9.3 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 35

Jika Engkau Mau, Sembuhkan Aku

0

Sesungguhnya setiap orang hanya mau sehat sepanjang hidupnya.  Tidak ada yang mau sakit. Tapi hanya mau sehat atau tidak mau sakit, hanyalah harapan. Kenyataannya lain. Setiap orang pernah sakit.  Setiap orang tak selalu sehat. Tak perlu ada yang menyangkalnya. Yang berbeda hanya jenis penyakit yang diderita, lama waktu sakit dan kapan sakit, dll.

Saat menderita sakit, setiap orang ingin segera sembuh. Untuk sembuh, ia perlu bantuan sesama (dokter, perawat, keluarga, dll). Ia butuh perawatan intensif. Saat inilah orang sakit dan keluarganya mengorbankan segalanya (harta, dll). Tujuannya: segera sembuh. Tak ada orang yang mau lama-lama menderita sakit. Tak ada seorang pun mau lama-lama berbaring di tempat tidur Rumah Sakit atau di rumahnya sendiri.

Bagi  orang yang percaya kepada Tuhan Yesus,  untuk sembuh itu tak hanya mengandalkan bantuan sesama (dokter, perawat, keluarga, dll.). Ia membutuhkan bantuan Tuhan Yesus. Bahkan Yesus dipercaya sebagai “Dokter Ilahi” yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Kepercayaan akan Yesus sebagai “Dokter Ilahi” itu memang  dilandaskan pada aneka kisah  dalam Injil tentang Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit secara ajaib.

Karena itu, orang sakit terus berdoa dan menyerahkan dirinya kepada Yesus agar berkenan segera disembuhkan. Ia juga meminta keluarga atau kenalannya agar mendoakannya. Atau kalau ia sakit berat, keluarga dan kenalannya, tanpa diminta, pasti akan selalu mendoakannya. Tentang hal ini, banyak orang yang mengakui telah mengalami kesembuhan secara ajaib. Bagi mereka,  yang menyembuhkan mereka secara ajaib itu tak lain adalah Yesus, Sang Dokter Ilahi.

Jika mengalami kesembuhan, orang mengucapkan syukur. Ucapan syukur itu berlandaskan keyakinan bahwa ia telah  disembuhkan oleh Tuhan Yesus melalui cara-Nya sendiri yang tak bisa dijelaskan secara tuntas oleh akal budi. Tentu saja diyakini juga bahwa Tuhan Yesus bekerja melalui sesama (dokter, perawat, keluarga, dll). Karena itu, menyampaikan terima kasih kepada sesama atas segala pelayanan selama sakit adalah hal penting yang tak boleh diabaikan.  Ucapan terima kasih ini dilakukan juga dengan mendoakan mereka agar tetap sehat sehingga masih bisa melanjutkan karya pelayanan dengan baik.

Pengalaman sakit inilah yang dialami seseorang dalam Injil hari ini (Mat. 8:1-4).  Ia menderita penyakit kusta. Ini penyakit yang menyebabkan penderitaan mendalam. Orang yang mengidap penyakit ini tak hanya menderita secara fisik, tapi juga secara sosial. Orang kusta disingkirkan dari masyarakat. Ia harus dikarantina! Tujuannya agar penyakit ini tak menular ke orang lain. Mereka tak boleh bergerak bebas apalagi bergabung dengan banyak orang.  Kita bisa bandingkan dengan saudara/i yang terinfeksi Covid-19 saat ini dan dikarantina. Mereka pasti sangat menderita.

Karena sangat menderita secara fisik dan sosial, orang yang menderita kusta pasti ingin segera sembuh. Dalam Injil hari ini, seseorang yang menderita kusta itu datang kepada Yesus. Ia tentu sudah mendengar  berita tentang siapa Yesus. Ia sujud menyembah Yesus dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”  Yesus tentu tahu betapa menderitanya orang itu. Tanpa menunggu lama, Yesus langsung mengulurkan tangan-Nya, menjamahnya seraya berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Sembuhlah orang itu.  Mukjizat terjadi.

Tentu saja orang kusta yang telah disembuhkan secara ajaib oleh Yesus itu sangat bersuka cita. Ia pasti sangat bersyukur atas rahmat kesembuhan yang diterimanya. Ia pasti sangat berterima kasih kepada Yesus.

Yesus meminta orang itu agar bertemu dengan para imam dan memperlihatkan diri kepada mereka bahwa ia telah sembuh.  Ia juga diminta agar mempersembahkan persembahan yang diperintahkan Musa sebagai bukti kesembuhan. Ini perintah hukum. Mengapa mesti memperlihatkan kesembuhan ini kepada imam? Karena mereka adalah pemimpin yang ‘berkuasa’ memastikan kesembuhan para penderita kusta. Setelah itu, seizin para imam, orang yang telah sembuh dari penyakit kusta boleh bergabung kembali dengan banyak orang; boleh hidup bebas di tengah masyarakat. Ia tak dikarantina lagi.

Saya tertarik untuk menggarisbawahi cara orang kusta ini meminta bantuan Yesus. Walau sangat menderita, ia tak menyuruh atau memaksa Yesus agar segera menyembuhkannya. Kata-katanya sangat menyentuh. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Ia hanya meminta kemurahan hati Yesus atas dirinya. Tak ada paksaan. Saya kira,  Yesus tersentuh dengan cara minta bantuan dari orang kusta ini.  Makanya, Ia langsung menanggapinya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Bagi saya, cara minta dari orang kusta ini menjadi contoh doa yang baik bagi para pengikut Yesus sepanjang zaman. Saya katakan demikian, karena kecenderungan kita adalah memaksa dan memerintahkan Tuhan Yesus untuk memenuhi apa pun yang kita minta. Dalam doa, kita cenderung memaksa Yesus agar mengabulkan setiap permohonan kita. Padahal, belum tentu semua permohohan itu sesuai dengan kehendak Allah. Barangkali itu hanya keinginan untuk memuaskan hasrat duniawi kita. Kalau tak dikabulkan, kita malas berdoa dan langsung berprasangka buruk terhadap Tuhan. “Ia tak peduli dengan penderitaanku; Ia tak mengabulkan permohohanku; mungkin Tuhan tidak sayang padaku, dll.” Begitulah kita mengungkapkan kekecewaan kepada Tuhan.

