11.5 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 4

Mengembalikan Hati kepada Tuhan – Renungan Hari Rabu Abu

0

Mengembalikan Hati kepada Tuhan: Renungan Hari Rabu Abu, 14 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yl 2:12-18; Bacaan II: 2 Kor 5:20-6:2; Injil: Mat 6:1-6.16-18

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Sama seperti orang yang tersesat di tengah jalan, demikianlah kita juga seringkali tersesat dari jalan Tuhan. Makanya melalui bacaan pertama hari ini kita diajak untuk berbalik ke jalan Tuhan. Ditambahkan juga dalam bacaan pertama bahwa kalau kita mau berbalik ke jalan Tuhan jangan setengah-setengah atau jangan setengah hati; melainkan harus dengan segenap hati atau dengan sepenuh hati.

Bagaimana caranya kita berbalik? Kitab Suci memberitahu kita jawabannya, yaitu dengan cara berpuasa, menangis dan mengaduh. Puasa yang dimaksudkan di sini bukan sekedar tidak makan dan tidak minum. Kalau sekedar tidak makan dan tidak minum itu namanya diet. Puasa tidak sama dengan diet. Puasa adalah cara untuk membersihkan hati dan memperkuat hubungan kita dengan Tuhan.

Dengan kata lain, bacaan-bacaan dan perayaan hari ini mendorong kita untuk mengakui kesalahan kita dan bertobat. Tanda tobatnya bukan dengan mengoyakkan pakaian seperti kebiasaan orang-orang Farisi, melainkan dengan mengoyakkan hati. Juga tidak hanya dengan kata-kata ‘saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa’ melainkan diikuti dengan perbuatan nyata untuk melakukan hal-hal yang baik.

Jangan takut untuk berbalik ke jalan Tuhan, sebab Tuhan yang kita imani bukan Tuhan yang suka menghakimi dan menghukum melainkan Tuhan yang senantiasa mengasi dan mengampuni. Sebab, seperti kata penulis Kitab Suci, Ia adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Meskipun kita berdosa, Ia tetap mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas. Asalkan kita datang kepada-Nya dengan tulus dan meminta ampunan, Ia akan mengampuni kita. Tuhan sendiri berkata: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Yakinlah, Tuhan berkenan kepada orang yang mau bertobat.

Hari ini kita menerima abu yang dioleskan pada dahi kita masing-masing sebagai tanda pertobatan sekaligus sebagai peringatan kepada kita bahwa kita ini hanyalah debu, kita hanya menjadi berarti karena Tuhan membentuk debu itu menjadi manusia dan Ia menghembuskan nafas-Nya pada debu yang sudah dibentuk menjadi manusia itu.

Rabu Abu adalah adalah saat di mana kita memulai masa tobat itu. Tentu tidak berarti bahwa kita bertobat hanya pada saat Rabu Abu atau Masa Prapaskah. Masa tobat bukan hanya pada Rabu Abu. Setiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat dan memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Mari kita gunakan masa tobat ini untuk melakukan perubahan positif dalam hidup kita.

Kita semua perlu mengakui kesalahan kita, bertobat dengan tulus, dan berjanji untuk melakukan perubahan yang baik dalam hidup kita. Ingatlah, Tuhan senantiasa mengasihi kita dan siap untuk mengampuni dosa-dosa kita. Marilah kita gunakan waktu tobat ini dengan bijaksana, agar kita dapat tumbuh lebih dekat kepada Tuhan dan menjadi pribadi yang lebih baik. Amin. [JK-IND]

Belajar Memahami Ajaran Yesus secara Mendalam – Renungan Hari Biasa Pekan V

0

Belajar Memahami Ajaran Yesus secara Mendalam: Renungan Hari Biasa Pekan V, 13 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yak. 1:12-18; Injil: Mrk. 8:14-21

[postingan number=3 tag= ‘murid-tuhan’]

Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, memberikan peringatan kepada murid-murid-Nya tentang bahaya tidak memahami secara mendalam ajaran-Nya. Sebab, ajaran-Nya tidak cukup hanya dihafal atau diketahui secara permukaan, tetapi lebih dari itu, harus dipahami secara utuh dan mendalam. Jangan setengah-setengah dan jangan pula sepotong-sepotong.

