10.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 16

Sabda Tuhan Takkan Berlalu – Renungan Harian

0

Sabda Tuhan Takkan Berlalu: Renungan Harian, 25 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Why. 20:1-4,11 – 21:2; Injil: Luk. 21:29-33

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Alam adalah bagian dari hidup manusia. Lewat alam, manusia dapat belajar banyak, seperti perkiraan musim hujan atau musim panas. Hari ini, Yesus menggunakan alam untuk menggambarkan realita alam yang terus berubah dan berganti. Dalam realitas alam yang terus berubah itu, manusia dapat menilai dan mengetahui sebuah musim. Namun, harus disadari bahwa walaupun segala sesuatu akan berlalu, tetapi ‘Sabda Tuhan takkan berlalu’. Inilah penegasan sekaligus harapan yang diberikan oleh Yesus kepada kita.

Walaupun segala sesuatu akan berlalu, tetapi ‘Sabda Tuhan takkan berlalu’.

Sabda Tuhan yang takkan berlalu itu adalah Yesus Kristus Tuhan kita. Ia adalah Sabda yang telah menjadi daging dan diam di antara kita. Dialah yang  menjadi hakim atas seluruh umat manusia baik yang taat pada Allah maupun yang tidak taat pada Allah. Dia adalah hakim yang adil yang akan menganugerahkan kehidupan kekal bagi mereka yang taat pada Allah di dalam Yerusalem baru. Sebaliknya, mereka yang tidak taat akan dilemparkan-Nya ke dalam maut. Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap berharap pada Allah, lewat Putera-Nya yang adalah Sang Sabda Kekal?

Marilah kita hidup seturut teladan Yesus Kristus Tuhan kita, agar kita dapat mendiami Yerusalem baru dan dapat memandang Dia yang Kudus. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Surabaya – Mu-Sa-Fir

Bertahan dan Hidup – Renungan Harian

0

Bertahan dan Hidup: Renungan Harian, 23 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Why. 15:1-4; Injil: Luk. 21:12-19

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Salah satu filosofi yang selalu dihidupi oleh manusia dalam segala bidang kehidupan adalah ‘kemenangan dapat diraih dengan bertahan yang baik dan benar’. Inilah yang dilakukan oleh Arab Saudi ketika mengalahkan tim sekelas Argentina. Dari hal ini, mari kita coba renungkan Kabar Gembira Yesus Kristus Tuhan pada hari ini. Ada 3 hal yang dapat kita renungkan antara lain:

Pertama: ‘Konsekuensi dari iman akan Yesus Kristus’. Dengan tegas Yesus mengajak para murid dan kita semua untuk siap sedia menghadapi penderitaan, penganiayaan, dibenci, diadili, bahkan dibunuh sebagai sebuah  konsekuensi dari iman kepada Allah.

Kedua: ‘Hikmat Allah adalah kekuatan untuk bertahan’. Dalam situasi penderitaan dan penganiayaan, Yesus berjanji bahwa Ia sendiri akan memberikan kata-kata hikmat di dalam mulut kita sehingga kita tidak dapat dibantah oleh lawan-lawan kita. Harus kita sadari bahwa Yesus adalah Hikmat Allah, maka Dia akan hadir untuk membela kita.

Ketiga: ‘Kemenangan dalam hidup dapat diraih ketika kita bertahan dalam iman di tengah badai hidup.’ Yesus berkata: “Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidup”. Bertahan yang dimaksud oleh Yesus adalah bertahan dalam iman akan Allah ketika terjadi duri, badai dan derita dalam hidup; sedangkan hidup yang diterima adalah keselamatan abadi yang akan diterima. Dengan kehidupan dan kemenangan ini maka kita akan memuji Allah dalam seruan: “Besar dan ajaiblah segala karya-Mu ya Tuhan Allah yang Mahakuasa! Adil dan benar segala tindakan-Mu ya raja segala bangsa!”

Akhir-akhir ini, iman kita akan Yesus Kristus selalu ditentang dengan berbagai isu dan hoaks. Menghadapi situasi ini, apakah kita bertahan dalam iman akan Kristus dan menang, atau kita termakan isu, kalah, dan tidak selamat? Marilah kita berusaha untuk tetap bertahan dalam iman akan Kristus di tengah badai zaman agar kita dapat memperoleh kemenangan dan hidup. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Pastores – Mu-Sa-Fir

Polemik Media Sosial yang Mengubah Karakter Individu

0
Sebagai salah satu platform digital yang paling banyak digunakan saat ini, media sosial berhasil menghubungkan hampir setiap orang yang memiliki akses internet.

Dalam catatan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Polling Indonesia, Indonesia tercatat sebagai negara yang menduduki posisi keempat yang memiliki banyak pengguna media sosial.