Karena itu, kita perlu membarui cara kita berdoa. Baiklah kita berseru, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku;  atau, jika Tuan mau, Tuhan menyembuhkan aku.” Atau, “Ya Tuhan, jika sesuai dengan kehendak-Mu, kabulkan permohonanku ini.” Selebihnya, biarkan Tuhan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya.  Sebab, Ia sesungguhnya tahu apa yang paling kita butuhkan dalam hidup ini. Yang  paling kita butuhkan itu, pasti diberikan-Nya melalui pelbagai macam cara. Jika yang kita minta belum dikabulkan, barangkali  permintaan itu belum sesuai dengan kehendak-Nya. Tetaplah berpikir positif tentang-Nya.***

Labuan Bajo, 26 Juni 2020

Tuhanlah Kekuatan Umat, Ia Menyertai Kita Selamanya

0

Hidup kita selalu mengalir. Baru dan baru lagi tiap harinya. Pengalaman bertambah, umur menua, kulit makin keriput.

[postingan number=3 tag= ‘covid19’]

Semua berjalan maju. Tidak ada yang tinggal tetap, apalagi bergerak mundur. Dan, kita tidak bisa mengulang peristiwa yang sudah berlalu. Kesempatan yang sama hanya datang satu kali. Sekali kita melewatinya, kita kehilangan kesempatan itu.

Kadang, kita membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Kita merasa terlalu sulit untuk mengambilnya. Atau, kita terlalu takut untuk menjalaninya.

Maka, yang terjadi berikutnya hanyalah penyesalan. Dan, menyesal kemudian jelas tidak ada gunanya. Memang, kata orang-orang, ‘penyesalan selalu datang terlambat’.

Kita selalu menginginkan kesempatan yang baik datang menghampiri kita, tapi sayangnya, kita menolak menghadapi kesulitannya. Kita lupa bahwa kesempatan yang baik seringkali datang bersamaan dengan sejumlah kesulitan. Jika kita menghindari kesulitannya, jangan-jangan pada saat yang sama kita  kehilangan kesempatan yang baik itu.

Karena itu, seharusnya, kesulitan dihadapi, bukannya dihindari. Memang, berhadapan dengan kesulitan, dibutuhkan perjuangan. Tapi yakinlah, tak ada perjuangan yang sia-sia. Hasil selalu sejalan dengan perjuangan. Berjuang besar, hasil besar. Tanpa perjuangan, hasil nol besar.

Yakinlah, di setiap kesulitan pasti ada hikmahnya, dan di ujung semua kesulitan, ada secercah harapan menanti kita. Harapan itu sudah disiapkan oleh Tuhan bagi kita. Yang terpenting kita percaya kepada-Nya.

Ya, dalam Tuhan selalu ada harapan; sekalipun di mata manusiawi kita, sepertinya tak ada harapan lagi. Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin. Apa yang bagi kita tidak mungkin, selalu mungkin bagi Tuhan. Yang terpenting kita tambatkan jiwa kita pada janji-janji-Nya.

Janji Tuhan itu pasti. Janji Tuhan tak pernah palsu. Tuhan tak pernah ingkar janji.  Karenanya, ketika kita menghadapi kesulitan, jangan lupa bahwa Tuhan punya satu janji untuk kita. Ia berkata:

Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

Tuhan berjanji untuk menyertai kita selamanya. Ia memelihara kita setiap saat. Kita tidak sendiri. Kita berharga di mata-Nya.

“Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Mat. 10:30-31).

Tuhan memperhatikan kita. Ia mempedulikan hidup kita. Ia bersama kita. Tak ada yang perlu ditakutkan bagi orang yang percaya pada penyertaan Tuhan.

Jika Tuhan menyertai kita, kita tidak takut. Sebab, kata pemazmur:

TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mzm. 118:6).

Tuhan mengerti kesengsaraan kita, sebab Ia sendiri sudah mengalaminya. Tidak ada artinya kesengsaraan kita jika dibandingkan dengan kesengsaraan yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Bukit Tengkorak.

Jika kita mengalami kesepian yang akut, jangan lupa Tuhan Yesus mengalaminya di kayu salib ketika Dia berseru dengan suara nyaring:

Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk. 15:34).

Jika kita dibenci orang, Tuhan Yesus juga sudah mengalaminya. Ia berkata:

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yoh. 15:18).

Karena itu, jangan takut, Tuhan mengerti keadaan kita. Ia akan menjadikan segalanya baik. “Ia menjadikan segalanya baru (Why. 21:5). Kita harus punya keyakinan seperti Yeremia, ketika dia berkata: “TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah” (Yer. 20:11).

Maka dari itu, jangan takut terhadap apapun juga atau siapapun juga. Takutlah hanya kepada Tuhan: takut tidak bisa mematuhi perintah-Nya, takut melanggar larangan-Nya. Tuhan bersabda:

“Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat. 10:28).

—JK-IND—

Teologi Ekaristi Zaman Ini: Kristus Hadir dalam Gereja dan Liturgi

0
  1. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi

Kehadiran Kristus dalam Ekaristi  menjadi fokus perhatian berkepanjangan dalam sejarah teologi. Zaman Skolastik (abad ke-9 hingga abad ke-15) memahami kehadiran Kristus dalam dua bentuk, yakni kehadiran-Nya dalam diri manusia (inhabitatio Dei) dan dalam rupa roti dan anggur (Ekaristi). Manusia menjadi kediaman dan bait Allah (Ef 2:21-22). Pada pertengahan abad ke-20, diskusi teologis tentang kehadiran Kristus kembali disoroti, karena adanya pembaharuan liturgi dan teologi Dom Odo Casel (1886-1948). Hasil keputusan dari diskusi teologis ini adalah Kristus hadir dalam Gereja dan liturgi, sebagaimana juga telah digagas sebelumnya oleh Paus Pius XII dalam Ensklik Mediator Dei (1947) dan ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan II dalam Sacrosanctum Concilium artikel 7.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Diskusi teologis realis praesentia, pada dekade 1950 hingga 1960-an, memfokuskan perhatian pada masalah konsepsi transubstantio. Dalam diskusi ini, substansi diartikan sebagai materi atau bahan fisik. Pandangan ini berbeda dengan paham Skolastik dan Trente, yang melihat substansi sebagai hakikat atau esensi, dan materi dipahami sebagai accidentia. Perkembangan arti substansi dipengaruhi oleh modernitas ilmu pengetahuan alam.