Yesus memperingatkan murid-murid-Nya, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Ragi orang Farisi mengacu pada sikap dan ajaran yang dipraktikkan oleh golongan Farisi pada masa itu. Mereka sering menekankan aturan dan tradisi manusia di atas kasih, keadilan, dan rahmat Allah. Sementara itu, ragi Herodes mencerminkan godaan untuk mengejar kekuasaan, kesenangan duniawi, dan kepuasan pribadi tanpa mempedulikan kebenaran dan keadilan. Yesus memperingatkan para murid-Nya agar tidak terjerat dalam sikap-sikap seperti itu.

Sebagai pengikut Yesus, kita harus memahami maksud yang lebih dalam di balik setiap ajaran-Nya. Sebab, Jika kita tidak memahami ajaran-ajaran Yesus dengan baik, kita rentan terhadap kesalahan interpretasi dan pemahaman yang dangkal. Kesalahan ini sudah dilakukan juga oleh para murid-Nya. Ketika Yesus memperingatkan mereka, mereka malah mengira bahwa Yesus mengatakan itu karena mereka tidak mempunyai roti. Makanya, Yesus menegur mereka, katanya:

“Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Masihkah kamu belum mengerti?”

Penting untuk senantiasa memperbarui dan memperdalam pemahaman kita akan Firman Tuhan. Sebab, mengenal ajaran Yesus secara utuh dan mendalam adalah kunci bagi pertumbuhan iman kita. Tentu ini membutuhkan komitmen untuk belajar dan menggali ajaran iman secara terus-menerus.

Kita harus sadar bahwa menjadi pengikut Kristus bukan hanya tentang melakukan ritual atau mengikuti tradisi, tetapi tentang memahami maksud dan kebenaran di balik ajaran itu. Kebutuhan akan memahami ajaran-ajaran-Nya adalah seperti kebutuhan akan roti, yang jika tidak disediakan dengan baik, bisa menyebabkan kelaparan rohani.

Karena itu, sekali lagi, kita diajak untuk tidak hanya menerima ajaran-ajaran Yesus secara permukaan, tetapi lebih dari itu, kita berupaya untuk mencari pemahaman yang lebih dalam dan terus-menerus memperbarui hubungan rohani kita dengan-Nya. Amin. [JK-IND]

Menjaga Hati agar Tetap Murni – Renungan Pekan Biasa V

0

Menjaga Hati agar Tetap Murni: Renungan Pekan Biasa V, 10 Februari 2024 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Raj. 12:26a-32; 13:33-34; Injil: Mrk. 8:1-10

[postingan number=3 tag= ‘hamba-tuhan’]

Hati adalah inti dari keberadaan manusia. Maka, Alkitab menetapkan bahwa sangat pentinglah menjaga hati agar tetap murni. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23).

Bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat peran penting hati dalam hidup manusia. Yerobeam dan Yesus memiliki hati dan tanggapan yang berbeda terhadap sebuah peristiwa. Yerobeam memiliki hati yang licik dan membatu sehingga ia menghalangi umat Israel untuk menyembah Allah di Israel. Bahkan, karena hatinya yang tertutup pada Allah makanya ia berpaling dari Allah dan membuat dua anak lembu jantan dari emas lalu menempatkannya di Betel dan di Dan. Tindakan ini membuat ia dan rakyatnya berdosa terhadap Allah.

Sebaliknya, Yesus memiliki hati yang penuh belas kasih. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan ketika melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Mereka telah mengikuti Dia selama tiga hari dan tidak mempunyai makanan. Menghadapi situasi ini, Yesus tergerak hatinya untuk memberi mereka makan. Dengan hati-Nya yang penuh belas kasih, Yesus selalu memikirkan orang lain. Bukan hanya memikirkan tetapi bertindak demi kebahagiaan mereka.

Bagaimana dengan kita? Sebagai murid Kristus, kita diajak untuk sadar bahwa sudah sepantasnya kita harus hidup bagi sesama. Selain itu, kita harus menjaga hati kita agar tetap murni sehingga mampu memilih dan memutuskan dengan bijak apa yang harus dilakukan terlebih dahulu ketika menghadapi persoalan hidup. Kita juga harus sadar bahwa makanan yang kita terima adalah berkat dari Tuhan, maka kita harus senantiasa bersyukur kepada-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Tidak Ada Sesuatu yang Terlalu Sulit untuk Tuhan – Renungan Pekan Biasa V

0

Tidak Ada Sesuatu yang Terlalu Sulit untuk Tuhan: Renungan Pekan Biasa V, 09 Februari 2024 — JalaPress.com; Injil: Mrk. 7:31-37

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Kadang kita merasa bahwa sakit yang kita derita terlalu sulit untuk disembuhkan, atau berpikir bahwa beban hidup yang kita alami begitu berat untuk dipikul, dan mengira bahwa pengalaman pahit yang kita rasakan sangat sukar untuk diatasi. Kita hampir lupa bahwa kita punya Tuhan. Tuhan sendiri bersabda: “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk. Apakah ada sesuatu yang terlalu sulit bagi-Ku?” (Yer. 32:27). Jawabannya: tentu saja tidak. Tidak ada sesuatu yang terlalu sulit untuk Tuhan.