Perangkat teknologi seperti komputer, smartphone atau tablet telah menjadi suatu life style setiap individu atau kelompok. Gaya hidup seperti ini, tampaknya, ikut merubah karakter individu dan menjadi penghambat dalam membangun relasi dengan sesama.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Bertolak dari realitas yang ada, hal yang menjadi fokus perhatian penulis di sini adalah adanya perubahan karakter yang dialami individu atau kelompok yang disebabkan oleh penyalahgunaan media sosial. Eksistensi media sosial dalam kehidupan masyarakat di satu sisi merupakan sesuatu yang patut disyukuri karena olehnya segala sesuatu dipermudah, namun di sisi lain telah mengubah persepsi setiap individu atau kelompok masyarakat.

Bukti otentik di lapangan memperlihatkan bahwa penyalagunaan media sosial berdampak pada sikap atau tindakan yang melanggar nilai dan norma yang berlaku dalam lingkup kehidupan masyarakat. Ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam lingkup kehidupan bermasyarakat sudah mulai diabaikan, dan ironisnya lagi, perlahan-lahan dihilangkan. Muncul sikap candu yang tak terkontrol, lahirnya konsep-konsep jahat yang merugikan satu dengan yang lain, dan bahkan SDM dimatikan oleh tawaran-tawaran media sosial yang dipenuhi sensasi menarik.

Penyalagunaan media sosial berdampak pada sikap atau tindakan.

Budaya menyapa, sikap empati, simpati, gotong royong, dan tolong-menolong seakan-akan dikaburkan. Mentalitas cuek, acuh tak acuh, egois, iri hati, dengki, tertutup, individualisme, dan sikap negatif lainnya menjadi suatu sikap yang dianggap normal dan bahkan layak untuk diaplikasikan. Tendensi egoistis semakin memuncak. Setiap orang lebih berfokus pada kesenangan pribadi dan tidak mempedulikan segala sesuatu yang membuatnya senang atau bahagia. Inilah efek buruk dari media sosial.

Jika realitas ini tidak bisa diantisipasi secara bersama maka karakter seseorang sudah jelas akan rusak oleh kemajuan media sosial. Oleh karena itu diperlukan kecerdasan dalam menanggapi tawaran-tawaran media sosial agar karakter setiap individu tidak berubah ke arah yang buruk.

Dari Unclean Spirit ke Polemik Penyembahan Berhala: Sebuah Tanggapan

2

“Ternyata gue juga setuju sama UAS soal ini, bahwa, kalau gue mungkin sebutnya ada unclean spirit, ok, di patung, ketika patung yang dibuat manusia disembah. Baca Yesaya ayat 13-20, sekali lagi, ini buat orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Gua ingin kalian baca dulu Yesaya 44:13-20, baru lo bisa komentar. Sebelum lo baca, jangan komentar dulu,” ucap Daniel Mananta.

Pernyataan dari Saudara DM di atas masih ramai dibicarakan di jagat maya. Ada beragam tanggapan yang muncul atasnya. Secara pribadi, ini adalah tulisan kedua dari saya untuk menanggapi pernyataan yang viral tersebut. Pada tulisan pertama, saya lebih fokus pada Yesaya 44:13-20. Kali ini saya tidak lagi membahas Yesaya 44:13-20, tapi seputar unlean spirit pada patung dan polemik penyembahan berhala.

[postingan number=3 tag= ‘patung’]

Saudara DM berpendapat bahwa ada unclean spirit di patung, ketika patung yang dibuat manusia disembah. Padahal, menurut ajaran Gereja, roh jahat, setan, atau unclean spirit, adalah realitas rohani (makhluk yang sepenuhnya spiritual), dan bukan semacam makhluk halus sebagaimana dipercaya di masyarakat. Nama ‘setan’ digunakan secara eksklusif untuk si jahat. Iblis (Yunani diabolos; Lat. diabolus) yang juga dikenal sebagai setan adalah nama yang biasa diberikan kepada malaikat yang jatuh.

Nama ‘setan’ digunakan secara eksklusif untuk si jahat.

Karena setan adalah makhluk yang sepenuhnya spiritual, maka dia bukanlah semacam makhluk halus yang melirik dari tempat gelap, yang menempel di dinding, tinggal di patung, rumah kosong, pohon besar, dan sebagainya. Realitas rohani itu tidak mempunyai tempat fisik. Jadi, jika ada orang mengatakan bahwa setan mendiami tempat tertentu, maka jelas itu bukan ajaran Katolik.

Berkaitan dengan polemik penyembahan berhala, Saudara DM mengutip cerita dalam Perjanjian Lama. Perlu disadari bahwa Perjanjian Lama ditulis dalam alam berpikir Yudaisme. Yudaisme adalah agama yang mengajarkan bahwa Allah itu bisa didengar suara-Nya namun tidak bisa dilihat wajah-Nya. Maka, saat itu, tabu bagi orang Yahudi untuk membuat gambar wajah Allah.