Filsuf Bernhard Welte melihat makna substansi (das sein) dalam hubungan dengan manusia. Roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus karena penetapan ilahi oleh Yesus pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Piet Schoonenberg dan E. Schillebeeckx mendukung gagasan Welte. Bahkan mereka mengusulkan istilah transsignifikasi dan transfinalisasi. Transsignifikasi artinya perubahan makna tanda atau simbol. Transfinalisasi artinya perubahan tujuan substansi roti dan anggur sebagai tanda kehadiran personal Kristus. Schoonenberg menunjuk fungsionalitas transfinalisasi. Para teolog dan Paus Paulus VI dalam ensiklik Mysterium Fidei, menolak istilah transsignifikasi dan transfinalisasi. Menurutnya, dalam transubstantio tidak hanya terjadi perubahan fungsi, tujuan dan makna, melainkan seluruh esensi dan hakikat roti dan anggur berubah total menjadi tubuh dan darah Kristus.

  1. Ekaristi sebagai kurban Kristus

Kaum reformator mempertanyakan paham Gereja Katolik tentang Ekaristi sekaligus sebagai kurban salib Kristus dan kurban Gereja. Mereka mempersoalkan di manakah letak kurban Gereja dalam perayaan Ekaristi. Bukankah Ekaristi itu semata-mata kurban salib Kristus? Persoalan ini menjadi debat teologis Konsili Trente hingga abad ke-20.

Beberapa teolog protestan (L. Billot, de La Taille, dkk.) penggagas teologi kurban menjelaskan makna kurban berdasarkan sifat tanda. Para teolog Katolik Odo Casel, A. Vonier dan Johannes Betz merenungkan makna kurban Ekaristi dalam kaitannya dengan perjamuan secara sistematis. Para teolog Prostestan  melalui berbagai tesis Arnolshaimer (pernyataan komisi teologis Gereja Protestan tahun 1947-1957) tetap menolak ajaran gereja Katolik tentang transubstantio. Debat teologis ini masih menjadi bahan diskusi ekumenis pada zaman ini.

  1. Ekaristi sebagai perjamuan sakramental

Perayaan Ekaristi merupakan suatu perjamuan pengenangan wafat dan kebangkitan Kristus, yang ditetapkan oleh Kristus sendiri pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Dalam perayaan Ekaristi terdapat unsur-unsur perjamuan, yakni makanan dan minuman, tuan rumah penyelenggara pesta, dan para undangan. Gagasan ini dicetuskan oleh para teolog pembaruan liturgi Katolik R. Guardini, Odo Casel, G. Söhngen dan J. Pascher.

Gagasan para teolog Katolik di atas ditentang oleh para teolog lain, yakni J.A. Jungmann, H. Schűrmann, J. Ratzinger, W. Kasper, dan Lothar Lies. Mereka berpendapat bahwa pada dasarnya perayaan Ekaristi adalah suatu perayaan puji syukur. Hal ini tampak melalui susunan Doa Syukur Agung yang sumbernya diambil dari doa birkat ha-mazon. Dari kedua pendapat ini, akhirnya disimpulkan bahwa perayaan Ekaristi memiliki dua bentuk, yakni makna dan perayaan. Makna Ekaristi adalah suatu perayaan puji syukur, sedangkan perayaannya adalah suatu perjamuan sakramental.

  1. Ekaristi dan Imam

Menurut tradisi awal Gereja Katolik, pemimpin perayaan Ekaristi adalah mereka yang secara resmi telah menerima sakramen tahbisan (imamat) dalam Gereja Katolik. Persoalan pun datang dari Gereja-gereja di tanah misi. Mereka kekurangan imam. Mereka bertanya kepada Vatikan, apakah hanya imam yang harus dan boleh memimpin Ekaristi? Apakah Gereja setempat dapat menahbiskan bapak-bapak yang sudah teruji iman dan moralnya menjadi imam? Vatikan menjawab bahwa hanya imam yang selibater boleh memimpin perayaan Ekaristi. Vatikan mendasarkan argumen pembelaannya dengan merujuk pada kuasa imamat jabatan yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada para rasul. Argumen ini menjadi dasar bagi Vatikan menolak perempuan ditahbiskan.

Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Ordinatio Sacerdotalis (1994) menegaskan Gereja tidak mempunyai kuasa untuk menahbiskan perempuan menjadi imam. De facto, Yesus tidak memasukkan perempuan dalam kelompok duabelas rasul. Diskusi mengenai tahbisan perempuan menjadi imam masih menjadi pokok persoalan hingga kini. Namun, Gereja tetap mengikuti dan setia pada magisterium.

  1. Makna Ekaristi dalam kehidupan umat beriman

Tradisi Gereja memandang Ekaristi secara istimewa dan memiliki tempat utama dalam hidup umat beriman. Namun, Ekaristi dirasa belum mampu menjawab perjuangan nasib manusia. Kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan sosial, kekerasan keragaman agama dan budaya harus menjadi fokus perjuangan Gereja. Teologi dewasa ini mempertanyakan apa manfaat Ekaristi bagi umat beriman? Karena itu, usaha kontekstualisasi teologi Ekaristi harus mampu menjawab pergumulan hidup umat beriman.