Injil hari ini membuka mata dan telinga kita sehingga kita mampu melihat dan mendengar bagaimana hal-hal yang kita anggap sulit itu begitu mudahnya diatasi oleh Tuhan. Diceritakan dalam Injil hari ini bahwa orang-orang datang menemui Yesus sambil membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap. Mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Pertanyaannya: mengapa mereka melakukan itu? Tentu jawabannya adalah karena mereka mempunyai satu keyakinan dalam hati bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan.

Dan, apa yang terjadi setelahnya? Yesus menyentuh orang itu, sambil menengadah ke langit Ia menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Dengan kata-kata ini, Yesus menunjukkan kuasa-Nya sebagai Tuhan yang mampu menyembuhkan. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Ia sanggup mengatasi segala macam kelemahan dan kesulitan kita, dan bahwa kita dapat mengandalkan-Nya dalam segala situasi hidup kita.

Menariknya, setelah disentuh oleh Yesus, orang yang tuli dan gagap itu mulai berbicara dengan jelas. Dan, reaksi orang-orang yang menyaksikan mukjizat ini adalah kagum dan takjub. Mereka pun berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Pesan apa yang bisa kita petik dari Injil hari ini? Pertama, meskipun kita mungkin merasa bahwa sakit yang kita derita terlalu sulit untuk disembuhkan, atau berpikir bahwa beban hidup yang kita alami begitu berat untuk dipikul, dan mengira bahwa pengalaman pahit yang kita rasakan sangat sukar untuk diatasi, Tuhan selalu hadir untuk mendengarkan dan mengabulkan doa kita. Dia tidak pernah jauh dari kita, dan Dia memiliki kuasa untuk mengubah segala sesuatu menjadi baik.

Kedua, bahwa ketika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang tulus dan penuh iman, Tuhan pasti mendengarkan dan menjawab doa kita. Ketiga, ketika kita mengalami pertolongan dari Tuhan, kita sebetulnya diharapkan untuk bersaksi tentang kuasa dan kasih-Nya kepada orang lain di sekitar kita. Singkat kata, Injil hari ini mengajak kita untuk memperkuat iman, mengandalkan kuasa Tuhan, bersaksi tentang kasih-Nya, dan mengalami kehadiran-Nya dalam setiap aspek hidup kita. Semoga kita semua dapat menemukan kekuatan, penghiburan, dan harapan dalam kasih Tuhan. Amin. [JK-IND]

Terbuka pada Rahmat – Pekan Biasa V

0

Terbuka pada Rahmat: Renungan Pekan Biasa V, 08 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: 1 Raj. 11:4-13; Injil: Mrk. 7:24-30

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Dalam perputaran masa dan waktu, segala sesuatu mengalami perubahan. Begitu juga dengan manusia; akibat situasi dan kondisi juga karena pengalaman hidup, manusia dapat berubah setiap saat. Raja Salomo yang pada awalnya sangat setia pada Allah, akhirnya berubah untuk menyembah dewa-dewa lain karena dipengaruhi oleh istri-istrinya yang berasal dari daerah orang kafir. Karena ketidaksetiaan Salomo, maka Allah berjanji akan mengoyak kerajaannya.

