13 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 18

Roh Kudus, Nafas Allah yang Dihembuskan ke Manusia

0
“… ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7).

Kata ‘roh’ (Lat. spiritus; Yun. pneuma; Ibr. ruah) menunjuk pada apa yang tidak terlihat dan tidak teraba namun mempunyai daya hidup yang aktif. Kata ini mempunyai beberapa arti: ‘angin,’ ‘nafas,’ atau ‘roh’. Kata ini pertama kali muncul di dalam Kitab Kejadian bab pertama. ‘Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air’ (Kej. 1:2). Penggunaan kata ‘roh’ jika tidak dikaitkan dengan Allah, umumnya merujuk pada roh manusia.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Roh Allah adalah sumber kehidupan bagi segenap ciptaan. Dan, nafas adalah gejala kehidupan yang paling jelas; penghentiannya merupakan tanda kematian yang nyata. Roh Kudus disebut Nafas Allah karena karya-Nya adalah memberikan kehidupan kepada manusia.

“… ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7).

Tuhan Yesus berjanji akan mengutus Roh Kudus untuk menyertai kita semua dalam menapaki peziarahan hidup ini. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yoh. 14:16-17).

Roh Kudus yang dijanjikan itu adalah Roh Kebenaran. Dialah yang memampukan kita untuk membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Dia membimbing dan menuntun kita untuk mengenal Allah dan melaksanakan ajaran-Nya dalam kehidupan setiap hari. Dia juga yang mengingatkan kita akan semua hal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

“Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh. 14:26).

Roh Kudus itu tinggal di dalam hati kita. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu” (1 Kor. 3:16). Paulus, dalam suratnya kepada umat di Galatia, mengajak kita agar hidup oleh Roh, dan tidak menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan. Kita akan mengetahui apakah kita dituntun oleh Roh Kudus atau tidak, bisa dilihat dari ada tidaknya buah-Nya. Buah Roh Kudus adalah: ‘Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri’ (Gal. 5:22-23).

Bukan Sekadar Ritual, Ekaristi Berpusat pada Yesus Kristus

0
Yesus Kristus hadir dalam Sakramen Ekaristi dalam cara yang unik dan tak ada bandingannya. Dia hadir dalam cara yang sungguh-sungguh, nyata, dan substansial: dengan Tubuh dan Darah-Nya, dengan Jiwa dan Keilahian-Nya.

Banyak orang non-Katolik beranggapan bahwa Ekaristi atau Misa dalam Gereja Katolik merupakan suatu bentuk ibadat yang rumit. Padahal, sebenarnya, apa yang bagi mereka tampak sebagai liturgi yang rumit itu justru merupakan struktur ibadat yang berpusat dan berfokus pada Yesus Kristus.

[postingan number=3 tag= ‘ekaristi’]

Gereja Katolik meyakini bahwa Yesus Kristus datang untuk semua orang. Dia datang untuk menerima dan menyelamatkan siapa pun yang datang kepada-Nya dengan iman, bahkan orang-orang yang dihina oleh dunia sekalipun. Karenanya, sejak awal, Gereja Katolik melihat bahwa peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus merupakan peristiwa-peristiwa yang menyelamatkan. Keyakinan inilah yang mendorong Gereja Katolik untuk selalu memasukkan bacaan Injil dalam liturginya.

Gereja mengundang para pengikutnya untuk memfokuskan dan memusatkan perhatiannya pada Tuhan dan Tuannya, yakni Yesus Kristus. Gereja bahkan mengharuskan para imamnya agar di setiap Ekaristi atau Misa menyampaikan di hadapan domba-domba Kristus kisah-kisah penyelamatan yang dicatat di dalam salah satu dari empat Injil. Dengan cara ini, diharapkan agar pendengar (atau pembaca) yang penuh perhatian tidak dapat salah mengartikan tema sentral dari ibadah.

Salah satu contoh dalam Kitab Suci tentang bagaimana memusatkan perhatian pada Yesus adalah apa yang dilakukan oleh wanita Kanaan. Ketika wanita Kanaan itu datang kepada Yesus memohon agar putrinya dibebaskan dari pengaruh setan, Yesus menyatakan bahwa imannya besar (Mat. 15:21-28). Pernyataan ini didahului oleh suatu teguran yang keras dari Tuhan Yesus kepada wanita itu karena ia telah berusaha melintasi batas-batas sosial dan berkeinginan menerima keselamatan yang dijanjikan kepada orang-orang Yahudi. Nah, jika kita, seperti wanita Kanaan, menyadari ketergantungan kita sepenuhnya pada Yesus dan kita memohon belas kasihan-Nya yang tidak layak kita terima, kita dapat yakin bahwa Dia akan berkata kepada kita, “besar imanmu.” Tentu saja itulah yang dimaksud dengan Komuni dalam Ekaristi, yakni datang kepada Yesus.