Waktu Tuhan Pasti yang Terbaik, Walau Kadang Tak Mudah Dimengerti

0

Jika kita mengikuti terus pemberitaan mengenai perkembangan penyebaran Covid-19 di tanah air, kita akan menangkap kesan bahwa tingginya angka terkonfirmasi positif memperlihatkan bahwa penularannya masih saja terjadi.

[postingan number=3 tag= ‘covid19’]

Covid-19 sudah menjadi momok yang menakutkan bagi manusia dewasa ini. Kita menjadi orang-orang yang serba takut, tidak bisa lagi bersalam-salaman, cipika-cipiki, dan sebagainya.

Kabar buruknya adalah pandemi ini tidak hanya merenggut banyak nyawa, tetapi juga sudah membuat banyak orang kehilangan sumber pendapatannya.

Selama wabah ini merebak, banyak orang mau tidak mau harus ‘dirumahkan’, entah dalam artian kerja dari rumah, maupun diberhentikan (PHK). Akibatnya, jumlah pengangguran bertambah, angka kemiskinan pun meningkat.

Berhadapan dengan situasi sulit seperti ini tentu kemampuan kita terbatas. Namun, kita tidak sendiri. Sandaran terakhir kita ialah Tuhan. Apapun yang terjadi pada kita saat ini, jangan sampai hal itu membuat kita menjauh dari Tuhan; sebab:

“TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (Nah. 1:7).

Ya, kita percaya bahwa Tuhan kita baik, walau kadang segala rencana dan rancangan-Nya tak mudah dimengerti, seperti potongan syair lagu berikut ini:

“Kita tahu bahwa waktu Tuhan pasti yang terbaik. Walau kadang tak mudah dimengerti. Lewati cobaan kutetap percaya, waktu Tuhan pasti yang terbaik.”

Kabar baiknya adalah bahwa di tengah pandemi seperti ini, orang-orang menjadi terbuka matanya dan tergerak hatinya untuk berbagi. Orang secara serempak tolong-menolong satu terhadap yang lain, terutama menolong mereka yang berada dalam kesusahan.

Begitu banyak potongan video dan gambar yang memperlihatkan bagaimana orang-orang berbagi. Pertolongan seperti ini tentu saja memberikan keringanan bagi warga terdampak.

Anjuran untuk tolong-menolong sebetulnya sudah pernah disuarakan oleh Rasul Paulus, sebagaimana yang ditulisnya dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Dalam suratnya itu, ia menuliskan demikian:

“Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2).

Bagi Paulus, tolong-menolong merupakan cara terbaik untuk memenuhi hukum Kristus. Hukum Kristus adalah hukum kasih. Kristus mengajarkan kepada setiap pengikut-Nya agar saling mengasihi satu terhadap yang lain. Berbagi dan tolong menolong adalah wujud nyata dari pelaksanaan hukum kasih itu.

Ya, wabah ini telah mendorong setiap kita untuk berbagi. Dan banyak di antara kita mampu melakukannya. Jika mampu, jangan bilang tidak. Jika kita sanggup berbagi, jangan ditahan. Ingat, Tuhan tahu kita mampu.

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya” (Ams. 3:27).

Ingat, tidak ada pertolongan yang sia-sia, sekecil apapun pertolongan kita itu. Pertolongan kita mungkin saja kecil, tetapi yang pasti sangat berguna bagi mereka yang membutuhkannya.

Selama wabah ini, kita dianjurkan untuk mengambil jarak fisik, tapi hati kita harus tetap satu. Kita bersatu hati dengan mereka yang terdampak; dan bersedia menolong mereka seturut kemampuan kita masing-masing.

Boleh jadi, wabah ini hadir di generasi kita, supaya kita menjadi saksi bagi anak cucu kita kelak; bahwa orang-orang yang hidup pada masa ini ternyata sanggup berbagi.  Maka, biarlah kita menjadi saksi atas semuanya ini; sehingga bersama Paulus kita berkata:

“Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka” (2 Kor. 8:3).

Balas Dendam

0

Jika ada yang berbuat baik kepadamu, apakah yang akan Anda lakukan? Umumnya, Anda akan berjuang agar membalas kebaikannya. Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Tampaknya ini hukum yang berlaku sepanjang zaman. Tapi, jika ada yang berbuat jahat kepadamu, apa yang akan Anda lakukan? Umumnya, Anda berjuang membalasnya dengan kejahatan. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Tampaknya ini juga hukum yang berlaku sepanjang zaman.

Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Tampaknya ini hukum universal. Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan, itu baik. Memang itu yang diharapkan. Tapi jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, dalam kaca mata kristiani, itu tidak bijak dan perlu dibarui. Ini yang diwartakan Yesus dengan tegas kepada para para pendengar-Nya; juga kepada pengikut-Nya sepanjang zaman sebagaimana dikatakan-Nya dalam Injil hari ini.

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat. 5:38-39).

Tuhan Yesus mengajak pendengar dan pengikut-Nya agar tak balas dendam.  Jika ada yang melakukan kejahatan, janganlah membalas dendam. Yang perlu dilakukan adalah membalas kejahatan dengan kebaikan. Atau sekurang-kurangnya memaafkan orang  yang melakukan kejahatan. Apa yang diajarkan Yesus ini perlu terus didengarkan dengan baik oleh para pengikut-Nya sepanjang zaman. Tak hanya didengarkan, tapi terutama  berjuang dihayati dalam hidup.

Ajaran Yesus ini memang tampaknya ‘melawan arus’ zaman atau bahkan melawan hukum universal: kejahatan dibalas dengan kejahatan. Saat ini hukum balas dendam dianggap sebagai sesuatu yang normal. Membalas kejahatan dengan kejahatan itu wajar. Tak perlu diperdebatkan.