Pengalaman berbeda terjadi dalam hidup seorang perempuan Siro-Fenisia. Dia yang semula adalah seorang kafir dan dipandang sebagai anjing oleh orang-orang Yahudi berubah menjadi orang yang beriman teguh pada Yesus. Walaupun ditantang oleh Yesus dengan perkataan ‘tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing’, perempuan tersebut tidak mundur. Ia bahkan berkata, “Benar Tuhan! Tetapi anjing itu pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Dari jawaban ini, menunjukan keteguhan imannya dan ia pun tetap berharap agar Yesus menyembuhkan anaknya walaupun hanya remah-remah Rahmat yang diterimanya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pun tetap teguh dalam iman akan Kristus walaupun tantangan dan godaan menghadang? Mari belajar dari teladan iman perempuan Siro-Fenisia yang tetap teguh dalam iman dan senantiasa terbuka pada Rahmat Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Persyaratan dalam Perutusan – Renungan Pekan Biasa IV

0

Persyaratan dalam Perutusan: Renungan Pekan Biasa IV, 02 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: 1 Raj. 2:1-4.10-12; Injil: Mrk. 6:7-13

[postingan number=3 tag= ‘murid-tuhan’]

Setiap manusia yang menerima perutusan untuk melayani sesama harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Hal ini terjadi dengan para murid yang diutus oleh Yesus. Mereka harus memenuhi persyaratan yang dikatakan oleh Yesus. Mereka harus pergi berdua-dua agar saling mendukung satu sama lain sekaligus mematikan sikap egois dalam diri. Mereka juga tidak boleh membawa apa-apa dalam perjalanan dengan tujuan agar mereka selalu mengandalkan Allah. Selain itu, jika mereka diterima di suatu rumah, mereka harus tinggal di situ sampai tiba saatnya untuk berangkat ke tempat lain. Mereka juga harus memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak menerima mereka dalam perutusan ini.

Sebelum kematiannya, Daud juga mengatakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Salomo anaknya agar menjadi raja yang mampu memberikan kesejahteraan kepada bangsa Israel. Syaratnya adalah ia harus setia dan taat pada Allah.

Sebagai orang Katolik, kita semua juga harus memenuhi persyaratan agar mampu menjadi murid dan utusan Tuhan. Syaratnya adalah hidup sesuai dengan cara hidup Yesus, yakni peduli, penuh kasih, dan rela berkorban serta mampu mengampuni. Mampukah kita memenuhi persyaratan ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Jangan Terlena – Renungan Pekan Biasa IV

0

Jangan Terlena: Renungan Pekan Biasa IV, 29 Januari 2024 — JalaPress.comBacaan I: 2Sam. 15:13-14.30; 16:5-13a; Injil: Mrk. 5:1-20

Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengusir roh jahat di daerah orang Gerasa. Yang menarik adalah roh jahat itu mengenal siapa itu Yesus dan dengan mulut manis dan dengan sanjungan ia mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang Maha Tinggi. Ia lantas memohon agar Yesus jangan menyiksanya. Ini adalah sebuah jebakan agar Yesus terlena dan bangga akan status-Nya. Tetapi Yesus tidak terlena dan tidak kompromi dengan si jahat itu. Ia segera mengusir roh jahat itu dari orang tersebut.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Hal berbeda terjadi dengan Daud. Ia terlena dalam kekuasaannya sehingga ia jatuh dalam dosa. Akibatnya ia mendapat kutuk dari Allah. Kutuk itu terlaksana ketika Absalom anaknya sendiri memberontak terhadapnya dan mau membunuh dia; juga keturunan raja Saul mengutukinya. Dalam situasi ini, Daud merefleksikan peristiwa ini sebagai bentuk kasih dari Allah. Maka, ia menerimanya karena ia percaya bahwa Allah akan memperhatikan kesengsaraannya dan akan membalas dengan sesuatu yang baik sebagai ganti kutuk yang ia terima.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga terjebak dan terlena dengan tawaran dunia, dengan rayuan dan kata-kata manis? Jangan pernah terlena. Mari kita belajar dari Yesus yang tidak kenal kompromi dengan kejahatan. Semoga kita mampu berjaga-jaga dan dengan akal sehat serta hati nurani yang murni menentukan pilihan dalam hidup ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Antara Kata dan Karya – Renungan Pekan Biasa II

0

Antara Kata dan Karya: Renungan Pekan Biasa II, 18 Januari 2024 — JalaPress.comBacaan I: 1 Sam. 18:6-9; 19:1-7; Injil: Mrk. 3:7-12

Kata dan karya adalah satu kesatuan. Mengapa? Karena kata harus terwujud dalam karya. Jika kata tidak terwujud dalam karya maka itu hanya akan menjadi omong kosong; hanya tata kata seperti tong kosong nyaring bunyinya. Sebaliknya, sebuah karya atau contoh kongkret harus berdasarkan kata yang telah disampaikan dan diajarkan. Jika karya atau contoh kongkret berbanding terbalik dengan kata yang diajarkan maka itu adalah pembodohan dan tidak dapat dijadikan teladan bagi sesama.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana kata dan karya kita harus sejalan. Dalam bacaan pertama, Putera Raja Saul yaitu Yonatan membuktikan perkataannya untuk menyelamatkan Daud. Ia berusaha membujuk ayahnya sehingga ayahnya tidak membunuh Daud. Maka Daud dibawa oleh Yonatan ke hadapan Saul dan Daud dapat bekerja kembali seperti semula.