Tuhan sendiri dalam Perjanjian Lama pernah menyuruh Musa membuatkan patung.

Allah yang dipahami dalam Yudaisme adalah Allah yang berbicara (berfirman), bukan Allah yang memperlihatkan wajah-Nya. Tidak ada orang yang bisa melihat wajah Allah sebab siapapun yang melihat Dia, orang tersebut akan mati. Makanya Yakub (Kej. 32:27-30), yang kemudian namanya menjadi Israel, bersyukur sekali sebab ia bisa melihat Tuhan tapi ia tidak mati.

Namun jangan dikira bahwa Perjanjian Lama melarang pembuatan patung. Justru sebaliknya, bukan hanya tidak melarang, Tuhan sendiri dalam Perjanjian Lama pernah menyuruh Musa membuatkan patung; bukan hanya satu kali tapi malahan dua kali Ia menyuruh Musa membuatkan patung. Kisahnya bisa dibaca di dalam Kitab Keluaran 25:18-20 dan Bilangan 21:8–9.

Dalam Keluaran 25:18-20, Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat patung kerub bagi keperluan ibadah. Patung kerub itu tidak dianggap sebagai allah lain dan tidak memerlukan pemujaan. Karena tujuannya baik, maka patung kerub itu bukan hanya dibolehkan oleh Tuhan tetapi bahkan diperintahkan pembuatannya.

Patung dalam Gereja Katolik digunakan sebagai sarana rohani yang dapat membantu umat beriman mengarahkan hati kepada Allah.

Selain patung kerub dari emas tempaan, Tuhan juga menyuruh Musa membuatkan patung ular. Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. Di sini, patung ular tidak disembah sebagai allah lain, melainkan sebagai instrumen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya.

Memang, Kitab Keluaran 32:1-35 menceritakan bagaimana Tuhan marah terhadap orang Israel karena mereka membuat patung anak lembu. Mengapa Tuhan marah? Karena mereka menyembah patung anak lembu itu sebagai ‘allah lain’. Dengan ini menjadi jelas bahwa  Tuhan tidak melarang semua patung; yang dilarang oleh Tuhan adalah patung yang dibuat untuk disembah sebagai ‘allah lain’.

Dengan demikian, patung tidak identik dengan berhala. Patung bisa menjadi berhala kalau orang menyembahnya. Apakah orang Katolik menyembah patung? Jawabannya: sama sekali tidak. Gereja Katolik tak sebodoh itu untuk menyembah patung sebagai ganti Allah. Patung dalam Gereja Katolik digunakan sebagai sarana rohani yang dapat membantu umat beriman mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah. ***

Tanggapan terhadap DM: Tidak Semua Patung Itu Berhala

4

“Ternyata gue juga setuju sama UAS soal ini, bahwa, kalau gue mungkin sebutnya ada unclean spirit, ok, di patung, ketika patung yang dibuat manusia disembah. Baca Yesaya ayat 13-20, sekali lagi, ini buat orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Gua ingin kalian baca dulu Yesaya 44:13-20, baru lo bisa komentar. Sebelum lo baca, jangan komentar dulu,” ucap Daniel Mananta.

[postingan number=3 tag= ‘patung’]

Permintaan Saudara DM sudah saya penuhi. Saya membaca Yesaya 44:13-20. Dan berikut ini adalah hasil dari pembacaan saya terhadap perikop itu. Apa saja isinya? Isinya antara lain: Satu, Yesaya menunjukkan betapa bodohnya para pembuat patung berhala: mereka bekerja keras dengan kayu, tetapi itu hanya kayu (Yes. 44:13). Dua, ketika orang-orang itu membuat patung dari kayu, mereka menggunakan sebagian dari kayu itu untuk membuat api untuk memasak makanan, dan sebagiannya lagi digunakan untuk membuat patung yang kemudian mereka sembah (ayat 14-17). Tiga, mereka tidak tahu bahwa menyembah sesuatu yang mereka ciptakan sendiri itu merupakan suatu kebodohan sebab Tuhan telah menutup mata dan hati mereka (ayat 18-19) sehingga mereka sudah buta secara rohani (ayat 20).

Yesaya membandingkan antara Allah Israel dengan allah buatan manusia.

Adapun konteks dari perikop tersebut adalah perbandingan antara Yahwe dengan allah-allah lain. Bahwasanya berhala hanyalah sepotong kayu, yang dapat terbakar dalam api. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menyelematkan. Dengan begitu, Yesaya ingin menerangkan bahwa hanya ada  satu Tuhan yang benar. Dia telah memilih mereka untuk menjadi milik-Nya, mengampuni dosa mereka dan menyelamatkan mereka dari musuh (21-23). Dia adalah penebus sekaligus pencipta mereka, dan sekarang Dia akan membuktikan bahwa mereka yang meramalkan kehancuran Israel (24-25) salah.