Sebagai contoh, ada balas dendam politik. Umumnya yang mendapat jabatan atau tugas penting-strategis di bidang pemerintahan dari tingkat desa sampai pusat adalah orang-orang yang mendukung pemimpin terpilih. Walau kadang-kadang kemampuan mereka dalam mengemban tugas penting nan strategis itu kurang memadai. Sementara orang lain yang tidak mendukung pemimpin terpilih, tidak mendapatkan tugas atau jabatan strategis dan penting, walau memiliki kemampuan yang memadai. Balas dendam politik ini sering kali dianggap hal yang sangat wajar dalam dunia politik. Akibatnya, kesejahteraan yang didambakan  sulit dirasakan oleh banyak orang.

Walaupun tampak sulit, para pengikut Yesus tetap harus berjuang tampil beda dalam kebaikan: tidak balas dendam. Mereka harus menghayati hukum kasih yang diajarkan Yesus: membalas kejahatan dengan kebaikan, atau sekurang-kurangnya memaafkan orang yang melakukan kejahatan terhadapnya. Tentu ini menjadi tantangan bagi para pengikut Yesus.

Akan tetapi, jika kejahatan itu mengancam kehidupan dan harus segera diatasi, membiarkan penegak hukum bertindak  adalah langkah yang bijak. Dengan demikian, tindakan ‘main hakim sendiri’ bukan ciri-ciri pengikut Yesus yang baik.***

 

Labuan Bajo, 15 Juni 2020

Ajakan untuk Mengembangkan Budaya Kehidupan, Bukan Kematian

0

Budaya kehidupan adalah suatu cakupan pembahasan teologi moral Gereja Katolik. Aliran pendukung budaya kehidupan menggambarkan definisi budaya kehidupan sebagai suatu cara hidup yang berdasar pada kebenaran teologis. Kehidupan manusia dalam setiap tahapan terjadi sejak mulai dari konsepsi (pembuahan) hingga kematian secara alamiah merupakan hal yang suci.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Budaya kehidupan bertentangan dengan praktik-praktik yang menghancurkan kehidupan manusia. Beberapa tindakan yang kontra dengan budaya kehidupan antara lain aborsi, eutanasia, sel punca embrionik, kontrasepsi, dan hukuman mati. Hak manusia yang paling dasar yaitu hak hidup. Namun, pada zaman ini penghormatan terhadap hak hidup manusia kurang mendapat perhatian.

Dalam kenyataan, kasus aborsi masih marak terjadi dan hukuman mati masih diberlakukan di Indonesia ini. Manusia sering menghadirkan wajah yang kurang menyejukkan, dan tidak jarang menampilkan diri  “homo homini lupus”, manusia serigala bagi sesamanya. Tampilan manusia yang menampilkan wajah demikian sama sekali  tidak menggambarkan  manusia sebagai Citra Allah.

Citra Allah adalah teman sekerja Allah untuk menghadirkan kehendak Allah.  Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia dan penuh kelegaan. Gereja mengingatkan bahwa manusia  adalah gambar dan rupa Allah. Manusia adalah Citra Allah. Manusia mempunyai tugas untuk menghadirkan Allah di dunia dan menawarkan kehendak Allah, Sang Pencipta, Sang Pemberi dan Pemelihara kehidupan.

Istilah pro life memang sering digunakan berkaitan dengan hidup janin di dalam rahim seorang ibu, yang kelak akan lahir sebagai seorang anak. Namun, sebagai seorang beriman, hidup kita saat ini, yang merupakan anugerah dari Allah, hendaknya dapat kita isi dengan sebaik mungkin, kita jaga dan pelihara bersama, dan kita kembangkan sehingga sungguh  menjadi berkat dalam kehidupan, menjadi berkat bagi sesama, dan kemuliaan Sang Pencipta.

Gereja mengajak, mengajarkan dan menyerukan untuk menghargai kehidupan. Hal ini mengingatkan kepada manusia bahwa kehidupan ini milik Allah. Manusia diberi anugerah kehidupan cuma-cuma, gratis. Karena kehidupan itu  gratis, manusia hendaknya menyayangi, merawat dan memelihara kehidupan itu. Dengan menyayangi kehidupan berarti menghadirkan Allah yang menyejukkan, melegakan dan membahagiakan. Mari kita wujudnyatakan gambar dan rupa Allah itu di dalam hidup ini.

Tuhan Tidak Tidur, Ia Tak Pernah Membiarkan Manusia Berjalan Sendiri

0

Realitas penderitaan yang dialami manusia mengundang banyak tanya. Di manakah Tuhan pada saat manusia menderita? Mengapa Tuhan hanya menonton penderitaan manusia?

[postingan number=3 tag= ‘covid19’]

Persoalan itu terjadi juga dalam kehidupan bangsa Israel dan sudah dikatakan dengan sangat jelas dalam Kitab Mazmur 115:2 yang bertanya di mana Allah mereka? Pertanyaan  ini membuat pemazmur mengeluh kepada Tuhan dan memberikan jawaban. Kadang kala sebagai manusia kita tidak bisa mengerti rencana dan kehendak Allah dalam hidup. Pikiran kita yang kecil itu tidak dibandingkan dengan pikiran Allah yang besar.

Persolan besar tentang realitas penderitaan manusia tidak bisa dijawab dengan gambang. Akan tetapi sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan melakukan sesuat yang lebih. Tuhan tidak pernah mencintai yang lain dan membenci yang lain, Ia tidak merangkul yang lain dan membiarkan yang lain. Tuhan akan selalu memberikan kepada manusia sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Karena Dia adalah Tuhan kita yang melakukan segala sesuatu dalam diam. Terhadap hal ini kita hanya bisa berseru kepada Tuhan “Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” (Mzm 4:1).

Sesungguhnya Tuhan kita tidak tertidur. Sekalipun manusia berdosa. Ia tetap berusaha membangunkan mereka dari dosanya. Bukti bahwa Tuhan tidak tertidur ketika Ia berada di atas salib. Salib itu lambang kekalahan sekaligus kemenangan. Kekalahan bagi orang-orang yang menghukum-Nya karena mereka telah puas, bahwa Ia telah mati di atas kayu salib sebagai manusia yang tidak punya apa-apa. Mereka pun bersorak sorai atas kemenangannya. Di samping kekalahan bagi mereka yang menghukum-Nya. Bagi kita yang percaya, salib itu kemenangan. Bahwa setiap penderitaan pasti ada akhir. Akhir dari penderitaan ialah pemulihan pengangkatan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Kita akan masuk ke dalam tempat perjamuan abadi. Di sana kita mendapat kebahagian dan sukacita sejati.