Dalam Injil, Yesus menegaskan kaitan antara kata (pengajaran) dan karya (contoh kongkret). Ia tidak hanya pandai mengajar dengan kuasa tetapi juga melakukan tindakan kongkret dengan menyembuhkan banyak orang sakit. Teladan inilah yang harus diikuti oleh kita semua sebagai murid-murid-Nya karena karya nyata atau contoh kongkret kerap kali lebih berbicara dari pada kata-kata. Pengajaran yang berlangsung bertahun-tahun bisa hilang tak berbekas ketika melihat contoh yang buruk dari si pengajar. Sebaliknya, teladan yang baik dan contoh kongkret yang benar akan meneguhkan kata-kata yang hadir lewat pengajaran.

Maka marilah kita wujudkan kata-kata kita dalam karya nyata dan contoh kongkret yang baik dan benar agar kasih Allah tetap bersemi dalam setiap hati manusia. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Gereja Katolik: Pelacur Besar atau The Whore Of Babylon?

0

 

Latar Belakang Tuduhan

Buku berjudul Are We Living in the End of Times karya Tim F. Lahaye dan Jerry B. Jenkins adalah sumber dari tuduhan bahwa Gereja Katolik adalah Pelacur besar atau the Whore of Babylon. Seperti diketahui, Tim F. Lahaye dan Jerry B. Jenkins adalah penulis buku-buku yang sangat keras menolak dan menuduh Gereja Katolik, bahkan menuduh Paus sebagai antikristus. Misalnya saja, pada hlm. 172 buku karya mereka membuat klaim sejarah yang mengatakan bahwa “Setiap agama palsu di bumi berasal dari atau berlatar belakang dari agama babylon”. 

Cacat Logika Buku End Times

Membuat klaim bahwa Aztec, Mitos Romawi, Yunani, agama kaum aborigin, confucius dan aliran kepercayaan mempunyai sumber yang sama yakni agama kuno babilon. Klaim itu cacat logika karena setiap agama mempunyai sistem kepercayaan (Teologi dan Filosofi) yang berbeda dan saling bertentangan. Jadi tidak masuk akal bila dikatakan berasal dari sumber yang sama.

Ratu Surga Berasal Dari Ajaran Pagan?

Pertama, gelar ‘ratu surga’ (gebiyrah) yang diberikan kepada Maria tidak sama dengan gelar ‘ratu surga’ (meleket) yang diberikan kepada dewi kesuburan bangsa semit yang diceritakan dalam Yer. 7:18, 44:17. Adapun dewi kesuburan bangsa semit adalah Astoret atau Astarte.

Kedua, gelar Bunda Maria sebagai Ratu Surga mengacu pada penglihatan Rasul Yohanes dalam Wahyu 12:1-6. Dikatakan di sana bahwa ada seorang perempuan bermahkota melahirkan seorang anak yang menggembalakan segala bangsa dengan gada besi (bdk. Why. 12: 1, 5). Perempuan yang bermahkota dan melahirkan seorang anak itu adalah Maria. Sementara itu, anak yang dilahirkannya adalah Yesus, gembala segala bangsa.

Ketiga, semua orang kudus menerima mahkota kehidupan, termasuk Bunda Maria (bdk. 2 Tim. 4:8). Apalagi, Bunda Maria berhasil melaksanakan kehendak Allah sampai akhir hayatnya. Maka, pastilah menerima mahkota kehidupan (bdk. Yak. 1:12, 1 Pet. 5:4, Why. 2:10).

Keempat, Perjanjian Lama mencatat bahwa seorang ‘ratu’ (gebiyrah) dihormati bersama raja dan namanya dicantumkan bersama dengan raja (bdk. Yer. 13:18, 1 Raj. 14:21, 15:9-10, 22:42; 2 Raj. 12:2; 14:2; 15:33). Padahal, dalam Gereja Katolik, pemberian gelar ‘ratu surga’ kepada Bunda Maria sama sekali bukan sebagai saingan atas keutamaan Yesus Kristus yang adalah penyelamat. Gelar ‘ratu surga’ yang disematkan pada Bunda Maria semata-mata berkaitan dengan perannya dalam melahirkan Yesus Kristus, Sang Raja dan penyelamat (bdk. Mat. 1:22-23, Yes. 7:14).