Polemik melawan berhala ini mencapai puncak dalam kontras dengan Israel. Bahwa Israel bukanlah sebuah ikon, melainkan seorang hamba, penampilan yang hidup. Pembebasan dari pembuangan adalah kesempatan bagi Israel untuk diciptakan kembali supaya layak memancarkan kemuliaan Allah.

Bukan pembuatan patung yang dikutuk oleh Tuhan tetapi penyembahan terhadapnya.

Sebetulnya, ada banyak perikop lain dalam Kitab Suci yang isinya tentang polemik melawan berhala. Harap ini bukan sebuah kejutan bagi DM dan yang lain. Sebut saja misalnya Keluaran 20:4-5. Perikop ini sering digunakan untuk membuktikan bahwa membuat ‘gambar pahatan atau kemiripan apa pun yang ada di surga di atas, atau yang ada di bumi di bawah’  adalah kejijikan bagi Tuhan. Padahal, ketika perikop ini dibaca dalam konteksnya, bukan pembuatan patung yang dikutuk tetapi penyembahan terhadapnya.

Orang-orang yang menentang pembuatan patung seringkali melupakan banyak bagian dalam Kitab Suci di mana Tuhan justru memerintahkan pembuatan patung. Sebagai contoh: Kel. 25:18–20 “Dan kamu harus membuat dua kerub dari emas [yaitu, dua patung malaikat dari emas]; harus kaubuat dari pekerjaan tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub di ujung yang satu, dan satu kerub di ujung yang lain; dari salah satu tutup pendamaian itu haruslah kaubuat kerub pada kedua ujungnya. Para kerub akan merentangkan sayapnya di atas, menaungi tutup pendamaian dengan sayapnya, wajah mereka satu sama lain; ke arah tutup pendamaian muka para kerub itu”.

Tuhan justru memerintahkan pembuatan patung.

Dalam Bilangan 21:8–9, Tuhan memerintahkan agar ular tembaga dibuat dan menggunakannya untuk menyembuhkan orang Israel. Patung ular itu disimpan selama 800 tahun dan kemudian dihancurkan ketika beberapa orang mulai menyembahnya (2 Raj 18:4). Dalam 1 Raja-raja 6, Tuhan memerintahkan agar dibuatkan patung bunga dan pohon palem, serta patung kerub setinggi 15 kaki. Dan, masih ada beberapa contoh lainnya.

Saya sepakat bahwa kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain agar menghindari dosa penyembahan berhala. Manusia dikatakan melakukan dosa penyembahan berhala ketika ia menyembah dan menghormati satu ciptaan sebagai ganti Allah. Pertanyaannya adalah: apakah orang Katolik menyembah berhala? Menyebut umat Katolik sebagai penyembah berhala hanya karena mereka memiliki gambar Yesus dan orang-orang kudus, itu jelas didasarkan pada kesalahpahaman atau ketidaktahuan tentang apa yang Kitab Suci katakan tentang tujuan dan kegunaan patung.

Umat ​​​​Katolik menggunakan patung, lukisan, dan perangkat artistik lainnya, jelas bukan penyembahan berhala.

Gereja Katolik secara konsisten mengutuk keras penyembahan berhala. Hal ini bisa dilihat dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2112-2114). Tapi, orang Katolik menggunakan patung? Ya, umat ​​​​Katolik menggunakan patung, lukisan, dan ukiran – bukan untuk disembah sebagai pengganti Allah – melainkan untuk membantu mengingat orang atau sosok yang digambarkan. Dengan melihat foto, seorang ibu mengingat salah seorang anaknya yang jauh di perantauan, demikian juga dengan melihat patung, lukisan, dan ukiran, orang Katolik mengingat teladan orang-orang kudus. Dan, itu bukan penyembahan berhala.

DM menyinggung juga soal sejarah. Di awal sejarahnya, bangsa Israel memang dilarang membuat penggambaran Tuhan karena saat itu Dia belum menampakkan diri-Nya dalam bentuk yang terlihat, mengingat budaya pagan yang mengelilingi mereka, jangan sampai orang Israel tergoda untuk menyembah Tuhan dalam bentuk binatang atau benda alam (misalnya banteng atau matahari).

Namun kita tahu bahwa kemudian Tuhan menampakkan diri dalam bentuk yang terlihat, seperti dalam Daniel 7:9: “Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar.” Roh Kudus mengungkapkan diri-Nya dalam dua bentuk yang terlihat—merpati, pada pembaptisan Yesus (Mat. 3:16; Markus 1:10; Luk. 3:22; Yoh. 1:32), dan sebagai lidah api, pada hari Pentakosta (Kis. 2:1–4).

Karena Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dalam berbagai bentuk, maka tidak salah jika kita menggunakan gambar bentuk itu untuk memperdalam pengetahuan dan kasih kita kepada-Nya.