Iman kristiani mengajarkan bahwa sebenarnya dalam setiap penderitaan Tuhan tidak pernah tertidur. Ia membiarkan penderitaan itu, untuk menempa manusia agar dari hari ke hari semakin murni. Semakin manusia mengalami penderitaan dalam hidupnya semakin ia akan bersatu dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah membiarkan manusia seorang diri. Karena Tuhanlah yang mengetahui, menyelidiki dan mengenal kita (Bdk Mzm 139).

Persekutuan Kasih

0

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Perayaan ini adalah perayaan kasih. Allah yang Mahakasih itu sungguh-sungguh mengasihi dunia ini. Tentang hal ini,  Yesus menegaskan:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:16-18).

Teks ini menekankan hal penting bahwa perutusan Yesus ke dunia adalah ungkapan terbesar dan teragung dari kasih Allah. Tujuan perutusan Sang Putra  tak lain adalah menyelamatkan dunia, bukan membinasakannya. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan mengalami hidup yang kekal.

Kita tahu bahwa Yesus menerima dan menjalankan perutusan yang diterima-Nya dari Bapa dengan sangat baik. Ia bertanggung jawab dengan tujuan kedatangan-Nya ke dunia yakni menyelamatkan, bukan membinasakan. Karena itu, ia pergi menjumpai banyak orang dan mewartakan apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan harus dilakukan oleh manusia.

Dalam setiap pewartaan-Nya itu, sebagaimana tercatat dalam Injil, Yesus selalu mengungkapkan misteri Kerajaan Allah dan mewartakan kebenaran yang diterima-Nya dari Bapa dan mengajak pendengar-Nya untuk bertobat dan percaya kepada Injil (Mrk. 1:15). Ia juga mengajak pendengar-Nya hidup dalam kasih. Kalau hidup dalam kasih, mereka sudah mengambil bagian dalam Kerajaan Allah yang tak lain adalah Kerajaan Kasih itu. Dari Injil kita tahu juga bahwa tak sedikit orang yang menolak Yesus dan segala ajaran-Nya, bahkan menuduh-Nya sebagai penghujat Allah (Bdk. Mat. 9:1-8). Tapi Yesus tetap melanjutkan perutusan-Nya.

Puncak pemberian diri Yesus untuk menyelamatkan dunia adalah ketika Ia rela menderita, memanggul salib, tergantung di salib dan akhirnya wafat di salib. Ia seperti penjahat dan pendosa kelas berat. Tapi, ini semua demi kasih-Nya kepada dunia. Ini bukti kasih  Allah yang paling agung melalui Yesus. Tentang hal ini, Yesus sendiri telah menegaskan: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Ia telah memberikan nyawa-Nya sebagai ungkapan kasih-Nya yang tak terhingga demi keselamatan sahabat-sahabat-Nya; demi keselamatan dunia.

Setelah Yesus bangkit, ia berulang kali menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya. Penampakan itu membuat para murid  bersatu kembali, sebab  sebelumnya mereka tercerai-berai karena kematian tragis Sang Guru. Mereka yang sebelumnya berjalan tak tahu arah, ibarat anak-anak ayam yang ditinggalkan induknya, kini kembali membangun persekutuan. Yesus meneguhkan mereka, memberi mereka kekuatan dan mengutus mereka menjadi saksi-Nya di seluruh dunia (Bdk. Mat. 28:16-20).

Setelah Yesus naik ke surga, ia mengutus Roh Kudus, Penolong yang lain (Yoh. 14:16), sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya kepada para murid. Roh Kudus itu semakin memberanikan para murid dalam menjalankan perutusan sebagai saksi Kristus (Kis. 2:1-47). Tanpa takut, mereka mewartakan Yesus Kristus dan segala ajaran-Nya. Mereka menyebar ke setiap tempat untuk mewartakan Yesus. Alhasil, banyak orang yang percaya kepada Yesus dan memberi diri dibaptis.

Turunnya Roh Kudus atas para murid Yesus adalah bukti kasih Allah yang tak pernah meninggalkan anak-anak-Nya berjalan sendirian. Melalui Roh Kudus, Allah membimbing, menuntun, meneguhkan, memberanikan dan menghibur anak-anak-Nya. Karena kasih Allah yang besar ini, para pengikut Yesus bertumbuh dan berkembang di seluruh dunia hingga saat ini.

Walaupun dijelaskan demikian, tidaklah berarti bahwa kita menyembah tiga Allah. Kita menyembah Allah yang satu (Esa), tetapi berpribadi tiga (Bapa, Putra, Roh Kudus). Kita menyebutnya Tritunggal Mahakudus. Karena hakikat Allah adalah kasih, maka Tritunggal Mahakudus ini membangun persekutuan kasih yang abadi. Maksudnya, Bapa, Putra dan Roh Kudus itu membangun persekutuan yang abadi, tiada akhir.

Perlu juga dingat bahwa Allah  sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus itu bukan ciptaan umat Kristiani; tetapi itulah realitas Allah yang diperkenalkan oleh Yesus (Bdk. Yoh. 17; Yoh, 14.16; Yoh. 20:22). Yesus menegaskan bahwa diri-Nya dan Bapa tak terpisahkan: Bapa di dalam Aku; Aku di dalam Bapa (Bdk. Yoh. 17:21). Penjelasan ini memang terbatas dan tak mampu menyingkapkan misteri Tritunggal yang agung itu. Tapi ini juga cara kita untuk sedikit mengenal misteri agung dan mulia itu.

Bagiku, perayaan Tritunggal Mahakudus adalah  salah satu kesempatan istimewa untuk merenungkan kasih Allah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Ini kesempatan untuk bersyukur atas kasih Allah yang mengasihi manusia.