Ketika imam mencium altar saat memasuki Gereja, kita sedang menyapa Kristus yang dilambangkan dengan altar dan mengundang kehadiran-Nya ke dalam hidup kita. Kemudian, ketika kita memohon belas kasihan Kristus dalam upacara pertobatan (“Tuhan kasihanilah”), kita persis berada di posisi wanita Kanaan yang melihat Yesus sebagai satu-satunya harapan putrinya. Kemudian dalam Ritus Komuni, kita berdoa melalui imam, “Jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu.”

Ketika kita diundang untuk menerima Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kita menanggapi dengan kata-kata: “Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya [jiwaku] akan sembuh.” Di sini kita memohon kepada Tuhan Yesus agar berbelas kasih kepada kita seperti dulu Ia berbelas kasih kepada wanita Kanaan yang adalah orang luar tetapi memiliki iman yang besar.

Referensi: https://www.catholic.com/magazine/print-edition/the-eucharist-as-center-of-the-church

Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga Meneguhkan Iman Kita

0
Di hari kenaikan-Nya, Yesus membawa para murid ke luar kota Yerusalem, hingga dekat Betania. Dikisahkan Lukas 24:50-51, Yesus naik ke surga.

Kemarin, kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Naik ke mana? Ke surga. Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke surga merupakan kebalikan dari Natal. Jika dalam Natal, Tuhan Yesus yang dari surga turun ke bumi melalui peristiwa yang disebut ‘inkarnasi’ (menjadi daging), dalam peristiwa kenaikan, Tuhan yang selama ini sudah menjelma menjadi manusia, sudah ada di bumi, kini naik kembali ke surga.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Mengenai detik-detik kenaikan Yesus ke surga diceritakan dengan sangat rinci di dalam Injil Lukas (lih. Luk. 24:46-53) dan Kisah Para Rasul (lih. Kis. 1:1-11). Adapun peristiwa kenaikan Yesus ke surga itu menjawab pertanyaan penting tentang beberapa hal: yakni tentang identitas Yesus (apakah Dia Tuhan atau bukan), tentang keberadaan surga, dan tentang ada tidaknya kehidupan kekal.

Penulis Injil Yohanes menuliskan: “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia” (Yoh. 3:13). Yesus berasal dari atas, yakni dari surga, sekarang kembali ke atas, yakni ke surga. Ini berarti bahwa surga itu ada. Apakah Dia yang turun-naik dari dan ke surga itu manusia biasa?  Jawabannya: jelas bukan. Dia adalah Tuhan. Karena Dia Tuhan makanya Dia bisa turun ke bumi melalui peristiwa inkarnasi, dan sekarang naik kembali ke surga melalui peristiwa Kenaikan. Sampai di sini jelas: surga itu ada, dan Yesus adalah Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus naik ke surga, tidak berarti bahwa Dia meninggalkan kita. Sebab, Ia sendiri berkata: “Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku” (Luk. 24:49). Apa yang dijanjikan Bapa kepada kita? Yakni Roh Kudus. Roh Kudus itulah yang akan menemani kita sampai akhir zaman.

Nah, kalau dari surga Yesus bisa mengirimkan Roh Kudus, bukankah itu berarti bahwa di surga Ia hidup? Jawabannya: ya. Di surga, Yesus hidup. Sebab, ‘sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang’ (Ibr. 9:27-28). Ini menjawab pertanyaan kita tentang apakah kehidupan yang kekal itu ada atau tidak. Jadi, jelas juga bahwa kehidupan kekal itu ada.

Setelah tahu bahwa surga itu ada dan di sana ada kehidupan kekal, lantas sebagai orang beriman, apa yang kita harapkan? Tentu kita mengharapkan agar kelak bisa masuk ke surga dan menikmati kehidupan kekal itu. Dan, keyakinan kita mengatakan bahwa untuk bisa sampai ke surga dan menimati kehidupan kekal, tidak ada jalan lain kecuali melalui Tuhan Yesus. Jadi, perayaan kenaikan Tuhan Yesus ke surga sungguh meneguhkan iman kita akan ketuhanan Yesus, keberadaan surga, dan terhadap kehidupan kekal.

“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia” (Ibr. 10:22-23). –JK-IND–

Belajar dari Kisah Sodom dan Gomora Menyikapi Fenomena LGBT Saat Ini

0
Gereja Katolik meyakini bahwa menurut hakekatnya, perkawinan adalah perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup. Gambar Ilustrasi Pixabay.com

Ketika podcast yang menghadirkan bintang tamu pasangan sesama jenis viral di media sosial, tidak sedikit orang menyinggung soal pemusnahan Kota Sodom dan Gomora (lih. Kej. 19:1-29). Apa hubungannya? Memangnya apa sebabnya Tuhan membumi-hanguskan kota Sodom dan Gomora?