Dan yang lebih penting, dalam inkarnasi Kristus Putra-Nya, Allah menunjukkan kepada umat manusia ikon diri-Nya sendiri. Paulus berkata, “Dia adalah gambar (Yunani: ikon) dari Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari semua ciptaan.” Kristus adalah ‘ikon’ ilahi yang nyata dari Allah yang tak terlihat dan tak terbatas. Jadi, meskipun Tuhan tidak mengungkapkan wujud-Nya di Gunung Horeb, Dia toh mengungkapkannya di Bethlehem.

Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dalam berbagai bentuk, terutama dalam inkarnasi Yesus Kristus.

Lalu bagaimana? Akal sehat memberi tahu kita bahwa, karena Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dalam berbagai bentuk, terutama dalam inkarnasi Yesus Kristus, maka tidak salah jika kita menggunakan gambar bentuk itu untuk memperdalam pengetahuan dan kasih kita kepada-Nya. Jadi, pembuatan dan penggunaan patung-patung religius adalah praktik yang sepenuhnya alkitabiah sehingga siapa pun yang mengatakan sebaliknya berarti dia tidak tahu betul isi Kitab Sucinya.

Referensi:
https://www.catholic.com/tract/do-catholics-worship-statues
https://www.catholic.com/qa/how-do-crucifixes-fit-in-with-the-old-testament-prohibition-of-graven-images
https://jalapress.com/orang-katolik-tidak-menyembah-patung-seri-ii/
https://jalapress.com/orang-katolik-tidak-menyembah-patung/

Menembus Batas, Gereja Katolik Hadir sampai ke Ujung Kampung

0
Perjalanan ke Kampung Rapit menghabiskan waktu sekitar 30 menit jalan kaki dari ujung aspal melewati perkebunan warga.

Awal Januari 2020, saya diutus ke pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, untuk menjadi pastor paroki pertama di sebuah paroki baru di wilayah ini. Paroki Santo Matius Halong namanya. Wilayah pelayanannya terbentang luas. Satu paroki seluas satu kabupaten. Misinya jelas: merawat iman umat dan memperkenalkan agama Katolik kepada mereka yang belum mengenal Kristus.

Seperti pada umumnya misi di daerah pedalaman, misi di sini berat. Tantangan ada, kesulitan selalu menghantui. Tidak mudah untuk meraih hati. Dibutuhkan tenaga yang extra untuk bisa menangkap jiwa-jiwa. Namun, tak ada kata menyerah untuk memberitakan kabar baik. Tak ada alasan untuk tidak mewartakan Injil. “Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16).

Anak-anak Misdinar dan SEKAMI menemani Pastor dalam perjalanan kunjungan ke Kampung Rapit.

Bagi kami jelas, Injil harus diwartakan sampai ke ujung kampung. Di ujung kampung, namanya Kampung Rapit, adalah kampung yang biasa kami kunjungi setiap awal pekan. Kampung ini sangat kecil. Hanya ada belasan rumah di sini. Pada tahun 2017, sebanyak tiga puluh tujuh jiwa dibaptis di sini.

Untuk bisa sampai ke Kampung Rapit, pilihannya hanya ada dua: berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor. Saya biasa datang ke kampung ini ditemani tim pastoral, ibu-ibu dan anak-anak. Mula-mula kami datang sekedar untuk berkunjung, mengajar baca-tulis, dan sekarang mulai dilaksanakan Perayaan Ekaristi. Ini menandakan bahwa Gereja Katolik hadir di segala tempat dan situasi.

Anak-anak Kampung Rapit sedang belajar membaca dan menulis.

Inilah Meratus punya cerita. Tapi, bukan hanya kami, melainkan kita semua dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Kita dipanggil untuk mewartakan kabar baik kepada semua orang di mana pun kita diutus. Sebab, Injil harus dikenal oleh semua orang, termasuk oleh mereka yang berada di tempat-tempat terluar dan di kampung-kampung. Pewartaan Injil harus bisa menembus batas.

Dengan mengandalkan kemampuan sendiri, tentulah tidak bisa. Tapi, Tuhan, Sang Pemilik misi, Dialah yang memberikan kemampuan dan perlengkapan kepada kita. Sebab, misi ini bukanlah misi kita melainkan misi-Nya. Kita hanyalah alat di tangan-Nya. Dialah yang menjamin misi ini akan bertahan lama atau tidak. Karena itu, merasul bersama Kristus, MeRaTus, benar-benar harus terjadi di tanah ini. Karena itu, sekalipun tidak sanggup, “Tetapi karena Engkau [Tuhan] menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk. 5:5).