Kasih itu  telah dinyatakan secara agung dan mulia melalui perutusan Yesus, Putra Allah, ke dunia. Melalui Yesus, Kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir dan dialami oleh banyak orang. Melalui aneka pewartaan dan tindakan kasih-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh-sungguh merasakan kehadiran Allah yang nyata.

Perlu juga disadari bahwa perutusan Yesus ke dunia melalui rahim Bunda Maria adalah karya Roh Kudus. Ingatlah kata-kata malaikat Gabriel kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Selain itu, setelah menyelesaikan perutusan-Nya di dunia dan naik ke surga, Yesus mencurahkan Roh Kudus kepada para pengikut-Nya untuk menuntun-membimbing mereka dalam menjalankan perutusan sebagai saksi-Nya. Ini semua adalah ungkapan kasih Allah yang secara istimewa direnungkan pada hari ini.

Pesan perayaan hari ini adalah sebagai berikut. Komunitas Allah Tritunggal adalah komunitas kasih. Bapa, Putra dan Roh Kudus  hidup dalam persekutuan kasih yang abadi. Kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam persekutuan kasih itu. Kita dipanggil oleh Bapa untuk mengikuti Putra, agar menjadi serupa dengan-Nya dalam Roh Kudus. Panggilan luhur ini perlu ditanggapi dengan penuh iman, walaupun akal budi kita tak sanggup memahami secara tuntas misteri agung kasih Allah Tritunggal itu. Wujud konkretnya adalah kita semakin mengimani Allah Tritunggal dan terus mengandalkan-Nya setiap hari yang terungkap melalui ketekunan menyapa-Nya (berdoa) dan merenungkan Kitab Suci.

Tak hanya itu, iman akan Allah Tritunggal itu diwujudkan melalui tindakan kasih. Maksudnya, kita hidup dalam persekutuan kasih dengan sesama mulai di dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja, dll. Dengan ungkapan lain, iman kita akan Allah Tritunggal diwujudkan dengan mengasihi sesama, sebab Allah adalah kasih.

Lagi pula, intisari ajaran Yesus adalah kasih. Kasih kepada Allah (vertikal) dan sesama (horizontal) dengan sepenuh hati (Bdk. Mat. 22:37-39). Keduanya tak terpisahkan. Barangsiapa mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, ia tidak mungkin tidak mengasihi sesamanya. Sebab kasih yang tulus kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih yang tulus kepada sesama.

Dengan demikian, ukuran bahwa seseorang sungguh-sungguh mengasihi Allah adalah ia sungguh-sungguh mengasihi sesamanya. Lain tidak. Dengan demikian, orang yang berkoar-koar mengatakan diri mengasihi Allah atau  menganggap dirinya rajin berdoa, tetapi tidak mengasihi sesamanya atau menyimpan dendam-benci kepada sesamanya, sesungguhnya ia sedang berbohong. Ia sesungguhnya tidak mengasihi Allah dengan tulus. Ia hanya berpura-pura mengasihi Allah.

Tentang hal ini, Yohanes menegaskan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:7-8). Teks suci ini sesungguhnya menggarisbawahi bahwa mengasihi sesama adalah keharusan bagi kita umat beriman. Jika tak mengasihi, kita tak mengenal Allah! ***

 

Labuan Bajo, 7 Juni 2020

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

OMK Citeureup Tridente Adakan Baksos

0

Aliansi Orang Muda Katolik (OMK) Citeureup Tridente mengadakan bakti sosial pembagian sembako terhadap umat katolik di Kecamatan Citeureup yang membutuhkan bantuan. Bakti sosial ini dilaksanakan karena adanya dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19. OMK Citeureup Tridente yang terdiri dari tiga wilayah di Paroki Keluarga Kudus Cibinong (PKKC) mengkoordinir bantuan dari umat. Bantuan ini diselenggarakan untuk menjangkau kelompok umat yang tidak tersentuh bantuan sosial.

Koordinator baksos, Padro mengatakan, bakti sosial ini adalah wujud perhatian dan gotong royong sesama umat katolik di Citeureup. ”Konsep baksos ini adalah umat bantu umat, artinya gerakan ini berlandaskan konsep gotong royong dan OMK hadir menginisiasi gotong royong ini,” ungkap Padro.

Bakti sosial ini menggandeng banyak pihak untuk terlibat seperti para ketua wilayah dan lingkungan, para donatur, dan tentunya para OMK dari tiga wilayah yakni wilayah sto. Simon, wilayah sto. Gerardus Sagredo, dan wilayah sto. Stefanus di wilayah pastoral PKKC.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari umat, indikatornya adalah banyaknya jumlah donasi yang masuk. Donasi tersebut dikelola dan dibagikan berupa sembako yang terdiri dari masker, beras, dan kebutuhan pokok lainnya.

Baca Juga:

Sebagian paket sembako lainnya dibagikan kepada masyarakat Citeureup yang terdampak banjir. “Bantuan ini dari umat untuk umat, tapi disisi lain ada pihak yang juga membutuhkan bantuan, kami berikan sebagian bantuan untuk masyarakat Citeureup, kan kata Tuhan kasihilah sesamamu manusia”, guyon Padro.

Padro juga menyampaikan bahwa ada rencana tindak lanjut yakni penyerahan bantuan jilid 2 bagi umat yang belum mendapatkan bantuan. “Nah soal ini, kami akan pakai sisa dana yang ada untuk bantuan jilid 2, mungkin tidak banyak, buat yang belum saja”, jelas Padro (Senin, 18/5/2020) [JD)

Maria, Bunda Gereja

3
Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.

Satu hari setelah Pentakosta (hari lahirnya Gereja), Gereja Katolik memperingati Maria sebagai Bunda Gereja. Peringatan ini ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada 3 Maret 2018 silam. Penetapan ini bermaksud  menyadarkan para pengikut Yesus bahwa Bunda Maria tak terpisahkan dari Gereja. Ia selalu hadir bersama dan di dalam Gereja dan menyertai para pengikut Putranya dalam situasi apapun. Ia hadir sebagai bunda yang melindungi, menemani, mendoakan dan memberikan kekuatan kepada Gereja.