Inkuisisi Tindakan Iblis yang Menyusup Dalam Gereja?

Inkuisi dilakukan untuk mengadili orang-orang yang mengajarkan ajaran sesat. Inkuisisi diadakan oleh negara (misalnya inkuisisi di Spanyol tahun 1478). Gereja hanya menyadarkan orang-orang atau kelompok yang mengajarkan ajaran sesat agar bertobat dan meninggalkan ajaran sesatnya. Jika tidak mau mendengar, maka orang atau kelompok tertentu itu akan berhadapan dengan pengadilan negara.

Inkuisisi dilakukan agar tidak menimbulkan kebingungan di antara umat tentang ajaran yang benar sesuai dengan ajaran Katolik dan Apostolik. Pada masa itu, pengajar ajaran sesat dianggap sebagai tindakan kriminal oleh negara. Orang-orang yang dihukum diantaranya mengajarkan gnostisisme, Manikheisme, arianisme, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan jika dahulu tidak ada ketegasan demikian, mungkin saat ini aliran-aliran bisa jutaan melebihi aliran protestan yang mencapai 33.000  (tahun 2001) di seluruh dunia menurut buku David B. Barret.

Baca Juga:

Jubah Para Imam, Uskup dan Paus Ditafsirkan Sebagai Lambang Anti Kristus?

Putih memiliki makna: kegembiraan, kemurnian, kepolosan, dan kemuliaan (Dan 7:9; Mrk 9:2-3, Why 3:4-5). Boleh diganti kuning atau emas (warna cahaya) bila perayaan lebih bernada kemuliaan atau kemenangan (Kej 1:3-5, Yes 45:7)

Merah memiliki makna: darah kemartiran, api ilahi (Roh Kudus), cinta, pengorbanan, dukacita, mati raga, penantian (Kel 28:31,33; Sir 10:9, Yer 6:26).

Ungu memiliki makna: menggairahkan.

Hitam memiliki makna: kesedihan, keberdosaan, pertobatan/perkabungan.

Jingga memiliki makna: sukacita.

Hijau memiliki makna: kesuburan, harapan (Kej 1:11-12, Ul 32:2, Luk 23:31).

Biru memiliki makna: warna langit ini bisa berarti kebijaksanaan ilahi yang dihembuskan oleh Roh Kudus (Yoh 3:8).

Janji Yesus Terhadap Gereja-Nya

Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, Petrus dan berjanji akan menyertai sampai akhir Zaman (Mat. 16:18, 28:20). Tidak mungkin Yesus mengingkari janji-Nya yang setia menjaga dan melindungi Gereja-Nya. Maka, tidak mungkin Gereja yang didirikan Kristus adalah the whore of Babylon atau anti terhadap diri-Nya sendiri. Kristus adalah kepala dan pemimpin Gereja, sementara Gereja sendiri adalah Tubuh Mistik-Nya.

Kapan Gereja Katolik Ada?

Kata ‘katolik’ bukan istilah baru, Kisah Para Rasul 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik “Ekklesia Katha Holos“. Bahkan sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) telah digunakan untuk menegaskan iman Kristiani yang otentik berhadapan dengan kaum bidat/Heresy. Pada tahun 107 Santo Ignatius dari Antiokhia menggunakan nama Gereja Katolik dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna. Isi surat itu menegaskan Gereja Katolik sebagai satu-satunya yang didirikan oleh Kristus. Oleh sebab itu, tidak heran dalam Syahadat Nicea-Konstantinopel maupun Syahadat Singkat menyebut “Aku Percaya akan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik”.

Referensi

Penyadur: Silvester Detianus Gea

 

 

 

 

 

 

Natal 25 Desember: Hari Raya Kelahiran Dewa Matahari dan Saturnalia?