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Kitab Kejadian memberi tahu kita bahwa orang Sodom sangat jahat dan berdosa (Kej. 13:12-13). Namun mengenai apa persisnya dosa yang mereka lakukan, tak dijelaskan secara gamblang. Hanya dikatakan bahwa ada banyak keluh kesah orang tentang kota ini (Kej. 13:13, 18:20, dan 19:13); sehingga TUHAN berfirman:

Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kej. 18:20-21).

Apa isi dari keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora? Sampai di sini masih belum jelas bagi kita. Menjadi jelas ketika kisahnya berlanjut pada pengutusan dua malaikat ke Sodom. Atas perintah Tuhan, dua Malaikat tiba di Sodom pada waktu petang (Kej. 19:1). Mereka datang dengan satu tujuan, yakni untuk melihat apakah benar-benar orang Sodom dan Gomora itu telah berkelakuan seperti keluh kesah orang.

Diceritakan bahwa terjadi dialog antara Lot dengan kedua malaikat itu. Lot yang saat itu sedang duduk di pintu gerbang Sodom menyosong mereka serta menyebut mereka sebagai ‘Tuan’ (sebutan untuk gender laki-laki). Lot mendesak mereka supaya bermalam di rumahnya. Mereka pun menyetujuinya. Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu.

Di sinilah pertanyaan kita seputar, “Apa dosa orang Sodom dan Gomora?” mulai terungkap. Mereka yang datang itu berseru kepada Lot: “Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka (Kej. 19:5).

Pakai dalam arti apa? Lot menangkap maksud mereka. Mereka ingin melakukan perilaku homoseksual dengan kedua tamu yang datang ke rumahnya itu (lih. Dr. Constable’s Notes on Genesis, 2017 Edition, hlm. 178). Karenanya Lot tidak membiarkan perilaku bejat itu terjadi, apalagi terhadap tamunya. Makanya, ia keluar dari rumahnya dan menemui mereka. Demi menghindari terjadinya perilaku seks menyimpang itu, Lot bahkan rela menyerahkan kedua putrinya kepada mereka, katanya:

“Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik” (Kej. 19:7-8).

Orang-orang Sodom itu tidak menerima jalan keluar yang diberikan oleh Lot. Mereka justru memaksa Lot supaya menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka. Kini, kedua malaikat yang diutus itu telah melihat bahwa orang-orang Sodom benar-benar berkelakuan seperti keluh kesah orang. Keduanya pun menarik Lot ke dalam rumah dan menyuruh dia serta seisi rumahnya pergi melarikan diri. Mereka berkata kepada Lot, “Kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya” (Kej. 19:13). Sodom dan Gomora pun dibumi-hanguskan. Lot dan segenap anggota keluarganya selamat, kecuali istrinya. Istrinya menjadi tiang garam karena melanggar larangan dari kedua malaikat itu (Kej. 19:17; 19:26).

Sampai di sini, kesimpulan apa yang bisa ditarik? Sodom dan Gomora dibumi-hanguskan oleh Tuhan karena perilaku bejat yang mereka lakukan. Apa itu? Yaitu perilaku seks sesama jenis atau homoseksual. Itulah sebabnya TUHAN menurunkan dari langit hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, dan menunggangbalikkan kota-kota itu (Kej. 19:24-25).

Kebutaan moral orang-orang Sodom mengantar mereka pada kebutaan spiritual, dan bahkan pada kebutaan fisik (lih. Kej. 19:11; bdk. 2 Raj. 6:18). Sementara penyelamatan Lot dan keluarganya menunjukkan bukti kasih Tuhan kepada orang benar. Tuhan tentu saja bisa menghanguskan kota Sodom tanpa ada perundingan dengan Lot atau Abraham (Kej. 18:17); tetapi Ia tidak melakukan itu sebab Ia mengasihi orang baik (bdk. Kej. 19:29).

Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa segala perilaku jahat (dosa) bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dalam Kitab Suci, segala perilaku homoseksual dipandang sebagai dosa besar; dan karenanya hukumannya besar pula (Im. 18:22, 20:13; Rm. 1:26-27).

Sekarang kita sampai pada pertanyaan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perilaku seks menyimpang atau LGBT? Jawabannya: jelas kita menolaknya. Sebab, Allah hanya menghendaki perkawinan antara laki-laki dan perempuan, bukan sesama jenis atau LGBT.

Tapi, penolakan kita terhadap perilaku seks menyimpang tidak membuat kita lantas menolak orangnya. Perilaku menyimpangnya kita tolak, orangnya kita rangkul. Itu sikap kita. Sebab, siapa kita untuk menghakimi dan menghukum mereka? Kita bukan Tuhan. Kita dan mereka adalah sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama berdosa pula. Nah, daripada kita sibuk menghakimi dan menghukum mereka, sementara kita sendiri juga belum tentu suci, maka alangkah lebih baik jika kita mendoakan mereka (seperti Abraham; Kej. 18:16-33); dan menawarkan jalan keluar kepada mereka (bdk. dengan Lot; Kej. 19:6-8).