Injil yang dibacakan pada peringatan ini (Yoh. 19:25-34) mewartakan tentang detik-detik terakhir hidup Yesus di salib. Pada saat tragis dan memilukan itu, Bunda-Nya berada di kaki salib. Tentu Sang Bunda sedang mengalami duka yang mendalam.

Di tengah situasi yang mencekam penuh duka itu, Yesus justru melakukan sesuatu yang mengharukan sekaligus mengagumkan. Dari atas salib, Ia menyerahkan para pengikut-Nya (diwakili oleh murid yang dikasihi-Nya) kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga menyerahkan ibu-Nya kepada para pengikut-Nya (diwakili murid yang dikasihi): “Inilah ibumu!” Sejak itu, murid yang dikasihi itu menerima Maria di rumahnya.

Kisah penyerahan Bunda Maria kepada para pengikut Yesus (Gereja) dan penyerahan para pengikut Yesus (Gereja) kepada Bunda Maria  yang dilakukan Yesus dari atas salib merupakan salah satu pendasaran Kitab Suci yang mengokohkan relasi Bunda Maria dengan Gereja. Bahwasannya, antara Maria dan Gereja tak terpisahkan. Relasi kokoh-tak terpisahkan ini adalah kehendak Yesus, Sang Kepala Gereja.

Karena itu, Gereja harus selalu yakin bahwa ia terus bertumbuh dan berkembang di bawah perlindungan dan pemeliharaan Bunda Maria. Sebab Sang Kepala Gereja (Yesus) telah menyerahkan tubuh-Nya (Gereja) kepada bunda-Nya. Sang Bunda pasti bertanggung jawab dengan perutusan yang ia terima dari Putranya. Ia pasti tak pernah membiarkan Gereja sendirian.

Di sisi lain tapi tak terpisahkan dengan itu, Gereja juga perlu selalu membuka hati bagi kehadiran Bunda Maria. Gereja harus selalu menerima Maria. Penerimaan itu, antara lain  ditandai dengan menghormati Maria melalui aneka devosi marial dan ketekunan meneladani aneka keutamaan Bunda Maria (kerendahan hati, ketaatan dan kesetiaan pada Allah, peduli, iman yang mendalam, dll.). Hal-hal demikian pasti menyenangkan Yesus dan berkenan kepada-Nya.

Bacaan pertama yang dibacakan pada peringatan ini adalah Kis. 1:12-14. Bacaan ini menampilkan sosok Maria yang hadir bersama para murid Yesus di ruang atas (senakel), ketika mereka berkumpul, berdoa dan menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Bisa dikatakan bahwa perutusan yang diterima Bunda Maria dari Putranya untuk menjaga dan menemani para pengikut-Nya (Yoh. 19:25-27) dihayati secara sungguh-sungguh oleh Maria.

Melalui teks ini, Lukas (penulis Kisah Para Rasul)  sesungguhnya juga hendak menegaskan peran kebundaan Maria yang tak pernah meninggalkan para pengikut Putranya. Kehadirannya jelas memberikan kekuatan kepada para pengikut Putra-Nya dan mendorong mereka untuk tak takut menjadi saksi kebenaran.

Bacaan ini juga menyadarkan para pengikut Kristus (Gereja) sepanjang zaman bahwa sampai kapan pun Bunda Maria tak pernah meninggalkan Gereja. Ia seorang bunda yang baik dan bertanggung jawab dan tak pernah membiarkan Gereja berjuang sendirian tanpa kehadirannya sebagai bunda.  Ia pasti setia menemani dan mendoakan Gereja, sebagaimana ia sangat setia menemani, merawat sekaligus mengikuti Putranya hingga di kaki salib.

Gelar Maria sebagai Bunda Gereja (Mater Ecclesiae) pertama kali digunakan oleh Uskup Treves bernama Berengaud ( + 1125). Dalam aneka tulisannya, ia menyebut Maria sebagai Bunda Gereja. Setelah itu, semakin banyak  tokoh besar dalam Gereja yang menyebut Maria sebagai Bunda Gereja, antara lain, Santo Antonius (+ 1458), Paus Leo XIII (+ 1903), Paus Yohanes XXIII (+ 1963), Paus Paulus VI (+ 1978) dan Paus Yohanes Paulus II (+ 2005).

Pada 21 November 1964, saat Misa Kudus penutupan sesi 3 Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI memaklumkan  lagi tentang Maria sebagai Bunda Gereja, sebagaimana  yang ditulis oleh P. Matthew R. Mauriello  dan yang saya kutip dari yesaya.indocell.net.

“Demi kemuliaan Santa Perawan dan demi penghiburan kita sendiri, kita memaklumkan bahwa Santa Perawan Maria Bunda Gereja, yaitu, ibu seluruh umat kristiani, baik umat beriman maupun para gembalanya dan kita menyebutnya Bunda yang paling terkasih.” Menurut Paus Paulus VI, gelar Maria Bunda Gereja akan “menghantar umat kristiani lebih menghormati Bunda Maria dan menyerukan namanya dengan keyakinan yang lebih besar. Karena itu, mulai sekarang, seluruh umat kristiani selayaknya memberikan penghormatan yang lebih besar kepada Bunda Allah di bawah gelarnya yang mengagumkan ini.”

Semoga Gereja semakin menyadari peran kebundaan Maria dan tak lelah membuka hati bagi setiap tuntunannya. Semoga Gereja juga semakin menghormati Maria melalui aneka devosi yang dilakukan dengan penuh iman dan semakin mampu meneladani aneka keutamaan hidupnya. Dengan demikian, Gereja (Tubuh Kristus) semakin bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kehendak Yesus, Sang Kepala Gereja.***

Maria, Bunda Gereja, doakanlah kami!

Labuan Bajo, 1 Juni 2020

Peringatan Wajib, Maria Bunda Gereja