rafe sebetulnya kenapa?”
Raut Bu Yayuk berubah serius. “Romo tahu sendiri, kan, Rafe itu anaknya tertib banget soal misa. Tapi dia menyaksikan kejadian buruk waktu mengikuti misa Jumat Agung, terus sekali lagi waktu misa Natal. Tahu-tahu kemarin ini dia bilang ke Ragil nggak mau ikut misa Natal dan Paskah lagi.” Ragil adalah putri Bu Yayuk, ibu Rafe.

“Kejadian buruk bagaimana maksudnya?” Romo Hendra mengernyit.
“Beberapa tahun belakangan ini setiap liburan Paskah dan Natal kami selalu mengunjungi keluarga kakak papanya Rafe di Jakarta, tapi nggak pernah absen misa. Nah, untuk misa Jumat Agung, kami tiba di gereja dua jam sebelum jadwal misa dimulai, karena tahun sebelumnya kami datang sejam di muka sudah kebagian duduk di tenda. Kali ini kami duduk di bangku keempat. Bagian tengah dua bangku di depan kami kosong, tapi ada dua remaja laki-laki yang duduk di ujung bangku kiri dan kanan, secara diagonal. Baik dari pakaian maupun cara duduknya, mereka sepertinya bukan mau ikut misa, tapi kami kaget banget waktu beberapa menit menjelang misa dimulai, satu rombongan keluarga datang menempati kedua deret bangku itu, lalu bapak yang baru datang menyerahkan uang dua puluh ribuan ke kedua remaja itu, yang langsung pergi setelah menerimanya.”

Kerutan di dahi Romo Hendra makin dalam. “Jadi sekarang misa pun ada jokinya?” tanyanya kaget.

“Itulah yang aku dan Ragil bahas. Kami lupa Rafe yang duduk di antara kami sekarang sudah besar dan sedikit-banyak menangkap arti pembicaraan kami. Tapi karena Rafe tidak bertanya apa-apa, kami juga tidak membicarakannya lebih lanjut.

“Lalu Natal kemarin lagi-lagi kami datang dua jam lebih awal, itu pun gereja sudah ramai sekali. Seorang ibu duduk di depan kami dan melarang kami duduk di sebelahnya. ‘Saya menunggu keluarga saya,’ katanya. Ya sudah, kami mengambil tempat di bangku belakangnya. Tahu-tahu ibu itu mengeluarkan seluruh isi tasnya: buku Puji Syukur, payung, kipas lipat, tisu, dan dua lembar teks misa. Semua dijejerkan di bangkunya. Beberapa orang yang datang mencari bangku ditolak, si ibu dengan cuek menunjuk semua barang yang dipakainya untuk cup tempat. Petugas yang datang menegur pun malah disemprot ibu itu. Beberapa umat setelah mengitari gereja dua kali dan tetap tidak diberi duduk oleh si ibu akhirnya memutuskan untuk keluar lagi dan mengikuti misa di bawah tenda.

“Kali ini aku dan Ragil nggak berkomentar. Kami hanya saling menatap lalu menggeleng-geleng. Anehnya, sepanjang misa Rafe cemberut. Dia menggeleng gusar waktu ditanya Ragil dia kenapa. Lengannya dilipat di depan dada. Bahkan saatnya menerima berkat pun dia menolak maju.”

“Oya? Aneh sekali…” Romo Hendra. Soalnya, tiap kali Rafe ditanya bagian mana dalam misa yang paling disukainya, dengan penuh semangat bocah tampan berambut ikal itu akan selalu menjawab, “Waktu diberkati romo!” sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. Wajahnya berseri-seri bangga. Baru kali ini ia mendengar Rafe menolak maju.
“Nah!” Bu Yayuk menudingkan telunjuk kanan ke arah kakaknya sebagai penekanan. “Aneh, kan?!”

“Dia sama sekali nggak mau memberitahu alasannya?”
Bu Yayuk menggeleng. “Baru kemarin dia akhirnya cerita. Katanya, dia kesal karena tiap kali Natal dan Paskah kami harus ke gereja dua jam lebih awal. Ia merasa itu hanya menambah dosa. Makanya supaya nggak nambah dosa, mulai sekarang dia nggak mau pergi misa Natal dan Paskah lagi.”

“Hmm. Menurut dia kenapa itu menambah dosa?”
“Karena dalam dua jam itu suasana gereja berisik banget, sudah seperti pasar saja. ‘Tuhan Yesus kan marah kalau gereja kayak pasar, jadi kita dosa karena membuat Tuhan Yesus marah,’ katanya. ‘Apalagi kalau Tuhan Yesus sampai lihat ada yang bayar cuma buat duduk di dalam gereja. Ini gereja atau bioskop?’ Kalau bagian ini kayaknya dia mengutip omonganku ke ibunya waktu misa Jumat Agung itu,” tambah Bu Yayuk sambil menyengir malu.
“Terus, apa pendapat dia soal ibu pengecup-tempat waktu misa Natal?”
“Katanya ibu itu seperti pemilik penginapan yang menolak Yusuf dan Maria yang kelelahan. Sudah jelas-jelas banyak yang butuh duduk, tapi ibu itu tidak mau memberikan tempatnya kepada satu orang pun yang melewati bangkunya.”