Allah Menghendaki Perkawinan antara Laki-laki dan Perempuan, Bukan LGBT

0
Bahas Tutorial jadi Gay, Podcast Deddy Corbuzier Dikecam Netizen

Dua hari belakangan ini viral di media sosial pemberitaan mengenai konten video podcast yang dinilai oleh banyak pihak sebagai bentuk mempromosikan LGBT. Saking ramainya pemberitaan tersebut, kini konten itu pun sudah di-take down oleh pemiliknya. Kejadian ini menyadarkan kita bahwa sekalipun perilaku seks menyimpang (LGBT) itu sudah ada di sekitar kita, isu tersebut – bagi masyarakat Indonesia – tetap tabu dan masih sensitif untuk dibicarakan.

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Mengapa ada orang yang menyukai sesama jenis? Inilah pertanyaan yang sampai hari ini masih dicari jawabannya. Dan barangkali pertanyaan ini jugalah yang mau digali di dalam podcast yang viral itu. Sebab, yang kita tahu dan yakin benar bahwa Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan, dan karena itu Ia menghendaki perkawinan antara laki-laki dan perempuan saja.

Gereja Katolik meyakini bahwa menurut hakekatnya, perkawinan adalah perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup. Perkawinan tidak hanya tergantung pada kemauan manusiawi semata, tetapi juga dikehendaki oleh Allah. Di samping itu, perkawinan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan psikologis dan biologis semata, tetapi juga mengandung suatu tugas perutusan. Perkawinan bertujuan pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak. Inilah bahan-bahan pengajaran dasar dalam Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) Katolik.

Kita sepakat bahwa Allah menciptakan manusia ke dalam dua jenis kelamin saja, yakni laki-laki dan perempuan. Tidak ada jenis kelamin ketiga atau keempat. “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Bahkan Kitab Suci memberi keterangan bahwa setelah Allah menciptakan laki-laki dan perempuan itu, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Dengan kata lain, jika menjadi laki-laki dan perempuan itu sudah sungguh amat baik, mengapa masih mau memiliki jenis kelamin yang lain?

Dari bahan-bahan pengajaran dasar dalam KPP di atas dikatakan bahwa Allah menghendaki perkawinan antara laki-laki dan perempuan saja. Perkawinan antara sesama jenis jelas tidak dikehendaki Allah. “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat. 19:4-6).

Lebih dari sekedar menghendaki perkawinan antara laki-laki dan perempuan, Allah juga memberkati perkawinan itu. “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kej. 1:18). Beranak cucu dan bertambah banyak adalah salah satu tujuan utama dari perkawinan, dan ini hanya dapat terjadi dalam perkawinan antara laki-laki dan perempuan. Perkawinan sesama jenis kelamin jelas tidak dapat menghasilkan keturunan.

Berangkat dari keyakinan dan pengajarannya, Gereja – dengan demikian – menilai bahwa kecenderungan untuk menyukai sesama jenis kelamin itu pada dasarnya merupakan sesuatu yang menyimpang. Karenanya, Gereja menolak keras perilaku seks menyimpang atau LGBT itu.

Tapi,  siapa kita untuk menghakimi mereka? Kaum LGBT atau siapapun yang lain adalah sesama manusia yang patut kita hargai. Seburuk apapun mereka, kita menghargai pribadinya sebagai manusia, tapi tidak mendukung perilaku menyimpangnya. Sebab itu, Gereja selalu mengajarkan kepada kita, umatnya, agar tidak mengucilkan, menghakimi, apalagi menghukum orang lain atas dasar apapun, termasuk kaum LGBT.

Menjawab Keraguan Orang-orang terhadap Penyaliban dan Wafat Yesus di Kayu Salib

0
"Ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, 19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. 19:35 Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya" (Yoh. 19:33-35).

Benarkah Yesus wafat di kayu salib? Jangan-jangan peristiwa penyaliban itu tidak pernah terjadi? Atau, sekalipun terjadi, jangan-jangan bukan Yesus yang disalibkan melainkan seseorang yang diserupakan dengan Dia?

Saudara dan saudari, jelaslah cerita tentang penyaliban Yesus ada dasar dan sumbernya. Bagi orang yang percaya, cerita itu tidak diragukan sedikitpun kebenarnya. Dasar dan sumber pertama untuk meyakini bahwa Yesus benar-benar wafat di kayu salib adalah adanya kesaksian dari para saksi mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Yusuf dari Arimatea adalah salah satu nama dari sekian banyak nama yang menjadi saksi dari peristiwa itu. Diceritakan dalam Kitab Suci bahwa Yusuf dari Arimatea pergi menghadap Pilatus untuk meminta mayat Yesus. Pilatus pun memberi perintah kepada para serdadu untuk menyerahkan mayat Yesus kepadanya. Tapi sebelumnya ia memanggil kepala pasukan dan menyuruhnya untuk terlebih dahulu memeriksa dan memastikan bahwa Yesus benar-benar sudah mati sebelum diberikan kepada Yusuf dari Arimatea (Mrk. 15:44-45).