Jangan Bilang Setia Kalau Masih Takut Mengambil Resiko

0

Jangan Bilang Setia Kalau Masih Takut Mengambil Resiko: Renungan Harian, 16 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Why. 4:1-11; Injil: Luk. 19:11-28

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Perumpamaan tentang ‘uang mina’ dalam Injil hari ini tampaknya mengandung dua tujuan. Pertama, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masa Gereja Perdana mengenai kedatangan kembali Yesus dan apa yang harus dilakukan sementara Ia tidak ada. Intinya adalah bahwa para hamba hendaknya jangan hanya duduk-duduk melainkan harus melanjutkan pekerjaan-Nya sementara Ia tidak ada (Kis. 1:8-11). Kedua, untuk mengingatkan kita bahwa di dunia ini kita mempunyai tugas yang harus dikerjakan.

Ketika si bangsawan dalam perumpamaan menyerahkan uang mina kepada para hambanya, ia menyampaikan pesan yang sangat jelas: “Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali” (Luk. 19:13). Pakailah ini. Artinya uang mina yang diberikan itu bukan untuk disimpan, melainkan untuk digunakan. Untuk berdagang. Berdagang selalu mengandung resiko, sebab bisa untung bisa juga rugi. Sampai aku datang kembali. Si pemberi uang mina akan kembali untuk meminta pertanggungjawaban dari para hamba yang sudah menerima uang mina itu.

Orang yang berinisiatif mengembangkan bakat dan kemampuannya diberi hadiah sedangkan orang yang takut mengambil resiko diberi hukuman.

Melalui perumpamaan ini kita diingatkan bahwa Tuhan telah menganugerahkan ‘uang mina’ berupa bakat dan kemampuan kepada kita ciptaan-Nya dan pada gilirannya nanti Ia akan menuntut pertanggungjawaban dari kita atas semua itu’.

Sayangnya, ada orang yang dengan sengaja memendam bakat dan kemampuan yang diterimanya dari Tuhan. “Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur” (Luk. 19:20-21).

Kalau itu kita lakukan, maka kesetiaan kita kepada Tuhan patut dipertanyakan. Sebab, kesetiaan kepada Tuhan hanya bisa ditunjukkan dalam tanggung jawab mengembangkan bakat dan kemampuan yang telah kita terima dari-Nya, apapun resikonya. Semoga kita menjadi orang yang setia. Amin.

Buka Mata Hati, Tuhan Mau Kita Peduli

0

Buka Mata Hati, Tuhan Mau Kita Peduli: Renungan Harian, 15 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Why. 1:1-4; 2:1-5a; Injil: Luk. 18:35-43

Hari ini – melalui Injil Lukas – kita mendengar atau membaca kisah tentang seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Siapa namanya? Di Injil Lukas namanya tidak disebutkan. Tapi, di Injil yang lain, yakni di Injil Markus, kita diberitahu bahwa namanya adalah Bartimeus (Mrk. 10:46).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Ketika mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Ada apa itu?” Dan, ketika orang-orang memberitahu dia bahwa Yesus, orang Nazaret, sedang lewat, ia tidak mau kehilangan kesempatan. Ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku”. Orang-orang yang berjalan di depan, menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”

Buta adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa melihat.

Orang itu memang buta matanya, tetapi hatinya tidak. Hatinya dengan jelas melihat kepada siapa dia harus berteriak minta tolong. Tuhan Yesus yang mengetahui keberadaannya menghentikan langkah-Nya dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ia pun bertanya kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Di hadapan Yesus, orang buta itu menjawab: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Maka, sebagai jawaban atas permintaannya, ia menerima pesan pembebasan dari Tuhan: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 18:42).

Buta adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa melihat, baik pada satu mata (buta parsial) maupun kedua mata (buta menyeluruh). Di antara kita barangkali ada banyak saudara dan saudari kita yang mengalami hal semacam ini. Untuk mereka, kita mohonkan kesembuhan dari Tuhan.

Mata yang buta membuat seseorang tidak bisa melihat. Tapi, dalam kondisi seperti itu, biasanya Tuhan memberi kesanggupan lain sehingga si buta masih bisa merasakan keberadaan obyek di sekitar. Yang parah itu kalau matanya bagus, tapi hatinya yang buta.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti buta hati adalah tidak berperasaan belas kasihan. Ada orang susah diabaikan. Dalam cerita Injil hari ini, contoh orang-orang yang buta hati ini adalah mereka yang berjalan di depan, yang mengabaikan teriakan si Bartimeus. Bukannya membantu si buta supaya bertemu dengan Yesus, mereka malahan menegur dia supaya ia diam.

Buta hati adalah tidak berperasaan belas kasihan.

Kita sendiri sebenarnya juga seringkali mengalami buta hati, yaitu ketika kita tidak peduli terhadap kesusahan orang lain. Sebab itu, apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus terhadap si buta merupakan teguran keras bagi kita. Sesibuk apapun kita, jangan mengabaikan saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita.

Begitu pentingnya kepedulian terhadap sesama, sampai-sampai Kitab Wahyu memberikan wejangan yang cukup panjang soal ini. Di dalam Kitab Wahyu dikatakan bahwa melalui Yohanes, Tuhan sendiri bersabda:

“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah” (Why. 2:2-3).