0

Kelahiran Dewa Matahari dan Saturnalia

Kaisar Aurelianus menetapkan 25 Desember tahun 274 sebagai perayaan Sol Invictus. Uang logam saat itu menyebutkan bahwa Kaisar Aurelianus sebagai Imam Agung Matahari (Pontifex Solis atau Pontiff of the Sun). Jadi Aurelianus mendirikan kultus itu pada akhir abad ke-3. Sementara itu, sebuah manuskrip kuno (354) menuliskan tentang perayaan tanggal 25 Desember demikian “N INVICTI CM XXX.” Perhitungannya yakni N artinya Nativity (kelahiran), Invicti artinya yang tak terkalahkan, CM artinya circenses missus (diperintahkan), dan XXX artinya tiga puluh. Apabila dibuat dalam kalimat berarti tiga puluh permainan yang ditentukan untuk kelahiran yang tak terkalahkan pada 25 Desember. Tidak disebutkan ‘matahari’. Maka, kita dapat meragukan bahwa tidak ada bukti bahwa perayaan tanggal 25 Desember mengacu kepada dewa matahari.

Bukti lain adalah prasasti dari zaman Kaisar Licinius, menuliskan bahwa perayaan Sol Invictus itu jatuh pada tanggal 18 November dan 19 Desember. Tidak ada bukti historis tentang perayaan Natalis Sol Invictus pada tanggal 25 Desember, sebelum tahun 354. Justru dari keterangan tersebut menunjukkan variasi tanggal perayaan Sol Invictus yang marak dilakukan pada abad ke-4 dan ke-5. Sesungguhnya tanggal 25 Desember menjadi hari “Kelahiran Dewa Matahari yang tak terkalahkan ada dan popular sejak kaisar Julian si murtad (Ia pernah menjadi Kristen, lalu kembali menganut pagan Romawi. Kaisar Julian ini yang mempopulerkan 25 Desember itu setelah ia murtad. Dapat dikatakan bahwa Kaisar Julian membuat sebuah tandingan untuk mengecoh umat Kristen, sehingga ia membuat ketentuan bahwa pada tanggal 25 Desember menjadi hari libur bagi kaum pagan.

So, Dewa Matahari yang tak terkalahkan bukanlah dewa yang terkenal dan popular di kekaisaran Romawi. Kalender Romawi kuno hingga masa kekristenan tidak mencatat adanya tradisi perayaan pagan pada tanggal 25 Desember.  Seperti diketahui, saturnalia merupakan peringatan winter solstice yakni titik terjauh matahari dari garis khatulistiwa. Perayaan winter solstice diadakan pada tanggal 17-23 Desember bukan pada 25 Desember. Perayaan Saturnalia ini lebih populer daripada Sol Invictus. Dan kemungkinan besar Kaisar Julian si murtad inilah yang berusaha mengecoh umat Kristen. Jadi tuduhan bahwa 25 Desember merupakan hari kelahiran Dewa Matahari atau Saturnalia merupakan sebuah hipotesa (dugaan) para polemikus.

Baca Juga

Kesaksian Kitab Suci dan Bapa-Bapa Gereja

Menurut St. Yohanes Krisostomus, tanggal kelahiran Yesus dihitung dari kelahiran Yohanes Pembaptis. St. Lukas, dalam Injil yang ditulisnya, mengatakan bahwa pada suatu saat Zakaria dari ‘rombongan Abia’ melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan (Luk. 1:5). Keturunan Harun dibagi ke dalam dua puluh empat rombongan (1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan itu bertugas untuk menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Setiap rombongan imam melayani satu minggu di bait Allah, dua kali setahun. Rombongan Abia melayani di giliran ke-8 dan ke-32 dalam siklus tahunan.

Josef Heinrich Friedlieb dengan sangat yakin mengatakan bahwa rombongan imam pertama, Yoyarib, bertugas sepanjang waktu penghancuran Yerusalem pada hari ke-9 pada bulan Yahudi yang disebut bulan Av.  Maka, masa rombongan imamat Abia (yaitu masa Zakaria bertugas) melayani adalah minggu kedua bulan Yahudi yang disebut Tishri, yaitu minggu yang bertepatan dengan the Day of Atonement, hari ke-10. Di kalender kita, the Day of Atonement dapat jatuh di hari apa saja dari tanggal 22 September sampai dengan 8 Oktober. Jika dihitung dari bulan Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, maka tepat 6 (enam) bulan.