Terkait hal itu, Injil Yohanes memberikan gambaran yang sangat detail. Dikatakan bahwa para serdadu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19:32-34). Setelah itu jenazah Yesus diberikan kepada Yusuf dari Arimatea untuk dimakamkan.

Bahkan, orang-orang Farisi, yang selama ini berseberangan dengan Yesus tahu juga  bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib. Buktinya: mereka meminta kepada Pilatus agar makam Yesus dijaga sampai hari yang ketiga; sebab jikalau tidak, mereka mencurigai jangan-jangan murid-murid Yesus mungkin akan datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati (lih. Mat. 27:62-66).

Cerita tentang peristiwa penyaliban Yesus dapat kita jumpai juga dari tulisan-tulisan lain di luar Perjanjian Baru. Igantius dari Antiokia (pada permulaan abad ke-2), misalnya, menuliskan: “He was truly of the seed of David according to the flesh, and the Son of God according to the will and power of God; that He was truly born of a virgin, was baptized by John, in order that all righteousness might be fulfilled by Him; and was truly, under Pontius Pilate and Herod the tetrarch, nailed [to the cross] for us in His flesh. Of this fruit we are by His divinely-blessed passion, that He might set up a standard for all ages, through his resurrection, to all His holy and faithful [followers], whether among Jews or Gentiles, in the one body of His Church” (Letter to the Smyrneans, Chapter 1).

Ignatius menerangkan bahwa Yesus sungguh dipaku di kayu salib. Dengan berkata ‘melalui kebangkitan-Nya’ ia mau menunjukkan bahwa Yesus memang wafat. Jadi, baik dari Perjanjian Baru maupun dari tulisan-tulisa para penulis Kristen perdana sama sekali tidak ada keraguan bahwa Yesus benar-benar wafat di kayu salib.

Seandainya pun ada orang yang keberatan untuk percaya terhadap sumber-sumber tersebut (mungkin karena mengganggap bahwa Kitab Suci kita sudah dipalsukan atau alasan lainnya), namun jangan lupa masih ada sumber lain, yang sama sekali tidak ada hubungan dan kepentingannya dengan kekristenan, yang mengakui pula bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib. Sumber tersebut berasal dari seorang sejarawan Yahudi yang bernama Josephus. Dia menulis begini:

Now, there was about this time Jesus, a wise man; for he was a doer of wonderful works, a teacher of such men as receive the truth with pleasure. He drew over to him both many of the Jews and many of the Gentiles. And when Pilate, at the suggestion of the principle men among us, had condemned him to the cross, those that loved him at the first ceased not so to do; and the race of Christians, so named from him, are not extinct even now” (J. Klausner, Jesus of Nazareth, p. 55).

Ada saksi mata, ada tulisan para bapa Gereja, dan ada sumber-sumber non-Kristiani yang sama-sama menerangkan bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib. Bukankah itu sudah merupakan  dasar dan sumber yang kuat untuk percaya? Lantas, apa dasar dan sumber yang Anda gunakan sehingga tidak percaya bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib? Apakah dasar dan sumber yang Anda gunakan itu bisa diterima dan dipercaya oleh semua orang?

Referensi:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/four-reasons-to-believe-jesus-was-really-crucified
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/answering-a-muslim-apologist

Janji dan Jaminan untuk Orang yang Percaya kepada Yesus

0
"Setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6:39-40). Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com.

Janji dan Jaminan untuk Orang yang Percaya kepada Yesus: Renungan Harian, 04 Mei 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 8:1b-8; Injil: Yoh. 6:35-40

Tuhan Yesus berjanji akan memberi makan kepada semua orang. Syaratnya hanya satu: datang kepada-Nya dalam iman. Ia berkata: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:35, 37).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Frasa ‘lapar dan haus’ menandakan kekurangan manusia terpisah dari penciptanya, serta menjelaskan tentang kebutuhan manusiawi yang paling mendasar. Lapar dan haus ini menemukan pemenuhannya dalam Kristus. Di sini kita melihat bahwa Yesus pertama-tama adalah pemberi roti. Yesus memberi roti, seperti Musa memberi roti kepada umatnya. Sebab itu, Ia dipandang sebagai Musa yang baru meski tentu saja Ia lebih tinggi martabatnya dari Musa.

Bukan hanya sebagai pemberi roti, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa sesungguhnya Ia sendirilah roti itu. Ia adalah roti dari surga, yang diberikan kepada semua orang, dan yang akan menghilangkan rasa lapar dan haus semua orang yang datang kepada-Nya dalam iman. Jadi, Yesus, sebagai roti dari surga, harus diterima dan disantap dengan iman yang mantap.