Siapa sih di dunia ini yang tidak sibuk? Semua orang sibuk. Tuhan juga tahu kesibukan, jerih payah, dan ketekunan kita. Ia tahu bahwa selama ini kita membenci yang jahat. Ia bahkan tahu bahwa kita begitu mencintai-Nya, sampai-sampai rela menderita karena nama-Nya. Tapi, itu semua belum cukup kalau kita tidak membuka mata hati kita untuk sesama.

Tuhan bersabda: “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat” (Why. 2:4-5).

Tuhan menuntut supaya kita bertobat dan mengasihi saudara-saudari yang membutuhkan. Mari kita minta kepada Tuhan agar Ia sudi membuka mata hati kita sehingga kita lebih jernih lagi melihat penderitaan sesama dan menjadikan kesusahan orang lain sebagai undangan bagi kita untuk berbuat baik. ***

Kita adalah Bait Allah, Tubuh Kita Bukan Milik Kita

0
Gambar Ilustrasi dari Dok. Pribadi. Ini adalah Gereja Stasi Hati Tak Bernoda Maria, Kampung Rapit, berlokasi di pedalaman Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Gereja ini diberkati pada 25 Juni 2022.

Kita adalah Bait Allah, Tubuh Kita Bukan Milik Kita: Renungan Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran, 09 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yeh. 47:1-2,8-9,12; Bacaan II: 1 Kor. 3:9b-11,16-17; Injil: Yoh. 2:13-22

[postingan number=3 tag=’tuhan-yesus’]

Bait Allah adalah pusat ibadat dan kurban, tempat kehadiran Allah dan lambang yang terlihat dari kesetiaan-Nya. Maka, mengabdikan tempat bagi Tuhan adalah tindakan mengakui kemuliaan dan kuasa-Nya. Tapi persoalannya, bagaimana kalau tempat semacam itu tidak ada? Apakah itu termasuk tindakan tidak mengakui kemuliaan dan kuasa Tuhan?

Dalam Perjanjian Lama, terutama pada masa pembuangan Babel, orang-orang mengalami keputusasaan karena mereka tidak memiliki tanah atau tempat untuk berdoa. Sebab itu, Nabi Yehezkiel hadir dan memberitahu mereka bahwa akan datang hari di mana orang-orang akan menyembah Tuhan di kenisah baru – tempat di mana mereka dapat memanjatkan doa kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan doa mereka. Ia juga memberitahu mereka bahwa dari kenisah itu ia melihat air mengalir: “Aku dibawa malaikat Tuhan ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu” (Yeh. 47:1). Ke manapun air itu mengalir, ia membawa kehidupan.

Bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Dalam Perjanjian Baru, terutama di kalangan umat Korintus, muncul guru-guru palsu yang menyesatkan. Sebab itu, ia dalam suratnya kepada umat itu, menekankan jati diri orang Kristen sebagai kenisah Allah. Ia menerangkan bahwa Bait Allah tidak melulu berarti bangunan melainkan juga diri umat itu sendiri. Dengan demikian, yang perlu dibangun, dijaga, dan dirawat tidak hanya Gereja sebagai bangunan melainkan juga kesatuan umat. “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1 Kor. 3:17).

Yesus, dalam Injil Yohanes, tidak banyak mengacu pada Bait Allah sebagai bangunan, tetapi Ia lebih menekankan pada ‘tempat kudus’ yang benar dan tepat di mana Allah hadir. Di sini, Bait Allah yang dimaksudkan oleh Yesus ialah tubuh-Nya sendiri. Kebangkitan-Nya akan menjadi kunci yang akan membuat para murid akhirnya mengerti tentang hal ini. Injil Yohanes memastikan bahwa Yesus Kristus adalah fondasi yang diatas-Nya dibangun kenisah baru Allah. Bait Allah akan segera rusak, maka fungsi ini akan digantikan oleh tubuh Kristus yang bangkit.

Kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu.

Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran hari ini memungkinkan kita untuk sadar bahwa secara rohani tubuh kita adalah milik Allah dan berfungsi sebagai ‘bait Allah’ di dalam Yesus yang Bangkit, karena Roh Kudus berdiam di dalam kita. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor. 3:16). Dia sudah ada di dalam kita, menyambut dan mengasihi kita, bukan seperti yang kita inginkan, tetapi sebagaimana adanya, di sini, sekarang. Kesadaran inilah yang membawa kita untuk senantiasa mengakui kemuliaan dan kuasa-Nya.

Kebangkitan Orang Mati, Penghiburan Abadi dari Tuhan

0
Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com -- Tuhan Yesus bangkit dari kematian pada hari yang ketiga. Kubur tempat Ia diletakkan terbuka kosong.