Romo Hendra mendengus pelan. Perbandingan yang lumayan pas. Ia ingin tertawa, tapi pikirannya lebih mencemaskan hati polos Rafe yang tercemar oleh kelakuan orang-orang dewasa ini. Betapa ironisnya ketika banyak orang dewasa hanya mau ke gereja pas Natal dan Paskah seolah itu cukup untuk menebus absen misa setahun, Rafe justru menolak pergi ke gereja pada dua puncak perayaan Gereja Katolik itu karena takut menambah dosa.
“Kami sudah berusaha menasihati Rafe, tapi, yah, Romo tahu sendiri Rafe kayak apa,” ujar Bu Yayuk menggeleng-geleng.

Romo Hendra tersenyum. Rafe anak baik, tapi kalau sudah memutuskan sesuatu… wuih, keras kepala tiada dua.
“Kemarin kami sudah mulai merencanakan pergi ke Jakarta lagi buat liburan Paskah. Tadinya kami pikir ancaman Rafe buat nggak napas cuma gertak sambal doang. Ternyata dia serius, Mo. Dia mewanti-wanti nggak mau misa selama di Jakarta. Ampun deh, bocah satu itu,” Bu Yayuk memegang keningnya, sepertinya pusing sekali. “Minggu depan sehabis misa akan kubawa dia kemari, biar Romo dengar sendiri ikrarnya itu,” ujar Bu Yayuk.

Siapa sangka keesokan harinya badai virus Covid-19 melanda nusantara. Satu demi satu gereja menutup pintunya untuk mencegah kluster-kluster baru. Tamu-tamu yang datang ke paroki pun dibatasi. Untuk Romo Hendra yang sudah sepuh, kelompok usia yang paling rentan terkena virus, malah tidak boleh menerima tamu sama sekali. Satu hari beranjak seakan merangkak, tapi seminggu melejit tanpa suara, kemudian Pekan Suci diikuti Pentakosta datang dan pergi. Tahu-tahu sudah tiga bulan umat hanya bisa mengikuti misa daring. Pembatasan sosial berskala besar sudah mulai dilonggarkan, tapi demi amannya, gereja tetap belum mengadakan misa untuk umat.

Romo Hendra baru saja selesai makan siang ketika menerima panggilan telepon-video dari Ragil. Ketika ia jawab, tampak cucu keponakannya, mengenakan masker yang diturunkan ke dagu dan jaket yang tudungnya menutupi rambut, melambaikan tangan dari tempat yang tidak asing. Itu bukan rumahnya. Lho, bukannya itu… pagar samping pastoran?
“Pakde Mooo,” sapa Ragil. “Ini ada yang kangen,” katanya sambil tertawa dan mengarahkan kamera ponselnya sedikit lebih ke bawah.

“Moyaaang!” Rafe melambai-lambai. Gaya berpakaiannya sama dengan ibunya.
“Tadi kamu janji apa sama Ibu? Ceritain ke Moyang,” terdengar suara Ragil.
Mata Rafe melirik ibunya di samping. “Oh, iya,” Rafe mengangguk, lalu matanya kembali ke layar. “Kalau nanti udah boleh misa di gereja lagi, aku mau ikut misa terus. Misa Natal, Paskah, pokoknya semuanya. Aku janji nggak akan pernah bolos misa lagi.”
Romo Hendra menaikkan alis jenaka. “Yang beneeer?”
“Beneeer.” Rafe mengangguk bersungguh-sungguh.
“Biarpun ada yang menganggap gereja seperti bioskop, kamu tetap pergi?”
“Ya!” seru Rafe.
“Biarpun ada yang nggak mau memberi tempat ke orang-orang yang butuh duduk, kamu tetap mau pergi?”
“Ya!” seru Rafe lagi.

“Nanti kamu marah-maraaah…, nggak mau nerima berkat lagiii?” goda Romo Hendra.
“Nggak, aku nggak bakal marah-marah lagi! Ntar aku mau merem aja!” seru Rafe.
Romo Hendra terbahak-bahak. “Bagus. Jangan pernah lupa janjimu ya.”
“Nggak,” sahut Rafe mantap.

“Oke. Tunggu di situ.” Romo Hendra mematikan ponsel lalu berjalan ke pintu samping pastoran, membukanya lebar-lebar tanpa beranjak melewati ambangnya.
Di balik pagar, Rafe melonjak-lonjak sambil melambaikan tangan, “Moyang! Moyang! Moyang!” jeritnya girang.

“Aku mau kasih berkat!” seru Romo Hendra.
Rafe buru-buru berhenti melompat. Ia berdiri tegak, menyilangkan lengan di depan dada dengan khidmat.

Romo Hendra menurunkan lengan setinggi dahi Rafe lalu membuat tanda salib kecil dengan ibu jarinya. Tiba-tiba wajah Rafe berkerut-kerut.
“Lho, lho, kok malah nangis?” seru Ragil kaget, buru-buru berjongkok memeluk putranya. Tangis Rafe makin menjadi dalam pelukan ibunya.
“Kenapa dia?” seru Romo Hendra.

Ragil menoleh. Dengan Rafe masih sesenggukan di bahunya, ia berseru setengah tertawa setengah menangis haru kepada pakdenya, “Kangen diberkati Moyang, katanya!”
Romo Hendra tersenyum. “Sudah, sana pulang! Jangan keluar dulu kalau nggak perlu! Jaga kesehatan!” serunya.

“Iya. Pakde juga jaga kesehatan ya. Makasih, Pakde. Kami pamit,” seru Ragil.
Rafe mengusap mukanya yang basah, berdadah-dadah sambil berseru, “Sampai ketemu lagi, Moyang! Sampai ketemu lagi gereja! Kalau Covid-19 sudah pergi, aku pasti datang!”

*****