Kehendak Allah bertujuan memberikan hidup kekal kepada manusia. Itu jaminan untuk semua orang. “Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6:39-40).

Lagi-lagi syaratnya adalah datang kepada-Nya dalam iman. Datang dan percaya kepada Yesus adalah kunci utama untuk beroleh hidup yang kekal dan kebangkitan pada akhir zaman.

Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang mengabaikan syarat ini. Kita berharap agar janji dan jaminan dari Tuhan itu terpenuhi, tapi kita sendiri belum layak untuk itu. “Tetapi Aku telah berkata kepadamu: sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya” (Yoh. 6:36).

Ingat janji dan jaminan-Nya itu baik, tapi jangan lupa bahwa ini semua ada syaratnya. Mengacu pada Injil hari ini, Yesus meminta kita untuk datang dan percaya kepada-Nya. Itulah syaratnya. Sebab itu, mari kita datang dan percaya kepada Yesus.

Ajaran Sesat Ebionit dan Monotelitisme (Seri Ajaran Sesat V)

0

Ajaran Sesat Ebionit

Secara harfiah Ebionit berarti orang-orang miskin. Ebionit adalah sebuah sekte Kristen Yahudi yang dicirikan oleh janji untuk mengikuti secara ketat hukum Musa — dan penyangkalan terhadap keallahan Kristus, yang dipandang sebagai anak Yusuf, suami Maria.

Ajaran Sesat Monotelitisme

Bidah pada VII yang mengajarkan bahwa di dalam diri Yesus Kristus, Putra Allah, hanya ada satu kehendak saja, yakni kehendak ilahi. Asal-usul bidah ini lebih bersifat politis daripada religius, mengingat setelah Konsili Khalsedon berakhir ada usaha untuk menyatukan sejumlah pandangan monofisit demi menekankan kesatuan dalam diri Kristus: apalagi ada motif khusus lainnya, yakni serangan-serangan laskar Muslim, yang berasal dari Persia dan kekaisaran Roma di wilayah Timur terancam oleh monofisit.

Referensi

  • Kristiyanto, Eddy, 2003. Visi Historis Komprehensif. Yogyakarta : Kanisius
  • Kristiyanto, Eddy, 2002. Gagasan yang Menjadi Peristiwa: Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV. Yogyakarta : Kanisius.

 

 

Percaya dan Taat kepada Allah meski Tak Seorang Pun Pernah Melihat-Nya

0

Percaya dan Taat kepada Allah meski Tak Seorang Pun Pernah Melihat-Nya: Renungan Harian, 28 April 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 5:27-33; Injil: Yoh. 3:31-36

Percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Begitu salah satu definisi dari kata ‘percaya’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Umumnya, orang akan percaya terhadap sesuatu atau terhadap suatu berita hanya kalau dia sendiri sudah melihat bukti dari sesuatu itu atau sudah mengalami secara langsung peristiwa atau kejadian yang diberitakan tersebut. Pertanyaannya: apakah percaya harus melihat dulu? Jawabannya: tidak harus. Banyak hal atau kejadian di dunia ini tidak kita lihat dan atau alami sendiri, tapi kita percaya bahwa itu memang benar atau nyata ada dan terjadi karena ada orang lain yang memberikan kesaksian kepada kita tentangnya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Sebagai contoh, kebangkitan Yesus. Kita sendiri tidak melihat dan atau mengalami peristiwa itu, tapi toh kita percaya bahwa itu memang benar ada atau nyata terjadi karena ada  orang-orang yang menjadi saksi mata dari peristiwa itu. “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (Kis. 5:32). Jadi, kita menjadi percaya terhadap kebangkitan Yesus karena kesaksian Para Rasul sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci yang diwartakan kepada kita hingga saat ini.

Nah bagaimana jika kita sendiri tidak melihat dan atau mengalami, juga tidak ada saksi, apakah kita masih bisa tetap percaya? Jawabannya: tentu saja ya dan harus. Ingat kata-kata Yesus kepada Tomas: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Itulah iman. Sebab, ‘iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat’ (Ibr. 11:1). Tuhan Yesus mengajak Tomas dan kita juga untuk beriman melampaui hal yang dapat dicerna oleh akal budi dan indera kita. Dengan demikian, iman terbesar yang bisa kita miliki adalah kemampuan untuk percaya tanpa harus melihat dulu.

Dalam Surat Pertama Yohanes dikatakan ‘tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita’ (1 Yoh. 4:12). Maksudnya, pada dasarnya kita, manusia, cenderung egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Allahlah yang menggerakkan hati kita untuk saling mengasihi. Selama kasih itu masih mengalir di hati kita, kita harus percaya bahwa Allah ada dan diam di dalam kita.