Kebangkitan Orang Mati, Penghiburan Abadi dari Tuhan: Renungan Minggu Biasa XXXII, 06 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: 2 Mak. 7:1-2,9-14; Bacaan II: 2 Tes. 2:16 – 3:5; Injil: Luk. 20:27-38

[postingan number=3 tag= ‘setan’]

Kitab 2 Makabe 7:1-2, 9-14 dan Injil Lukas 20:27-38 sama-sama memuat cerita mengenai tujuh orang bersaudara. Jumlah tujuh dalam tradisi Yahudi melambangkan kesempurnaan. Dengan demikian, cerita tentang tujuh orang bersaudara ini menunjukkan keluarga yang ‘sempurna’, yang senantiasa menyelaraskan hidup sesuai dengan perintah Tuhan.

Tujuh orang bersaudara dalam cerita Kitab Makabe menggambarkan orang-orang yang taat hukum. Bagi mereka, lebih baik mati daripada melanggar hukum; sebab ketaatan kepada hukum lebih penting daripada hidup itu sendiri. Adanya keyakinan kuat di dalam diri mereka bahwa Allah adalah pencipta, yang memulihkan kehidupan, membuat mereka tidak takut untuk mati sebagai martir. Karena itu, takut akan Tuhan jauh lebih penting daripada takut terhadap manusia.

Allah yang kita imani bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup; dan di hadapan Dia semua orang hidup’ (Luk. 20:38).

Tujuh orang bersaudara dalam Injil Lukas melukiskan orang-orang yang setia mengikuti hukum perkawinan levirat (Ul. 25:5-6; Rut. 3:9 -4:12), di mana seorang adik harus membangkitkan keturunan bagi saudaranya yang meninggal tanpa anak sehingga harta harta jangan sampai meninggalkan keluarga dan nama saudaranya dilanjutkan dalam keturunannya.

Paulus, dalam 2 Tes. 2:16 – 3:5, mendorong para pembaca untuk memegang teguh tradisi yang telah diajarkan kepada mereka baik secara lisan maupun melalui surat. Ia  meyakini bahwa Tuhan akan menguatkan mereka dan memelihara mereka dari yang jahat. Ya, Tuhan pasti akan menguatkan dan memelihara kita sebab Injil hari ini menegaskan bahwa ‘Allah yang kita imani bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup; dan di hadapan Dia semua orang hidup’ (Luk. 20:38).

Kita percaya kepada Allah yang hidup, dan di hadapan Dia semua orang hidup, walaupun tubuh jasmaninya sudah mati. Dengan ini dimaksudkan adanya kehidupan setelah kematian. Keyakinan ini tertuang dalam syahadat iman kita. Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa kebangkitan badan, kehidupan kekal. Inilah yang menyadarkan kita bahwa tidak ada hidup yang sia-sia, juga tidak ada mati yang sia-sia bagi orang yang percaya. Sebab, di dalam Tuhan kita menjadi orang-orang yang berpengharapan.

Di kalangan orang Yahudi yang hidup sezaman dengan Yesus, ada sekelompok orang yang tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati dan tidak percaya akan adanya roh. Nama kelompok itu adalah Saduki. Mereka mencoba untuk menjebak Yesus dengan jawaban yang sesuai dengan harapan mereka, dalam hal ini dengan menunjukkan kekaburan ajaran mengenai kebangkitan.

Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa kebangkitan badan, kehidupan kekal.

Atas pertanyaan orang Saduki itu, Tuhan Yesus memberikan jawaban dan penjelasan yang luar biasa detailnya. Intinya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa ada kebangkitan orang mati. Kebangkitan orang mati dan keberadaan sekarang adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Di surga, tidak ada kawin dan dikawinkan. Sebab, orang-orang yang yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu hidup seperti malaikat.

Malaikat adalah makhluk rohani. Tidak ada dagingnya. Ketika manusia mati, tubuh jasmaninya hancur, yang tertinggal hanyalah rohnya. Karena yang tertinggal hanyalah roh, maka tidak ada perkawinan. Sebab, kawin dan dikawinkan itu adalah urusan daging, dan itu hanya terjadi selama manusia berada di dunia. Di sini ada petunjuk bahwa status selibat (seperti yang dijalankan oleh Yesus sendiri) merupakan tanda dari Kerajaan Allah yang akan datang itu.

Kepercayaan terhadap kebangkitan orang mati dan pengharapan yang baik terhadap orang-orang yang sudah meninggal membuat kita jadi tahu bahwa hidup kita tidak berakhir di sini. Inilah penghiburan abadi yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita. Tidak ada penghiburan yang lebih baik dari ini; sehingga ketika seseorang meninggal dunia, kita sampaikan kepada keluarga yang berduka: semoga almarhum atau almarhumah beristirahat dalam damai bersama Bapa di surga. Kita bisa katakan seperti itu karena kita percaya bahwa kematian hanyalah pintu masuk menuju kehidupan yang baru.