Dikatakan dalam Injil Lukas bahwa Elisabet mengandung beberapa saat setelah masa pelayanan Zakaria (lih. Luk. 1:24). Konsepsi St. Yohanes Pembaptis terjadi sekitar akhir 22 September sampai 8 oktober, sehingga perhitungan empat puluh minggu setelahnya, menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis di akhir Juni. Meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis pada tanggal 24 Juni. Kitab Suci menjelaskan bahwa sesaat setelah Perawan Maria mengandung, ia pergi untuk mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung di bulan yang ke-6. Artinya, umur Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua daripada Yesus Kristus (lih. Luk. 1:24-27, 36). Jika 6 bulan ditambahkan kepada 24 Juni maka diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus.

Apabila tanggal 25 Desember dikurangi 9 bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira (Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret. Jika Yohanes Pembaptis dikandung segera setelah the Day of Atonement, maka tepatlah penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25 Desember.

Kesaksian Bunda Maria

Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Sumber dari Tradisi tersebut adalah kesaksian Bunda Maria sendiri.  Sebagai ibu tentu Maria mengetahui dengan rinci tentang kelahiran anaknya, yang diteruskan oleh para rasul kepada Gereja. Bunda Maria pasti mengingat secara detail kelahiran Yesus ini yang begitu istimewa, yang dikandung tidak dari benih laki-laki, yang kelahirannya diwartakan oleh para malaikat, lahir secara mukjizat dan dikunjungi oleh para majus.

Sebagaimana umum bahwa orang bertanya kepada orangtua yang membawa bayi akan umur bayinya, demikian juga orang saat itu akan bertanya, “Berapa umur anakmu?” kepada Bunda Maria. Maka, tanggal kelahiran Yesus 25 Desember, sudah diketahui sejak abad pertama.

Iman Gereja Perdana

Gereja perdana merayakan kebangkitan Yesus sebagai momen utama bagi umat untuk mengungkapkan iman. Pada masa itu perayaan kelahiran Yesus belum menjadi perhatian utama Gereja. Menjadi perhatian Gereja pada abad ke 3 Masehi. Kesaksian akan hal tersebut diperoleh dari catatan St. Clemens dari Alexandria (+150-210 Masehi). Dalam catatannya, ia menjelaskan bahwa ada upaya Gereja untuk menentukan kapan tanggal kelahiran Yesus.

Gereja mulai melihat bahwa kelahiran Yesus merupakan bagian dari peristiwa paskah. Sebab tidak ada kebangkitan tanpa peristiwa kelahiran. Hal itu terlihat dari liturgi Natal yang mengutip Prolog Injil Yohanes (1:1-18). Melalui perikop tersebut peristiwa Inkarnasi menjadi nyata. Peristiwa Inkarnasi itu telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes. 52:7-10) dan diteguhkan oleh surat kepada Orang Ibrani (Ibr. 1:1-6). Iman Gereja dilanjutkan hingga sekarang, yang menghubungkan Misteri paskah dan Misteri Inkarnasi. Lagi pula dalam perayaan Misa malam Natal (Vigili), bacaan-bacaan menceritakan bagaimana Yesus menyerahkan diri demi keselamatan umat manusia (Tim. 2:14).

Menurut Injil Lukas, malaikat Gabriel menyampaikan Kabar Gembira kepada Maria, ketika Elizabeth telah mengandung enam bulan (Luk. 1:24-26.36). St. Yohanes Krisostomus (347-407), mengatakan peristiwa kabar gembira tersebut terjadi pada bulan Purnama tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita). Dalam khotbahnya yang berjudul In Diem Natalem, ia menjelaskan bahwa Yesus Kristus lahir sembilan bulan kemudian, yakni tanggal 25 Desember.

Ahli Kitab Suci, Tommaso Federici († 2002), pengajar di Universitas Kepausan Urbaniana di Roma, mengatakan: “Kelahiran Tuhan pada tanggal 25 Desember adalah tanggal sejarah, yaitu 15 bulan setelah kabar Malaikat Tuhan kepada Zakharia, 9 bulan setelah kabar kepada Bunda Perawan Maria, dan 6 bulan setelah kelahiran Yohanes Pembaptis”.

Tahun Kelahiran Yesus

Dalam buku Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives Emeritus Paus Benediktus XVI tidak mempersoalkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Paus hanya mengutip pandangan seorang astronom Wina, Ferrari d’Occhieppo yang memperkirakan bahwa terjadi konjungsi planet Yupiter dan Saturnus pada tahun 7-6 Sebelum Masehi. Astronot itu berkesimpulan bahwa tahun itulah tahun kelahiran Yesus sehingga ada cahaya bintang yang terang di Betlehem yang menuntun orang Majus.

Referensi