Kalau sudah percaya, lebih lagi, jika sudah beriman, hal berikutnya yang harus kita lakukan adalah taat kepada-Nya. Sebab, percaya saja atau beriman saja, tidaklah cukup kalau tidak diikuti oleh sikap taat. Percaya atau beriman kepada Allah, dan taat melaksanakan kehendak-Nya – itulah bentuk sikap yang seharusnya lahir dari masing-masing kita. Ingat, ‘barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya’ (Yoh. 3:36). JK-IND

Ajaran Sesat Collyridianisme (Seri Ajaran Sesat IV)

0

Hampir semua ajaran sesat yang menyerang pada abad-abad pertama Gereja Katolik berkaitan dengan Tritunggal atau Kristologi. Namun ajaran sesat Collyridianisme berbeda. Ajaran sesat ini berkaitan dengan Mariologi di mana sekte Collyridianis ini mengajarkan penyembahan dan penuhanan terhadap Bunda Maria.

Bidaah ini hadir pada sekitar tahun 350-450 di wilayah Arabia. Tidak diketahui siapa pendiri sekte ini dan sedikit sekali informasi yang bisa kita ketahui sekarang tentang sekte ini. Selain itu, tampaknya karena bidaah ini hadir pertama-tama di Arabia, maka orang-orang di sana kemudian menyangka bahwa Allah Tritunggal adalah Bapa, Yesus Kristus dan Bunda Maria. Sampai sekarang pun kita masih bisa mendengar sangkaan seperti ini.

Kesesatan Collyridian ini sederhana: Mereka menyembah Bunda Maria. Hal ini secara langsung bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik yang mengutuk penyembahan berhala yang juga telah dikutuk oleh Allah sendiri: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Kel 20:3; Ul 5:7) Devosi terhadap Bunda Maria dalam sekte ini kemudian dikembangkan sebagai Penyembahan (Idolatri/Pemberhalaan) terhadap Bunda Maria. Gereja Katolik memang mengajarkan penghormatan tinggi (hiperdulia) terhadap Bunda Maria yang diyakini Perawan Selamanya, Bunda Allah, Pengantara Segala Rahmat, dll. Tetapi sekte ini melewati batas seharusnya dalam penghormatan terhadap Bunda Maria sehingga mereka malah jatuh kepada penyembahan terhadap Bunda Maria.

Detail mengenai Collyridianisme ini sangat sedikit tetapi secara spesifik kita bisa mengetahui bahwa sekte ini mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Bunda Maria. Hal ini bertentangan dengan Gereja Katolik yang selalu mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Allah dan tidak kepada yang lain termasuk Bunda Maria. Illustrasinya demikian: Dalam Doa Syukur Agung I (Pertama) terdapat teks:

“Oleh karena itu ya Bapa, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita bangkit dari alam maut dan naik ke surga dengan mulia. Kami, umat-Mu, mempersembahkan kurban yang suci murni, yakni Roti Kehidupan Abadi dan Piala Keselamatan Kekal.”

Namun, dalam sekte ini, doa ini digubah sedemikian rupa sehingga kira-kira menjadi demikian untuk menunjukkan kurban Ekaristi dipersembahkan kepada Bunda Maria,

“Oleh karena itu ya Bunda Maria, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita bangkit dari alam maut dan naik ke surga dengan mulia. Kami, umat-Mu, mempersembahkan kurban yang suci murni, yakni Roti Kehidupan Abadi dan Piala Keselamatan Kekal.”

Para Bapa Gereja Katolik dengan segera mengetahui keberadaan ajaran sesat ini dan mereka menolaknya. Tokoh terkemuka penentang ajaran Collyridianisme ini adalah Bapa Gereja Epifanius (315-403), Uskup Salamis. Epifanius terkenal sebagai orang yang sangat terpelajar dan pertapa suci. Ia adalah teman dekat St. Hieronimus, seorang Bapa Gereja Barat yang terkenal yang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin atas perintah Paus St. Damasus I. Namun, Epifanius ini adalah orang yang dikenal sangat bertemperamen tinggi dan keras sehingga tidak sedikit pula uskup lain yang kesal terhadapnya.

Epifanius membuat tulisan melawan ajaran sesat Collyridianisme dalam buku apologetiknya yang terkenal, Panarion (artinya Kotak Obat-obatan). Buku ini berisi sanggahan-sanggahan Epifanius terhadap lebih dari 80 jenis ajaran sesat yang dia ketahui pada zamannya. Dalam buku ini, dia menyanggah dua ajaran sesat ekstrim dan saling bertolak-belakang mengenai Bunda Maria, yaitu Collyridianisme (yang menuhankan Bunda Maria) dan Antidicomarianitisme, sebuah sekte Arab yang merendahkan dan melecehkan status dan kebajikan Bunda Maria serta mengklaim bahwa Bunda Maria melakukan hubungan suami istri dengan Yosef sehingga Bunda Maria tidak dapat diyakini Yang Tetap Perawan Selamanya. (bdk: Panarion 78:1)

Anggota sekte Collyridianisme adalah pertama-tama para wanita yang mengembangkan kombinasi sinkretistik antara Tradisi Katolik dengan tradisi pemujaan terhadap dewi-dewi pagan. Epifanius menulis:

“Beberapa wanita di Arabia telah memperkenalkan pengajaran yang tak masuk akal dari Thracia: [yaitu] bagaimana mereka mempersembahkan kurban roti dalam nama Maria yang Perawan Selamanya, dan semua [dari mereka] mengambil bagian dalam roti ini.” (Panarion 78:13).

Epifanius menekankan perbedaan antara Bunda Maria dan Allah:

“Sekarang tubuh Bunda Maria memang adalah suci, tetapi itu bukanlah Allah; Perawan [Maria] memang adalah seorang perawan dan dihormati, tetapi ia tidak diberikan bagi kita untuk disembah, melainkan ia sendiri menyembah Dia yang lahir dalam daging dari ia. … Menghormati Maria, tetapi hendaklah Bapa, Putera dan Roh Kudus disembah, hendaklah tidak seorang pun menyembah Maria, … sekalipun Maria adalah tercantik dan kudus dan terhormat, tetapi ia ada tidak untuk disembah.” (Panarion 79:1,4)

Bersama Epifanius, kita dapat berkata bahwa siapapun yang menyembah Maria atau ciptaan lainnya berarti telah melakukan penyembahan berhala dan harus ditegur. Kita sebaiknya melihat ke dalam Kitab Suci, pada kasus di mana malaikat menegur St. Yohanes karena tindakannya menyembah malaikat: “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! … ” (Wahyu 19:10) Tidak diragukan lagi bahwa Santa Perawan Maria sendiri akan berkata hal ini kepada siapapun yang berusaha menyembah dia.

Collyridianisme Modern

Collyridianisme dapat dilihat sekarang dalam berbagai bentuk. Kelompok “Hiper-Marian” dan para penulis yang terlalu meninggikan Bunda Maria dan sangat fokus terhadapnya sehingga tidak jarang mengecualikan Kristus dapat dikatakan bersalah atas usaha penyembahan berhala atau pemuliaan Maria melebihi Kristus. Di samping itu, muncul pula gerakan feminisme modern yang memuja seorang wanita sebagai yang ilahi dan berusaha menggambarkan kembali Allah dalam konteks dan istilah feminis seperti beberapa kelompok wanita Korea di Bandung yang menyebutkan “Allah itu ibu kita.” dsb.

BACA JUGA:

Di samping itu, devosi yang berlebihan oleh umat Katolik dapat dianggap penyembahan berhala. Contoh sederhana ketika kita lebih memilih duduk berdoa Rosario di gua Maria ketimbang melaksanakan kewajiban kita mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari Minggu. Dapat pula devosi berlebihan ini ditunjukkan oleh gelar dan ucapan kita kepada Bunda Maria. Tidak jarang kita mendengar umat Katolik menyebutkan, “Bunda Maria, sumber segala rahmat, ampunilah dosa kami.” Padahal, Sumber Segala Rahmat itu adalah Allah sendiri sedangkan Bunda Maria hanya dapat digelari Pengantara Segala Rahmat karena mengandung Yesus, Putera Allah, Sumber Segala Rahmat itu sendiri. Juga, kita tidak bisa memohon ampun dosa kepada Bunda Maria karena Bunda Maria tidak punya hak untuk itu. Kita dapat meminta Bunda Maria mendoakan kita atau melindungi kita, tetapi meminta ampun dosa tidak dapat kita lakukan kepada Bunda Maria.

Gereja Katolik dalam usaha mencegah devosi berlebihan dan keliru ini, menetapkan agar semua buku doa dan buku devosi mendapatkan Nihil Obstat dan Imprimatur dari hierarki setempat sehingga ada jaminan aman untuk digunakan oleh umat Katolik dan umat Katolik dapat mengetahui gelar apa dan ucapan apa yang diperbolehkan untuk kita berikan terhadap Bunda Maria. Hal ini juga untuk menunjukkan kepada umat non-Kristen Katolik bahwa Gereja Katolik tidak menyembah Bunda Maria seperti yang dilakukan oleh Collyridianis. Juga, umat Katolik dapat berargumen membela ajaran Gereja bahwa Katolik tidak menyembah Bunda Maria dengan menunjukkan fakta bahwa Ekaristi, Puncak Kehidupan orang Katolik, hanya dapat dipersembahkan kepada Allah, tidak kepada Bunda Maria.

Pax et Bonum. Artikel ini ditulis oleh Indonesian Papist untuk memperingati Bulan Maria, Mei 2012.

Referensi:

Collyridianism oleh Patrick Madrid dalam Majalah Katolik, “This Rock” edisi tahun 1994 yang diterbitkan di Amerika Serikat.

Link: https://www.indonesianpapist.com/2012/05/ajaran-sesat-collyridianisme.html